Resensi Novel Eka Kurniawan | Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Ambisi, Asmara, dan Selimut Filsafat Absurditas

Sebuah Resensi Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan

Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: Cetakan Ketiga, Desember 2015
ISBN: 978-602-03-2470-8

Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah satu dari karya sastrawan Eka Kurniawan yang mendapat respons dan apresisasi dari banyak pembaca. Seperti halnya karya-karya Eka (sebutan untuk Eka Kurniawan) pada umumnya, novel ini tidak hanya sekadar karya fiksi berbentuk prosa yang hanya menceritakan tentang narasi-narasi berupa kisah-kasih asmara semata.

Baca Dulu: Resensi Buku Cantik Itu Luka

Eka melalui novelnya ini berhasil meminjam suatu peristiwa yang sebenarnya sangatlah dekat dengan kondisi sosial masyarakat pada umumnya – mengenai kisah seorang sopir truk pantura untuk menuturkan banyak pandangan hidup seorang manusia tentang ambisi, asmara, dan filsafat absurditas di sepanjang perjalanan panjang kehidupannya.

Melalui novel ini pula, Eka berhasil mewujudkan sastra sebagai sebuah nilai pembelajaran melalui apa yang dikandungnya dari dimensi kehidupan yang sejatinya tidak pernah mampu saling melepaskan – sosiologi. Lewat novel ini setidaknya Eka mampu menyampaikan gagasan populer mengenai definisi karya sastra yang dikatakan pemikir ternama bernama Luxemburg bahwa sastra merupakan suatu cipta kreativitas pengarang yang bukan semata-mata sebuah imitasi. Artinya kalau kita memaknai lebih, kira-kira, pengarang dalam membuat sebuah karya adalah tidak hanya bertugas menarasikan apa yang sedang terjadi di keadaan sekitar, melainkan pengarang juga bertugas merespons, menanggapi, menuangkan idenya terkait keadaan yang ada di sekitar.

Dari sana, Eka persis berhasil membawa pembaca memahami sebuah hikmah kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel. Memanfaatkan peran tokoh utama yang diciptakannya, Eka membawa gagasan seribu makna mengenai seorang sopir truk pantura tentang ambisi lahiriah, kisah asmara, dan dibungkusnya emosi-emosi si tokoh utama dengan gagasan filsafat absurditasnya Camus.

Dari Bahasa Kasar ke Cerita Penuh Hikmah

Sebelumnya, novel ini merupakan novel yang dikategorikan sebagai novel dewasa. Seperti identitas yang disemat, novel terbitan Gramedia ini banyak mengandung narasi adegan-adegan erotis yang luar biasa ditambah penggunaan gaya bahasa yang dapat dikategorikan sebagai bahasa vulgar.

Gaya bahasa yang digunakan Eka dalam karyanya berhasil merobohkan sekat-sekat sebuah karya dengan norma pada umumnya yang seringkali membatasi imajinasi yang berimbas menghambat penyampaian gagasan. Usaha-usaha Eka menggunakan bahasa vulgar atau yang lebih tepat dikatakan bahasa yang apa adanya, meski mendapat banyak komentar yang bernada negatif, melaluinya gagasan besar tentang sebuah kompleksitas manusia dan segudang filosofinya tersampaikan.

Terlepas dari bahasa-bahasa kasar tersebut, Eka mengantarkan pada titik perenungan paling dalam tentang hakikat seorang manusia. Eka melalui kata demi kata, alur, konflik, dan beragam tokohnya membawa pembaca untuk memikirkan kembali – mendiskusikan kembali dengan nalar – tentang arti sebuah kehidupan.

Kompleksitas Manusia dan Filsafat Absurditas

Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menceritakan sebuah cerita perjalanan kehidupan yang dialami seorang bocah laki-laki – Ajo Kawir – yang mengalami keadaan paling tragis bagi hidupnya bagi seorang lelaki yakni harus menerima diri sebagai lelaki yang impoten.

Hal ini bermula dari sebuah kejadian paling konyol dan sederhana dalam kehidupan remajanya, yakni mengintip orang gila yang sedang diperkosa. Kejadian yang mengakibatkan keadaan paling disesalinya mengantarkan Ajo Kawir – tokoh utama – menjalani pencarian tentang makna kehidupan.

Pencarian arti kehidupan Ajo Kawir bermula dengan menyambangi beberapa orang dan melakukan berbagai cara untuk membuat si burungnya – penis – bangun dari tidurnya. Ajo Kawir mencoba beragam pengobatan mulai dari pijat, berkeksperimen langsung di depan pelacur untuk memaksa membangunkan, hingga melakukan perbuatan paling konyol dengan mengoles burungnya. Dari beragam usaha, Ajo Kawir hanya menemui kesia-siaan hasil dan kehampaan sebuah harapan.

Tak putus arang sebagai seorang laki-laki sejati, Ajo Kawir sebagaimana layaknya manusia, mencoba memenuhi ambisi lahiriah akan nafsu seksualnya. Ajo Kawir diceritakan menjalani hubungan dengan seorang tokoh bernama Iteung. Dengannya, Ajo Kawir sempat menemukan kembali hakikat kehidupan. Semangat dan ambisinya kembali hidup dengan keyakinan bahwa tanpa kesempurnaan kelaminnya atau bahkan tanpa ambisi seksual keduanya mampu menjalani kehidupan bersama. Namun nahas, harapan tersebut kembali hancur. Iteung yang digadang menjadi obat dari segala keterputus-asaan malah berbalik menjadi racun yang kembali menghancurkan kehidupannya. Hal itu bermula dengan kecurigaan Ajo Kawir dengan kehamilan Iteung. Karena keduanya tidak pernah mampu berhubungan badan, dan hanya melepaskan nafsu dengan masturbasi dibantu jari-jari Ajo Kawir, kehamilan adalah kemustahilan. Dan benar saja, Iteung selama melepaskan nafsu bersama Ajo Kawir tidak selalu membayangkan guru sekolahnya yang kebetulan juga seseorang yang menghamilinya.

Hancur secara lahiriah tidak mematahkan Ajo Kawir dalam menjalani kehidupan. Setelah mengalami titik paling nadir dalam asmaranya, Ajo Kawir memutuskan untuk malang melintang di sepanjang jalur pantura menjadi seorang sopir truk. Melalui profesinya, dia mengalami banyak peristiwa tentang ambisi-ambisi material kehidupan. Harta, judi, wanita, dan beragam kejadian-kejadian lainnya.

Rentetan peristiwa di sepanjang pencariannya tersebut mengantarkan Ajo Kawir mencapai titik kepasrahan dalam menerima sebuah arti kehidupan. Ajo Kawir menyadari bahwa kehidupan adalah kesia-kesiaan yang penuh kontradiksi-kontradiksi, sementara nalar tidak berhenti untuk berjalan. Di titik inilah filsafat Absurditasnya Camus berperan.

Melalui tokoh Ajo Kawir, Eka bisa dibilang ingin menyampaikan gagasan bahwa mnusia dengan segala kompleksitas pada akhirnya – tujuan akhirnya – akan menerima keadaan yang absurd – keadaan yang penuh kontradiksi antara yang rasional dengan irasional, antara ambisi dan keputusasaan, antara kebangkitan dan kehancuran, tiada akhir.

Seperti filsafatnya Camus, absurditas menjadi diantara rasional dan irasional, menjadi penyebab sekaligus tujuan dari berjalannya rasionalisme nalar manusia. Konfontrasi antara beberapa hal – yang seringkali keberadaan manusia dan keberaan benda/dunia – secara terus menerus tiada akhir inilah yang menjadi simpul penjelasan absurditas. Baginya absurditas adalah suatu nilai purna dari eksistensi manusia. Sehingga konsepsi mengenai absurditas dalam pandangan hidup manusia berbuah pada dasarnya manusia telah mengerti bahwa satu-satunya akhir dari penciptaan adalah penghancuran. Rangkaian proses kontradiktif tiada akhir inilah yang disebut Camus sebagai proses manusia menjadi manusia yang absurd. Persis dimana kepasrahan Ajo Kawir tentang apa yang dialaminya di sepanjang cerita-cerita yang tertuang dalam novel.

Pencarian dalam perjalanan kehidupan Ajo Kawir tersebut digambarkan Eka sebagai pencarian tentang filosofi kehidupan yang tenang dan damai. Gambaran kehidupan yang tenang dan damai tersebut dialegorikan dalam bentuk si burung – penis – yang tertidur atau impoten, yang dialami Ajo Kawir, seperti halnya ilustrasi pada cover novel di edisi awal-awal novel ini diterbitkan.

Baca Juga: Resensi Buku Puisi Aan Mansyur Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau

Resensi ini ditulis oleh Muhammad Teguh Saputro. Saat ini, ia adalah mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *