Category Archives: Tips

Keuntungan Absensi Online Dibandingkan Absensi Manual

Keuntungan absensi online

Absensi menjadi hal rutin yang dilakukan oleh karyawan ketika tiba di kantor. Absensi seringkali rawan kesalahan dan kekeliruan dalam pencatatan data absensi. Perusahaan pun dibuat pusing karena harus mencatat absensi manual dan proses bisnis perusahaan menjadi terganggu. Pencatatan absensi pun menjadi lebih rumit jika karyawan harus berpergian demi kepentingan dinas perusahaan dan tak selalu bisa hadir di kantor untuk melakukan absen.

Keuntungan Absensi Online

Bersamaan dengan teknologi yang semakin mutakhir dan serba terintegrasi secara online, terciptalah sistem absen online. Absensi online menawarkan segudang keunggulan dibandingkan absensi manual atau konvensional. Pencatatan absensi karyawan setiap harinya pun menjadi lebih praktis. Keuntungan penerapan absensi online dalam perusahaan antara lain:

Menyajikan data yang akurat dan real time

Perusahaan dapat melihat karyawan siapa saja yang melakukan absensi detik itu juga dengan data yang akurat sesuai dengan jam tiba karyawan absensi.

Minim kecurangan

Absensi manual dengan kertas dapat dipalsukan atau dimanipulasi data kehadirannya oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Data dari absensi online hanya dapat diakses oleh pihak tertentu dalam manajemen perusahaan dan memerlukan beberapa verifikasi sehingga kecurangan dapat diminimalisir.

Praktis dan efisien

Bagi karyawan yang sering melakukan perjalanan dinas, absensi online mempermudah mereka untuk absen tanpa harus perlu pergi ke kantor hanya dengan melalui aplikasi absensi. Perusahaan pun mampu memantau data absensi dimanapun dan kapan pun.

Baca juga: Tips Tidak Kena Drop Out di PKN STAN

Mempermudah proses administrasi

Proses administrasi sering dinilai memakan banyak waktu. Dengan absensi online, proses administrasi berupa pengajuan cuti, biaya penggantian yang ditalangi oleh karyawan, manajemen data absensi jauh lebih mudah dan hemat waktu.

Mudah menentukan gaji dan performa karyawan

Waktu kehadiran karyawan dalam perusahaan menjadi salah satu tolak ukur performa dalam perusahaan. Semakin jarang seorang karyawan membolos dan datang terlambat, maka performanya dinilai cukup baik berdasarkan waktu kehadiran. Performa tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan untuk pemberian gaji setiap bulannya.

Mudah untuk melakukan rekapitulasi

Ada banyak data absensi dari karyawan yang harus direkap oleh pihak perusahaan. Setiap data dalam absensi berupa waktu hadir, tiba, dan pulang saling berkaitan satu sama lain. Sehingga jika salah satu data berubah dalam karena kesalahan proses rekapitulasi, maka akan berpengaruh terhadap data lainnya. Absensi online yang membuat data saling teringritas mengurangi resiko tersebut dan mempermudah proses rekapitulasi.

Hemat biaya

Absensi manual memerlukan kertas dan bolpoin yang pengadaannya tiap hari dapat memakan biaya. Sedangkan absensi dengan metode fingerprint pun tidak selalu efisien. Perusahaan harus menyediakan dana untuk pemeliharaan mesin fingerprint secara  berkala. Absensi online memotong semua biaya tersebut. Perusahaan tidak perlu menyediakan alat fisik untuk absensi karena absensi dapat langsung dilakukan oleh karyawan melalui ponsel pintar masing-masing.  

Kerahasiaan data absensi terjamin

Sistem  pada absensi online tersusun dengan sangat aman. Kebocoran atau peretasan data tidak mungkin dapat terjadi. Baik karyawan dan perusahaan memiliki akses untuk melihat data absensi sesuai dengan tingkat kepentingan masing-masing.Sudah tidak diragukan lagi, keuntungan dari penerapan absensi online akan mempermudah perusahaan menjalankan proses bisnisnya. Untuk menerapkan absensi online yang mudah digunakan baik bagi karyawan maupun perusahaan, LinovHR menyediakan aplikasi absensi online. Aplikasi absensi online dari LinovHR memiliki sistem absensi online terbaik dengan praktisi yang tangkas dan ahli dibalik pengembangannya. Proses absensi perusahaan kini jauh lebih simpel bersama LinovHR.

Tips Menginap di Hotel Selama PANDEMI Virus Covid-19

Batavia apartment

Sabtu (14/3) lalu, seharusnya aku bersama keluarga menginap di Batavia Apartments, Hotel & Serviced Residence yang terletak di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Sudah jauh-jauh hari kupesan hotel bintang 4 tersebut karena mendapatkan promo hotel dari Traveloka.

Sampai Sabtu pagi, aku masih berkeinginan berangkat. Namun, melihat Hanna (anak pertamaku) masih belum sembuh betul flunya, ditambah situasi yang semakin tidak kondusif terkait Covid-19, sekitar pukul 11 siang kuputuskan batal berangkat. Sebab, jauh pula dari Bogor, kasihan Hanna yang suka mabuk kalau naik mobil, sementara kami tak berani lagi naik KRL.

Kutawarkan kepada adikku yang bekerja di Cikini. Alhamdulillah, akhirnya voucher hotelku tidak hangus. Ia bersedia menginap semalam di sana, sambil kukatakan kepadanya, “Nanti foto-fotoin ya hotelnya.”

Staycation yang menjadi gaya hidupku pun terpaksa terganggu dengan kehadiran Covid-19. Bahkan, jadwal Staycationku pada 4 April di Hotel Santika, Depok pun terancam batal jika pandemi ini belum berakhir. Apalagi status bencana nasional sekarang diperpanjang hingga 29 Mei 2020.

Ketakutan terbesar dari merebaknya Covid-19 ini adalah bukan soal kita yang terkena virus tersebut, melainkan ketakutan kita membawa virus tersebut dan kemudian menularkannya kepada orang yang lebih berisiko mengalami infeksi penyakit sekunder.

Setidaknya ada beberapa hal atau tips yang perlu diperhatikan saat kamu menginap di hotel pada masa pandemi Covid-19 ini. Apa saja itu?

Pilih Hotel Baik-baik

Pastikan hotel yang kamu pilih sudah menerapkan protokol yang cukup memadai dalam mengantisipasi persebaran virus. Misalnya, adanya jaminan bahwa kamar di hotel tersebut selalu dibersihkan dengan disinfektan, ketersediaan handsanitizer dan protokol-protokol lainnya. Biasanya hal-hal itu mereka sosialisasikan di web atau di medsos mereka.

Kamu juga mengece review-review mengenai kebersihan hotel oleh pelanggan di Traveloka. Pastikan hasil evaluasi pengunjung hotel tersebut selalu baik soal kebersihan.

Tetap Cuci Tangan

Mencuci tangan adalah cara yang bisa dilakukan oleh diri sendiri untuk mencegah penularan virus. Pastikan selalu sudah mencuci tanganmu dengan sabun (atau bila tidak dengan hand sanitizer) sebelum kamu memegang bagian muka di sekitar mulut, hidung, dan mata. Sebab, virus Covid-19 masuk ke tubuh manusia ke saluran pernapasan di mana hanya di tiga tempat tersebut salurannya.

Bawa Pembersih Sendiri

Jika kamu tidak yakin dengan kebersihan kamar hotel, bawalah pembersih sendiri. Bisa berupa tissue basah, hand sanitizer, atau bahkan disinfektan.

Bagian yang paling penting dibersihkan adalah bagian-bagian yang mungkin disentuh oleh tangan orang lan seperti kenop pintu, gagang telepon, gagang toilet, remote televisi dan AC, serta keran di kamar mandi.

Hindari Minum dari Gelas

Sering terdapat imbauan untuk tidak memakai gelas hotel. Dalam hal ini apalagi. Tidak ada jaminan bahwa gelas yang disediakan hotel dibersihkan dengan benar. Sebab, cara yang benar untuk membersihkan gelas dari virus adalah dengan merendam gelas tersebut dengan air panas. Jadi, kalau tidak mau bawa gelas sendiri dari rumah, ya selalu sedia air mineral.

Bawa Selimut atau Sprei Sendiri

Cara terakhir ini memang merepotkan. Tapi kalau memang butuh banget ke hotel, dan masih merasa insecure dengan kebersihan hotel, ya mau tidak mau harus bawa selimut atau sprei sendiri. Sebab katanya, ada saja hotel yang malas mengganti sprei dan selimut hotel. Hanya dibersihkan ala kadarnya.

Hotel sendiri sebenarnya punya cara-cara khusus untuk melayani pelanggan pada masa ini. Ini menjadi catatan tambahan bahwa hotel menyediakan minuman rempah-rempah seperti minuman pala, sari jahe, temulawak, atau kunyit yang diyakini bisa menambah daya tahan tubuh kita.

Semoga wabah ini segera berakhir sehingga kita nggak was-was mau Nginep mana lagi di Jabodetabek karena bisa jadi cerita berkesan untuk keluarga. Sebab, staycation adalah gaya hidup. Ehemm.

Simbolisme Haruki Murakami oleh Ardy Kresna Crenata

Simbolisme Haruki Murakami

Seorang perempuan menemukan sebuah batu berbentuk ginjal saat ia sedang berjalan sendirian menyusuri sungai di sebuah pegunungan. Ia seorang dokter penyakit dalam, sehingga ia bisa memastikan bentuk batu itu memang menyerupai ginjal saat ia menggenggamnya, menyentuh-nyentuhnya, merasakannya. Ia kemudian membawa batu itu bersamanya dan meletakkannya di meja kerjanya, sebagai “oleh-oleh” sekaligus penindih kertas-kertas dokumen. Besok harinya, tepat ketika ia memasuki ruang kerjanya itu, ia mendapati batu itu sudah tak di sana; tergeletak di tempat lain meski masih di ruangan tersebut.

Besok harinya lagi ia kembali mendapati hal yang sama, begitu juga besoknya dan besoknya lagi. Terus seperti itu. Ia yang semula melihatnya sebagai sesuatu yang ganjil dan tak masuk akal mulai mencoba menerimanya sebagai sesuatu yang nyata-meski-tak-terjelaskan. Lambat-laun ia mulai merasa batu berbentuk ginjal ini mengganggunya; perhatiannya terisap kuat oleh batu tersebut dan ia jadi merasa waktu dan energinya banyak berkurang dan ini mengacaukan ritme hidupnya. Di titik ini ia mulai mencoba menghubungkan kemunculan dan tingkah aneh batu berbentuk ginjal ini dengan realitas yang dijalaninya. Saat itu, ia sedang dalam sebuah hubungan gelap dengan seorang dokter bedah di rumah sakit yang sama, dan ia mulai berpikir hubungan tersebut tak lagi baik baginya.

Si narator memberitahu pembaca bahwa ketika si perempuan menemukan batu berbentuk ginjal itu bisa jadi ia sesungguhnya sudah mulai merasa terganggu oleh hal tersebut, hanya saja ia tak menyadarinya. Rasa bersalah di dalam dirinya muncul, bergerak di alam bawah sadarnya, baru kemudian ia menemukan batu berbentuk ginjal itu. Kelak ketika si perempuan melemparkan batu berbentuk ginjal itu ke laut dan besoknya ia mendapati batu itu terdiam tanpa dosa di meja kerjanya di dalam dirinya masih ada pertentangan yang kuat antara ia menginginkan hubungan gelapnya itu berakhir namun di sisi lain ia masih enggan melepaskan si dokter bedah. Lalu di akhir cerita, ketika si perempuan sudah memantapkan keputusannya untuk mengakhiri hubungan gelapnya dengan si dokter bedah itu, batu berbentuk ginjal tersebut tak lagi ditemukannya di meja kerjanya, tidak juga di tempat-tempat lain.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan si perempuan terhadap hubungan gelapnya dengan si dokter bedah sangat mungkin berhubungan dengan kemunculan dan perilaku aneh batu berbentuk ginjal itu. Masalahnya, si narator, ataupun tokoh-tokoh dalam cerita, tak memberikan pernyataan yang tegas dan terang-benderang tentang keterhubungan ini.

Ini saya kira sesuatu yang menarik; sebuah permainan yang cerdik, dan menarik. Kedua hal itu bisa jadi berhubungan namun bisa jadi tidak sama sekali; tiadanya pernyataan kentara dari si narator tentang hal ini membuat dua kemungkinan tersebut terus saling tarik-menarik tanpa henti. Pembaca kemudian jadi seperti berada dalam sebuah ambiguitas, sebuah situasi di antara.

Seandainya memang kedua hal itu berhubungan, maka situasi batu berbentuk ginjal itu bisa dilihat sebagai simbol dari situasi hubungan gelap yang tengah dijalani si perempuan. Kemunculan batu berbentuk ginjal adalah simbol dari mulai tidak yakinnya ia dengan perselingkuhan yang dijalaninya; tingkah aneh si batu di ruang kerjanya, adalah simbol dari rasa bersalah yang terus mengganggunya; munculnya kembali batu itu di ruang tersebut meski si perempuan telah membuangnya, adalah simbol dari belum relanya ia mengakhiri perselingkuhannya; dan tiba-tiba lenyapnya batu itu, adalah simbol dari totalitas dan keputusan bulat si perempuan atas hubungan gelapnya.

Si simbol dan apa yang disimbolkan, bisa dilihat, dihadirkan dalam satu tubuh cerita, dan keduanya disandingkan dengan arah gerak yang sama dan seperti saling memengaruhi namun juga tidak. Simbolisme yang ada, pada akhirnya, begitu ambigu dan begitu di antara. Ia tidak terang-terangan merupa simbol namun di saat yang sama “takdir cerita” begitu kuat mengarahkan sugesti pembaca ke sana. Seperti inilah, barangkali, simbolisme Haruki Murakami. Sebuah simbolisme yang penuh ambiguitas dan tarik-menarik. Cerita yang sedari tadi saya bahas ini sendiri adalah “The Kidney-Shaped Stone that Moves Everyday”.

___

Di cerita berjudul “Yesterday”, seorang lelaki yang lahir dan tumbuh di Tokyo, pada satu titik hidupnya, memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Sebagai informasi, Kansai adalah sebuah kawasan di Jepang dengan dialeknya yang khas; dialek ini, dalam arti tertentu, menunjukkan betapa si pengguna seseorang yang santai dan riang dan cair dan berselera humor tinggi, berbeda sekali dengan dialek Tokyo yang, dalam arti tertentu, nyaris kebalikannya—formal, kaku, umum. Di mata orang-orang Jepang adalah normal dan biasa saja seseorang yang lahir dan tumbuh di kawasan Kansai berubah menjadi seorang pengguna dialek Tokyo ketika ia berada dan hidup di Tokyo; semacam bagian dari penyesuaian yang tak terhindarkan. Tetapi situasi sebaliknya, tidak.

Si lelaki itu benar-benar berusaha keras menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Ia mempelajari dialek Kansai dengan giat, mengoceh tentang hal-hal yang akan mengingatkan lawan bicaranya kepada Kansai, membuat nada bicara dan gestur dan tingkah kesehariannya memperkuat kesan tersebut, bahkan sampai mencoba menjalani kehidupan di Kansai. Hasilnya sempurna. Seseorang yang berhadapan dengannya tanpa pernah lebih dulu mengenalnya akan mengira ia berasal dari Kansai. Hanya jika ia sendiri yang mengatakan ia lahir dan tumbuh di Tokyo, baru seseorang itu menyadari dugaannya keliru.

Adapun mengapa lelaki itu sampai berusaha keras mengubah bahasa sehari-harinya, itu dikarenakan ia ingin menjadi sosok yang berbeda. Ia yang seorang pengguna dialek Tokyo adalah ia yang ingin dilupakannya, yang ia ingin sekali melarikan (dan membebaskan) diri darinya—ia dengan segala persoalan masa lalu dan masa kini dan masa depan yang kadung ada padanya. Lelaki ini tipe seorang jenius yang prestasinya di sekolah cemerlang namun pada satu titik ia tak lagi tertarik pada kecemerlangan semacam itu. Setiap bulan, ia pergi ke seorang psikolog hanya untuk mendapati psikolog itu memancingnya bercerita dan ia jadi kesal dan menilai si psikolog itu telah “melabelinya” tanpa pernah mengenalnya. Ia punya kegelisahan yang menjadi-jadi terkait hubungan percintaannya dengan pacarnya, bahwa ia tak bisa membayangkan dirinya dan perempuan itu berhubungan seks sebab ia telah berteman dengan si perempuan sedari kecil, sehingga lambat-laun ia berpikir akan baik jika mereka tak lagi bersama dan perempuan itu mengencani lelaki lain.

Si narator, seperti dalam cerita tentang batu berbentuk ginjal tadi, di sini pun tidak terang-terangan mengatakan bahwa dua hal tersebut berhubungan, bahwa kerja keras si lelaki untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai adalah simbol dari keinginan kuat si lelaki untuk menjadi sosok yang berbeda, untuk meninggalkan dirinya dengan segala persoalan yang ada padanya. Perlu ditambahkan, pacar lelaki itu adalah sesosok perempuan yang menyenangkan baik dari segi tampilan maupun pembawaan, sehingga sangatlah aneh seseorang yang adalah pacarnya justru berusaha melepaskan diri darinya. Sedikit-banyak, situasi ini mirip dengan anggapan betapa anehnya seorang pengguna dialek Tokyo memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Bukan sesuatu yang umum. Katakanlah begitu.

Sampai di titik ini bisa dilihat bahwa kerja keras si lelaki untuk menjadi pengguna dialek Kansai adalah simbol dari keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi sosok yang berbeda. Seperti di kasus batu berbentuk ginjal tadi, ini pun semacam simbolisme yang ambigu, sebuah simbolisme yang di antara. Dan ada yang lebih menarik lagi. Si tokoh lain yang dipasangkan sebagai teman si lelaki itu berada pada situasi sebaliknya; ia lahir dan tumbuh di Kansai tetapi kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Tokyo demi beberapa alasan yang intinya ia tidak menyukai situasi yang dialaminya dulu ketika ia masih seorang pengguna dialek Kansai. Dua sosok yang bertolak belakang, namun dipasangkan sebagai teman; dan bertemunya dua sosok inilah yang, harus diakui, menjadi awal dari perubahan jalan hidup si lelaki ke depannya. Ini sendiri bisa jadi sebuah simbol. Di dalam kehidupan, yang putih dan yang hitam kerap bertemu dan mereka justru “berteman”, melebur, bahkan menyatu. Dan perubahan setelahnya adalah sesuatu yang niscaya.

___

Di cerita berjudul “UFO in Kushiro”, simbolisme serupa pun ada. Seorang lelaki mendapati istrinya tak ada di rumah di hari keenam setelah gempa hebat melanda Kobe. Perempuan itu pulang ke rumah orangtuanya di Yamagata. Ia mengemas nyaris semua barang kepunyaannya, dan meninggalkan sebuah memo yang berisi informasi—juga perintah—soal tak perlunya si lelaki menyusul dan bahwa ia akan segera mengirimkan dokumen-dokumen perceraian. Sebelumnya, selama enam hari berturut-turut, perempuan itu selalu dilihat si lelaki mengamati tayangan-tayangan berita di televisi tentang gempa Kobe dengan tingkat konsentrasi tinggi; seakan-akan, selama seharian, perempuan itu tak melakukan apa pun lagi selain menonton tayangan-tayangan tersebut.

Gempa besar di Kobe, penayangan berita-beritanya di televisi, sikap perempuan itu yang ganjil terhadap tayangan-tayangan tersebut, dan kepergian—lebih tepatnya kepulangan—perempuan itu, seperti sebuah mata rantai yang unsur-unsurnya saling memengaruhi satu sama lain, tetapi tak bisa dipastikan begitu sebab si narator, lagi-lagi, tak memberikan pernyataan yang terang-benderang akan hal ini. Pembaca hanya dibuat menduga-duga. Pembaca berada di antara dan harus merelakan dirinya terjebak dalam tarik-menarik tiada akhir antara yang simbol dan yang nyata. Sebuah ambiguitas. Sebuah simbolisme yang ambigu.

Dengan kesedihan dan kekosongan melingkupinya, si lelaki memutuskan untuk “berlibur” ke Kushiro, sebuah kawasan di Hokkaido. Ia ke sana memenuhi permintaan seorang rekan kerjanya; ia membawa sebuah kotak yang kata rekan kerjanya itu harus diserahkannya kepada seseorang di Kushiro, seorang perempuan yang kelak mempertemukannya dengan seorang perempuan lain. Hokkaido adalah pulau di bagian atas Jepang, sebuah kawasan yang dingin, dan saat itu sedang musim dingin. Maka keberangkatan si lelaki ke Kushiro, tak bisa dimungkiri, seperti simbol dari apa yang tengah dialami si lelaki di dalam dirinya, di dalam hatinya, di dalam hidupnya. Ia baru saja berpisah dengan seorang perempuan yang telah mendampinginya bertahun-tahun. Ia sedang dalam keadaan kosong, mati, dingin. Dan begitulah situasi di Kushiro, saat itu.

Di Kushiro, ia menyerahkan kotak yang dibawanya itu; sebuah kotak yang sampai cerita berakhir pun tak bisa dipastikan apa isinya; pembaca dibuat menduga-duga dan ini bisa jadi sebuah aktivitas tanpa garis finis. Memang, dari seorang perempuan yang ditemui si lelaki di Kushiro, pembaca memperoleh semacam informasi bahwa sesuatu di dalam kotak itu adalah situasi yang tengah dialami si lelaki, bahwa di detik si lelaki menyerahkan kotak itu kepada si perempuan yang satunya lagi di detik itu pula ia menyerahkan situasinya, merelakan dirinya yang tengah bersedih dan dilanda kekosongan itu lenyap dan terlupakan, sehingga ia bisa mulai menjadi dirinya yang baru, mengisi kekosongan itu dan mengenyahkan kesedihannya. Ia dan si perempuan berada di sebuah love hotel, sebuah tempat yang akan dipilih seseorang ketika ia ingin bercinta dengan pasangannya. Tapi lelaki itu tak berpikir ke arah sana; ia bahkan tak bergairah sama sekali dan ketika ia dan si perempuan telah sama-sama telanjang pun mereka tak jadi bercinta karena ia tak merasa ia ingin (dan pantas) melakukannya. Sebuah simbol dari keragu-raguan. Sebuah simbol dari kegelisahan. Sebuah simbol dari kekosongan yang coba diisi namun tak juga terisi. Khas Haruki Murakami.

Sebelum si lelaki dan si perempuan berada di love hotel itu, mereka, juga satu perempuan lain, si perempuan yang kepadanya si lelaki menyerahkan kotak misterius itu, sempat mampir ke sebuah kedai mi. Itu sebuah kedai yang cukup luas dan hangat, dan ia ada di kawasan dingin di musim dingin. Untuk bisa sampai di sana, mereka menempuh perjalanan bermobil dari bandara, dengan sebuah mobil Subaru kecil. Hal-hal ini pun bisa dilihat sebagai simbol, dengan penafsiran kurang lebih seperti ini: bertolaknya si lelaki dari bandara adalah sebuah langkah awal ia mengatasi kesedihan dan kekosongannya; perjalanan bermobil yang tak begitu terasa nyaman, adalah situasi yang harus dihadapinya untuk bisa mengatasi kesedihan dan kekosongan itu; tibanya ia di kedai mi yang hangat, adalah buah awal, sesuatu positif, yang diperoleh si lelaki dalam proses penyembuhannya; bertolaknya si lelaki dari kedai mie yang hangat itu ke love hotel yang intim-privat, adalah titik kritis yang mau tak mau akan dihadapi si lelaki dalam upaya pembebasannya itu.

___

Demikianlah simbolisme Haruki Murakami. Ia sebuah simbolisme yang ambigu, yang menempatkan pembaca dalam sebuah situasi di antara, dan ia hadir dalam satu tubuh cerita yang sama dengan sesuatu yang disimbolkannya, dan di antara keduanya seperti terjadi sebuah interaksi tarik-menarik namun tak bisa dipastikan itu benar. Dan satu hal lagi: simbol-simbol itu terlihat juga sebagai unsur-unsur bawah sadar, sehingga pergerakannya tak ubahnya pergerakan alam bawah sadar; mereka bergerak dalam upaya mengemukakan sesuatu namun pembaca harus lebih dulu coba-coba menafsirkannya dengan menghubungkannya ke realitas di cerita barulah ia bisa (sedikit) memahaminya. Sebuah tubuh cerita dengan simbol dan realitas. Sebuah tubuh cerita dengan alam bawah sadar dan alam sadar. Seperti itulah simbolisme Haruki Murakami.(*)

—Bogor, 18 Nopember 2016

– Ardy Kresna Crenata, cerpenis dan esais –

Fiksi Bukanlah Replika Kenyataan

Suatu hari, aku pernah diundang ke Taman Menteng oleh komunitas One Week One Book (OWOB). Di sana, aku akan diajak berbincang mengenai novel baruku waktu itu, PHI.

OWOB sendiri rutin menggelar lapak baca di Taman Menteng. Para pengunjung dipersilakan membaca gratis buku-buku yang dihamparkan.

Sembari menunggu, datang seorang pengunjung. Ia membuka halaman pertama sebuah novel, kemudian berkomentar, “Dialognya kok tidak terasa seperti dialog sehari-hari, ya? Seharusnya kan…” ujarnya sambil mencontohkan dialog dalam bahasa keseharian.

Tentu saja aku tidak setuju dengan pandangannya. Namun, aku diam, karena tidak asik juga mengajak orang random berdiksusi.

Aku ingin bilang kepadanya, fiksi bukanlah replika kenyataan. Fiksi bukan memindahkan apa yang terjadi di dunia nyata, termasuk pula memindahkan bahasa percakapan keseharian ke dalamnya.

Dialog adalah unsur fiksi yang seyogianya kuat dan khas. Dialog tidak terpisah dengan karakter fiksi (homofictus) yang secara teori, ditarik ke garis ekstrem, baik itu positif maupun negatif. Karena itulah, cara aman memilih karakter fiksi ialah, ia tidak boleh moderat. Meski tidak mutlak.

Fiksi adalah karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. (Abrahams, 1981:61). Karya fiksi menyaran pada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan; sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.

(“Teori Pengkajian Fiksi” karya Burhan Nurgiyantoro)

Kebenaran dalam dunia fiksi adalah keyakinan bahwa sesuai dengan pandangan penulis terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dalam hal hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin bahkan bisa terjadi di dunia nyata dan benar dalam dunia fiksi.

Saya lebih suka menyebut fiksi sebagai amplifikasi dari kenyataan.

amplifikasi/am·pli·fi·ka·si/n1 pembesaran, perluasan, atau pengembangan (tentang jumlah, kepentingan, dan sebagainya); 2Filol pengembangan naskah berupa uraian, penjelasan, atau penggunaan banyak kata oleh penyalin (pembaca), kemudian masuk ke salinan naskah berikutnya; 3Ling sarana dalam bahasa yang digunakan untuk memperluas, memperbesar, atau memberi tekanan pada suatu objek

Bagaimana, sepakat, tidak?

Bentuk dan Pola Kerangka Karangan

Setelah memahami pengertian kerangka karangan, selanjutnya kita akan belajar mengenai bentuk dan pola kerangka karangan.

Bentuk-Bentuk Kerangka Karangan

Berikut ini terdapat beberapa bentuk-bentuk kerangka karangan:

Bentuk Kerangka Karangan Berdasarkan Perumusan Teksnya

Berdasarkan perumusan teks, bentuk kerangka karangan terdiri atas:

Kerangka kalimat

Kerangka kalimat mempergunakan kalimat deklaratif ( berita) yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, sub topik, maupun sub-sub topik.

Manfaat kerangka kalimat meliputi:

  • Ia memaksa penulis untuk merumuskan dengan tepat topik yang akan diuraikan, serta perincian-rincian tentang topik itu.
  • Perumusan topik-topik dalam tiap unit akan tetap jelas, walaupun telah lewat bertahun-tahun.Penulis masih sanggup mengikuti rencana aslinya, walaupun baru digarap bertahun-tahu kemudian.
  • Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.

Kerangka topik

Kerangka topik  dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap. Sesudah itu semua pokok,. baik pokok-pokok utama maupun pokok-pokok bawahan, dirumuskan dengan mencantumkan topiknya saja, dengan tidak mempergunakan kalimat yang lengkap. Kerangka topik dirumuskan dengan mempergunakan kata atau frasa. Sebab itu kerangaka topik tidak begitu jelas dan cermat seperti kerangka kalimat. Kerangka topik manfaatnya kurang bila dibandingkan dangan kerangka kalimat, terutama jika tenggang waktu antara perencanaan antara kerangka karangan itu dengan penggarapannya cukup lama.

Gabungan antara kerangka kalimat dan kerangka topik

Kerangka karangan yang menggabungkan antara kerangka kalimat dan kerangka topik. Kerangka karangan yang mencakup kalimat berita dan dan sub-sub bagian maupun pokok-pokok utama dan pokok-pokok bawahan.

Bentuk Kerangka Karangan Berdasarkan Bentuk Karangan

Berdasarkan bentuknya, bentuk kerangka karangan terdiri atas:

Karangan Deskripsi

Bentuk karangan seperti ini banyak di jumpai dalam berbagai betuk karangan, misalnya novel, cerpen , laporan atau berita. Deskripsi adalah Tulisan yang menggambarkan bentuk objek pengamatan, rupa, sifat, rasa atau corak yang melukiskan perasaan.

Sebuah deskripsi di buat untuk membantu pembaca membayangkan suasana mengenal ciri orang, dan untuk memahami suat sensasi atau perasaan melalui ungkapan bahasa. Oleh karenanya dalam membuat deskripsi harus berdasar pada pengamatan yang cermat dan penyusunan kalimat yang tepat yang harus diawali dengan sebuah gambaran yang umum, yang berupa kalimat atau frasa.

Ada berbagai jenis deskripsi yang berupa deskripsi penampilan, kesopanan perilaku, sifat, suara, cara bicara, dan sikap dan ada pula deskripsi melalui pencerapan salah satu pancaindera kita yang harus disusun secara kronologis dan logis.

Karangan Narasi

Secara sederhana di kenal sebagai cerita, peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu yang ada pula tokoh yang menghadapi suat konflik yang berisi fakta atau fiksi.

Karangan Eksposisi

Tulisan yang memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman kepada pembaca yang dapat di temui pada tulisan edotorial, esai, petunjuk penggunaan atau ulasan yang didasarkan pada perincian yang khusus dan cermat, penalaran, dan penggunaan contoh.

Karangan Argumentasi

Karangan yang bertjuan untuk meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi atau membujuk pihak lain agar sebuah pendapat pribadi di terima yang dibuat dengan menyusun alasan atau pembuktian untuk menunjang kalimat topik dengan memberikan penjelasan dan fakta yang tepat.

Karangan Persuasi

Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.

Bentuk Karangan Berdasarkan Rinciannya

Berdasarkan rinciannya, bentuk karangan terdiri atas:

Kerangka Karangan Sementara

Kerangka karangan sementara atau non formal merupakan suatu alat bantu, sebuah  penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitiaan kembali guna mengadakan perombakan-perombakan yang dianggap perlu. Karena kerangka karangan ini bersifat sementara, maka tidak  perlu disusun secara terperinci. Tetapi karena ia juga merupakan sebuah kerangka karangan maka ia harus memungkinkan pengarangnya untuk menggarap persoalannya secara dinamis, sehingga perhatian  harus dicurahkan sepenuhnya pada penyusunan-penyusunan kalimat-kalimat, alenia-alenia, atau bagian-bagian tanpa memepersoalkan lagi bagaimana susunan karangannya, atau bagaimana susunan bagian-bagiannya.

Perencanaan kerangka karangan sementara dilakukan sesuai dengan prosedur. Mula-mula penulis merumuskan tesis berdsarkan topik dan maksud utama dari karangan itu. Kemudian dibawah tesis itu dibuat perinciaan berupa pencatatan semua hal yang mungkin dijadikan pokok-pokok utama atau pokok-pokok tambahan bagi tesis tadi. Pokok-pokok yang mempunyai hubungan satu sama lain atua mempunyain hubungan logis di hubung-hubungkan dengan tanda panah, atau pokok yang tidak mempunyai hubungan dengan tesis dicoret. Pokok-pokok yang diterima sebagai perinciaan dari tesis lalu diurutkan sesuai dengan pola susunan yang dipilih, dengan diberi nomor-nomor urut sesuai dengan pola susunan.

Kerangka karangan non-formal biasanya terdiri dari tesis dan pokok-pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian. Alasan untuk menggarap sebuah kerangka karangan sementara dapat berupa topik yang tidak kompleks atau karena penulis segera menggarap karangan itu.

Kerangka Karangan Formal

Kerangka karangan formal biasanya timbul dari penimbanga bahwa topik yang akan digarap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.

Proses perencanaan sebuah karangan formal mengikuti prosedur yang sama seperti kerangka non-formal. Tesisnya dirumuskan dengan cermat dan tepat, kemudian dipecah-pecah menjadi bagian-bagian bawahan (sub-ordinasi) yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan sentralnya. Setiap sub-bagian dapat diperinci lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sejauh diperlukan untuk menguraikan persoalan itu sejelas-jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, sebuah kerangka karangan dapat mencapai lima atau enam tingkat perincian. Suatu tesis yang diperinci minimal atas tiga tingkat perincian sudah dapat disebut kerangka formal.


Pola Penyusunan Kerangka Karangan

Untuk memperoleh suatu susunan kerangka karangan yang teratur biasanya digunakan beberapa tipe susunan, terdiri atas:

Pola Alamiah

Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam, sebab itu susunan alamiah itu didasarkan pada ketiga atau keempat dimensi dalam kehidupan manusia : atas – bawah, melintang – menyebrang, sekarang – nanti, ,dulu – sekarang, timur – barat, dan sebagainya. Oleh sebab itu susunan alamiah dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu :

Urutan waktu atau urutan kronologis

Urutan yang di dasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca.

Contohnya : Topik (riwayat hidup seorang penulis)

  1. asal usul penulis
  2. pendidikan si penulis
  3. kondisi kehidupan penulis
  4. keinginan penulis
  5. karir penulis

Urutan ruang (spasial)

Landasan yang paling penting, bila topik yang di uraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat . Urutan ini biasanya di gunakan dalam tulisan–tulisan yang bersifat deskriptif .

Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)

  1. Di daerah Kalimantan
  2. Di daerah Sulawesi
  3. Di daerah Sumatra

Topik yang ada

Suatu pola peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian–bagian tertentu . Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus di jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.

Pola Logis

Manusia mempunyai suatu kesanggupan di mana manusia lebih sempurna dari makhluk yang lain, yaitu sanggup menghadapi segala sesuatu yang berada di sekitarnya dengan kemampuan akal budinya. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungannya dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi kiat dengan tanggapan penulis.

Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.

Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika.

Macam-macam, urutan logis yang dikenal adalah :

Urutan klimaks dan anti klimaks

Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling menonjol.

Contoh : Topik (turunnya Suharto)

  • Keresahan masyarakat
  • Merajalela nya praktek KKN
  • Keresahan masyarakat
  • Kerusuhan social
  • Tuntutan reformasi menggema

Urutan kausal

Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat-akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan-persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.

Contoh : Topik (krisis moneter melanda tanah air)

  • Tingginya harga bahan pangan
  • Penyebab krisis moneter
  • Dampak terjadi krisis moneter
  • Solusi pemecahan masalah krisis moneter

Urutan pemisahan masalah

Di mulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut . Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, dan akhirnya alternatif–alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang di hadapi tersebut.

Contoh : Topik (virus flu babi / H1N1 dan upaya penanggulangannya)

  • Apa itu virusH1N1
  • Bahaya virus H1N1
  • Cara penanggulangannya

Urutan umum-khusus

Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).

Contoh : Topik (pengaruh internet)

  • Para pangguna internet
  1. Anak-anak
  2. Remaja
  3. Dewasa
  • Manfaat internet
  1. Media informasi
  2. Bisnis
  3. Jaringan social

Urutan familitas

Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal-hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.

Urutan akseptabilitas

Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/contoh-kerangka-karangan/