Berkunjung ke Museum Tanah di Bogor

Pekan lalu, tanpa sengaja kami berkunjung ke Museum Tanah di Bogor. Awalnya, kami hendak ke Kebun Raya Bogor, namun tepat saat angkot berhenti, hujan turun. Kami berteduh sebentar sebelum memutuskan untuk lari ke mall. Di tengah perjalanan itulah kami melihat Museum Tanah lalu memutuskan untuk singgah.

Museum Tanah Indonesia terletak di jalan Ir. H. Djuanda, Nomor 98, Kota Bogor. Museum ini adalah sarana edukasi bagi para pelajar maupun masyarakat umum untuk lebih mengenal berbagai jenis tanah.   Continue reading Berkunjung ke Museum Tanah di Bogor

Lomba Cerpen Berhadiah Kelas Menulis Gratis Tempo Institute

Kelas Menulis Fiksi Leila S. Chudori

Mau ikutan kelas menulis fiksi Tempo Institute bersama Leila S.Chudori? Aku akan bagikan 1 kursi secara cuma-cuma (GRATIS) kelas menulis yang bernilai 4 juta rupiah tersebut. Caranya mudah banget lho:

  1. Kamu berkomitmen, jika terpilih, benar-benar akan mengikuti kelas menulis tersebut.
  2. Kelas menulis fiksi tersebut akan diselenggarakan selama 5 hari, yakni setiap Kamis, pada 21 dan 28 Maret, 04, 11, dan 18 April 2019 pukul 16.00-19.00 WIB di Tempo Institute, Jakarta.
  3. Share/bagikan pengumuman lomba ini di medsosmu. Dan kalau punya instagram bolehlah follow @pringadisurya.
  4. Cukup tulis di kolom komentar blog ini, link cerpen yang pernah kamu posting di blogmu, beserta alamat email agar bisa dihubungi jika terpilih. Cerpen bisa cerpen lama atau cerpen baru.
  5. Keikutsertaanmu akan kutunggu hingga 25 Februari 2019.
  6. Pengumuman peserta yang terpilih akan diumumkan pada 28 Februari 2019 bakda Maghrib.

Selengkapnya tentang Kelas Menulis Fiksi bersama Leila S. Chudori bisa disimak di https://kelas.tempo-institute.org/course/detail/Menulis-Fiksi-bersama-Leila-S.Chudori


Di kelas TEMPO Institute, peserta akan belajar menulis cerita pendek bersama Leila S Chudori, wartawan TEMPO, sekaligus penulis novel “Pulang”. Mulai dari hal-hal yang dibutuhkan untuk menulis sebuah karya yang baik, kiat menulis cerita pendek, Peserta akan belajar bagaimana membuat Drama Tiga Babak, membuat Karakter, praktik langsung belajar tentang Deskripsi, dan membuat Intro yang menarik.


Kutunggu ya partisipasimu. Pasti seru banget lho kelasnya.

Download Kumpulan Cerpen Pringadi Abdi Surya: Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal adalah kumpulan cerpen Pringadi Abdi Surya yang pertama, terbit tahun 2011. Sebagian cerpen di dalamnya sudah pernah dimuat di koran. Dalam kumpulan cerpen ini pula, saya banyak bermain imajinasi dan pola-pola kejutan (plot-twisted) yang katanya sih, cukup sulit tertebak. Silakan diunduh ya.

Ada 15 cerita di dalamnya. Mulai dari Surat Kedelapan hingga Senja Terakhir di Dunia.

Oh, ya, pengaruh Seno Gumira Ajidarma masih sangat kental di dalam penceritaan. Secara, saya memang penggemar beliau,

Berikut tautannya Dongeng Afrizal

Jika berkenan, mohon dishare postingan ini ke medsos masing-masing ya. Terima kasih.

Omong Kosong “Menteri Pencetak Utang”

Pembahasan tentang utang masih menjadi tema yang menarik. Yang terbaru, ucapan Prabowo yang menyebut kondisi perekonomian Indonesia sudah carut marut seiring bertambahnya utang luar negeri hingga menyebut Menteri Keuangan sebagai Menteri Pencetak Utang. Sontak saja, hal itu menimbulkan reaksi dari Kementerian Keuangan.

Kepala Biro Kehumasan dan Layanan Informasi (KLI) Nufransa Wira Sakti langsung menanggapi hal tersebut. Ia menyampaikan kekecewaannya bahwa tidak sepantasnya sebuah institusi negara yang dilindungi undang-undang dihina atau diolok-olok.

Masalah utang pemerintah, terutama utang luar negeri, kerap keluar dari konteks. Ada satu hal mendasar yang kerap kita lupakan. Yakni bahwa utang pada dasarnya merupakan salah satu kebijakan fiskal yang diatur dalam undang-undang dan pengajuannya harus melalui persetujuan DPR, dibahas secara mendalam dan teliti.

Kenapa demikian? Karena kita menganut penganggaran defisit. Penganggaran defisit adalah anggaran yang memang direncanakan untuk defisit; karena keterbatasan anggaran (budget constraint), pengeluaran pemerintah direncanakan lebih besar daripada penerimaan pemerintah untuk memenuhi tujuan bernegara.

Tujuannya adalah untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

 

Dengan demikian, ketika Undang-Undang APBN disahkan, setelah dibahas di dewan (yang terdiri dari partai pro pemerintah dan partai oposisi), nilai utang sudah diketahui dan disetujui. Logikanya, ruang kritik itu menjadi milik para pembahas anggaran di dewan legislatif. Jika dirasa utangnya terlalu membengkak, dalam hal ini misalnya kebijakan fiskal terlalu ekspansif dan tidak diimbangi dengan anggaran penerimaan negara, maka ruang kritik itu hadir sebelum APBN disahkan.

Tugas anggota dewan (wakil rakyat) adalah mengawasi realisasi APBN, dalam hal ini realisasi utang, apakah sudah digunakan untuk mencapai tujuannya (untuk infrastruktur), dan apakah terjaga rasionya seperti yang sudah direncanakan. Dalam hal ini, boleh kita menetapkan semacam batas psikologis bahwa defisit anggaran harus sesuai dengan yang direncanakan, dan dalam bahaya apabila rasionya melebihi 3% terhadap PDB sebagaimana yang disyaratkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Bila itu tidak terjadi, apa yang harus diributkan?

Pertanyaan mendasar berikutnya adalah kenapa kita menganut penganggaran defisit? Kenapa tidak menganut penganggaran berimbang seperti masa Orde Baru?

Hal yang harus diluruskan pertama kali adalah kita tidak pernah menganut benar-benar penganggaran berimbang (dalam hal ini anggaran pendapatan sama dengan anggaran belanja). Pada masa Orde Baru, kita juga berutang banyak. Namun, utang itu tidak dicatat pada sisi pembiayaan, melainkan pada sisi penerimaan. Sehingga seolah-olah uang yang diterima negara sama dengan uang yang dibelanjakan.

Penganggaran defisit diterapkan di seluruh negara. Ini adalah analisis dasar Keynesian yang mulai banyak diadopsi berbagai negara ketika Great Depression 1928 terjadi. Masa resesi besar itu menjatuhkan perekonomian banyak negara. Ketika itu negara berkeinginan bangkit, namun tak punya modal di dalam negeri. Pada masa resesi, sektor pembayaran privat jatuh, dan tabungan meningkat, menyebabkan sumber-sumber ekonomi banyak tak digunakan. Pinjaman pemerintah alias utang adalah cara untuk menstimulasi ekonomi.

Stimulasi itu ada dalam bentuk G (belanja pemerintah) dan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB), yakni belanja infrastruktur pemerintah. Efek langsung yang dirasakan oleh adanya pembangunan infrastruktur adalah penyerapan tenaga kerja dan pembelian bahan pembangunan infrastruktur. Efek setelah itu, yang harus diukur lewat capital budgeting, haruslah memiliki manfaat yang bisa dikuantifikasi dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi suatu negara.

Di sini, sebenarnya ruang kritik itu terbuka luas. Bagaimana mengukur pengelolaan utang yang berhasil? Bagaimana mengukur tujuan defisit anggaran itu tercapai?

Maka, diperlukanlah sebuah kajian yang komprehensif untuk sebuah kritik. Misal, apakah realisasi utang oleh pemerintah sudah efisien? Apakah pemerintah sudah memastikan bahwa utang yang diterbitkan benar-benar dibutuhkan saat itu dihadapkan pada konsep biaya utang yang rendah? Apakah infrastruktur yang dibangun pemerintah (dengan utang) sudah benar skala prioritasnya?

Menjawab pertanyaan-pernyataan tersebut lebih penting ketimbang terus-menerus meributkan soal jumlah utang, yang secara jelas sudah pasti batasnya dalam undang-undang (rasio defisit anggaran 3% terhadap PDB, rasio utang 60% terhadap PDB –dengan batas psikologis 30%). Bahkan, seorang peraih nobel ekonomi kenamaan, Joseph Stiglitz, menyatakan batas tersebut (yang diadopsi dari Kriteria Maastricht yang menjadi cikal bakal Uni Eropa) sudah tidak relevan lagi.

Menurut Stiglitz, batas tersebut justru hanya akan mematok pikiran kita untuk menjaga defisit, bukan malah memastikan bahwa defisit mencapai tujuannya. Inilah yang ia sebut sebagai deficit fethisisme. Stiglitz justru tak mempermasalahkan berapa pun utangnya, asal utang tersebut memang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Dalam ilustrasi sederhana, lembaga peminjam mampu meminjamkan uang kepada kita dalam batas yang ia yakini kita masih mampu bayar. Bukan kita yang menetapkan batas sendiri. Dan, itu tidak masalah selama kita gunakan utang itu untuk kegiatan produktif yang akan meningkatkan kekayaan kita.

Kita tentu belum seekstrem Stiglitz. Kita masih mengikuti kriteria Maastricht, mengikuti batas yang ditetapkan undang-undang, dan mengelola utang dengan sangat hati-hati. Tidak sembarangan seperti yang digembor-gemborkan dalam dunia politik seperti selama ini.

Pringadi Abdi Surya bekerja di Ditjen Perbendaharaan

Tulisan pertama kali dimuat di Detik.com tanggal 7 Februari 2019

[Review Buku] Phi dan Kenangan-Kenangan yang Saling Berkelindan

Judul              :               PHI: Hidup Adalah Perkara Mengatasi Kenangan demi Kenangan
Penulis           :               Pringadi Abdi Surya
Penerbit         :               Shira Media, 364 halaman

Novel Phi pada dasarnya mengisahkan jalan hidup seseorang bernama Phi dengan segala keunikannya, khususnya cerita cinta Phi dengan sang idaman hati, Zane. Namun, jangan menghadapkan cerita cinta standar yang penuh bunga. Perjalanan Phi mendekati dan akhirnya bersanding dengan Zane cukup rumit. Bahkan melibatkan sekian banyak versi ingatan Phi, kenangan demi kenangan yang bisa jadi sebagian di antaranya hanya khayalan, yang membuat pembaca perlu berhati-hati mencermati baris demi baris cerita. Jika sampai luput, risikonya adalah kehilangan jejak. Kemudian pembaca dapat mengalami kebimbangan dalam memutuskan, mana yang memang nyata-nyata dialami oleh si tokoh dan mana yang bukan.

“Aku tidak tahu apa aku bisa bertahan dalam penderitaan cinta. Seribu tahun milik Tian Feng barangkali tidak sanggup pula mencuci perasaanku pada Zane. Aku tak mengerti, tak pernah rasanya aku memiliki perasaan sedalam ini. Jatuh cinta kali ini melebihi segala cinta yang pernah bersarang di dadaku. Jatuh cinta ini adalah energi besar yang diam, dan emmintaku dengan segera mengubahnya menjadi energi kinetik. Ia butuh gerak, butuh ucap, butuh saluran untuk mengekspresikan segala yang ada dalam hati.” (halaman 314)

Nama Phi, nama si tokoh utama, bukanlah diambil dari istilah pi dalam matematika yang ada hubungannya dengan penghitungan luas maupun keliling lingkaran. Nama Phi disematkan oleh orangtuanya dengan berpatokan pada rasio emas. Dari penjelasan ayah Phi, rasio emas ini dimaknai sebagai rasio baku bagaimana segala hal di dunia ini berjalan, termasuk takdir yang membawa Phi hadir dalam kehidupan orangtuanya. Demikianlah Phi menjalani hari demi hari takdir yang telah ditentukan, menjelajahi berbagai daerah mulai dari Bandung, Palembang, hingga Sumbawa.

Dengan jalan cerita yang kompleks dan berlapis, penulis juga menyertakan sederetan referensi dari musik, sastra, budaya etnik, ekonomi, biologi, matematika, hingga geografi. Sebagian rujukan sepertinya hanya akan dipahami oleh pembaca yang pernah mengetahuinya, karena ada yang tidak disertai dengan penjelasan tambahan. Munculnya nama Sukab misalnya, barangkali akan menyisakan kebingungan atau tidak bermakna apa-apa bagi pembaca yang tidak mengikuti karya-karya Seno Gumira Ajidarma.

Meskipun mungkin akan mengurangi pemahaman pembaca terhadap perasaan sang tokoh atau kesan akan suatu kejadian, tetapi banyaknya referensi ini tidak sampai mengganggu kenikmatan membaca secara keseluruhan. Di sisi lain, penyebutan nama-nama seniman ataupun tokoh cerita lain ini bisa memantik keinginan pembaca untuk mencari tahu lebih jauh, sehingga berpotensi memperkaya wawasan. Termasuk wawasan mengenai perbendaharaan negara, sebab tokoh Phi digambarkan bekerja sebagai pegawai KPPN. Ya, novel ini memang disusun oleh penulis, Pringadi Abdi Surya, sebagian berdasarkan pengalaman pribadinya. Bahkan di naskah awal yang diajukan ke Dewan Kesenian Jakarta nama tokoh utamanya adalah Pring, sedangkan Zane adalah nama istri Pringadi.

Novel yang versi awalnya masuk dalam 11 besar Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini disajikan dengan rapi. Karena alurnya yang memerlukan fokus dan kehati-hatian dalam membaca, buku ini memang belum tentu habis dalam sekali duduk. Namun karena penasaran dengan kelanjutan nasib Phi, rasanya sayang juga jika berlama-lama memberi jeda antarsesi membaca.

Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

oleh W. Hanjarwadi  (Sumber)

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemprograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritma dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan. Continue reading Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan