Masjid Ikonik di Kepulauan Riau

Saat berkunjung ke Kepulauan Riau akhir bulan lalu, guna mengikuti Festival Sastra Gunung Bintan, aku menyempatkan diri untuk berkeliling Bintan hingga Dompak. Kebudayaan Melayu begitu kental. Islam dan tradisi menyatu sehingga nampak oleh kita, di Kepri, unsur budaya dan spiritualitas tak bisa dipisahkan.

Penyatuan dua hal tersebut juga terlihat dari pembangunan masjid. Ada banyak masjid di Kepri yang begitu ikonik. Ia bukan cuma jadi tempat ibadah, tetapi juga jadi tempat wisata dan kebanggaan masyarakat Kepri. Ya, tidak hanya muslim yang datang ke masjid-masjid itu, nonmuslim juga (yang mayoritas wisatawan dari dalam dan luar negeri) turut mengagumi masjid-masjid.

Walaupun tradisi keislamannya begitu kuat, Kepri sangat toleran lho sesuai dengan budaya Melayu. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan Festival Tahun Baru Imlek yang selalu meriah.  Acara festival ini antara lain pawai Imlek, parade busana pengantin ala tionghoa, parade dewa, parade baju adat tionghoa, atraksi dragon, barongsai, reog, kuda lumping, pentas seni, tarian tionghoa, konser artis tionghoa, drum band dan pesta kembang api. Nanti datang ya Tahun Baru Imlek 2019 ke Kepri.

Continue reading Masjid Ikonik di Kepulauan Riau

Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Saya jadi ingin mendokumentasikan karya-karya lama yang sudah dimuat di blog. Dua Puisi dalam buku Amarah ini awalnya kuikutkan lomba di Lembaga Bhinneka. Sajak untuk Kenangan berhasil meraih juara pertama (kalau tidak salah), dan tak disangka, beberapa karya yang diikutsertakan dalam lomba tersebut dibukukan.

Buku Antologi Amarah

Continue reading Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Cerpen Pringadi Abdi: Densha Otoko

Cerpen ini dimuat di  Berita Pagi, 30 Januari 2011

Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).

“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”

Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta.

Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.

***

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kamu jadi cerpenis?”

“Aku ingin jadi pemain bola kok,”

“Seperti M. Nasuha?”

“M. Nasuha?”

“Ya, bek kanan Timnas kita, dulu main di Sriwijaya FC sebelum ikut RD ke Persija. Dia mirip kamu….”

“Apanya yang mirip? Kelaminnya?”

“Aku serius.”

“Aku justru dua rius.”

“Hahaha…”

“Hihihi…”

“Tidak lucu.”

“Aku memang tidak sedang melucu.”

“Orang gila.”

“Dunia memang sudah gila.”

Dan akan bertambah lagi satu hal gila jika benar aku mengikuti petuahnya.

“Ada tiga syarat buat menjadi cerpenis, Pring?”

Wah, cuma tiga.

“Pertama, sering-seringlah bernyanyi di kamar mandi.”

Nah, kalau yang ini aku sudah sering melakukannya.

“Kedua, tinggalkanlah sidik jari di mana-mana.”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah pernah pacaran berapa kali?

“Baru satu kali dan itu pun diselingkuhi…”

“Nasibmu itu, Pring.”

“Terus?”

“Belajarlah untuk berselingkuh… seperti aku.”

“Dengan mantan pacar Dadang Ari Mujiono?”

“Murtono ah.”

“Mujiono saja, biar mirip penyanyi dangdut, geal geol gendat gendut plagiat plagidut…

“Masih hidup dia ya, kapan digantung kemaluannya?”

“Nunggu SBY turun jabatan.”

“Lho?”

“Partai Cabang Rashomon Indonesia.”

“Hahaha….”

“Hihihi…”

“O, ya, yang terakhir yang paling penting, pulang ini kamu harus naik kereta!”

***

Densha Otoko, drama Jepang sebelas episode yang diangkat dari komik itu sedikit bisa menghiburku. Membayangkan perempuan secantik Hermes, dengan rambut pirang dan tinggi yang semampai, bibir tipis yang lembut buat dikecup, bisa bikin jantung deg-degan tak karuan. Kalau saja di kupe pertama, begitu masuk kereta, ia ada dan sedang diganggu pria pemabuk yang lama tak menyusu istrinya, aku bisa tampil bak pahlawan dan memamerkan otot-otot hasil binaan di gymbeberapa bulan belakangan. Aku hajar pria itu sampai giginya rontok satu per satu, kemudian kusuruh ia menelannya lagi. Duh, wanita mana yang tak langsung jatuh hati dan menyandarkan kepalanya di dadaku ini?

“Sekali lagi, Pring, tak pernah ada feminis di kereta ekonomi!”

Raga seperti tahu saja apa yang kukhayalkan. Makhluk satu itu memang pintar membaca pikiranku, termasuk menjejalkan pikiran yang jorok-jorok ke otakku. Aku beri tahu sesuatu ya, aku kenal Sora Aoi sampe Nagase Ai, itu gara-gara Sungging Raga. Oke, tapi ini rahasia ya?

Bicara tentang feminis, kami sering mengidentikannya dengan perempuan yang tak mau kawin, berpakaian terbuka, dan bisa dipakai kapan saja.  Kalaulah kau memperdebatkan arti kawin, aku bersedia menggantinya dengan kata ‘nikah’. Jadi, makhluk bernama feminis ini rata-rata bisa cuap-cuap tentang kebebasan, mengatai-ngatai laki-laki yang penuh ketidaksetiaan, pelaku pelecehan seksual, sampai perampas kebebasan hak asasi para perempuan itu sendiri. Padahal, ini rahasia ya, Pringadi Abdi Surya itu adalah laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, tidak pernah selingkuh, apalagi sampai meninggalkan sidik jari dan menuliskan perkataan semacam “Pringadi was here!” di suatu bagian tubuh. Dan satu lagi, jarang sekali laki-laki yang agresif kalau perempuannya tidak memamerkan onderdil miliknya. Faktanya, sekarang paha dan dada diobral di mana-mana, bukan? Lumayan buat cuci mata, apalagi di kereta.

***

Hanya memang, selain kebohongan-kobohongan yang dikarang-karang dalam ceritanya, Raga itu makhluk yang jujur adanya. Baru sampai di stasiun, aku sudah kebingungan. Orang-orang membawa barang berkarung-karung, kotak-kotak mie, kantung-kantung kresek. Membayangkan akan ditaruh di mana mereka itu, membuatku ingin membatalkan niat naik kereta. Tapi, ketimbang tawa sinis Raga itu meledekku, mending aku nekat naik kereta ini.

Aku mendapatkan tiket berdiri, tetapi beruntung sekali (dalam ekspresi bingungku itu) seorang perempuan—yang kukira sebaya—mempersilakan aku duduk di sampingnya. Awalnya, aku sempat curiga dan teringat dengan cerita-cerita hipnotis, copet, dan hal itu membuatku terjaga memegangi dompet.

“Baru pertama kali naik kereta, ya?” Dia memulai pembicaraan.

Memang tidak secantik Hermes, tetapi bibirnya itu membuatku suka. Aku memang menyukai tipe bibir yang mungil dan agak kemerahjambuan. Kalau dikecup, laki-laki yang semi-agresif seperti aku bisa mendaratkan ciuman dengan mudah—meladeni setiap cara yang dia inginkan. Tentu, dia tak akan bisa menguasai bibirku.

“Dari mana kamu tahu?”

“Tergambar jelas di wajahmu…”

“Baru pertama kali ke Jakarta?” Aku balik bertanya.

“Lha, dari mana kamu tahu?”

Secret makes a man man.”

“Hahaha, epigon Vermouth.”

“Suka Conan juga?”

“Ya, siapa yang tak suka Conan? Aku ingin punya pacar tampan kaya’Heiji Hattori.”

“Hitam?”

“Eksotis.”

“Seperti aku?”

“Kamu… ah, kamu kegemukan.”

“Tapi ‘kan seksi?”

“Seksi di bagian mananya?”

Aku pun tersipu. Dia lebih tersipu melihat aku tersipu.

Kereta mulai bergerak. Sesekali tubuh kami bergesekan.

“Kamu Jogja di mananya? Gejayan atau Kaliurang?”

“Kamu bahkan belum tahu namaku, tapi sudah bertanya tempat tinggalku.”

“Oh iya, aku Pringadi.”

“Waginem.”

“Waginem?”

“Ya, kamu mau mencemooh namaku?”

“Ya, apalah artinya sebuah nama.”

“Keliru. Shakespeare tak pernah bilang begitu.”

“Lantas?”

What is in a name?

“Kamu tahu banyak ya, kuliah di mana?”

“Bahasa dan Sastra Indonesia.”

“Di?”

“Surabaya.”

“Jadi bukan warga Jogja?”

“Kekasihku ada di Jogja, ah tidak pantas juga kalau aku menyebutnya kekasih…”

“Kenapa?”

“Secrets make a woman woman.”

“Ayolah, aku tidak suka penasaran.”

“Aku tidak suka rendang Padang.”

“Aku tidak suka orang Padang.”

“Aku nggak nanya.”

“Hahaha…”

“Lucu?”

“Sedikit.”

“Dia sudah punya kekasih.”

“Dia?”

“Kekasihnya tahu dia juga mencintai aku.”

“Cinta?”

“Cinta yang terbata-bata.”

“Orang belajar membaca dengan mengeja. Orang mengeja pun memulainya dengan terbata.”

“Tapi, aku mencintainya.”

“Lantas, kenapa kamu ke Jakarta?”

“Aku ingin bunuh diri.”

Dia mengangkat sedikit roknya.  Naik ke atas lutut. Sayang, cuma sedikit di atas lutut. “Dia sudah merabaku di sini, sampai ke tempat lain yang tak mungkin aku perlihatkan, Pring.” Dia menangis. Aku memberinya sapu tangan. Ia membuang ingusnya di sapu tangan itu.

“Tapi, kamu masih perawan ‘kan?”

“Penting kujawab?”

“Tes keperawanan di mana-mana.”

“Tapi, bukan dia… bukan dia yang mengambil keperawananku.”

“Lalu siapa?”

“Pacarku yang sebelumnya.”

“Hah?”

“Aku benci cerpenis.”

“Lho?”

“Mereka berdua cerpenis. Pokoknya aku tidak mau melihat cerpenis lagi mulai sekarang!”

“Memang cerpenis-cerpenis itu brengsek. Sekaligus bodoh. Akutagawa, Hemmingway, ah, mereka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jadi, jika kamu bunuh diri, kamu akan sama bodohnya dengan mereka, Nem.” Aku menjawab sambil menjilat ludah sendiri.

“Jadi kamu bukan cerpenis?”

“Bukan. Aku PNS.”

“PNS?”

“Ya. Penyair Negeri Sipil.”

“Hahaha…”

“Pokoknya jangan mati di Jakarta. Biaya pemakamannya mahal.”

Kereta masih berjalan dengan kecepatan yang sama. Suara riuh kereta, keluhan orang-orang, mereka yang mengorok di depan kami, tapi kami tidak berteriak. Kami saling berbisik dalam jarak beberapa centi. Aku ingin menciumnya.

“Lalu aku akan tinggal di mana jika aku batal bunuh diri di Jakarta nanti?”

“Ke kosku saja.” Aku sudah mulai membayangkan adegan-adegan romantis yang terjadi jika sepasang manusia dibiarkan berduaan dalam satu kamar.

Dia mencubit lenganku genit.

“Eh, ngomong-ngomong siapa cerpenis yang kamu maksud tadi? Aku juga lumayan banyak kenal cerpenis.”

“Mereka berdua cukup terkenal sebagai cerpenis muda baru-baru ini. Aku putus dengan Dadang gara-gara kebiasaannya yang suka memplagiat karya orang lain. Aku tidak suka plagiasi. Kalau Raga, ya, dia nggak ganteng-ganteng amat sih, tapi orangnya tegas. Misterius. Suka bikin aku penasaran.”

Tiba-tiba laju kereta ini mendadak seperti berhenti dan berbalik. Kereta tidak jadi ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta di mana Sungging Raga akan duduk tersenyum di stasiun, melambai, dan memelukku sambil mengatakan, “Apa yang sudah kamu pelajari dari perjalanan keretamu yang singkat itu, Pring?”***

(2011)

Puisi Pringadi Abdi Surya: Dari Angin, Kita Pergi ke Surga

Ketiga puisi ini kukirimkan buat aplikasi Banjarbaru Rainy Day Festival 2018 yang disebut-sebut Binhad Nurrohmat penuh kekacauan. Namaku masuk dalam antologi puisi, namun aku tak tahu bagaimana wujud buku itu, dan puisi apa yang diterima. Tidak ada kabar lebih lanjut sama sekali. Ya, aku bagikan di sini saja. Semoga teman-teman menikmatinya.



ANGIN

setelah ini, tak akan ada lagi yang bersedia
membawa cahaya turun dari atas bukit

kaki angin baru saja dipatahkan
saat gagal menginjak pucuk-pucuk cemara

daun-daun yang kehilangan arti
jatuh begitu saja, menjadi batu atau besi
tak sanggup berdamai dengan gravitasi;

dalam suratmu yang terlambat sampai itu
aku memahami kerinduan melihat layang-layang
ingin merdeka dari ikatan benang
menunggu evolusi, dan langit jadi lautan
kau adalah ikan yang berenang di dalam kolam

aku tetap terasing dan selalu gagal berteriak
menanti siapa saja yang rela menjemputku
tanpa kendara, tanpa…

(2013)


SEBUAH PELURU PADA SABTU ITU

Ia sedang berpuasa dan tak pernah
memikirkan malam minggu akan berbuka di mana
Ketemu teman sekolah misalnya,
berkumpul, bergosip tentang laki-laki
yang dulu mengirimkan surat cinta
Lalu saat azan dikumandangkan, pesanan
menu berdatangan
Tapi, tak pernah ada yang tahu
Diam-diam hari itu ada yang memesankan peluru
untuknya
Tanpa nama, dengan paket super kilat
Catatan terselip kepada si pengantar
“Harus tepat dikirimkan ke dadanya”

Sebuah peluru itu, tak mungkin dari laki-laki
yang dulu mencintainya
Semua laki-laki yang ia kenal sudah pergi lebih dulu
Satu yang paling tampan
Melemparkan batu seolah-olah itu granat tangan
Tapi senapan selalu lebih mesra
dari penyair mana saja
Yang mencoba peduli dengan puisi-puisi
Tapi diam bila moncong senjata itu
mencoba berkenalan dengan jantungnya

Ia menyadari, ia tidak bisa menangis hari itu
karena akan tak adil
bila ia kemudian tak menangisi semua orang
yang bertahan demi iman dan tanah air

Dengan tegar, ia berujar
Dunia ini selalu bisa kita pandang baik dan buruk
kecuali Israel terkutuk

Ia sedang berpuasa dan tak pernah membayangkan
malam minggu seperti apa
yang kerap dirasakan anak-anak muda
Ia hanya merindukan ayahnya
Ia merindukan masa kecilnya
Saat ia memimpikan suatu hari
Dunia yang ia kenal ini
Bersepakat tanpa senjata
Lalu segala hal yang mungkin dan tidak mungkin
terjadi dalam hidupnya

Termasuk manakala seorang lelaki
menyalami ayahnya
Dan air mata yang selama ini ia tahan
menderas dengan pantas
Demi mengucap kalimat “Setelah selamanya…”

(2018)


Pergi ke Surga

Dia bilang ingin ke surga
Tapi malaikat bertanya, surga yang mana

Istri dan keempat anaknya ikut serta
dan tak tahu apa-apa
selain ayah adalah seorang kepala keluarga

Anak laki-laki tertuanya belum ikut ujian universitas
Sambil membayang-bayangkan masa depannya ditentukan selembar kertas
Adiknya, mungkin baru masuk masa pubertas
memikirkan gadis dengan kerudung emas
Curi-curi pandang sambil berharap cemas

Tapi malam itu, dia berkata
Besok kita pergi ke surga

Kedua anak laki-lakinya tidak bertanya, surga yang mana
Istrinya mencuri dengar, lalu pergi ke dapur
Ia buka lemari, dan menemukan beras penuh jamur
Kedua anak perempuannya sudah tertidur
Setelah bersabar menunggu janji dimasakkan semur
Besok, ia berencana memasak semua bahan
yang tersisa di rumah

Dengan perasaan bahagia, ia ingin ikut ke surga
Tapi tak tahu surga yang mana

Surga, Ayah, ceritakan tentang surga
Tapi sang ayah juga tidak tahu, surga yang mana
Surga, pokoknya surga!

Malaikat yang baik hatinya berkata

Surga adalah tempat orang-orang yang beriman
Khusuk dalam salat, menjauhkan diri dari hal yang sia-sia
Surga adalah tempat orang-orang yang bertaqwa
Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik
Surga adalah tempat orang-orang berpahala
Menahan diri dari segala hawa nafsunya

Surga bukan…
Surga bukan tempat pembunuh
Bukan tempat orang yang suka menggelar peperangan

Tapi dia berkata sudah dijanjikan surga
Meski tak pernah tahu surga yang mana


 

Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Berikut adalah kumpulan puisi dari saya (Pringadi Abdi) dengan Andi Arnida Massusungan. Kumpulan puisi ini terbit sekitar tahun 2013, secara indie. Dan rasanya cetakannya sudah habis. Rasanya tak ada salahnya, saya bagikan di sini.


Kumpulan Puisi Pringadi Abdi & Andi Arnida Massusungan


Jika bermanfaat, mohon di-share/dibagikan ke teman-temannya, melalui postingan ini. Dengan begitu, saya jadi tahu berapa banyak orang yang berkunjung dan mengunduh kumpulan puisi ini. Continue reading Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Liksitera Sumsel dan Puisi untuk Tanah Bari

Liksitera Sumsel beberapa waktu lalu mengadakan lomba menulis puisi. Satu peserta hanya boleh mengirimkan maksimal 2 puisi. Sebagai orang Banyuasin, Sumsel nianlah, aku terpanggil ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Alhamdulillah, puisiku mendapat Juara I. Continue reading Liksitera Sumsel dan Puisi untuk Tanah Bari

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan