Category Archives: Puisi

Rubrik Puisi | Puisi Anugrah Gio Pratama

TENTANG KAU

untuk Hetty Nurul Pratiwi

Kau menyukai
badai yang berlalu
dan menyukai kemesraan
yang fana bagai abu.

Kau selalu berhasil
menyenandungkan rasa perih,
seakan hidupmu adalah luka
yang tak kunjung memulih.

Kau seperti ketabahan dari musim semi,
merangkai setiap duka jadi bunga
berwarna pelangi.

2019


TIDUR DI MATAMU

Setiap malam,
aku ingin tidur di matamu
dan berselimutkan air matamu.

2019


KETIKA KITA TUA

Ketika kita tua.
Waktu mematahkan tubuhnya.

Dan saat masa itu tiba,
aku hanya ingin menjadi
satu-satunya pakaian yang memeluk
kelemahan tubuhmu tanpa henti,
yang kau sukai dan selalu kau kenakan
berulang kali.

2019


PELANGI YANG INDAH JATUH DI ANTARA SENYUMMU

Pelangi yang indah
telah jatuh di antara senyummu.

Sejak saat itu aku merasa
bahwa seluruh kebahagiaan
yang luruh terlahir
dari manisnya bibirmu.

Sungguh, aku rela menghabiskan
sisa umurku untuk mengumpulkan
senyummu itu.

Lalu menerjemahkannya
hingga aku benar-benar
lelah dan lemah.

Sungguh, aku merasa
bahwa senyummu itu
telah cukup kuat

untuk membangun
seribu kebahagiaan
yang ingin kumiliki,

telah cukup kuat
untuk meruntuhkan
seratus kesedihan
yang kuperam selama ini.

2019


SUNGGUH AKU INGIN

Sungguh, aku ingin
menyaksikan pagi yang jauh
jatuh dengan cepat dan tepat
menuju ke arah pelukan musim semi.

Dan sungguh, aku ingin
menyaksikan sepasang matamu
memancarkan cahaya untuk kegelapan hidupku
di hari ini dan masa depan nanti.

2019


Tentang Penulis

Puisi Anugrah gio pratama

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999.  Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang akan terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang
Remuk Berkeping-keping (Interlude).


Silakan kirimkan puisimu ke Rubrik Puisi Catatan Pringadi. Akan ada bentuk apresiasi pulsa Rp25.000 buat kamu.

Puisi Pringadi Abdi | Dari Pembalut Hingga UFO, Keduanya Tak Punya Perasaan

Jika Kamu Bertanya Padaku tentang Perasaan

Aku akan mengajakmu ke bioskop. Sebuah film yang tayang di hari terakhir.
Semua bangku kosong, kecuali kita
Ketika lampu dimatikan, bayangkanlah sang produser, sang sutradara menyimak dua orang tolol di Cine Crib menganalisis seolah karib
dengan segala pikiran yang tersembunyi.
Sepanjang film, mata kita terpaku ke layar
Aku tak menggenggam tanganmu. Aku tak tahu di mana tanganmu.
Udara dingin yang tak alami itu
berusaha melempar semua praduga kita ke kutub.
Lalu waktu berlalu begitu saja. Kita bahkan tak hapal siapa-siapa saja
yang memerankan setiap tokoh. Kita bahkan lupa alasan kenapa kita memutuskan menonton film itu bersama-sama.

(2019)

Pelajaran Pertama Membeli Pembalut

Ia masuk minimarket, mengambil keranjang
mondar-mandir di lorong sambil berpura-pura melihat barang
Sesekali ia menengadah ke arah CCTV
Semoga ia tidak terlihat seperti pencuri

Ia tidak mencari tissue basah, tidak juga butuh popok
untuk anaknya yang baru berusia dua tahun
Yang lahir lebih kecil dari ukuran kebanyakan
Yang kini ia awasi betul-betul pertumbuhan, terutama lingkar kepala dan berat badan
Ia melongok ke atas rak, mencari pembalut wanita
Meski ia laki-laki

Ia pikir begitulah cara memulai untuk bisa memahami perempuan
Misi berbahaya, tak boleh salah
Sebuah pembalut yang memiliki sayap
Tak boleh tak bersayap
Meski tak tahu betul apa bedanya

Begitulah salah satu cara menjadi lelaki sejati
Setelah tak mampu berbuat apa-apa saat melihat wanita datang bulan,
mengandung, melahirkan, menyusui, dan sendiri
di rumah, menunggu kereta yang tak punya perasaan
mengantarkan lelakinya pulang ke rumah

(2019)

Dia Percaya pada UFO

Dia percaya pada UFO, pada yang asing, pada
yang tak dikenal, pada yang diragukan dan diperdebatkan,
pada sesuatu yang membuat orang penasaran
sekaligus mampu menghadirkan ketakutan.

“Jika suatu saat sebuah UFO raksasa
muncul di tengah kota
membunuh umat manusia, apa
kamu masih percaya pada Tuhan?”

Begitu pertanyaan muncul di kepalanya
dan dia bahagia jika ia mampu lari
dan bertahan atau tidak bertahan.

(2019)

Puisi| Seribu Patung Itu

Aku telah memilih wajah terbaik dari
seribu patung di wihara itu
Agar nanti saat bertemu denganmu,
kau akan menganggapku pria baik-baik
dengan latar belakang dan masa depan yang baik.

Tidak akan kukatakan samsara seperti apa
yang telah kulalui
telah kulihat segala nasib dari berbagai
pilihan yang kutinggalkan, dan kutahan
berbagai perasaan yang hadir di antaranya

Aku tidak akan menganggap diriku sebagai
seseorang yang mendapatkan pencerahan
Sebab langit masih mendung
Tidak ada cahaya yang sudi berkerubung

Biar saja, biar aku memillih satu wajah
tetapi sebuah pertanyaan menjadi hakim
Bagaimana caranya ahli memakai wajah yang lain
ketika belum mampu memakai wajah sendiri?

(2019)

Puisi| Di Atas Jembatan Dompak

Kita seolah dua pengembara
mencari arah baru
Sebab semua yang kita kenali
telah beraroma kekuasaan

Berkendara angin, melewati selat
di atas jembatan Dompak
kita tak perlu takut lagi pada perompak
sejak Hang Tuah pernah melempar kapak

Tetapi yang telah tiada, tak kita bawa
Bahkan segala yang ada, telah kita lupa

 

Puisi | Bukit Pasir Busung

Sesaat setelah menengadah, kita
saksikan cahaya itu
berubah menjadi sepasukan jarum
bersiap menghunjam
siapa saja yang merasa
masih baik-baik saja

Aku hanya bisa merentangkan tangan
Pasrah
Berharap kita berdua, atau salah satu saja
turut diangkat ke langit juga

Tidak hanya bauksit-bauksit itu
menyisakan hanya lubang demi lubang
yang tak mampu berbuat apa-apa
tatkala hujan turun, lalu menggenang

Tak ada yang bisa kita cegah
ketika seorang anak berenang
Sendirian
Terlalu asik karena
seolah-olah kolam itulah
hiburan satu-satunya
di tengah segala penderitaan

Kau menatapku, dan matahari
setelah mendung
mengejek tangan kita yang masih merentang
namun tak kunjung memeluk

(2019)

Download Kumpulan Puisi Koran Tempo

Puisi-puisi ini termuat di Koran Tempo dan dikumpulkan oleh Ardy Kresna Crenata. Lumayan, ada lebih dari 200 halaman. Bisa kita baca dan pelajari kenapa puisi ini bisa dimuat di Koran Tempo.

Silakan download kumpulan puisi Koran Tempo.



Continue reading Download Kumpulan Puisi Koran Tempo