Category Archives: Puisi

Rubrik Puisi | PUISI-PUISI DAFFA RANDAI

 

KEMBANG DADAR

di puncak kekalahan, bersama tujuh penggawa
kuturuni bidar menuju hulu dengan menjelma
tukang sayur yang berdagang di rusuk istana.

tanpa gaun dan perca keputrian, aku membaur
di tengah kerumun rakyat, menyelidik dari jauh
memantik siasat agar kau terjebak.

“pinang dan jajahilah tubuhku segera, paduka.”
biar lekas kuwartakan pesta kawin ke hilir
dan sanggup kupecah tubuh supaya adil.

2019 Continue reading Rubrik Puisi | PUISI-PUISI DAFFA RANDAI

Puisi Jose Luis Borges | Instan

diterjemahkan oleh Pringadi Abdi Surya

Jika aku bisa hidup sekali lagi,
di kehidupan selanjutnya, aku akan mencoba
bikin lebih banyak kesalahan
Aku tidak mau sok jadi sempurna
Lebih santai saja,
Lebih serakah, dari aku yang sekarang,
Faktanya, aku akan mengerjakan sedikit hal saja secara serius,
Lebih tidak higenis,
Lebih banyak mengambil risiko,
Lebih banyak jalan-jalan,
Menyaksikan matahari terbenam
Mendaki gunung,
Berenang di sungai,
Pergi ke lebih banyak tempat, yang sebelumnya belum pernah kukunjungi
Aku akan banyak makan es krim dan mengurangi kekara
Aku akan punya banyak masalah yang nyata, dan lebih sedikit yang seolah-olah masalah
Aku dulu adalah seseorang yang hidup dengan kehati-hatian
Produktif pula
Setiap menit selalu berusaha
Meski tentu saja ada momen-momen suka-suka, tetapi
Jika aku bisa kembali, aku akan mencoba untuk hanya punya momen-momen yang baik.

Jika kamu tidak tahu, dari apa kehidupan itu terbuat,
Jangan sia-siakan waktu sekarang!

Aku dulu adalah seseorang yang tidak pernah ke mana-mana
tanpa termometer,
tanpa termos air panas,
dan tanpa sebuah payung, pun parasut

Jika aku bisa hidup lagi – Aku akan jalan-jalan tanpa beban
Jika aku bisa hidup lagi – Aku akan bekerja bertelanjang kaki
di awal musim semi hingga
akhir dari musim gugur,

Aku akan mengendarai lebih banyak gerobak
Aku akan menikmati lebih banyak matahari terbit dan bermain dengan anak-anak
Jika aku punya kehidupan yang bisa kujalani, tetapi aku kini 85 tahun
Dan aku tahu aku tengah sekarat

 

 

Instants
by Jorge Luis Borges

If I could live again my life,
In the next – I’ll try,
– to make more mistakes,
I won’t try to be so perfect,
I’ll be more relaxed,
I’ll be more full – than I am now,
In fact, I’ll take fewer things seriously,
I’ll be less hygenic,
I’ll take more risks,
I’ll take more trips,
I’ll watch more sunsets,
I’ll climb more mountains,
I’ll swim more rivers,
I’ll go to more places – I’ve never been,
I’ll eat more ice creams and less (lime) beans,
I’ll have more real problems – and less imaginary
ones,
I was one of those people who live
prudent and prolific lives –
each minute of his life,
Offcourse that I had moments of joy – but,
if I could go back I’ll try to have only good moments,

If you don’t know – thats what life is made of,
Don’t lose the now!

I was one of those who never goes anywhere
without a thermometer,
without a hot-water bottle,
and without an umberella and without a parachute,

If I could live again – I will travel light,
If I could live again – I’ll try to work bare feet
at the beginning of spring till
the end of autumn,
I’ll ride more carts,
I’ll watch more sunrises and play with more children,
If I have the life to live – but now I am 85,
– and I know that I am dying …

Puisi-puisi Wahyu Nusantara Aji

Jadi Pohon

Bayang beringin itu, menjadi begitu dingin
Pohon yang tak pernah ingin melihat kita berpisah
Dalam sebuah pertemuan
Setelah kau memelukmu seperti angin
Dan aku jadi pohon
yang kehilangan semua daunnya.

 

Kau

Dalam dirimu, ada aroma batang pohon
Kau berjalan seperti air kebun
Menatapmu seperti menatap matahari
dari lubang di daun-daun
dan buah-buah matang

Kau batang-batang panjang
Dengan sedikit duri di tubuh
Mampu
Memesona tangan-tangan waktu. Continue reading Puisi-puisi Wahyu Nusantara Aji

Review Buku Struktur Cinta yang Pudar | Kekuatan Ibe S. Palogai

Dua kali saya bertemu Ibe. Kedua-duanya dalam pagelaran Makassar International Writers Festival. 2014 dan 2016. Pertemuan pertama, detailnya sudah banyak lupa, tapi kami duduk bersama-sama di Fort Rotterdam, menyaksikan penampilan demi penampilan di atas panggung. Kalau tak salah, saat itu kami juga bersama Faisal Oddang dan Alfian Dippahatang. Mereka bertiga adalah penulis asal Sulawesi Selatan yang gigih.

Pertemuan kedua, Ibe menjemputku di bandara. Penerbanganku sampai hampir tengah malam (atau sudah tengah malam). Aku waktu itu mewakili penerbit Kaurama yang akan membincangkan buku Khrisna Pabichara, novel berjudul Natisha. Dalam kesempatan itu juga aku tidak berbincang banyak dengan Ibe, karena langsung tepar begitu sampai di Kata Kerja, dan keesokan sorenya harus kembali ke Jakarta lagi.

Sayangnya, dalam pertemuan kami, aku tidak banyak membaca karya-karya Ibe. Selintasan. Dan kala itu, aku masih menjustifikasi karya-karya para teman di sana memiliki keterpengaruhan yang cukup kuat, baik dari Aslan Abidin maupun Aan Mansyur.

Struktur Cinta yang Pudar

Sampai kemudian kulihat di toko buku. Mulai dari Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi, Struktur Cinta yang Pudar, dan Menjala Kunang-kunang. Continue reading Review Buku Struktur Cinta yang Pudar | Kekuatan Ibe S. Palogai

Puisi | Tanjung Agung, dari Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Tanjung Agung

Ia melempar kailnya ke muara
berharap menemukan teman
Namun hanya sejumlah ikan
yang berkumpul dan memberi nama
Tak ada bahasa yang bisa dieja
Ia juga tak mengenal duka


Baca juga: Puisi | Musi Landas


Di Sungai Kertak, ia bernyanyi
Sekali lagi dilemparnya kail itu
Berharap temu ikan lebih banyak
Namun hanya rumput yang berdoa
Sebelum senja, seorang anak
Harus kembali ke rumah
Kemudian tangis adalah tragedi
Segala yang ia miliki
dirampas oleh dunia

Ia melempar kailnya ke muara
berharap menemukan teman
Namun yang tampak seolah bidadari
memanggilnya, dan ia menyelam
sampai lupa manusia tak punya insang

(2019)

Puisi ini terinspirasi dari Cerita Rakyat Banyuasin, Asal Mula Desa Tanjung Agung.


Baca juga: Puisi | Mengusir Setan


 

Puisi-puisi Firmansyah Evangelia

Mozaik Santri

Bismillah, dengan ucap paling baka
Aku bersaksi: bahwa hikyat tangan-tanganku
Menggenggam kitab-kitab dan peradaban sarung paling hakiki
Lantas, kerap menakdzimi
Wejangan-wejangan suci para kiai

Telah ku tafsir berkali-kali pagar suci
Mengangungkan permata pertaubatan di kesaksian sujud
Hingga ritmis air mata tumpah
Atas kegelapan dari dosa-dosa yang kucipta

Ini kali, ingin kutanam bibit-bibit iman di ladang hati
Kesabarannya menjelma akar-akar kekar
Serta desing gemerlap dzikir
Memancar pula di tangan tuhan

Doa-doa habis kupanjatkan
Huruf-hurufnya mengalir sebagaiamana sungai tak kenal akhir menjumpai hilir
Memalingkan sekujur resah, yang kerap kali berdiam di curam dada
Sebab, salah satu nya jalan berkah
Berhasil mencapai kristal barokah

Khusyu’ tawaduk suntuk tajuk di sepanjang rukuk
Melafalkan sembilan puluh sembilan nama-nama Tuhan
Mentalbiahkan gelora fatihah di otakku
Sembilu meredam nyala angkara murka bara nafsu di dadaku
lepas bujuk dari rencana syetan tak berwujud.

Annuqayah, 2019



 

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara

Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku
Apalagi yang semestinya hendak ku tutupi berkali-kali pada sepi
Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur
Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau
Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu
Bahkan, seratus duri-durinya
Pasrah menancap di curam dadaku.

Terima kasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku
Telah sempurna menjadi riuh dan debur  lautan
Lebih pasang dari riak maritim, menghempas segudang harapan
Serta memecahkan jembatan panjang di otakku.

Sebelum waktu makin berlalu
Aku berharap padamu
Hargailah perasaanku
Sebagaimana kau mengerti perasaanmu sendiri.

Ozara, ini kali aku bersaksi
Bahwa semenjak mencintaimu
Aku lupa cara hidup yang sebenarnya.

Ozara, harus dengan apa pula ku tatap langit di dadamu
Manakala sesal mendung di mataku
Menjelma kemarau paling ganas di kepala.

Ozara, apakah aku harus ingkar pada sunyi
Biar tetas dari ayat-ayat air mata
Mencipta sungai dangkal di matamu
Agar segalanya bisa kau larungkan
Pada resah yang paling rekah di ceruk-ceruk jiwa.

Ozara,aku sempat ingin berlari dari hikayat
Sebab gurindam kata-kataku
Semakin ranggas tak lagi ganas diksi-diksinya.

Ozara, Mungkin begini saja, jalan terbaik di antara kita
Adalah menjauh paling sempurna.
Tapi, ada  kemungkinan lain
Aku terlalau yatim untuk mencintaimu
Sebab ayah dari rasaku
Telah meninggal paling dahulu.

Aku mohon maaf, Ozara
Jika suatu saat, aku pamit meninggalkanmu
Lalu, kuserahkan kado kecil untukmu
Sebagai pemberian terakhir kali dan selama-lamanya.
Tetapi sebelum itu, aku titip sebotol darah padamu

Mungkin engkau akan menyimpan seribu tanda tanya tentang darah itu?

Sebelum kau Tanya, Aku jawab paling dahulu:
darah itu akan menjadi saksi,bahwa aku pernah berjuang mencintaimu,  meski perihal kegagalan yang sempurna kucapai”.

Maka, cukup kuterjemahkan sekarang
Bahwa hakikat musim yang bertahun-tahun kugenggam
Adalah kegagalan mencipta hujan di tubuhmu.

Annuqayah, 2019



 

Rubaiyat Hujan

Neng, kemarilah
Duduk bersamaku, Aku ingin bercerita tentang hujan
Yang bertandang di beranda jiwa paling baka
Bahkan, dengan diam aku belum paham
Bahwa nostalgia bintang di bibirmu, memancar pula di palung sorga.

Sejatinya, ingin ku bangun jembatan panjang di tubuhmu
Melebihi kubangan hutan, tempat teduh meredam waktu paling taji bersamamu, sebelumnya kebisingan mengering mencipta keriangan di curam dada, menghempas segala yang hampir panas, cemas membara tak kunjung ranggas
Hingga kertas-kertas rias, berserakan di pekarangan batinmu
Rapuh makna, lusuh kata-kata yang sempat ku eja,

Dari diksi, majasku tenggelam di dasar neraka.

Neng, pandangilah rumput-rumput yang menari di pulauku mentalbiahkan Madah pada relung jiwamu yang hampir senja.
Neng, Izinkan aku bermain kecipak air di tubuhmu
Menelan asin-tawar kesetiaan, agar buih-buih dari resah tak pernah mampir pada gelisah. Neng, Bolehkah kuterjemahkan emosi gelombang di Jantungmu yang cukup gersang, agar tak pernah ada sebuah pagar, untuk ikan-ikan bermain riang  jumpalitan, sebab bilamana ia tak ada, maka lenyap  pula kisah kesaksian tawa dan air mata diantara kita.

Neng, ingin sekali ku tafsir parau desah ritmis tangis dari kemarau, sekedar meretas gemuruh nyala Angkara Murka di mataku, menebas luka-luka yang berkecamuk di Cakrawala.

Neng, Kini engkau tinggal menunggu, dari perjalanan yang kutempuh, untuk sampai kepelaminanmu.

Annuqayah,2019

 

Bara rindu Di ujung Kelam

;Teruntuk Neng Ozara

“Jika merindukanmu adalah overdosis,
Maka aku adalah orang pertama kali yang akan menderita”

Jujur saja, kasih
Setiap kali kuserap ataupun kunikmati bising sunyi
Di situlah, lahir pula rahim wajahmu
Entah, peristiwa apalagi yang Tuhan haturkan?

Aku masih tetap tak mengerti
Tentang perihal sakral di kedalaman malam.

Mungkin aku sudah benar-benar gila, kasih
Ataukah sebab wajahmu ialah gurindam tunas kata-kata
Tak henti-hentinya menderu di otakku
Terus melaju, hingga sampai nafas waktu
Sesak arah di pertengahan musim.

Pahamilah, kasih
Tentang hikayat kisahku menjadi gila seperti ini
Hanya untuk mencintaimu
Bukan untuk menjadi orang yang paling hina di mata lain.

Annuqayah, 2019

 

 Sebilah  Rindu di pulauku

;Teruntuk Neng Wilda 

“Jika merindukanmu adalah overdosis,
Maka aku adalah orang pertama kali yang akan menderita”

Nona, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku
Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu
Bahwa tragedi paling kukuh:
Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

Apalagi yang harus ku katatakan pada langit
Bila mana kebenaran dari rinduku
Tak pernah mengenal proklamasi musim
Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan
yang bertandang di pekarangan rumahmu.

apalagi yang harus ku sampaikan pada tanah
manakala sejatinya resah
telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak
juga, menjadi tulang-belulang harapan
sebagaimana kehendak tuhan
menghadiahkanku tunas kesabaran.

Apalagi yang harus ku titipkan pada angin
Pabila rahim desirnya
Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

Apalagi yang harus ku rahasiakan padamu
Pabila hakikat dari bebayang lain
Larut sirna di mataku
Dan hanya kepadamulah
hendak ku persembahkan segala rindu.

Annuqayah, 2019



 

Firmansyah Evangelia.nama pena dari Andre Yansyah , lahir di pulau giliyang , menyukai puisi dan tater sejak aktif di beberapa komunitas , di antaranya:PERSI (penyisir sastra iksabad ), LSA (lesehan sastra annuqayah) , Ngaji puisi, Mangsen puisi , Sanggar kotemang, poar ikstida. Beberapa karyanya pernah di muat di : Radar Madura, Nusantara News,Majalah Sastra Simalaba,Potrey Prairey. Buku puisinya : Duri-duri bunga mawar (FAM publising 2019),Rubaiyat Rindu (JSI,2019) Entah apa yang merasukimu? (JSI,2019 jilid II)pernah dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional di jendela Sastra Indonesia 2019, juara 1 Lomba Cipta Puisi Spontan yang di selenggarakan MA 1 Annuqayah 2019. menjadi penulis kontributor dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang di selenggarakan Sanggar Sastra Indonesia 2019.  saat ini sedang nyantri di PP. Annuqayah daerah lubangsa serta menjabat sebagai ketua Persi ( penyisir sastra iksabad) 2019-2020, juga pernah menjuarai lomba teater se- jawa timur di surabaya.