Category Archives: Puisi

Puisi, Antara Imajis dan Liris

Pada mulanya adalah peristiwa. Ya, kita menyaksikan, membaca, atau mendengar sebuah peristiwa. Bila peristiwa tersebut melahirkan kesan yang mendalam buat kita lalu menggerakkan imajinasi kita sedemikian rupa, itulah yang disebut momen puitik.

Pada saat itulah, embrio puisi muncul.

Kata Hasan Aspahani, jika dalam puisimu kau melukiskan saja dengan hidup apa yang kau amati tadi, tanpa memberikan komentar atau pendapatmu tentang pemandangan itu, juga tanpa hendak memberi amanat apa-apa, maka kau menulis sebuah sajak imajis.

Puisi imajis mengandung makna bahwa puisi itu sarat dengan imaji (visual, auditif, dan taktil) atau mendayagunakan imaji sebagai kekuatan literernya. Imaji bisa dimanfaatkan sebagai rasa (kesatuan makna kata), metafora (perbandingan makna kata), maupun sebagai muatan utama sebuah puisi (Banua, 2004).


Gadis Kecil
Sapardi Djoko Damono
 
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis –
di pinggir padang, ada pohon dan seekor burung.
Mata Pisau
Sapardi Djoko Damono

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.


Puisi imajis ibarat melukiskan sesuatu. Imaji bisa ditimbulkan dengan menghadirkan benda-benda konkret, memosisikannya dalam bentuk personifikasi atau metafora. 

Puisi imajis mendedahkan gambar atau imaji kepada pembaca; gambar itu disuguhkan langsung, dengan bahasa yang lugas, tanpa kembang-kembang bahasa figuratif; kata sifat agak dibatasi pemakaiannya karena cenderung akan membuat dekorasi yang justru mengaburkan gambar yang hendak kita susun. Penggunaan kata benda, dalam relasi subjek dan objek menjadi sangat penting. Emosi tidak ditonjolkan dalam puisi imajis, meskipun sebenarnya perasaan si penulis tersimpan di sana.

Berketerbalikan dengan imajis, puisi liris  mengekspresikan emosi atau perasaan personal penyairnya. Puisi ini ditulis dengan sudut padang orang pertama. Aku-Lirik. Penyair di sini tak lagi hanya melukiskan, tapi ia juga menyatukan atau menghadirkan perasaannya di sana.

Aku-lirik tidak membatasi diri pada diri penyairnya. Tapi aku-lirik bisa menjadi siapa saja yang tak terbatas.

Sapardi mengungkapkan bahwa untuk menuliskan puisi liris yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya. Dua elemen penting dalam puisi liris yaitu menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara yang sederhana menyatukannya dengan alam sekitar. Tapi awas,  kita mungkin tergelincir ke dalam sajak-sajak gelap, sajak-sajak yang sama sekali kehilangan kontak dengan pembaca atau ia menghasilkan sajak yang habis sekali baca bahkan tidak jarang sudah habis sebelum dibaca sampai terakhir.


Ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri

(Sajak Samar; Abdul Hadi WM; 1967)


Baca juga: Sembilan Saran Sapardi Djoko Damono

Baca juga: A Few Donts by An Imagisme


Catatan tambahan:

Imajisme, adalah sebuah aliran puisi yang berkembang di Amerika Serikat dan Inggris antara tahun 1909 sampai 1917. Aliran ini dipimpin oleh penyair Amerika Ezra Pound, dan selanjutnya, oleh Amy Lowell. Penyair-penyair imajis lainnya diantaranya penyair Inggris D.H Lawrence dan Richard Aldington, serta penyair Amerika John Gould Fletcher dan Hilda Doolittle. Para penyair itu mengusung manifesto-manifesto dan menulis esei-esei serta puisi-puisi sebagai perwujudan teori mereka. Mereka menempatkan sandaran utama pada imaji-imaji yang tajam dan seksama sebagai jalan bagi ekspresi puitik dan menekankan ketepatan dalam pemilihan kata-kata, kebebasan dalam memilih hal yang menjadi subjek dan bentuknya, dan penggunaan bahasa sehari-hari. Kebanyakan penyair imajis menulis jenis puisi bebas, lebih suka menggunakan perangkat-perangkat seperti asonansi dan aliterasi daripada skema-skema dengan ketentuan formal untuk memberi struktur pada puisi mereka. Kumpulan-kumpulan terpilih dari puisi imajis adalah “Des Imagistes: An Anthology” (1914), disusun oleh Pound, dan tiga antologi yang disusun oleh Amy Lowell, semuanya di bawah judul “Some Imagist Poets” (1915, 1916, 1917). Penulis-penulis Amerika yaitu Marianne Moore, William Carlos Williams, dan Carl Sandburg adalah beberapa di antara sekian banyak penulis-penulis penting yang dipengaruhi oleh imajisme.

Cara Mengetahui Puisi Dangkal dan Jalan Menuju Puisi Hebat

oleh Hasan Aspahani

CHAIRIL Anwar pernah mengemukan sebuah pernyataan keras. Penyair, katanya, harus terus-menerus berjuang untuk mencapai teknik yang baik. Ia juga harus terus-menerus berjuang untuk mencari makna dari kehidupan ini.

“Penyair juga harus melawan godaan-godaan dalam kehidupannya yang tak terhitung banyaknya, yang mencoba menariknya dari kehidupan itu sendiri,” kata Chairil, sebagaimana dikutip Drs M.S. Hutagalung dalam buku “Memahami dan Menikmati Puisi” (Penerbit Buku Kristen; Jakarta; 1971). Continue reading Cara Mengetahui Puisi Dangkal dan Jalan Menuju Puisi Hebat

Pertanyaan di Ruang Itu

Bisa saja aku mengenang Orde Baru, yang telah tumbang itu
saat semua rakyat dipaksa menutup mulut
dan pura-pura bahagia. Di ruang itu sebaliknya,
aku diminta membuka mulut selebar-lebarnya, dan
menjawab pertanyaan setelah divonis radang tenggorokan.

Sesungguhnya aku cukup tersentuh, pertanyaan demi pertanyaan
membuat kami seolah karib dan penuh perhatian:
Apa yang aku makan kemarin, apa aku cukup makan sayuran, apa
terlalu berlebih makan gorengan, apa aku keranjingan
minum minuman dingin

Kubayangkan seandainya Presiden yang bertanya demikian
tidak akan ada warga negara yang kelaparan
Semua orang terisi perutnya, dan bebas dari ancaman kekerdilan
Tidak akan ada yang kena diabetes pada usia muda
Sebab gula atau pemanis pada minuman kemasan
jauh lebih jahat dari teroris yang memberondongkan peluru
Beberapa nyawa mungkin tiada
Ketimbang penyakit gula yang membunuh manusia pelan-pelan

Ia memintaku jujur, lalu kukatakan
aku sudah cukup disiplin melakukan hidup sehat
kujaga pola makan, tidur dan bangun cepat
juga olahraga meski baru plank atau lari di tempat

Namun, ia menyebutku tukang bohong
Sebab radang tenggorokan pasti ada sebabnya
Aku disuruh mengaku pada hal-hal yang tak kulakukan

Lalu apa bedanya masa ini dengan Orde Baru
ketika kebenaran sedemikian baku dan dipaksakan
kalau dulu, segalanya dibungkam
kini, semua diminta berbicara dengan teks yang sudah disiapkan
Semua media besar mengamini
Sehingga tak ada ruang bagi perlawanan

 

 

Puisi | Pulang [Indonesian Poetic Translation of “Home Is Far Away”]

Puitisasi lagu Home is Far Away, Epik High feat Oh Hyuk

Tak ada taksi yang melintas.
Rasanya hujan akan segera turun.
Kubayangkan perjalanan pulang
yang masih begitu jauh.
Dan segala beban hari ini
yang kupanggul di atas pundakku yang renta
ingin rasanya sejenak kuletakkan.

Tak ada yang berubah sedikit pun
Aku masih sendirian.
Setiap kulihat ke depan, pemandangan
Gunung Everest adalah batas dari standar dunia
Dan tekanan hidup
yang membuatku tak pernah mampu beristirahat
meski telah kutenggak segala jenis pil tidur.

Lalu hujan turun, dan rumah, ah
Masih begitu jauh. Aku takut menjadi manusia biasa.

Masih tak ada taksi yang melintas.
Dan ketakutan demi ketakutan seperti cengkeraman tangan
di kakiku.

Aku ingin lari, tetapi tak lagi ada langkah, tak lagi ada hati.
Segala mimpi yang pernah ada, telah menjadi bagasi.

Aku ingin sekali meletakkan jeda di hidupku. Di antara
segala angka dan matematika kehidupan.
Tak sanggup lagi bertahan, dan memandangi telapak tangan
(tangan yang kosong, tak mampu menggenggam apa pun)
Siapa yang bisa bertahan dalam pelukanku? Apa yang mampu
kujaga dalam dekapanku?

Berat sudah rasanya kaki ini. Tetapi,
angin terus bertiup dan masih tak ada taksi
yang melintas. Dan hujan kini melanda dadaku.

Puitisasi Lirik “I’m OK” – iKon

Aku baik-baik saja, tak perlu
menghiburku.
Tak usah ada
rasa iba.
Aku baik-baik saja, tanpa perlu
kautemani.
Kekhawatiranmu akan sia-sia
Sudahlah, jangan pikirkan aku
Aku terbiasa begini, sendiri.

Aku tak mau mendengar kata-kata pengharapan.
Realitas yang begitu memuakkan
membuatku karib dengan insomnia. Sudah kucari
hal-hal yang mampu mengisi kekosongan,
namun berakhir pada minum yang memabukkan.
Situasi yang berbeda tak membuatku jadi berbeda
Menjauh dari diriku sendiri, kesendirian yang selalu ada
dari waktu ke waktu
Dan aku hanya mampu tersenyum setiap kali orang bertanya
tentang kabarku

Pertanyaan basa-basi itu, aku tahu
aku merasa buruk, dan tak berada
Ketika aku merasa sepi, barangkali saat itu
ada air mata yang merembes dan jatuh ke pipi
Saat kau melihatnya…
Tolong, berlalu saja, tak perlu peduli

Rasa sakit akibat perpisahan
Aku tak mau mendengar apapun bernama pengharapan
Luka yang tertinggal dada
Akan sembuh dalam satu-dua hari
Dan kuucap dalam-dalam,
diam adalah bahasa bahagia
air mata adalah tanda cinta

Aku tak akan mati hanya gara-gara
dia telah meninggalkan aku
Jadi, jangan lihat aku seolah-olah
kau melihat seseorang yang menjemput mautnya

Hanya perhatikanlah ketika angin berembus,
daun-daun gugur menari
Dan manakala ombak menyapa, lautan bergelora
Begitu juga dadaku yang terluka
ketika cinta berlalu begitu saja

 

 

Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Saya jadi ingin mendokumentasikan karya-karya lama yang sudah dimuat di blog. Dua Puisi dalam buku Amarah ini awalnya kuikutkan lomba di Lembaga Bhinneka. Sajak untuk Kenangan berhasil meraih juara pertama (kalau tidak salah), dan tak disangka, beberapa karya yang diikutsertakan dalam lomba tersebut dibukukan.

Buku Antologi Amarah

Continue reading Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)