Category Archives: Puisi

Puisi Pringadi Abdi di Solo Pos, 7 Oktober 2018

 

 

Pulang

 

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.

Jatuh ke Senyummu

 

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan

 

 

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Puisi-Puisi Bill Knot, Terjemahan Pringadi Abdi

Puisi
Sebuah layang-layang
sebesar peta mengambang

di atas daratan yang dilukiskan

tetapi pada malam hari tidak ada yang melihat
bagaimana jalan itu berujung
sebagaimana seorang anak merasakan

tangannya tertarik ke atas
menghilang
dalam penghormatan

Pesan
akulah sang pembawa pesan
dikirimkan untuk menemukan
si jenius di dalam semua orang di sini
karena dialah penerima sejati
atas yang kubawa–
dialah yang membaca pertanda
yang tertulis dalam catatan ini
dialah si jenius di dalam semua orang
namun aku, satu-satunya yang mampu
bertahan untuk menyampaikannya kepadamu.

 

Death

Going to sleep, I cross my hands on my chest.
They will place my hands like this.
It will look as though I am flying into myself.
Kematian
Bersiap tidur, kusilangkan kedua tangan di dadaku
Mereka akan menempatkan kedua tanganku demikian.
Terlihat seolah-olah aku sedang terbang menuju diriku.
Bill Knot adalah penyair dari Amerika.

Puisi: Pelajaran Pertama Menendang Bola

ia pernah menendang bola

seolah-olah ia tendang dunia sejauh-jauhnya

semua pemain akan mengejar dan memperebutkannya

tapi terlanjur melambung terlalu tinggi

tanpa pamit pada gravitasi

 

bola itu mendarat di surga

setelah sukses melubangin ozon

tuhan yang lama sendiri dan tersiksa memungutnya

dan menyesal menciptakan kehidupan penuh oksimoron

 

bola itu, bola kecil itu, ia tunggu dan rindukan

sambil memandangi langit yang begitu bosan

menolak berbagai kepalan tangan

 

Tuhan yang baik, kapan bolaku kembali…

 

tapi tahun-tahun berllau, ia kian sendiri

teman-teman bermain bolanya telah pergi

dunia yang dikira ramah menculik mereka

menyekapnya, seperti tahanan dalam penjara

tak ada lagi yang berebut posisi striker

mencetak gol, lalu dielu-elukan bak pahlawan

dan saling mengolok bila ada yang lakukan blunder

lalu dicap sebagai pesakitan

 

bola itu, bola kecil itu, teronggok lesu

kenangan-kenangan masa kecil sudah tak berlaku

dikalahkan perangkap bernama waktu

 

Tuhan yang baik, kapan temanku kembali…

Puisi Pringadi Abdi: Sup Kimlo dan Beberapa Hal Janggal Mengenai Ibu

dimuat di Hari Puisi, 16 September 2018

 

Sup Kimlo dan Beberapa Hal
Janggal Mengenai Ibu

I.

aku benci ibu ketika ia mulai berceramah,
laki-laki harusnya tak pernah punya dada

sambil menunjukkan dadanya yang gosong,
ia mengajakku ke dapur, lalu mengajarkan
caranya memeras kencur, menghaluskan
andaliman, membedakan kunyit dan jahe,

menciptakan air mata dari bawang bombai.

biasanya ibu menanak batu, malam-malam
kami dipenuhi biji pala dan kembang gedang.

“apa kita akan memasak sup kimlo, Bu?”

sebab kami merindukan ayah dan panglima
bermata basah; sebuah ketukan di pintu
rumah, bunyi denting sendok dan piring,
juga jam dinding yang menyerukan larut,
pertanda kami harus segera berselimut.

hanya malam itu, kami kembali menanak
batu. aku tak tahu kapan batu itu matang

juga kenapa dada ibu menjadi gosong.

II.

tak ada yang lebih menyenangkan dari kabar
surga berada di bawah telapak kaki ibu

di hari ulang tahunnya, aku mengado sepatu
agar surga tidak kotor, menginjak tahi lencung

tetapi ibu lebih suka bertelanjang kaki
sama halnya ia lebih sering bertelanjang dada

“…kita tidak perlu menjadi tertutup, Nak.
Biarlah onak—paku merunjam, barangkali
surga juga butuh luka, butuh darah!”

III.

“…tumis bumbu halus, lalu tuangi air,
biarkan mendidih. masukkan daun melinjo
biarkan matang, lalu masukkan ikan pari
panggang. biarkan mendidih sekali lagi…

…di dadanya.”

buku harian ayah memuat banyak resep:
kangkung balacan, rendang, ayam betutu,
yang tak aku tahu—sambal goreng dada

ayah dikabarkan pergi ke surga dan belum
pulang juga. ah, kasihan ayah, setiap hari
harus diinjak-injak oleh ibu. barangkali

ibu sudah mengunci pintunya agar ayah
tak lagi menguji segala macam bumbu

di dada ibu.

Tiga Puisi Pringadi Abdi di Serambi Indonesia

dimuat di Serambi Indonesia, 23 September 2018

 

MENATAP ACEH DARI BIBIRMU

 

Bayangkan suatu pagi, langit dipenuhi ribuan jamur

Pesawat-pesawat melintas, dekat dengan darat

Televisi di ruangan jauh lebih gelisah dari hati

Yang baru saja dikhianati

 

Setetes darah tak akan menetes di bumi Aceh

 

Tapi sejak itu kami mulai terbiasa

Mendongeng tentang saudara kami yang hilang

Kenangan saat makan kambing

Pada sebuah sore yang kini binasa

Orang kampung yang tidak mengerti apa-apa

Selain tani, dan secangkir kopi bahagia

Didudukkan di depan anak-anaknya

 

Bayangkan suatu pagi, dirimu adalah salah satu

Dari anak-anak itu

Tidak ada film kartun lucu

Di depanmu, ayahmu dituduh pemberontak

Sebelum ia sempat menghabiskan

Secangkir kopi yang belum mendingin itu

 

Tak perlu mengerti apa-apa

Pikiran tak pernah begitu penting

Tak masalah memisahkan pikiran itu

Dari raganya.

 

Bayangkan suatu pagi, bukan kami

Yang melihat langit dipenuhi jamur.

Kau menyaksikannya sendiri

Saat hendak berjemur

 

Di ruang keluarga, televisi menyala

Pembaca berita berkata,

Apa yang lebih menyakitkan

Dari sebuah perpisahan?

 

 

 

SAJAK PETANI KARET

 

Tak dapat kucium suatu bau parfum

Tubuhnya yang telah terlalu lama beraroma

getah beku itu

kini seperti pohon karet di musim kemarau

Perasaan bahagianya meranggas

Ia tak ingin lagi kehilangan sisa air mata

yang sudah ditahan dengan susah payah

Tubuhnya kering seperti ranting

yang kini tak memiliki apa-apa lagi

Ia kenang harga komoditas

yang pernah membuatnya berbangga

Sebelum ia tak tahu harus berbuat apa

Lateks di belakang rumah, tak tahu nasib

Harga dirinya kadung lebih tinggi

Dalam kesendirian, ia berguman pelan

 

Aku adalah seorang petani

Namun menjadi petani saat ini

Sama halnya memilih mati

 

 

LADANG

 

aku mencoba menumbuhkan pohon di dalam kepalaku, tetapi
tak ada unsur hara yang memadai.
ada hamparan tanah yang gersang, tak dihuni siapa pun
sebatang rumput yang masih bertahan menyebut dahaga
tetapi itu cara terbaik menguji iman

 

 

 

Puisi: Keheningan Kota

aku mencintai segala keheningan: tak ada
klakson kendaraan, tak ada suara
mesin menjerit-jerit mencari tuan, tak ada
manusia bertanya-tanya tentang tuhan

jalanan lengang, aku bisa berbaring di aspal
dan mencoba mengingat nama-nama yang kuhapal
segala kejadian dan waktu yang paradoksal
orang-orang mati dan hilang akal
disaat yang sama, kita bicara kebangkitan nasional

aku tak ingin bangkit, kucoba berlama-lama
memandang langit tinggi
mungkin saja ia terbuat dari metal
segala doa dan mantra yang dirapal
kemudian akan terpental
dan kembali ke dalam tangan yang kini terkepal

di kota ini, beginilah di kota ini biasanya
orang-orang akan berbagi udara dan amarah
orang-orang akan berebut untuk bersuara
nyawa atau juga kemanusiaan hanyalah angka
yang muncul di surat kabar pagi hari
ada 10 orang mati, 1 wanita diperkosa 14 pria
13 siswa raib, jutaan korban pada tragedi 65

aku menghendaki segala keheningan
cukup kau di sisiku
hanya kau di hidupku