Category Archives: Puisi

Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Saya jadi ingin mendokumentasikan karya-karya lama yang sudah dimuat di blog. Dua Puisi dalam buku Amarah ini awalnya kuikutkan lomba di Lembaga Bhinneka. Sajak untuk Kenangan berhasil meraih juara pertama (kalau tidak salah), dan tak disangka, beberapa karya yang diikutsertakan dalam lomba tersebut dibukukan.

Buku Antologi Amarah

Continue reading Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Puisi Pringadi Abdi Surya: Dari Angin, Kita Pergi ke Surga

Ketiga puisi ini kukirimkan buat aplikasi Banjarbaru Rainy Day Festival 2018 yang disebut-sebut Binhad Nurrohmat penuh kekacauan. Namaku masuk dalam antologi puisi, namun aku tak tahu bagaimana wujud buku itu, dan puisi apa yang diterima. Tidak ada kabar lebih lanjut sama sekali. Ya, aku bagikan di sini saja. Semoga teman-teman menikmatinya.



ANGIN

setelah ini, tak akan ada lagi yang bersedia
membawa cahaya turun dari atas bukit

kaki angin baru saja dipatahkan
saat gagal menginjak pucuk-pucuk cemara

daun-daun yang kehilangan arti
jatuh begitu saja, menjadi batu atau besi
tak sanggup berdamai dengan gravitasi;

dalam suratmu yang terlambat sampai itu
aku memahami kerinduan melihat layang-layang
ingin merdeka dari ikatan benang
menunggu evolusi, dan langit jadi lautan
kau adalah ikan yang berenang di dalam kolam

aku tetap terasing dan selalu gagal berteriak
menanti siapa saja yang rela menjemputku
tanpa kendara, tanpa…

(2013)


SEBUAH PELURU PADA SABTU ITU

Ia sedang berpuasa dan tak pernah
memikirkan malam minggu akan berbuka di mana
Ketemu teman sekolah misalnya,
berkumpul, bergosip tentang laki-laki
yang dulu mengirimkan surat cinta
Lalu saat azan dikumandangkan, pesanan
menu berdatangan
Tapi, tak pernah ada yang tahu
Diam-diam hari itu ada yang memesankan peluru
untuknya
Tanpa nama, dengan paket super kilat
Catatan terselip kepada si pengantar
“Harus tepat dikirimkan ke dadanya”

Sebuah peluru itu, tak mungkin dari laki-laki
yang dulu mencintainya
Semua laki-laki yang ia kenal sudah pergi lebih dulu
Satu yang paling tampan
Melemparkan batu seolah-olah itu granat tangan
Tapi senapan selalu lebih mesra
dari penyair mana saja
Yang mencoba peduli dengan puisi-puisi
Tapi diam bila moncong senjata itu
mencoba berkenalan dengan jantungnya

Ia menyadari, ia tidak bisa menangis hari itu
karena akan tak adil
bila ia kemudian tak menangisi semua orang
yang bertahan demi iman dan tanah air

Dengan tegar, ia berujar
Dunia ini selalu bisa kita pandang baik dan buruk
kecuali Israel terkutuk

Ia sedang berpuasa dan tak pernah membayangkan
malam minggu seperti apa
yang kerap dirasakan anak-anak muda
Ia hanya merindukan ayahnya
Ia merindukan masa kecilnya
Saat ia memimpikan suatu hari
Dunia yang ia kenal ini
Bersepakat tanpa senjata
Lalu segala hal yang mungkin dan tidak mungkin
terjadi dalam hidupnya

Termasuk manakala seorang lelaki
menyalami ayahnya
Dan air mata yang selama ini ia tahan
menderas dengan pantas
Demi mengucap kalimat “Setelah selamanya…”

(2018)


Pergi ke Surga

Dia bilang ingin ke surga
Tapi malaikat bertanya, surga yang mana

Istri dan keempat anaknya ikut serta
dan tak tahu apa-apa
selain ayah adalah seorang kepala keluarga

Anak laki-laki tertuanya belum ikut ujian universitas
Sambil membayang-bayangkan masa depannya ditentukan selembar kertas
Adiknya, mungkin baru masuk masa pubertas
memikirkan gadis dengan kerudung emas
Curi-curi pandang sambil berharap cemas

Tapi malam itu, dia berkata
Besok kita pergi ke surga

Kedua anak laki-lakinya tidak bertanya, surga yang mana
Istrinya mencuri dengar, lalu pergi ke dapur
Ia buka lemari, dan menemukan beras penuh jamur
Kedua anak perempuannya sudah tertidur
Setelah bersabar menunggu janji dimasakkan semur
Besok, ia berencana memasak semua bahan
yang tersisa di rumah

Dengan perasaan bahagia, ia ingin ikut ke surga
Tapi tak tahu surga yang mana

Surga, Ayah, ceritakan tentang surga
Tapi sang ayah juga tidak tahu, surga yang mana
Surga, pokoknya surga!

Malaikat yang baik hatinya berkata

Surga adalah tempat orang-orang yang beriman
Khusuk dalam salat, menjauhkan diri dari hal yang sia-sia
Surga adalah tempat orang-orang yang bertaqwa
Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik
Surga adalah tempat orang-orang berpahala
Menahan diri dari segala hawa nafsunya

Surga bukan…
Surga bukan tempat pembunuh
Bukan tempat orang yang suka menggelar peperangan

Tapi dia berkata sudah dijanjikan surga
Meski tak pernah tahu surga yang mana


 

Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Berikut adalah kumpulan puisi dari saya (Pringadi Abdi) dengan Andi Arnida Massusungan. Kumpulan puisi ini terbit sekitar tahun 2013, secara indie. Dan rasanya cetakannya sudah habis. Rasanya tak ada salahnya, saya bagikan di sini.


Kumpulan Puisi Pringadi Abdi & Andi Arnida Massusungan


Jika bermanfaat, mohon di-share/dibagikan ke teman-temannya, melalui postingan ini. Dengan begitu, saya jadi tahu berapa banyak orang yang berkunjung dan mengunduh kumpulan puisi ini. Continue reading Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Liksitera Sumsel dan Puisi untuk Tanah Bari

Liksitera Sumsel beberapa waktu lalu mengadakan lomba menulis puisi. Satu peserta hanya boleh mengirimkan maksimal 2 puisi. Sebagai orang Banyuasin, Sumsel nianlah, aku terpanggil ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Alhamdulillah, puisiku mendapat Juara I. Continue reading Liksitera Sumsel dan Puisi untuk Tanah Bari

Antologi Puisi Jazirah: Jejak Hang Tuah dalam Puisi

Antologi Puisi Jazirah yang mencoba menafsirkan dan memaknai kembali jejak Hang Tuah diterbitkan dalam rangka Festival Sastra Gunung Bintan 2018. Nyaris 1000 puisi dikirim ke meja panitia dari sekitar 360 penyair dari penjuru nusantara, juga Singapura dan Malaysia. Dari jumlah itu, terpilih 131 penyair dengan sekitar 300 puisi yang mengisi antologi tersebut.

Keterpilihan itu juga menjadi hak untuk menjadi peserta Festival Sastra Gunung Bintan 2018. Aku mengirim 3 puisi, dan dipilih 1 oleh kurator yang terdiri dari Hasan Aspahani, Rida K Liamsi, dan Sutardji Calzoum Bahri. Berangkatlah aku Kamis kemarin, untuk mengikuti festival sastra tersebut.

Puisi yang dipilih berjudul DI TRIKORA:

Di Trikora

Setiap kulihat laut, kubayangkan
diriku laksamana
dan orang-orang lambaikan tangan
ketika layar mulai dikembangkan
Perjalanan jauh
Mencari ujung dunia
Tak lebih baik dari
Perjalanan menuju
Diri sendiri
Ke mana arah, rasi bintang yang setia
Langit Tuhan yang kupuja

Bulan lalu
turun dari langit itu
cahayanya bersangkar
di kepalaku

Lautan yang tak tertebak
Berubah
Seolah permadani yang disibak
Aku berjalan di atasnya
Di atas ikan-ikan yang ikuti jalan

Setiap kulihat laut, kubayangkan
Diriku laksamana
Sebuah bangsa
Akan lahir dari jemariku

(2018)


Continue reading Antologi Puisi Jazirah: Jejak Hang Tuah dalam Puisi

Dari Romantisisme Hingga Generasi Instapoet

Menarik, bila kita menyimak tulisan Ratih Dwi Astuti (2018) di Jurnal Ruang yang membicarakan tentang puisi dalam budaya milenial. Menurutnya, puisi masa kini kebanyakan lahir dengan kuatnya pengaruh budaya milenial yang serbamudah dan serbacepat. Dengan kata lain, Astuti sebenarnya memiliki kekhawatiran bahwa puisi akan kehilangan kedalamannya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Puisi mulai diajak meninggalkan ruang sepinya, terlebih ketika Instagram menjadi fenomena media sosial yang kini kian menanjak. Sampai ada anggapan, sejak ada Instagram, semua orang merasa bisa menulis puisi. Lalu bermunculanlah akun-akun beratas nama sajak/puisi yang menampilkan kata-kata tertentu yang di-like dan dibagikan ke banyak orang. Generasi itu, bahkan memiliki nama sendiri, generasi Instapoet.

Di satu sisi, hal tersebut positif karena bisa membuat banyak orang mengenal dan menyukai puisi. Ibarat Matematika, tidak mungkin seseorang langsung dikenalkan pada logaritma atau integral, semua harus bermula dari aljabar sederhana. Satu ditambah satu sama dengan dua. Namun, di sisi lain, jangan-jangan akan banyak orang sudah cukup puas dengan bisa pertambahan atau perkalian biasa.

Puisi dan variabelnya akan tereduksi sedemikian rupa, sehingga kedalaman tadi, intelektualitas yang dimiliki penyair dalam mengeram puisi-puisinya akan punah. Tersisa puisi cepat saji yang kekurangan kandungan gizi.

Anggi (Niskala) sebagai founder Kumpulan Puisi yang memiliki ratusan ribu followers di Instagram dan jutaan di Line sudah barang tentu memiliki kesadaran untuk mengajak pembacanya hingga ke jantung puisi. Buku puisi pertamanya ini bisa dipandang sebagai upaya membuktikan keseriusan dirinya dalam berpuisi. Continue reading Dari Romantisisme Hingga Generasi Instapoet