Resensi Buku Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka

RESENSI CANTIK ITU LUKA-EKA KURNIAWAN

oleh Laila Sari

Cantik Itu Luka merupakan novel realisme magis karya penulis Indonesia bernama Eka Kurniawan. Ia merupakan mahasiswa lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Nama Eka Kurniawan yang dijuluki sebagai The Next Pramoedya Ananta Toer ini seakan-akan telah menjamur dalam dunia sastra Indonesia, terlebih lagi karya novel pertamanya yang berjudul Cantik Itu Luka. Novel ini berhasil meraih penghargaan World Readers. Eka Kurniawan sebagai penulis novel Cantik Itu Luka juga berhasil meraih penghargaan sastra internasional di Belanda, yakni Prince Claus Awards 2018. Selain diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Beauty is Wound”, Cantik Itu Luka berhasil diterbitkan di tiga negara Eropa dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing, yakni bahasa Jerman, Polandia, dan Norwegia. Hingga saat ini, novel ini telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.

Judul Buku : Cantik Itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Cetakan : Cetakan ketiga belas (hard cover)
Tahun Terbit : Desember 2017
Penerbit : PT Gramedia Putaka Utama
Jumlah Halaman : 508 halaman
ISBN : 978-602-03-6651-7

Novel ini berkisah tentang bagaimana hiruk pikuk seorang perempuan bernama Ayu Dewi dalam menjalani kehidupannya yang begitu keras. Ia adalah sosok wanita yang begitu cantik, akan tetapi kecantikannya itu justru malah membawanya ke sebuah malapetaka yang begitu besar, beruntut, bahkan dirasakan hingga ke keturunan-keturunannya. Kecantikannya membawa dirinya menjadi seorang pelacur pada masa-masa kolonial. Ayu Dewi tampil sebagai sosok pelacur yang sangat dicari-cari, dibayar dengan harga mahal. Dengan hasil persetubuhannya dengan para pemuda-pemuda Belanda dan Jepang, ia melahirkan putri-putri yang juga tak kalah cantik dengannya. Akan tetapi kecantikan putri-putrinya itu justru tidak bertolak belakang dengan nasibnya. Seperti kata pepatah Buah yang Jatuh tak akan Jauh dari Pohonnya seakan-akan sangat mewakili kehidupan Ayu Dewi serta putri-putrinya.

Tokoh-tokoh dalam novel itu begitu banyak. Masing-masing tokoh dalam memiliki kompleksitas masalah masing-masing. Jika biasanya cerita-cerita pada umumnya memiliki satu tokoh sentral, akan tetapi dalam Cantik Itu Luka masing-masing mengambil peran dalam kompleksitas konflik yang bereda-beda. Inilah yang membuat pembaca tidak akan merasa bosan. Semua tokoh dalam novel ini pada dasarnya adalah sebuah silsilah keluarga. Hanya saja silsilah itu disajikan secara tersirat dan sangat rumit seolah-olah kita tidak dibuat sadar bahwa ternyata semua tokoh-tokoh dalam novel ini pada dasarnya merupakan sebuah silsilah keluarga yang utuh. Begitu banyak potongan-potongan cerita yang tak terduga. Barulah di akhir kisah, Eka menyajikan silsilah keluarga tersebut dalam bentuk bagan yang runtut. Sehingga pembaca seperti dibuat speechless dengan penokohannya yang begitu kompleks.

Novel Cantik Itu Luka merupakan sebuah mahakarya sastra yang luar biasa. Kemampuan penyajian bahasa Eka mampu membuat pembaca berpikir liar, sebab jalan cerita disajikan dengan sangat overcomplicated, sehingga tidak heran jika banyak pembaca yang gagal menerka-nerka kisah apa yang akan terjadi selanjutnya, jalan cerita susah ditebak, alur yang digunakan maju mundur. Jika pada bacaan-bacaan biasanya, pembaca akan mengetahui secara langsung apabila alur mengalami pergantian, hal itu akan dirasakan ketika suasana kisah yang diceritakan berbeda dengan yang sebelumnya. Akan tetapi pada novel Cantik Itu Luka, pembaca seakan-akan dibuat “tidak sadar” akan transisi pergantian alur tersebut. Seperti tidak ada sekat pemisah antara kisah pada alur pertama dengan kisah pada alur selanjutnya. Alur maju-mundur tidak sampai memutus rantai pemikiran dan spekulasi-spekulasi meleset saya terhadap jalan cerita.

Latar tempat yang digunakan dalam novel ini adalah Halimunda, serta latar waktu yang digunakan dalam novel ini adalah masa-masa penjajahan kolonial hingga pasca kemerdekaan. Kisah dalam novel ini mengarungi empat masa, yakni masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan. Kisah pada masing-masing masa tersebut disajikan oleh Eka dengan suasana yang benar-benar hidup. Jadi tidak heran jika novel ini bisa saja dikategorikan sebagai novel sejarah. Istilah-istilah sejarah dan kolonialisasi yang digunakan dalam novel ini tidak norak, seakan-akan posisi Eka sebagai penulis mengetahui dan memahami betul bagaimana suasana pada masa-masa tersebut. Alhasil kita sebagai pembaca sekaligus bisa menjadikan novel ini sebagai media pembelajaran sejarah walau dalam konteks karya sastra. Sebab walau sifatnya fiktif, kita sebagai pembaca tetap bisa mengambil nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Banyak sekali sejarah-sejarah yang terkuak dalam novel ini (bahkan ada yang belum pernah diketahui sama sekali).

Melalui Cantik Itu Luka, kita bisa menemukan pratik Jugun Ianfu dalam novel ini. Yakni perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi budak seks oleh tentara-tentara Jepang. Melalui Jugun Ianfu, kita bisa mengetahui bagaimana Dewi Ayu sebagai sosok perempuan di Indonesia memiliki keberanian dalam menjalani hidupnya d iatas kenyataan sejarah yang begitu pahit. Jugun Ianfu bisa dikatakan sebagai bentuk penjajahan tentara Jepang terhadap perempuan-perempuan Indonesua. Walaupun Eka menyajikan kisah ini dengan vulgarisme yang begitu liar, pembaca tetap akan dibuat terkesima dengan sajian percintaan yang tidak kampungan. Tiap bagian cerita tidak akan pernah terlepas dari sajian kisah percintaan dengan bahasa-basa yang liar. Akan tetapi, memang hal itulah yang menjadi ciri utama dari bagian-bagian cerita.

Cantik Itu Luka sangat disarankan untuk para pecinta sastra Indonesia, terutama pembaca yang begitu menyukai genre realisme magis dan sejarah. Buku ini juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah bagi kalangan mahasiswa. Buku ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa sastra saja, akan tetapi bagi mahasiswa sejarah juga. Dengan membaca buku ini, kita akan mengetahui dan memahami bagaimana kenyataan pahit sejarah kolonialisme di Indonesia. Cantik Itu Luka juga mengajarkan kepada kita bahwa makna cantik pada masa itu berbeda dengan makna cantik pada masa sekarang. Perempuan pada masa itu dipaksa menjadi budak penghibur dan pemuas nafsu tentara penjajah, sedang di jaman sekarang kecantikan seakan-akan dikomersialkan bahkan tanpa ada paksaan. Jika harus memilih, tidak ada wanita yang ingin hidup pada masa itu. Semoga dengan buku ini, perempuan bisa lebih banyak belajar dari sebuah makna kecantikan yang bisa saja mencelakai.

Biodata Singkat Penulis

Nama : Laila Sari. Instagram : @sarisrll

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *