Category Archives: Pikiran Pringadi

Berkunjung ke Museum Tanah di Bogor

Pekan lalu, tanpa sengaja kami berkunjung ke Museum Tanah di Bogor. Awalnya, kami hendak ke Kebun Raya Bogor, namun tepat saat angkot berhenti, hujan turun. Kami berteduh sebentar sebelum memutuskan untuk lari ke mall. Di tengah perjalanan itulah kami melihat Museum Tanah lalu memutuskan untuk singgah.

Museum Tanah Indonesia terletak di jalan Ir. H. Djuanda, Nomor 98, Kota Bogor. Museum ini adalah sarana edukasi bagi para pelajar maupun masyarakat umum untuk lebih mengenal berbagai jenis tanah.   Continue reading Berkunjung ke Museum Tanah di Bogor

Omong Kosong “Menteri Pencetak Utang”

Pembahasan tentang utang masih menjadi tema yang menarik. Yang terbaru, ucapan Prabowo yang menyebut kondisi perekonomian Indonesia sudah carut marut seiring bertambahnya utang luar negeri hingga menyebut Menteri Keuangan sebagai Menteri Pencetak Utang. Sontak saja, hal itu menimbulkan reaksi dari Kementerian Keuangan.

Kepala Biro Kehumasan dan Layanan Informasi (KLI) Nufransa Wira Sakti langsung menanggapi hal tersebut. Ia menyampaikan kekecewaannya bahwa tidak sepantasnya sebuah institusi negara yang dilindungi undang-undang dihina atau diolok-olok.

Masalah utang pemerintah, terutama utang luar negeri, kerap keluar dari konteks. Ada satu hal mendasar yang kerap kita lupakan. Yakni bahwa utang pada dasarnya merupakan salah satu kebijakan fiskal yang diatur dalam undang-undang dan pengajuannya harus melalui persetujuan DPR, dibahas secara mendalam dan teliti.

Kenapa demikian? Karena kita menganut penganggaran defisit. Penganggaran defisit adalah anggaran yang memang direncanakan untuk defisit; karena keterbatasan anggaran (budget constraint), pengeluaran pemerintah direncanakan lebih besar daripada penerimaan pemerintah untuk memenuhi tujuan bernegara.

Tujuannya adalah untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

 

Dengan demikian, ketika Undang-Undang APBN disahkan, setelah dibahas di dewan (yang terdiri dari partai pro pemerintah dan partai oposisi), nilai utang sudah diketahui dan disetujui. Logikanya, ruang kritik itu menjadi milik para pembahas anggaran di dewan legislatif. Jika dirasa utangnya terlalu membengkak, dalam hal ini misalnya kebijakan fiskal terlalu ekspansif dan tidak diimbangi dengan anggaran penerimaan negara, maka ruang kritik itu hadir sebelum APBN disahkan.

Tugas anggota dewan (wakil rakyat) adalah mengawasi realisasi APBN, dalam hal ini realisasi utang, apakah sudah digunakan untuk mencapai tujuannya (untuk infrastruktur), dan apakah terjaga rasionya seperti yang sudah direncanakan. Dalam hal ini, boleh kita menetapkan semacam batas psikologis bahwa defisit anggaran harus sesuai dengan yang direncanakan, dan dalam bahaya apabila rasionya melebihi 3% terhadap PDB sebagaimana yang disyaratkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Bila itu tidak terjadi, apa yang harus diributkan?

Pertanyaan mendasar berikutnya adalah kenapa kita menganut penganggaran defisit? Kenapa tidak menganut penganggaran berimbang seperti masa Orde Baru?

Hal yang harus diluruskan pertama kali adalah kita tidak pernah menganut benar-benar penganggaran berimbang (dalam hal ini anggaran pendapatan sama dengan anggaran belanja). Pada masa Orde Baru, kita juga berutang banyak. Namun, utang itu tidak dicatat pada sisi pembiayaan, melainkan pada sisi penerimaan. Sehingga seolah-olah uang yang diterima negara sama dengan uang yang dibelanjakan.

Penganggaran defisit diterapkan di seluruh negara. Ini adalah analisis dasar Keynesian yang mulai banyak diadopsi berbagai negara ketika Great Depression 1928 terjadi. Masa resesi besar itu menjatuhkan perekonomian banyak negara. Ketika itu negara berkeinginan bangkit, namun tak punya modal di dalam negeri. Pada masa resesi, sektor pembayaran privat jatuh, dan tabungan meningkat, menyebabkan sumber-sumber ekonomi banyak tak digunakan. Pinjaman pemerintah alias utang adalah cara untuk menstimulasi ekonomi.

Stimulasi itu ada dalam bentuk G (belanja pemerintah) dan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB), yakni belanja infrastruktur pemerintah. Efek langsung yang dirasakan oleh adanya pembangunan infrastruktur adalah penyerapan tenaga kerja dan pembelian bahan pembangunan infrastruktur. Efek setelah itu, yang harus diukur lewat capital budgeting, haruslah memiliki manfaat yang bisa dikuantifikasi dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi suatu negara.

Di sini, sebenarnya ruang kritik itu terbuka luas. Bagaimana mengukur pengelolaan utang yang berhasil? Bagaimana mengukur tujuan defisit anggaran itu tercapai?

Maka, diperlukanlah sebuah kajian yang komprehensif untuk sebuah kritik. Misal, apakah realisasi utang oleh pemerintah sudah efisien? Apakah pemerintah sudah memastikan bahwa utang yang diterbitkan benar-benar dibutuhkan saat itu dihadapkan pada konsep biaya utang yang rendah? Apakah infrastruktur yang dibangun pemerintah (dengan utang) sudah benar skala prioritasnya?

Menjawab pertanyaan-pernyataan tersebut lebih penting ketimbang terus-menerus meributkan soal jumlah utang, yang secara jelas sudah pasti batasnya dalam undang-undang (rasio defisit anggaran 3% terhadap PDB, rasio utang 60% terhadap PDB –dengan batas psikologis 30%). Bahkan, seorang peraih nobel ekonomi kenamaan, Joseph Stiglitz, menyatakan batas tersebut (yang diadopsi dari Kriteria Maastricht yang menjadi cikal bakal Uni Eropa) sudah tidak relevan lagi.

Menurut Stiglitz, batas tersebut justru hanya akan mematok pikiran kita untuk menjaga defisit, bukan malah memastikan bahwa defisit mencapai tujuannya. Inilah yang ia sebut sebagai deficit fethisisme. Stiglitz justru tak mempermasalahkan berapa pun utangnya, asal utang tersebut memang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Dalam ilustrasi sederhana, lembaga peminjam mampu meminjamkan uang kepada kita dalam batas yang ia yakini kita masih mampu bayar. Bukan kita yang menetapkan batas sendiri. Dan, itu tidak masalah selama kita gunakan utang itu untuk kegiatan produktif yang akan meningkatkan kekayaan kita.

Kita tentu belum seekstrem Stiglitz. Kita masih mengikuti kriteria Maastricht, mengikuti batas yang ditetapkan undang-undang, dan mengelola utang dengan sangat hati-hati. Tidak sembarangan seperti yang digembor-gemborkan dalam dunia politik seperti selama ini.

Pringadi Abdi Surya bekerja di Ditjen Perbendaharaan

Tulisan pertama kali dimuat di Detik.com tanggal 7 Februari 2019

Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

oleh W. Hanjarwadi  (Sumber)

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemprograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritma dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan. Continue reading Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

Puisi, Antara Imajis dan Liris

Pada mulanya adalah peristiwa. Ya, kita menyaksikan, membaca, atau mendengar sebuah peristiwa. Bila peristiwa tersebut melahirkan kesan yang mendalam buat kita lalu menggerakkan imajinasi kita sedemikian rupa, itulah yang disebut momen puitik.

Pada saat itulah, embrio puisi muncul.

Kata Hasan Aspahani, jika dalam puisimu kau melukiskan saja dengan hidup apa yang kau amati tadi, tanpa memberikan komentar atau pendapatmu tentang pemandangan itu, juga tanpa hendak memberi amanat apa-apa, maka kau menulis sebuah sajak imajis.

Puisi imajis mengandung makna bahwa puisi itu sarat dengan imaji (visual, auditif, dan taktil) atau mendayagunakan imaji sebagai kekuatan literernya. Imaji bisa dimanfaatkan sebagai rasa (kesatuan makna kata), metafora (perbandingan makna kata), maupun sebagai muatan utama sebuah puisi (Banua, 2004).


Gadis Kecil
Sapardi Djoko Damono
 
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis –
di pinggir padang, ada pohon dan seekor burung.
Mata Pisau
Sapardi Djoko Damono

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.


Puisi imajis ibarat melukiskan sesuatu. Imaji bisa ditimbulkan dengan menghadirkan benda-benda konkret, memosisikannya dalam bentuk personifikasi atau metafora. 

Puisi imajis mendedahkan gambar atau imaji kepada pembaca; gambar itu disuguhkan langsung, dengan bahasa yang lugas, tanpa kembang-kembang bahasa figuratif; kata sifat agak dibatasi pemakaiannya karena cenderung akan membuat dekorasi yang justru mengaburkan gambar yang hendak kita susun. Penggunaan kata benda, dalam relasi subjek dan objek menjadi sangat penting. Emosi tidak ditonjolkan dalam puisi imajis, meskipun sebenarnya perasaan si penulis tersimpan di sana.

Berketerbalikan dengan imajis, puisi liris  mengekspresikan emosi atau perasaan personal penyairnya. Puisi ini ditulis dengan sudut padang orang pertama. Aku-Lirik. Penyair di sini tak lagi hanya melukiskan, tapi ia juga menyatukan atau menghadirkan perasaannya di sana.

Aku-lirik tidak membatasi diri pada diri penyairnya. Tapi aku-lirik bisa menjadi siapa saja yang tak terbatas.

Sapardi mengungkapkan bahwa untuk menuliskan puisi liris yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya. Dua elemen penting dalam puisi liris yaitu menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara yang sederhana menyatukannya dengan alam sekitar. Tapi awas,  kita mungkin tergelincir ke dalam sajak-sajak gelap, sajak-sajak yang sama sekali kehilangan kontak dengan pembaca atau ia menghasilkan sajak yang habis sekali baca bahkan tidak jarang sudah habis sebelum dibaca sampai terakhir.


Ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri

(Sajak Samar; Abdul Hadi WM; 1967)


Baca juga: Sembilan Saran Sapardi Djoko Damono

Baca juga: A Few Donts by An Imagisme


Catatan tambahan:

Imajisme, adalah sebuah aliran puisi yang berkembang di Amerika Serikat dan Inggris antara tahun 1909 sampai 1917. Aliran ini dipimpin oleh penyair Amerika Ezra Pound, dan selanjutnya, oleh Amy Lowell. Penyair-penyair imajis lainnya diantaranya penyair Inggris D.H Lawrence dan Richard Aldington, serta penyair Amerika John Gould Fletcher dan Hilda Doolittle. Para penyair itu mengusung manifesto-manifesto dan menulis esei-esei serta puisi-puisi sebagai perwujudan teori mereka. Mereka menempatkan sandaran utama pada imaji-imaji yang tajam dan seksama sebagai jalan bagi ekspresi puitik dan menekankan ketepatan dalam pemilihan kata-kata, kebebasan dalam memilih hal yang menjadi subjek dan bentuknya, dan penggunaan bahasa sehari-hari. Kebanyakan penyair imajis menulis jenis puisi bebas, lebih suka menggunakan perangkat-perangkat seperti asonansi dan aliterasi daripada skema-skema dengan ketentuan formal untuk memberi struktur pada puisi mereka. Kumpulan-kumpulan terpilih dari puisi imajis adalah “Des Imagistes: An Anthology” (1914), disusun oleh Pound, dan tiga antologi yang disusun oleh Amy Lowell, semuanya di bawah judul “Some Imagist Poets” (1915, 1916, 1917). Penulis-penulis Amerika yaitu Marianne Moore, William Carlos Williams, dan Carl Sandburg adalah beberapa di antara sekian banyak penulis-penulis penting yang dipengaruhi oleh imajisme.

Peran Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak

Hal pertama yang kujumpai manakala sampai di rumah sepulang dari kantor adalah anak-anakku yang berebut membuka pintu dan menyambutku sambil berteriak-teriak, “Abi pulang! Abi pulang!”

Hari sudah terlalu malam sebenarnya. Perjalanan pulang dari Jakarta Pusat hingga ke rumah memakan waktu kurang-lebih 2 jam. Lelah. Karena harus bertahan di tengah sesak kereta. Dilanjutkan dengan sepeda motor sejauh 6 km.

Sampai di rumah, kadang kusaksikan anak-anak belum selesai makan. Uminya kadang juga pasrah karena si kecil memulai gerakan tutup mulut. Setelah membersihkan diri, aku disodori piring makan si kecil. “Nih, gantian Abi yang nyuapin….”

Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak

Aku terpaksa berpikir kreatif. Usianya belum 2 tahun, tentu tak bisa disuruh dengan cara yang biasa. Menyodorkan ponsel dan memutar Youtube tentu juga bukan hal yang baik karena ia akan menganggap “menu utama” adalah menonton Youtube tersebut, dan makan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mengganggu dia menonton.

Aku pun kemudian memikirkan sebuah cara. “Gianna, ayo cepat berubah jadi ultraman. Harus makan ini dulu biar bisa berubah… Buka mulutnya!” Dia pun mulai membuka mulut, memakan suapanku. Suapan-suapan selanjutnya aku harus beradu peran dengan kakaknya, atau uminya, yang berperan sebagai monster supaya dia terus mau makan. Biar kuat, bisa melawan monster.

Peran orang tua berarti peran ayah dan ibu, ini yang lambat kusadari dan melahirkan penyesalan. Saat anak pertama, aku masih begitu patriarkis. Menyerahkan urusan anak dan rumah ke istri sepenuhnya. Terlebih kami sempat terpisah begitu jauh dan lama karena kerja dan pendidikan. Aku di Sumbawa, NTB, dia di Bandung. Kemudian mendekat aku di Bintaro, dia di Bandung. Anakku yang pertama, dulu bisa dibilang punya berat badan yang sangat kurang.

Masalah anak kurang berat badan ini menjadi tantangan di Indonesia. Satu dari lima anak Indonesia kurang berat badan. Lucunya, kurang berat badan ini bukan karena tak mampu memberi makan anak (dari sisi finansial), melainkan karena para orang tua tak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

dr Conny Tanjung saat menjelaskan permasalahan gizi
dr Conny Tanjung saat menjelaskan permasalahan gizi

Bahaya, karena bila dibiarkan, sang anak bisa kurang gizi (wasting), bahkan kerdil (stunting). 

Kesadaran orang tua sangat dibutuhkan untuk memantau sang anak secara cermat mulai dari berat dan tinggi badan. Di Indonesia, hal itu masih sangat rendah karena selama 2018 saja, baru 54,6% balita yang dibawa ke fasilitas kesehatan untuk ditimbang dan diukur berat dan tingginya. Dan paling sedikit hal itu dilakukan 8 kali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan.

Stunting tentu tak bisa diremehkan. Dalam jangka pendek dan jangka panjang, hal ini berisiko terhadap penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit. Anak tidak tumbuh optimal dan cenderung pendek yang menjadi indikasi adanya gangguan perkembangan otak seperti gangguan daya pikir hingga interaksi sosial, serta penyakit degeneratif.

Yang harus diingat adalah, seorang anak bukanlah orang dewasa dalam versi mini. Asupan dan pola makan yang baik bagi anak berbeda dengan orang dewasa.

Banyak orang tua belum menyadari pentingnya memantau tumbuh kembang anak. Saya juga termasuk yang sangat telat menyadari. Anak pertama saya lahir hanya 1,6 kg, prematur, Uminya terkena preklamsia saat hendak melahirkan. Sang dokter mengatakan terjadi pengapuran di plasenta sehingga makan si bayi terhambat.

Saat hamil, kami tinggal di Sumbawa dengan fasilitas kesehatan yang amat memprihatinkan dan tidak perhatian dengan asupan gizi ibu hamil. Meski ya, makan ikan dan sayur dalah rutinitas.

Dan si anak ini sejak balita makannya memang susah sekali. Kami sebagai orang tua baru kerap menyerah, dan saya tak mengambil peran apa-apa di sana. Itu yang saya sesali. Baru setelah dia mulai sekolah TK, makannya teratur meski seringkali lama sekali makannya. Alhamdulillah, sekarang ia duduk di kelas 1 SD dan semester pertama kemarin, ia mendapat ranking 1.

Badannya masih sangat kecil di antara teman-temannya, tapi semoga pikirannya tidak mengalami gangguan.

Kaditha ayu dan gizi anak
Kaditha Ayu bersama psikolog berbagi pengalaman.

 

Tak salah memang bila pemerintah mengampanyekan peran keluarga sebagai tonggak utama dalam kesadaran gizi. Seperti kata seorang psikolog, Ajeng Raviando, upaya perbaikan gizi memerlukan peran aktif keluarga. Selain pola makan (termasuk kreativitas dalam sajian menu), pola asuh juga memberi andil besar dalam cara makan si anak. Usahakan waktu makan adalah waktu kebersamaan keluarga. Cek berat badan anak, ideal atau tidak, di http://www.cekberatanak.co.id

Sampai sekarang, anakku yang pertama sebenarnya tidak terlalu doyan nasi. Tapi dia suka makan telor dan daging (ayam dan sapi). Karena itu, beberapa hari dalam seminggu, aku akan membelikannya sate padang (daging sapi) atau sate ayam saat pulang kantor. Meski tak pakai lontong, ia akan melahapnya. Adiknya sangat suka mencontoh kakaknya. Kalau kakaknya makan sate, adiknya juga mau makan sate.

Apapun itu, penyesalanku karena tidak terlibat dalam tumbuh kembang anak, ingin kubayar tuntas. Semoga belum terlambat.

Perjalanan ke Curug Tilu Leuwi Opat di Bandung Barat

Kalau ke Bandung, jangan lupa kunjungi Curug Tilu Leuwi Opat. Letaknya di Bandung Barat. Tak begitu jauh dari pusat kota Bandung, hanya sekitar 18 kilometer. Perjalanan ke sana singkat rasanya apabila menggunakan sepeda motor. Kalau pakai mobil, ya siap-siap macet saja kalau hari libur.

Curug Tilu Leuwi Opat tepatnya berada di Parongpong. Di Parongpong banyak sekali tempat wisata. Di dekat Curug Tilu Leuwi Opat sendiri ada Ciwangun Indah Camp, Curug Cimahi, Curug Bugbrug, Curug Cipanas Nagrak, dan Dusun Bambu.  Continue reading Perjalanan ke Curug Tilu Leuwi Opat di Bandung Barat