Category Archives: Pikiran Pringadi

Lirik Lagu Kun Saraswati dan Cerita Perjalanan

Lirik lagu Kun Saraswati berjudul “Done” itu mengena di hati. Tidak banyak penyanyi Indonesia yang menulis lirik lagu dalam bahasa Inggris. Yang kekinian kita kenal Raisa, Isyana Saraswati, dan kini ada Ku lon Saraswati.

Lirik Lagu Kun Saraswati

DONE
 
Verse 1
Take me with you or let me be with you
But if we knew, I’m trynna forget you
What did I do? I’m feeling so pale blue
This felt so true, but how about you?
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you
Verse 2
I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you
Lagu Kun Saraswati yang berjudul ‘Done’ ini menyuguhkan musik yang megah di lagu tersebut. Lagu balada tersebut juga memiliki karakter pop dan jazz.

Lirik musik Kun Saraswati bercerita mengenai kekecewaan. Judul lagu Kun Saraswati  ‘Done’ ternyata ditulis sendiri oleh Kun Saraswati yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Bagi Kun Saraswati tidak apa-apa merasa sedih, yang penting adalah bagaimana kita bangkit dari kesedihan itu dan melanjutkan hidup dengan semangat baru.

Baca juga:

Lagu Kun Saraswati tersebut sebenarnya mulai diciptakan pada 2016, tapi baru dijadikan sebuah karya lagu pada Agustus 2019.

Siapa Kun Saraswati?

Kun Saraswati ternyata adalah seorang musisi indie muda di Indonesia yang sudah mulai terlihat bakat musiknya sejak umur tiga tahun. Wanita yang lahir pada tanggal 9 September 1998 ini aslinya bernama Kun Andini Putri Saraswati.

Musik memang sudah lama dikenal oleh wanita 21 tahun itu. Ia sudah menunjukkan bakat bernyanyinya sejak usia 3 tahun.

Beranjak dewasa, Kun Saraswati makin yakin dengan dunia seni satu ini. Ia bahkan terjun menimba ilmu di Fakultas Ilmu Seni Musik Universitas Pelita Harapan.

Tentang Produksi Lagu Kun Saraswati

Kun Saraswati bekerjasama dengan Passion Vibe, label rekaman yang digawangi oleh Balanegara Abe dan Edo Abraham. Label ini telah banyak bekerja sama dengan musisi tanah air lainnya seperti Rinni Wulandari, Sherina, Heidi, Laki Official dan masih banyak yang lainnya lagi.

Lagu-lagu Kun Saraswati saat ini sudah dapat didengar di platform streaming musik seperti Spotify, Joox, iTunes, Deeger, dan Google dan tentu saja di channel Youtubenya. Nih kalau mau mendengarkan single Done dari Kun Saraswati.

Kenapa Lirik Musik Kun Saraswati Bisa Related dengan Cerita Perjalananku?

I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too

 

Pada verse tersebut, aku merasa teringat kenanganku saat pernah hendak menyerah. Tidak banyak yang tahu bahwa aku pernah gagal di ITB dengan alasan yang remeh. Patah hati. Buruknya, patah hati itu aku alami persis sebelum ujian semester. Akibatnya, aku tidak bisa berpikir jernih. Nilaiku hancur, sehancur-hancurnya.

Aku masih ingat rasanya berjalan kaki dari kos kos ke Ciampelas Walk lalu berlanjut ke jalan layang sebelum kembali ke Plesiran. Aku terbelah menjadi dua, tenggelam pula. Tak tahu arah dan harus kemana.

Seandainya saat itu ada lagu Kun Saraswati ini aku akan bisa menghibur diri dan bangkit lebih cepat dari keterpurukanku.

Lagu Kun Saraswati di Belantara Lagu Indonesia

Kehadiran Kun Saraswati dengan lagunya yang berjudul ‘Done’ sebenarnya adalah kabar baik. Kebangkitan musik dengan lirik yang bagus sedang terjadi dan dibawakan justru oleh penyanyi generasi Z. Sebut saja yang paling fenomenal adalah Stephanie Poetri dengan I Love You 3000 yang membuatnya go international dan begabung dengan label 88 rising. Di sana sebelumnya sudah bercokol Rich Brian dan Niki yang terkenal lewat lagunya Low Key.

Seberapa besar peluang Kun Saraswati untuk sukses di industri musik?

Mengingat Kun Saraswati adalah musisi indie, kita bisa merasakan semangat indienya itu di lirik musik Kun Saraswati ini. Risikonya adalah pasarnya segmented. Meski diksi segmented sebenarnya sudah ambigu karena batas major label dengan indie label sudah begitu tipis. Keduanya punga peluang disukai sama besarnya oleh pencinta musik.

Medianya adalah Youtube. Semua penyanyi bisa eksis di Youtube dan menunggu nasib.

Single Kun Saraswati yang berjudul Done ini merupakan pintu masuk ke sana, meski secara pribadi aku tak begitu yakin nasibnya akan memiliki jutaan pendengar. Namun, mengingat materi vokal Kun, saya optimis, jika lagu berikutnya lebih mudah didengar, ia bisa menembus ekspektasi saya. Materi vokal Kun itu bagus banget lho.

Jadi ingat kata seorang teman, bahwa musisi itu akan terus eksis jika terus bisa memproduksi lagu sendiri. Maksudnya mungkin menulis lirik dan membuat musik sendiri. Karena itulah Andmesh sukses. Raisa, Isyana, dan Stephanie Poetri juga sukses. Mungkin Kun yang selanjutnya.

 

Apakah Negara Membaca Eka Kurniawan?

Selumbari, Eka Kurniawan secara resmi menolak pemberian Anugrah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buat saya, selain apakah Eka cocok menerima anugrah tersebut (mengingat nomenklaturnya adalah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi), saya juga bertanya-tanya apakah negara sudah membaca Eka Kurniawan?

Eka Kurniawan memang monumental. Dia adalah sastrawan yang karyanya dibicarakan, diterjemahkan di berbagai negara. Lewat Cantik Itu Luka (yang memang sudah diakui oleh pembaca sastra Indonesia), Eka menggebrak panggung dunia. Karya-karyanya yang lain pun ikut menyusul diterjemahkan.

Apakah negara tahu cerita seperti apa itu Cantik Itu Luka?

Buat saya, Cantik Itu Luka memiliki banyak kritik kepada negara. Komunis sebagai hantu, persoalan kemanusiaan, ah banyak sekali. Sudahkah kemudian negara mengakui bahwa komunitas hanyalah hantu? Bahwa semua persoalan kemanusiaan harus tuntas?

Saya bisa saja menjadi negara yang sangat membenci Eka Kurniawan kalau sudah bisa membaca serius tulisan-tulisannya. Apalagi dalam “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”, Eka dengan cerdik mengkritik situasi politik kiwari dalam polarisasi yang jelas dan nyata. Ia membatalkan yang polar itu dalam sebuah karakter bernama Ajo Kawir yang namanya dekat sekali dengan seseorang, namun kemaluannya tidak bisa berdiri.

Ah, di luar karyanya, bila kita baca tulisan Eka saat menolak penghargaan itu, kita masih juga diperlihatkan sebuah ironi. Hadiahnya “hanya” 50 juta, tak berarti dibanding peraih medali emas yang bermilyar-milyar. Bagi saya ini bukan menunjukkan sisi mata duitan Eka (yang banyak dinyinyiri sebagai alasan Eka menolak), tetapi betapa di luar sana, ada orang-orang yang mungkin masih mempertahankan idealismenya ketika ditawari uang sedikit, tetapi luluh ketika tawarannya di luar akal sehat. Kayak para aktivis itu tuh….


ANUGERAH KEBUDAYAAN DAN MAESTRO SENI TRADISI 2019

“Apakah Negara Sungguh-Sungguh Memiliki Komitmen dalam Memberi Apresiasi Kepada Kerja-Kerja Kebudayaan?”

Ketika sekitar dua bulan lalu saya dihubungi oleh staf Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan informasi bahwa saya calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang rencananya diberikan besok, 10 Oktober 2019, pertanyaan saya adalah, “Pemerintah bakal kasih apa?”

Dia bilang, antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” Sebagai informasi, peraih emas memperoleh 1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya.

Jujur, itu terasa mengganggu sekali. Kontras semacam itu seperti menampar saya dan membuat saya bertanya-tanya, Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih? Meskipun terganggu dengan pertanyaan itu, terpikir juga oleh saya untuk: ya sudah, ambil saja uangnya, setelah itu kembali beraktivitas seperti biasa. Uang sebesar itu bisa untuk membayar iuran BPJS selama bertahun-tahun. Bisa juga untuk meringankan beban Pajak Penghasilan. Saya pun mengikuti sesi wawancara untuk membuat profil.

Ketika surat resmi dikirim melalui surel datang, ternyata pertanyaan itu terus mengganggu saya. Seserius apa Negara memberi apresiasi kepada pekerja sastra dan seni, dan pegiat kebudayaan secara umum? Memberi penghargaan kepada penulis macam saya memang tak akan menjadi berita heboh, apalagi trending topic di media sosial. Tapi, terlepas dari kekesalan dan perasaan di-anak-tiri-kan macam begitu, selama beberapa hari saya mencoba mengingat dan mencatat dosa-dosa Negara kepada kebudayaan, setidaknya yang masih saya ingat:

Beberapa waktu lalu kita tahu, beberapa toko buku kecil digeruduk dan buku-buku dirampas oleh aparat. Kita tahu, itu kasus yang sering terjadi, dan besar kemungkinan akan terjadi lagi di masa depan. Bukannya memberi perlindungan kepada perbukuan dan iklim intelektual secara luas, yang ada justru Negara dan aparatnya menjadi ancaman terbesar.

Akhir-akhir ini, industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku. Saya tak ingin bicara tentang pajak yang diambil dari perbukuan, salah satu yang membuat buku terasa mahal bagi daya beli masyarakat kebanyakan. Bagaimanapun, membayar pajak adalah kewajiban semua orang. Yang jelas, sudah selayaknya Negara memberi perlindungan. Jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah (ilustrasi: gampang sekali aparat merampas buku dari toko), setidaknya Negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi? Meyakinkan semua orang di industri buku hak-haknya tidak dirampok?

Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis (bahkan siapa pun?) atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan. Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar.

Di luar urusan hadiah, ada hal-hal mendasar seperti itu yang layak untuk membuat saya mempertanyakan komitmen Negara atas kerja-kerja kebudayaan. Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan.

Dengan kesadaran seperti itulah, beberapa hari lalu saya membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan tersebut, bahwa saya memutuskan tidak datang pada tanggal 10 Oktober 2019 besok, dan bahwa saya menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. Saya tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan Negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan, bahkan cenderung represif. Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan.

Terakhir, terima kasih sekaligus permohonan maaf untuk siapa pun yang telah merekomendasikan saya untuk anugerah tersebut.

9 Oktober 2019

Joker, Pandeglang, dan Identitas Moral

 

Saya bersorak, bertepuk tangan, tatkala Joker menembak Murray pas di kepalanya. Apakah saya tidak bermoral?

Sempat saya tulis di Twitter bahwa karya seni tidak usah diidentikkan dengan moralitas. Lalu apa yang menjadi keutamaan sebuah cerita (dan film)? Jawabannya adalah ironi.

Saya meyakini, cerita yang baik adalah yang memuat ironi dan menyajikannya dengan cara yang luar biasa. Parasite melakukan itu. Joker juga. Ironi merasuk ke setiap penokohannya. Ketika kita terbuai dengan ironi itu, maka moralitas adalah sesuatu yang ambigu.

Saya teringat sebuah lelucon, “Dosa apa yang paling dicintai oleh Tuhan?”

Jawabannya, “Memperkosa anak setan.”

Dari sudut pandang moral yang baku, keduanya tidak bisa dibenarkan. Namun, pada kenyataannya banyak orang bersorak dengan kehadiran “Vigilante” macam Robin Hood dan City Hunter yang mencuri dari mereka yang “corrupt” dan bukan “orang baik”. Dan kali ini Joker berhasil mencuri perhatian yang sama secara ekstrem, membuat banyak orang menyadari ironi yang hadir di dalam kehidupannya.

Saat Joker masih tayang, di Pandeglang kita menyimak soal penusukan. Lalu tidak sedikit orang yang seperti bersorak, bertepuk tangan, menduga-duga itu semacam konspirasi, dan semacamnya… seperti orang-orang yang mendukung Joker melakukan itu.

Apakah mereka tidak bermoral? Apakah mereka politis?

Bodoh sekali rasanya jika kita menjustifikasi hal semacam itu. Buat saya, mereka hanya melihat ironi. Ya, ironi adalah ironi. Ironi tidaklah politis (dalam kacamata praktis). Seperti yang Joker bilang ke Murray, “I’m no political, Murray!”

Tidak bermoral? Ah, saya jadi teringat satu episode “It’s Okay That’s Love” yang dibintangi Jo In Sung dan Ging Hyo Jin. Saat In Sung yang memerankan tokoh penulis bertemu Hyo Jin, Sang Psikiater di sebuah Talk Show, ia mengatakan bahwa ciri psikopat ada di dalam diri setiap menusia. Ia bertanya kepada penonton di studio, “Siapa yang pernah memiliki pikiran untuk membunuh orang lain?” Lalu hampir semua penonton mengangkat tangan.

Hyo Jin tidak kalah cerdik. Dia ikut bertanya, “Kalian yang pernah punya pikiran membunuh, apakah memang melakukannya atau ingin membunuhnya betulan?”

Lalu, tidak seorang pun yang mengangkat tangan.

Ada perbedaan besar antara hadirnya “pikiran ingin membunuh” seperti misalnya dalam hal Pandeglang, “Ah, kenapa kok pisaunya kecil sekali.” dengan benar-benar merencanakan pembunuhan. Dan itu normal karena Anda semua menyadari sebuah ironi.

Bahkan termasuk, bila suatu hari kita menyadari ada ironi di dalam diri kita sendiri!

Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? Apakah Sama dengan Ade Ubaidil?

Tidak banyak penulis generasi milenial yang menulis realisme. Tidak tahu kenapa, barangkali karena ada keengganan, barangkali juga karena gaya hidup generasi milenial kebanyakan berjarak dengan realitas. Kami (karena saya juga termasuk generasi milenial) memandang dunia lebih sering dari layar televisi, dan kini layar ponsel, ketimbang benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh manusia di luar sana.

Realisme memilih gambaran sehari-hari ketimbang meromantisasi atau memodifikasi kenyataan itu. Suatu objek ditampilkan apa adanya tanpa ada tambahan atau interpretasi tertentu. Realisme menjadi sebuah cara untuk menunjukkan kebenaran tanpa perlu menutup-nutupi hal yang buruk.

Dalam karya sastra, penulis realis akan mampu menghidupkan para tokohnya apa adanya, seolah-olah tokoh itu dan manusia asli, tak ada bedanya.

Ade Ubaidil dalam Kumpulan Cerita Pendek “Apa yang kita bicarakan di usia 26?” sepertinya mengambil jalan realisme itu. Kegelisahan-kegelisahan yang menjadi premis dalam ke-14 ceritanya (minus preambul) adalah kenyataan yang mungkin dialami oleh seorang pria berusia 26 tahun dengan segala latar sosial-budaya yang dialami penulisnya. Meski kemudian, Ade mentransformasi kegelisahannya yang sifatnya personal menjadi gagasan yang lebih diterima secara universal.

Di satu sisi, jalan realisme Ade Ubaidil ini adalah kabar baik. Saya suka membaca ada penulis muda yang menempuh jalan ini di tengah maraknya penulis-penulis yang menulis dengan “gaya-baru”. Aku lebih suka menyebut “gaya-baru” ini sebagai efek dari hiperrealisme, ketika kenyataan dan bukan kenyataan sudah bercampur sehingga sulit dibedakan.

apa yang kita bicarakan di usia 26

Hanya saja, sebagai penulis realisme, ada detail-detail yang membuatku bertanya-tanya.

Ya, karena realisme menggambarkan subjek dan objek apa adanya, detail tentang itu sangat dibutuhkan.

Misalnya, dalam cerita “Peramal Telapak Tangan”, Ade menceritakan tentang seorang ayah yang punya pekerjaan sampingan sebagai peramal telapak tangan secara diam-diam. Ada beberapa hal yang menggangguku, seperti:

  • Ke Bioskop menonton film Drama Korea. Pertama, jika mereka pencinta Korea, tidak akan ada frasa “film Drama Korea”. Jika yang ditonton adalah film, hanya “film Korea” yang akan disebut. Sebab, drama Korea mengacu pada serial drama yang rata-rata 16 episode dan tidak ditayangkan di bioskop. Kedua, jarang sekali film Korea yang masuk ke bioskop Indonesia, kecuali memang konsumsi bagi pencinta film.
  • Garis tangan yang dibaca adalah garis tangan kanan. Memang ada banyak perbedaan pendapat tentang garis tangan mana yang harus dibaca, namun, bisa dibilang, jika hendak menggambarkan masa depan, garis tangan yang dibaca adalah garis tangan yang bukan dominan digunakan.

Dalam cerita “Budi Bertanya tentang Pancasila”, aku merasakan ada ketidaksesuaian usia tokoh dan dialog yang ia lakukan. Penjelasan yang ayahnya berikan masih terlalu berat untuk anak kelas 3 SD. Namun, dengan mudahnya sang anak berkata mengerti penjelasan ayahnya. Seperti ketika dia bilang, “Ayah, katanya keadilan sosial….” ketika memprotes Pak Kyai yang dapat jatah besek lebih banyak. Barangkali bisa diubah menjadi, “Ayah, bukannya adil itu sama ya? Kok Pak Kyai dapat dua…”

Contoh terakhir bisa dilihat dalam cerpennya yang berjudul, “Pesan Ayah”. Aku cukup kesulitan untuk menyusun setting waktu.

Jadi, ceritanya, ada ayah yang memberikan pesan kebaikan berupa anjuran sedekah kepada anaknya. Ayahnya itu seorang walikota, dua periode pula. Sebagai anak yang baik, ia mengikuti jejak ayahnya menjadi kepala daerah. Termasuk mengikuti jejaknya yang lain, ternyata sang ayah penerima suap.

Penanda waktu yang digunakan di dalam cerpen itu membuatku tidak paham, pada usia berapa sang tokoh menjadi kepala daerah menggantikan ayahnya?

Dua cerpen terakhir patut menuai pujian. Narayya dari Moor dan Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? yang menjadi judul buku ini sublim menurutku. Elemen di dalam Narayya dari Moor terasa sangat pas, termasuk juga cara mengakhiri ceritanya. Sedangkan cerpen yang menjadi judul buku ini asik karena di sini Ade Ubaidil terasa mengeluarkan kepribadiannya. Di cerpen-cerpennya yang lain ia kebanyakan berusaha menjadi pengamat, orang ketiga. Di cerpen inilah, buatku, Ade Ubaidil terasa melepaskan “beban”-nya dan menjadi aku-prosa dan bernarasi dengan lincah.

Aku pikir jika Ade Ubaidil bisa menajamkan dua hal itu (melepaskan beban saat menulis dan lebih memperhatikan detail), ia akan menjadi penulis yang patut selalu diapresiasi.

Tips Buat Kamu yang Ingin Menikah Muda(h)

Tak terasa sudah lebih dari 8 tahun aku menikah. 1 Juli 2011, akad nikah diselenggarakan. Tiga hari kemudian aku memboyong istriku ke tempat aku bertugas di Sumbawa Besar, NTB.

Banyak cerita yang mengiringi proses keputusan pernikahan. Di antaranya, seorang teman, Bamby Cahyadi, pernah mencoba meramal pernikahanku. Ia mengeluarkan bandul dan memintaku bertanya pada bandul itu, pada usia berapakah aku akan menikah. Lalu bandul itu bergerak tepat sebanyak 27 kali. Menurutnya, aku akan menikah saat berusia 27 tahun.

Saat itu, aku masih berusia 21 tahun. Kenyataannya, ramalan itu tidak terbukti. Aku pun teringat, ibuku yang ingin aku menikah di usia 27 tahun. Ia mewanti-wanti, itu adalah usia paling pas untuk pernikahan. Jangan buru-buru. Menabung dulu. Ketika aku mengutarakan niatku untuk menikah, butuh usaha keras untuk mendapatkan kerelaannya. Aku masih terlalu kanak-kanak katanya.

Pada akhirnya, aku menikah pada usia yang cukup muda, belum pas 23 tahun.  Sampai sekarang, begitu sering aku mendapat pertanyaan, “Kenapa kamu menikah muda?”

Dengan bercanda kujawab Chairil Anwar dan Soe Hok Gie meninggal menjelang usia 27. Aku tidak mau meninggal sebelum aku menikah.

Salah Persepsi Tentang Menikah Muda

Ada banyak orang menganggap aku menikah muda. Aku tidak merasa demikian. KUH Perdata saja sudah jelas mengatakan batas usia dewasa adalah 21 tahun atau sudah kawin. Mengacu pada UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, batas usia pernikahan adalah 19 tahun bagi laki-laki. Jadi ditilik dari segi apapun, usiaku bukan usia muda lagi.

Yang terjadi adalah kebanyakan orang tua tidak rela anaknya menjadi dewasa. Mereka sengaja atau tidak sengaja membuat si anak masih berlindung di bawah ketiak orang tua dengan dalih kamu sekolah dulu sampai jenjang yang lebih tinggi. Aku pribadi malu ketika usia sudah berada di kepala dua, namun segala sesuatu masih dibayari orang tua.

Bisa jadi juga, kita salah mengambil perbandingan. Ketika menonton drama Korea, kita lihat tokohnya sudah mendekati usia kepala 3 namun bertingkah bak remaja. Usia 20 tahun di Korea masih dianggap sangat anak-anak. Masih kecil. Aku penasaran dan menemukan kenyataan bahwa usia harapan hidup di Korea lebih tinggi dari di Indonesia. Di Korea, usia harapan hidup adalah 81,37 tahun sementara di Indonesia hanya 70,61 tahun (2012). Selebritis Korea pun menikah kebanyakan setelah umur 35 tahun. Di samping faktor budaya pernikahan yang biayanya mahal di sana, aku pikir ini ada kaitannya juga dengan usia harapan hidup.

Menikah Itu Mudah

Dari atas pesawat, sudah kusaksikan Kota Padang. Aku ingat betul perjalananku ke Padang. Dari Padang, aku harus meneruskan perjalanan ke Talang Babungo, kampung kecil di perbukitan yang tak jauh dari Danau Kembar. Perjalananku kali pertama yang justru untuk langsung melamar kekasihku.

Aku pergi sendirian, bertemu orang tuanya. Kekasihku di kamar bersama ibunya. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niatku. Tidak kusangka, niat baik untuk membangun mahligai rumah tangga itu dimudahkan. Ayahnya menerimaku.

Tadinya ada bermacam pikiran di kepalaku. Maklum, kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda. Aku orang Palembang, namun berdarah Jawa. Sedangkan istriku orang Minang asli.

Aku pikir pernikahan dua budaya akan sangat rumit. Ternyata tidak. Pihak perempuan memberi banyak sekali keringanan. Banyak prosesi adat yang tidak wajib ditiadakan sehingga menyisakan prosesi yang penting-pentingnya saja.

Misalnya, aku diberi “suku” Chaniago. Kalau yang ribetnya, pemberian suku ini biasanya diiringi pemberian gelar dan harus potong sapi lho.

Sebelum akad pun cuma melakukan “Malam Balatak Tando”. Sebuah proses yang seru karena seolah beradu pantun khas Minang antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan.

Proses resepsi pun sederhana. Diadakan di rumah mempelai perempuan tanpa ada kewajiban tertentu. Oh yang unik mungkin adalah proses setelah akad. Kami berjalan keliling kampung menggunakan pakaian adat. Yang kasihan ya istriku, karena suntiang (yang dipakai di kepala) itu berat banget lho.

Pertimbangan Utama Menikah Muda

Selain memang sudah berpacaran lebih dari 3 tahun, aku memikirkan kapabilitas untuk bisa menemani anak-anakku kelak. Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa kalau menikah di usia yang relatif muda, kita bisa lebih memiliki kemampuan untuk menopang kebutuhan sang anak.

Tips Menikah Muda(h)

Tips menikah muda

Pertama, kamu sudah punya pasangan yang saling mencintai. Kalian berdua sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai rumah tangga seperti apa yang hendak kalian bangun.

Kedua, jangan nekad. Sebagai lelaki, setidaknya kamu sudah punya penghasilan tetap. Dan kamu terbuka ke pasanganmu, berapa penghasilanmu, dan sudah sepakat bagaimana hidup bersama dengan itu.

Ketiga, belajar ilmu pernikahan, mulai dari mengelola rumah tangga hingga parenting.

Keempat, dekatlah dengan orang tua. Jangan jadikan pernikahan sebagai pelarian dari orang tua. Justru pernikahan harusnya mendekatkan kita.

Kelima, selenggarakan acara pernikahan semampunya. Nggak perlu maksa harus resepsi yang kayak gimana. Yang penting akad, sudah sah sebetulnya. Usahakan berikan mas kawin yang bernilai.

Bila Tak Punya Space yang Cukup Buat Resepsi di Rumah

Biasanya, persoalan pengen resepsi di gedung itu terjadi di kota besar. Bukan soal gaya, melainkan karena lahan yang sempit dan terbatas di rumah plus efek kemacetan komplek yang bisa timbul, membuat pasangan muda di kota besar lebih memilih menyelenggarakan resepsi di gedung.

Beberapa waktu yang lalu, Jakarta Event Enterprise (JEE) menyelenggarakan Bekasi Wedding Exhibition (BWE) di Grand Galaxy Convention Hall. Sebelumnya, BWE sendiri sudah menyelenggarakan  6 (enam) kali  event secara rutin dan merupakan wadah terbesar dan terbaik bagi lebih dari 60 vendor profesional se-Jabodetabek dalam memberikan penawaran terbaik sesuai kebutuhan calon pengantin, koleksi-koleksi terbaru, serta ide-ide pernikahan untuk membantu masyarakat Bekasi dan sekitarnya.

Buat yang belum tahu, gedung  pernikahan di Bekasi yang paling besar ya Grand Galaxy Convention Hall ini yang bisa menampung hingga 2500 orang. Buat kamu yang punya uang dan nggak mau ribet, cukup serahkan  ke Grand Galaxy Convention Hall karena memiliki paket all in one untuk para pengantin.

Tema 7th Bekasi Wedding Exhibition kali ini unik lho. “Industrial Wedding”. Apa itu?


Tema industrial banyak digunakan sebagai salah satu desain kafe ataupun restoran, namun konsep yang kental dengan dekorasi kayu yang terkesan ‘vintage’ juga hiasan bohlam yang digantung di langit-langit ruangan yang dikombinasi dengan unsur tembaga, akrilik, emas ataupun metal.


Instagramable banget ‘kan?

Kalau sudah tahu menikah itu ibadah, menikah itu juga mudah, tunggu apalagi, kenapa harus menunda-nunda pernikahanmu?

SanDisk Dual Drive Senjata Andalanku

“DSLR sudah habis. Sekarang, kamera tinggal mirrorless dan kamera ponsel. Sekarang, coba apa yang tidak bisa dilakukan kamera ponsel yang semakin lama semakin canggih. Bila pun ada pembedanya, paling hanya cara ponsel membaca objek berdasarkan gerak yang berbeda. Tapi di situlah juga letak keunikan kamera ponsel yang bisa kita eksplorasi,” ujar Arbain Rambey malam itu.

Kusimak baik-baik petuah dari fotografer jagoan Kompas itu. Pengalaman-pengalamannya yang luar biasa dahsyat membuatku percaya diri untuk lebih serius memfoto menggunakan ponsel. Selama ini, aku merasa kamera ponsel enak dipakai hanya karena kepraktisannya. Tapi ada banyak hikmah lain yang bisa kita dapat dengan kamera ponsel.

Jembatan Merah Menganti
Hasil foto menggunakan ponsel

Namun sayangnya, ponsel memiliki ruang memori yang terbatas.  Seperti saat aku ke Bali bersama Danone Blogger Academy minggu lalu, tiba-tiba ada peringatan memori ponselku sudah hampir penuh. Terpaksa aku membuka galeri, dan mencari file yang bisa dihapus terlebih dahulu. Padahal kan dibuang sayang.

Ribet ‘kan?

Pengalaman Menggunakan Memori Eksternal

Sebagai penulis dan traveler, selama ini, aku memakai mayoritas memori ponselku untuk foto dan dokumen. Dengan mobilitas yang tinggi, aku juga membutuhkan pemindahan data dari ponsel secara tepat agar selain data itu cepat bisa digunakan, ponselku juga kembali memiliki ruang penyimpanan.

Bicara kapasitas memori, aku jadi teringat flashdisk pertamaku. Warnanya hitam. Kapasitasnya hanya 32 Mb. Beberapa bulan setelahnya, aku memiliki MP3 Player yang juga bisa menjadi tempat penyimpan data. Warnanya merah. Kapasitasnya 256 Mb. Virus paling viral saat itu adalah Brontox.

Kenangan itu adalah bagian dari tahun-tahunku ketika berkuliah di ITB pada tahun 2005. Tak banyak yang bisa kuceritakan selain bahwa kuliahku tak selesai. Hanya sampai 2007. Aku pergi dari Bandung sebagai orang kalah. Naik bis Pahala Kencana, menyeberangi Selat Sunda. Di atas kapal, aku duduk di geladak sambil memandangi bulan yang sendiri sampai lampu-lampu di Bakauheni terlihat. Saat kembali ke bis, aku baru menyadari dompetku lenyap. Bukan soal uangnya yang hanya satu lembar lima puluh ribuan, melainkan kartu mahasiswaku sebagai salah satu sisa kenangan pernah jadi mahasiswa ITB itu yang kusayangkan. Aku pun menempuh sisa perjalanan kekalahan itu dengan selembar uang 10 ribu yang kusimpan hati-hati untuk naik ojek dari terminal ke rumah, dan terpaksa tak makan dan minum selama itu.

Deritaku bertambah. Tak lama setelah menjadi orang kalah, komputer yang menyimpan semua kenangan (materi kuliah, foto, dan data lain) dari semua perkuliahanku meledak. Karena sudah berangkat ke tempat kuliahku yang baru, aku menyesalkan keputusan kakakku yang membawanya ke tempat reparasi dan menerima saja perkataan bahwa semua hal di komputer itu tidak bisa diselamatkan. Kenanganku di komputer itu pun lenyap. Sedih rasanya tak punya lagi foto-foto selama di Bandung, terutama foto dengan teman-teman kuliah (selagi aku masih langsing).

Seandainya saat itu aku memiliki banyak media penyimpanan data yang lebih besar dan lebih aman….

Waktu berlalu sedemikian cepat. Kini, keadaan berubah. Tak pernah kubayangkan bahwa hari ini ada flashdisk dengan kapasitas bergiga-giga byte. Dulu, ukuran giga byte itu untuk harddisk eksternal. Sekarang, HD eksternal malah ber-terabyte. Ponsel yang kugunakan sekarang bahkan berkapasitas 64 GB. Namun, itu tidak cukup.

SANDISK YANG MEMBACA ZAMAN

Koleksi SanDisk di meja kantorku.
SanDISK APAC di meja kantorku. Dokumentasi pribadi.

Sandisk memiliki solusi untuk penyimpanan data tersebut. Sandisk melahirkan berbagai produk seperti microSD Card yang diintegrasikan ke slot di ponsel. Sedikit repot memang kalau kita hendak memindahkan data dari ponsel ke komputer misalnya, karena harus mengeluarkan microSD Card tersebut dari ponsel dan tidak semua laptop punya slotnya.

Untuk mengatasi itu, Sandisk juga mengeluarkan Micro USB Dual Drive yang didesain untuk pengguna android. Dengan mudah kita bisa memindahkan data di ponsel ke komputer tanpa harus memakai kabel data. Untuk pengguna iPhone juga ada yakni iXPand Flash Drive.

Untuk klasifikasi mobile flashdrive untuk pengguna Android  dibedakan menjadi 3, yaitu SanDisk Ultra Dual Drive USB Type C, Sandisk Ulta Dual USB Drive 3.0, dan Sandisk Ultra Dual Drive m3.0. Apa bedanya? Dari kapasitas, sama saja. Maksimal berkapasitas 256 GB. Paling rendah 16 GB. Tentu kapasitas ini juga harus  disesuaikan dengan kualitas ponsel. Kemampuan transfernya pun sama yakni hingga 150 MB/detik. Hanya konektor dan teknologi saja yang membedakannya.

Sumber: Materi Presentasi.

Untuk kualitas ponsel android menengah ke bawah, produk keren dari Sandisk APAC adalah Dual Drive DD1. Kapasitas tertingginya 128 GB. Produk ini didesain ringan dan ramping sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Untuk ponsel berkualitas tinggi, bisa menggunakan Dual Drive DD2/DD3.

Kemampuan memindahkan data dengan cepat yang dimiliki Sandisk ini sangat membantuku yang memiliki hobi traveling. Aku sendiri punya SANDISK ULTRA DUAL DRIVE M.30 yang berkapasitas 128 GB. SanDisk yang ini disebut juga USB OTG SanDisk memiliki konektor micro-USB di satu sisi, dan konektor USB 3.0 di sisi yang lain. Drive ini memungkinkan kita dengan mudah memindahkan konten lintas perangkat. Konektor USB 3.0 memiliki performa tinggi dan di sisi sebaliknya kompatibel dengan port USB 2.0.


OTG itu maksudnya On the Go. Jadi, fitur ini tuh punya banyak manfaat mulai dari melakukan pembacaan dan penulisan data seperti flashdisk, card-reader, isi MP3 Player/smartphone lain (merk tertentu dengan modus mass storage) serta pembacaan/pengenalan HID (Human Interface Devices) seperti mouse, keyboard, serta gamepad.


Aku sih yakin kamu juga pernah mengalami momen menyebalkan seperti manakala sedang asik-asiknya mengambil gambar, merekam video, lalu ada notifikasi kalau memorimu sudah penuh seperti yang kualami itu. Bisa juga kadang, kita punya teman yang punya ponsel dengan kamera yang lebih aduhai, yang jelas menghasilkan gambar yang lebih bagus, terus kita minta gambarnya, tapi dia bilang nanti… dan waktu berlalu, foto tidak dikirim-kirim juga. Atau dikirim melalui Whatsapp, dan gambarnya pecah?

Dengan Sandisk  Dual Drive yang kumiliki saat ini, 128 GB pula, hal tersebut bisa teratasi dengan lebih praktis dan cepat. Tinggal colok, lalu pindahkan. Asik, bukan? Nah, kamu sudah punya belum?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba  Sandisk Blog Competition
#DibuangSayang #SanDiskAPAC #USBOTGSANDISK