Category Archives: Pikiran Pringadi

Tidak Mudah Menjadi Hesti-nya Maulidan Rahman Siregar

Apa kabar indonesia?

Maaf jika masih menggunakan huruf kecil.


Orang mungkin akan menyebut Joko Pinurbo atau Hasta Indrayana kalau ditanya siapa penyair yang sajaknya penuh humor dengan makna yang mendalam. Sekarang, nama itu patut ditambah seorang lagi, Si Brewok, bernama Maulidan Rahman Siregar.

Kutipan puisi di atas tampak sederhana. Hanya persoalan penggunaan huruf kecil pada kata Indonesia yang seharusnya diawali huruf kapital. Tafsir yang muncul adalah belum mampunya Indonesia menjadi negara besar. Bisa juga ketiadaan kapital (modal) di negara kita yang sudah sedemikian dikuasai asing. Kapitalisme, disadari atau tidak, masih membuat bangsa kita menjadi bangsa kecil (atau mungkin juga kerdil). Continue reading Tidak Mudah Menjadi Hesti-nya Maulidan Rahman Siregar

Mitos-Mitos Tentang Air dan Kesehatan

 

Masih jelas terekam dalam benak, manakala teman-temanku mengajak berenang pada siang hari saat bulan puasa. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP.

Setelah Orde Baru runtuh, masa reformasi dimulai, pemilu pertama memenangkan PDI Perjuangan. Namun, Presiden yang terpilih adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Salah satu kebijakan Gus Dur yang populer adalah libur sekolah selama Ramadhan.

Hal itu menjadikan waktuku begitu lengang. Pagi-pagi, bakda menunaikan salat subuh di masjid, aku akan jalan-jalan pagi sambil main petasan. Setelah matahari mulai gagah, aku akan main ding dong sampai uang jajanku habis. Setelah itu, tak tahu harus apalagi menunggu buka puasa. Saat itulah, teman-temanku mengajak berenang di kedukan di desa belakang. Katanya, kalau kita berenang saat puasa, rasa dahaga kita akan hilang. Continue reading Mitos-Mitos Tentang Air dan Kesehatan

Infrastruktur Tak Bertuah Midas

Setelah menyelamatkan Silenos, Midas diberi hadiah satu permintaan oleh Dionisus. Termotivasi dari keinginannya menjadi orang paling kaya, Midas meminta semua hal yang ia sentuh berubah jadi emas. Permintaan ini yang pada kemudian hari ia sesali karena ia kesulitan makan dan minum (karena makanan dan minuman yang ia sentuh berubah jadi emas). Bahkan putri kesayangannya juga berubah jadi emas.

Penyesalan Midas seharusnya membuat kita belajar bahwa segala sesuatu yang instan tidak berujung baik. Dalam konteks bernegara, tidak ada pembangunan yang menghasilkan kesejahteraan dengan segera. Continue reading Infrastruktur Tak Bertuah Midas

Sejarah Bulan Bahasa

Ada yang masih ingat bunyi Sumpah Pemuda?

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

 

Sejarah penetapan Oktober sebagai Bulan Bahasa juga tak terlepas dari Sumpah Pemuda. Salah satu sumpah yang tercantum dalam Sumpah Pemuda berbunyi, “Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”.

Sumpah tersebut terlihat sederhana, namun memiliki makna yang luas. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia terbentuk dari beragam suku dan bahasa. Peta Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 2008 mengidentifikasi ada 442 bahasa daerah di Indonesia. Belum lagi bila ditambah aksennya. Data terbaru menyebutkan jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 652 bahasa, menurut  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Dari bunyi sumpah tersebut, khusus tentang bahasa, diksi yang digunakan adalah “menjunjung” bukan “mengaku”, “bahasa persatuan” bukan “bahasa yang satu”. Diksi itu tentu memiliki makna tersendiri. Continue reading Sejarah Bulan Bahasa

Catatan Pembacaan Kumpulan Puisi Percakapan Interior, Kurnia Effendi

Menarik, bila kita menyimak ujaran Kurnia Effendi (Kef) di Teras sebagai pengantar atas puisi-puisinya. Kef mengatakan bahwa monolog interior tak hanya sanggup merangkum semesta tiga dimensi, tetapi bersedia pula menukik runcing pada perasaan-perasaan yang nyaris tak terjangkau tatapan atau pendengaran biasa.

Pernyataan di atas tentu tak bisa kita lepaskan dari latar belakang beliau yang merupakan lulusan Desain Interior. Bila awam memahami interior sebagai “di dalam ruangan”, desain interior ternyata memiliki definisi yang lebih dalam—ilmu yang mempelajari perancangan suatu karya seni yang ada di dalam suatu bangunan dan digunakan untuk memecahkan masalah manusia.

Masalah, sebagaimana umum diketahui dalam dunia penelitian, bukanlah gejala/symptom, bukan pula sebatas fenomena, melainkan menukik masuk dan mencari sebab dari yang terlihat. Dalam kasus Percakapan Interior, Kef mengakui itu sebagai upaya eksplorasi terhadap kedalaman dan keluasan berdasarkan pengalaman yang telah dilalui.

Perngalaman yang telah dilalui Kef berupa perjalanan demi perjalanan tak terlepas dari buah modernisasi. Modernisasi sebagai sebuah pembebasan menginginkan sikap pengakuan terhadap dunia dengan cirinya yang khas: individualis, progresif, dan sekuler. Manusia kemudian mencari makna dari aktivitas yang dilalui, dari segala ciri modernisasi yang pelan-pelan mengaburkan jiwa manusia itu. Namun, bersamaan dengan itu, manusia juga akan merasakan kerinduan akan keutuhan dirinya. Kekuatan kesadaran manusia akan memicu pembebasan interior yang melampaui akal-budi manusia.

Proses inilah yang tampak dalam puisi-puisi Kef. Di Lo Spazio misalnya:

            Di meja Angky Camaro terbentang harapan

            Secangkir espreso dan kentang goreng

            Membusungkan bagian lambung terdalam

 

Lo Spazio adalah nama restoran terkenal. Tentu, bisa makan di Lo Spazio adalah sebuah capaian tersendiri. Pun penyebutan Angky Camaro, sebagai salah satu marketer paling andal di dunia otomotif makin mengentalkan nuansa pengakuan terhadap dunia. Espreso, selain sebagai simbol persahabatan dan keakraban, juga menyiratkan kelas sosial tertentu. Selanjutnya, penegasan dunia dengan kata lambung menunjukkan bahwa persoalan utama manusia di dunia ini adalah mengatasi rasa laparnya.

Namun, dalam baris penutup puisi, Kef berkata:

            Setelah makan pagi, kita

            Hampir tak punya nama

Di sini kerinduan Kef pada keutuhan diri sebagai manusia ditampilkan. Nama adalah persoalan identitas. Manusia akan tenggelam dalam hiruk-pikuk modernisasi dan menjadi tak berarti siapa dirinya. Pertanyaan “siapa diri” dalam konteks interior alam semesta adalah keberartian sebagai manusia. Kita adalah debu semesta raya. Namun, selaiknya, setitik debu pun memiliki makna.

Relasi modernisasi yang berlanjut ke pembebasan interior itu kita temukan dalam banyak puisi Kef. Dalam hal ini, kita pun dipaksa mengingat kembali ungkapan Seno Gumira Ajidarma dalam Menjadi Tua di Jakarta: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Diam-diam, Kef ingin menanamkan rasa takut itu ke benak pembaca.

Beliau yang sudah mengalami pensiun kini kembali ke ruang di dalam dirinya. Di sana ia mengenang, sekaligus memikirkan ulang segala hal yang pernah ia lalui dan ia miliki. Tapi ia tidak otoriter terhadap tafsir. Ia membebaskan pemaknaan kepada pembacanya. Ia bahkan tetap membuka pintunya terhadap kemungkinan-kemungkinan penciptaan. Puisi dari kata poiesis berarti penciptaan itu. Dari Joko Pinurbo, GM, Afrizal, hingga Emi Suy ia jadikan tamu di ruang miliknya. Dengan kerendahan hati, ia biarkan para tamu itu menghiasi ruang.

Luasnya tafsir yang bisa hadir di benak pembaca bahkan sudah bisa kita saksikan sejak puisi pertama.

Masih berdesir harum itu, menetap di serat katun sofa,

Tempat dudukmu—dan bokong yang kuremas itu—

Sebelum jatuh senja

Seperti yang sudah-sudah, kautinggalkan jejak lain:

Sidik bibir pada lengkung cangkir,

Sebelum ciuman terakhir

 

Terdapat baris “sebelum jatuh senja”. Secara sederhana, senja bisa dimaknai sebagai usia yang sudah tua. Namun, senja itu indah. Senja yang turun setelah matahari terbenam itu juga sebentar datangnya. Di sini, saya merasa Kef ingin bilang, hidup yang indah ini cuma sebentar. Sebentar sekali. Namun, karena sebentar itulah segala sesuatunya terasa indah.

Dalam Pedestrian, Kef berkata:

Membujur ke utara seperti arah langkahmu

Angin tak singgah lagi tanpa suaramu

 

Membentang sunyi lantai marmer sisa kepundan

Alangkah janggal jika padamu

Kuingatkan alamat rumah

Menjulang sepi tiang-tiang korintian

Harapan itu tinggal sejumlah remah

 

Rumah yang sebenarnya berarti tempat kembali. Manusia kembali ke utara—menuju Tuhan. Di sini juga pembebasan interior itu berlangsung dengan aduhai. Salah, bila manusia menempatkan dunia dan seisinya sebagai tujuan terakhir. Pada akhirnya, segala hal itu akan menghasilkan kesepian bagi diri. Tak ada artinya lagi.

 

(2018)

Menimbang Cukai Minuman Berpemanis

Tulisan ini kali pertama dimuat di Detik.

Banyak orang keliru memahami fungsi utama cukai. Cukai hanya dianggap sebagai salah satu penerimaan negara. Akibatnya, ketika ada kebijakan kenaikan cukai seperti kenaikan cukai rokok sebesar 10,4% pada 2018, hal itu dianggap sebagai semata usaha pemerintah untuk menaikkan penerimaan negara.

Padahal, cukai memiliki peranan yang lebih penting, yakni sebagai regulator yang mengendalikan, mengawasi, sekaligus membatasi suatu produk. Misalnya, rokok. Dengan kenaikan cukai rokok, ada target yang disasar, yakni penurunan konsumsi rokok.

Cukai sebagai regulator ini pun tersurat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai. Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan. Karakteristik barang yang dikenakan cukai meliputi barang-barang yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup, dan pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Namun, bukan berarti fungsi cukai sebagai penerimaan negara tidak dipedulikan. Saat ini ada tiga karakteristik barang yang menjadi objek cukai, yaitu etil alkohol, minuman yang mengandung etil alkohol, dan hasil tembakau. Dari tahun ke tahun, penerimaan cukai terus meningkat dengan porsi besar pada cukai hasil tembakau.

Hanya saja, objek cukai kita masih terlalu sedikit. Berdasarkan International Tax and Investment Center (2016), Indonesia merupakan negara yang memiliki objek cukai paling sedikit di antara seluruh negara ASEAN. Sejak 1998 telah dilakukan evaluasi perluasan objek cukai. Kemungkinan penambahan objek cukai yang baru-baru ini kembali mengemuka adalah cukai plastik dan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi.

Wacana perluasan tersebut ditujukan untuk membatasi pemakaian produk plastik dan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi. Selain, memang kita tidak bisa menampik adanya kebutuhan penerimaan negara agar dapat menciptakan ruang fiskal yang lebih lebar.

Penambahan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi sebagai objek cukai memiliki kaitan dengan terus bertambahnya penderita diabetes di Indonesia. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) (2017), Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak dengan jumlah 10,3 juta orang. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 16,7 juta orang pada 2045.

Memang, ada banyak parameter yang menyebabkan penyakit diabetes. Minuman berpemanis tidak bisa menjadi satu-satunya yang disalahkan. Faktor keturunan, gaya hidup, dan makanan menjadi debat yang berkepanjangan dalam hal sebagai penyebab utama diabetes. Dari segi makanan misalnya, ada debat bahwa pengonsumsian nasi putih yang rutin dan banyak dituding lebih berbahaya daripada konsumsi minuman berpemanis.

Dengan asumsi konsumsi nasi dan gula tetap (karena tidak mungkin ada penambahan pola konsumsi nasi di masyarakat yang 3 kali sehari), konsumsi minuman berpemanis justru naik secara signifikan. Dalam 20 tahun terakhir, konsumsi minuman berpemanis mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu tumbuh dari 50 juta liter menjadi 780 juta liter. Safriani (2014) bahkan mengungkapkan, lebih dari 80% masyarakat mengonsumsi minuman tersebut sebanyak sedikitnya dua kali seminggu. Lebih dari setengahnya mengonsumsi lebih dari 200 ml per hari.

Orang yang mengonsumsi minuman berpemanis lebih dari satu kali seminggu memiliki risiko 1,83 kali lebih besar untuk terkena penyakit Diabetes Melitus tipe 2. Malik et. al (2006) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi minuman berpemanis, semakin tinggi pula asupan total energi yang bisa memicu obesitas. Obesitas memiliki korelasi terhadap penyakit seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan berbagai jenis kanker.

Untuk diketahui, rata-rata dalam satu kemasan minuman berpemanis ukuran 200 ml memiliki kandungan pemanis sebanyak 40 g. Batas konsumsi gula yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan adalah sebanyak 50 g per hari. Namun, selisih 10 gram tersebut adalah selisih yang sedikit jika dibandingkan dengan keberadaan gula dalam makanan seperti pada nasi, yang setelah dicerna menjadi glukosa (gula).

Tentu, sulit meminta masyarakat untuk tidak makan nasi karena nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Apalagi, harga beras adalah salah satu komponen penting dalam perekonomian Indonesia. Yang paling mungkin adalah mengurangi konsumsi produk yang bukan pokok seperti minuman berpemanis tersebut. Belum lagi jika ditambah dengan fakta bahwa sebagian minuman berpemanis tersebut menggunakan pemanis buatan yang ditengarai lebih berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu negara yang sukses menerapkan cukai pada minuman berpemanis adalah Meksiko. Minuman berpemanis dianggap sebagai penyebab utama obesitas di Meksiko dengan kontribusi tambahan gula dalam pola makan mencapai 70% (Kontan, 2017). Kebijakan pengenaan cukai atas minuman berpemanis tersebut dikatakan berhasil karena menurunkan konsumsi atas minuman berpemanis sampai dengan 12% per kapita per hari.Dengan kini Indonesia berada di peringkat keenam penderita diabetes terbanyak di dunia, sudah saatnya pemerintah mengendalikan penyakit tersebut, salah satunya dengan pengenaan cukai terhadap minuman berpemanis. Namun, pemerintah tetap perlu berhati-hati dalam implementasinya, terutama dalam penetapan tarif cukai.

Pemerintah perlu menghitung tradeoff penurunan pendapatan industri minuman berpemanis yang berefek terhadap perekonomian seperti pada penurunan pajak langsung maupun tidak langsung, penurunan penyerapan tenaga kerja, serta penurunan minat investor. Pemerintah perlu menemukan titik keharmonisan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan dampak kesehatan yang ditimbulkan.

Pringadi Abdi Surya bekerja di Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan