Category Archives: cerpen

Tiga Catatan Terakhir, dimuat di Jurnal Bogor, 18 April 2010

Mereka Bilang Aku Kunang-Kunang

Seharusnya aku ikut mati bersamamu. Seharusnya aku tak lari meninggalkanmu. Seharusnya aku menggendongmu di pundakku ketika aku melihat kau yang tiba-tiba terbaring di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku kerumunan itu. Aku orang-orang yang tak mampu menyembunyikan ketakutan. Aku orang-orang yang takut airmataku sendiri akan membunuh atau membuatku menggelepar-gelepar melebihi rasa lapar yang sudah aku koar-koarkan.

Di Jepang, musim Sakura belum lama berakhir. Dua minggu di awal April menandai musim semi dengan mekarnya kelopak bunga sakura. Mereka bilang itu adalah kelopak dari mata para dewa yang menitikkan kasihnya ke dunia. Kemudian kasih itu laun menjadi cinta di akhir tanggal, ketika kelopak-kelopak yang semula dominan putih berubah warna menjadi merah jambu. Aku ingat kau mengungkapkan itu sebelum kita berdiri di antara lautan orang-orang. Lalu kau mencium ujung-ujung tanganku. Aku tidak pernah tahu kalau itu akan menjadi ciuman terakhirmu untukku.

“Aku ingin sekali menemukan semanggi berkelopak empat, An…” kau berkata setalah ciuman itu. Aku diam mendekap pundakmu.

“Bukan Sakura?” aku bertanya.

“Ini dua hal berbeda, An. Kabarnya semanggi berkelopak empat mampu mengabulkan keinginan kita. Seperti bintang jatuh. Seperti doa-doa di kuil saat awal tahun baru. Seperti koin-koin yang dilempar di air mancur Roma…” kau bergelayut manja.

“Lalu apa keinginanmu?” aku menatap matanya.

Sesungguhnya aku tak pernah menemukan mata yang berbinar-binar seperti matanya. Mata yang jujur seutuhnya, tidak pernah berpura-pura. Mata yang membawa laut yang diam dan dalam, namun dapat menjadi ombak yang melumat.

“Aku ingin semua ini selesai, An. Secepatnya. Biar sejarah, suatu saat, akan mencatat tiga puluh tahun lebih ini adalah derita sebuah bangsa yang terkurung tirani. Biar segala yang sudah terpenjara itu bisa bebas menyuarakan suaranya. Biar aku dan kau bisa merajut senyum ketika melihat sebuah reformasi telah membebaskan negeri ini dari ketidakadilan, dari ketidakbebasan, An…” kau menjawab dan kulihat ada api yang menyala di matamu.

Akan tetapi, yang aku mengerti kemudian, api yang menyala di matamu malam itu telah berpindah ke mataku ketika aku saksikan kau terbaring tetapi bukan tidur. Tetapi bukan pula bersandiwara. Aku berteriak-teriak memanggil kau yang tergeletak begitu saja dan tak mampu menghindari ijakan orang-orang. Aku tidak pula pernah tahu, ketika semua ini selesai, tak pernah ada yang mengaku sebagai seseorang yang telah menyarangkan peluru di matamu. Mata yang begitu aku cintai itu.

Dari sekian banyak orang berpakaian hitam hari ini, harusnya akulah yang memakai pakaian paling hitam. Tetapi, aku tidak berpakaian hitam. Aku hanya memakai kacamata hitam sambil memejamkan mataku ketika aku tahu aku memang sudah tak dapat menyentuhmu lagi. Dan diam-diam aku takut, dari sepasang mataku yang memejam ini akan beterbangan jutaan kunang-kunang. Kunang-kunang kuning seperti daun lerai dari ranting.1

Mereka Bilang Aku Patah Arang

Tiba-tiba aku jatuh cinta melebihi seluruh jatuh cinta yang pernah menyakiti dadaku.2 Ranting-ranting patah. Jutaan kunang-kunang yang berhamburan dari balik mata tak lagi pernah kembali. Sebenarnya ingin sekali aku menyampaikan kata cinta ke telingamu, tetapi aku tak lagi memiliki suara. Malah suaramulah yang kembali terngiang-ngiang di telingaku.

“Negeri ini membutuhkan orang-orang yang berani bersuara, An…” kau berkata di malam yang sama sebelum kau terbaring.

“Pada kenyataannya, sudah banyak orang-orang berani yang hilang, mati, dan tinggal nama. Banyak pula tubuh-tubuh tak dikenal ditemukan di jalan-jalan sepi, di semak-semak, bahkan dikubur hidup-hidup.”

Aku laki-laki yang memiliki keraguan. Aku memang takut sekali jika namaku menghiasi kematian esok hari. Aku takut jika kemudian aku pulang dengan tubuh tinggal kulit dan tulang. Namun, sejak aku bertemu dengannya, wanita bermata laut, pelan-pelan aku diyakinkan akan kebenaran dan keberanian.

“Kamu salah, An,” jawabmu pelan dan tersenyum, “mereka tidak pernah mati. Mereka justru membangkitkan orang-orang mati. Seperti aku. Seperti kamu. Seperti puluhan ribu orang yang berkumpul malam ini dan jutaan orang lain di luar sana yang menyaksikan kita dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka juga pasti mengharapkan perubahan, An… Itulah yang harus kita perjuangkan!” lanjutmu seperti nyala lilin di dalam kegelapan hati. Membuatku merasa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena telah ada seorang wanita berani melebihi masa lalu manapun.

Sekarang, di dalam sana, kau pasti sedang asik membayangkan dirimu telah menjadi salah satu yang menghidupkan kematian orang-orang. Kematian hati yang membuat negeri ini tak berkembang. Kematian informasi yang membuat rakyat mudah dibodoh-bodohi, ditakut-takuti, dan diatur seenak jidat dengan peraturan yang menjerat. Bukan melindungi. Bukan pula melayani.

Setelah semua itu berlalu, aku baru sadar, ternyata aku memang benar mencintaimu dan kehilanganmu adalah sakit hati yang paling pedih yang pernah kurasakan. Seharusnya, aku mencium bibirmu lama-lama malam itu. Seharusnya aku memelukmu erat malam itu. Seharusnya aku mengikatmu dalam tenda dan tak pernah membiarkanmu pergi keesokan hari. Tetapi, terlalu banyak kata seharusnya bagi lelaki patah arang seperti aku.

Dari Sekian Kematian

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. 3

Beberapa keluarga yang menangisi anak-anaknya hari itu, pasti tidak pernah tahu ada kau yang seharusnya tercantum menjadi nama ke-18. Pun ada nama-nama lain yang tak sempat tercatat oleh media-media yang masih main aman, takut jika terlalu banyak yang mereka catat, semakin banyak pula amarah rakyat. Sekian belas saja dirasa sudah cukup untuk mewakili duka yang dalam atas betapa lalimnya sistem yang berlaku.

Aku ingin sekali menunjukkan kepadamu, di rumahku kini ada sebuah kolam dengan ikan-ikan kecil yang berenang dengan tenang. Sebenarnya ingin sekali kuciptakan sungai seperti yang pernah kau impi-impikan. Sebuah sungai kecil dengan batu-batu koral yang mengalir jernih di tiap seluk ibukota. Tidak ada sampah. Tidak ada limbah. Tidak ada air kuning yang mendadak memanggil banjir ketika hujan tengah bertandang menyampaikan salam dari gundulnya bukit-bukit di sebelah timur. Tetapi aku pikir, sudah cukup ada sungai kecil lain yang mengalir dari pori-pori kulitku, dari kedua bola mataku yang pernah kau nyalakan apinya malam itu. Tetapi, harus kau maafkan aku kini, tak ada lagi nyala api itu.

Aku memandang kerdil kematian yang kau pertunjukkan hari itu. Kematian yang klasik namun kucintai seperti laki-laki mencintai laying-layangnya yang putus sambil memandang langit lapang yang selalu haus untuk dipandang. Seperti pula kelereng-kelereng bulat yang warna-warni, dipertaruhkan dalam sebuah permainan namun bukan kemenangan yang kuraih. Atau seperti setiap hitungan petak umpet dan aku mencari sampai sore hari, tak pernah menemukan sosok teman-teman yang sudah kembali ke rumah sementara aku harus menunggu di balik pohon, berhati-hati bila ada yang mengelabui penjagaanku.

Perubahan yang kau impikan dulu hanya terjadi sebatas kulit. Reformasi yang kau gaung-gaungkan dan kematian yang kau persembahkan tampaknya belum cukup untuk membuat mereka paham bahwa kebebasan bukan sebatas bebas menyuarakan pendapat namun pendapat itu menjadi pertimbangan yang agung laiknya suara Tuhan. Tetapi yang terjadi, suara-suara itu hanyalah sekadar mampir untuk lewat dari kuping kiri ke kuping kanan.

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. Dan di ruang ini, aku saksikan rekan-rekanku sedang tertidur sementara pimpinan sidang yang malang itu berbicara sampai berbusa-busa saja. Aku kembali mencoba memejamkan mata, berharap jutaan kunang-kunang yang dulu pernah berhamburan itu kembali ke mataku.

(2010)

1, 2 Kutipan dari puisi berjudul “Tiga Catatan Kecil” karya Aan Mansyur
3 Kutipan dari puisi berjudul “Dari Sekian Kematian” karya Pringadi Abdi

Kritik: Pringadi AS, Cinta, dan Sisi Gelap Manusia oleh Ardy Kresna Crenata

TULISAN ini saya tujukan sebagai sebuah kritik atas cerpen-cerpen Pringadi Abdi Surya yang terkumpul dalam Dongeng Afrizal. Layaknya sebuah kritik, maka selain kelebihan-kelebihan, saya pun akan mencoba menunjukkan kelemahan-kelemahan cerpen-cerpen tersebut. Tentunya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menawarkan informasi-informasi sehat yang barangkali bisa dijadikan bahan diskusi ke depannya. Hubungan saya sendiri dengan Pringadi saya anggap baik, meski kami belum pernah bertatap muka. Saya yakin, Pringadi adalah tipe orang yang terbuka terhadap kritik yang ‘masuk akal’. Saya yakin, Pringadi tidak akan keberatan saya menunjukkan kelemahan-kelemahan yang masih ada dalam cerpen-cerpennya tersebut. Sekali lagi, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memajukan dunia sastra Indonesia—dalam hal ini cerpen. Sebab saya meyakini, bahwa untuk memajukan dunia sastra Indonesia, yang diperlukan adalah kritik-kritik yang jujur, bukan sebatas pujian yang akhirnya jatuhnya seperti iklan: memunculkan kelebihan dan menyembunyikan kelemahan.

Di halaman awal buku tersebut, Khrisna Pabicara menyebutkan tiga hal yang membuat sebuah karya sastra dikategorikan bagus: kejutan-kejutan yang dihadirkan kepada pembaca, intensi yang kuat yang mampu membetot kesadaran pembaca untuk ikut merasakan nuansa kisahnya, eksplorasi gaya tutur yang memukau. Yang akan lebih saya soroti dalam tulisan ini barangkali hal kedua, yang kemudian saya terjemahkan sebagai ‘penyajian konflik’, yang di dalamnya begitu kuat pengaruh sebab-akibat, aksi-reaksi dari kejadian-kejadian yang dihadirkan penulis dalam cerpennya. Sebab menurut saya, tugas utama seorang cerpenis adalah menyajikan konflik. Konflik dengan sendirinya menjadi salah satu unsur penting yang membuat sebuah cerpen layak dikategorikan kuat atau lemah. Akan tetapi, ini tidak berlaku umum. Sebab dalam perkembangan dunia cerpen Indonesia saja, bermunculan apa yang disebut cerpen suasana, yaitu cerpen yang lebih menonjolkan suasana ketimbang cerita, misalnya cerpen-cerpen Mardi Luhung yang baru-baru ini saya temukan di Gramedia (Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku), beberapa cerpen Avianti Armand (Perempuan Pertama, Pagi di Taman, Ayah, Matahari), cerpen Gunawan Maryanto (Pergi ke Toko Wayang). Bagi sebuah cerpen suasana, suasana lah yang penting, yang seringkali ditunjang oleh gaya bercerita yang menghanyutkan, bahasa yang memukau. Sedangkan cerita, tidaklah begitu penting. Bahkan bisa jadi tidak penting sama sekali. Namun untuk kumpulan cerpen Dongeng Afrizal, saya akan fokus menyoroti penyajian konflik. Tentunya bukan tanpa alasan. Yang ditawarkan Pringadi AS dalam Dongeng Afrizal adalah cerpen-cerpen yang bercerita, sehingga sebab-akibat menjadi penting, aksi-reaksi dari kejadian-kejadian yang ada menjadi penting, konflik pun menjadi penting.

Cinta

SAYA mulai dengan cerpen-cerpen yang menjadikan cinta sebagai tema utamanya.

Surat Kedelapan adalah cerpen yang sederhana. Seorang lelaki menulis tujuh surat untuk seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya, dan tidak pernah menunjukkan satu pun surat itu kepada perempuan itu. Namun ternyata, tanpa sepengetahuannya, perempuan itu membaca ketujuh surat itu, dan menuliskan sebuah surat sebagai balasan, yang kemudian menjadi surat kedelapan. Surat kedelapan ini baru ditemukan lelaki itu setelah istrinya meninggal.

Saya pribadi sesungguhnya kurang suka dengan cerpen ini. Selain cengeng, cerpen ini juga miskin konflik. Saya sebut cengeng sebab yang dikemukakan adalah rasa kehilangan yang membuat seseorang jadi ingin menangis setelah membacanya. Saya sebut miskin konflik sebab nyaris tak ada pertentangan yang dihadirkan secara kuat oleh si cerpenis, selain kegagapan menyampaikan isi hati yang pada akhirnya menciptakan rasa kehilangan di hati si tokoh utama. Namun bisa jadi itulah yang hendak ditawarkan si cerpenis. Kata ‘cengeng’ pun bisa jadi berlebihan. Sebab gaya bercerita, bahasa yang digunakan, yang katakanlah puitis di beberapa kalimat, menjadi senjata utama yang membuat cerpen ini menghanyutkan. Dengan bahasa yang berbeda, mungkin pembaca tidak akan terbawa hanyut. Si cerpenis pernah berkata kepada saya, lewat sms, bahwa Surat Kedelapan ditempatkan di awal sebab cerpen ini mudah dipahami dan mudah dinikmati. Barangkali semacam hidangan pembuka. Pringadi sepertinya tidak ingin membuat pembacanya mengerutkan kening ketika membuka pintu sebab khawatir si pembaca akan langsung menutup pintu itu lalu melenggang pergi. Tapi bisa jadi tidak seperti itu.

Macondo, Melankolia adalah sebuah cerpen yang kuat. Selain cerita yang unik-menarik, kejutan-kejutan yang hadir, gaya bercerita yang membuat seseorang menahan napas ketika membacanya, Pringadi dalam cerpen ini juga membahas atau memasukkan banyak hal—Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, Fairy Tail-nya Hiro Mashima, peristiwa di Tarakan, teori Sigmeund Freud—yang mau tak mau membuat pembaca harus mencari tahu seperti apa hal-hal yang dibahasnya itu. Seperti apa Macondo di Seratus Tahun Kesunyian, seperti apa Anima di Fairy Tail, seperti apa detail peristiwa di Tarakan, jika hal-hal ini diketahui, bisa memudahkan pembaca dalam memahami apa yang ingin disampaikan Pringadi dalam cerpen ini. Sayangnya, ketiga hal tersebut, saya tidak mengetahuinya, sehingga pembacaan saya terhadap cerpen ini sesungguhnya masih gelap.

Namun ada beberapa hal yang dikemukakan Pringadi dengan direct: cuma perlu sedikit keberanian untuk membuat cinta hadir dan dekat, lelaki itu harus berani bertukar tatap mata dan sedikit kegilaan akan membuat kita dikenang. Pringadi juga menyindir beberapa hal yang barangkali tak disukainya: kiriman pulsa tiba-tiba, channel-channel televisi yang dipenuhi sinetron, hubungan yang dimulai dengan perkenalan di dunia maya. Satu hal lagi yang menarik, di cerpen ini Pringadi menunjukkan identitasnya sebagai seorang penyair: cinta adalah api yang terbakar tanpa sumbu.

Dari segi cerita, bangunan antar-kejadian, hubungan sebab-akibat, saya rasa tak ada yang perlu dikoreksi. Atau barangkali, saya gagal menemukan kelemahan tersebut.

Suatu Cerita Tentang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya lagi-lagi cerpen yang menarik, tentang seorang lelaki bernama Sakum yang mampu kembali ke masa lalu hanya dengan menatap sebuah foto. Cerpen ini mengingatkan saya pada Jumper, sebuah film yang mengisahkan seorang lelaki yang bisa berpindah ke sebuah tempat hanya dengan menatap sebuah foto. Jika lelaki dalam Jumper hanya bisa berpindah lokasi, lelaki dalam cerpen ini bisa juga berpindah waktu, yaitu ke masa lalu. (Apakah ia juga bisa berpindah ke masa depan? Entahlah.)

Alur yang loncat-loncat sesungguhnya menarik. Perlahan-lahan pembaca diajak untuk memahami seperti apa akar masalah antara Sakum, Alina, dan kemampuannya untuk kembali ke masa lalu. Namun saya sedikit bingung di adegan terakhir. Si aku di adegan itu seorang anak kecil, barangkali lelaki, yang oleh seorang lelaki berambut awut-awutan yang datang dari masa depan disebut anaknya Sukab. Lelaki itu datang untuk mengabarkan bahwa kemampuan kembali ke masa lalu bisa menimbulkan bencana. Lelaki itu siapa? Sakum? Jika memang lelaki itu Sakum, maka saya sedikit terganggu. Sebab, sejak awal Sakumlah yang bercerita, si aku adalah Sakum. Tapi, di adegan terakhir, si aku justru seorang anak kecil yang berbicara dengan Sakum. Apakah anak kecil itu juga Sakum? Tapi di adegan-adegan sebelumnya tidak diceritakan bahwa ketika Sakum kembali ke masa lalu, ia bertemu dengan dirinya yang lain di masa itu. Jadi, mana yang benar? Siapa lelaki itu? Kemudian saya juga bertanya-tanya apa tujuan Pringadi membedakan keyakinan si anak kecil dengan lelaki yang datang dari masa depan itu. Si anak kecil seorang Kristiani. Si lelaki yang datang dari masa depan seorang Muslim. Ini berarti kedua tokoh ini bukan orang yang sama(?)

Vaginalia adalah sebuah cerpen tentang nama. Sejauh apa nama merepresentasikan kepribadian seseorang. Seorang lelaki bernama Muhammad, yang adalah nama seorang nabi dan rasul terakhir dalam sejarah Islam, dalam cerpen ini ternyata seseorang yang busuk. Dia mendekati si tokoh utama, Vaginalia, memberinya perhatian, kasih sayang, lalu setelah puas dan bosan, meninggalkannya. Vaginalia pun akhirnya kecewa, marah, dendam. Di sebuah kota dia membunuhi siapa saja lelaki bernama Muhammad.

Ada dua hal yang menurut saya membuat cerpen ini jadi lemah. Pertama, apakah mungkin seorang perempuan mempercayai seorang lelaki hanya karena lelaki itu bernama Muhammad? Masih adakah seseorang yang begitu naif seperti itu? Saya masih bisa menerima jika perempuan itu terperangkap oleh si lelaki karena ketampanannya, perhatiannya, kepeduliannya. Tapi Pringadi seperti menekankan bahwa nama lelaki itulah yang membuat si perempuan percaya. Sebab nama kamu Muhammad. Kalimat ini diulang beberapa kali. Kedua, adegan terakhir—perempuan itu di sebuah kota membunuhi setiap lelaki bernama Muhammad—saya rasa terlalu berlebihan. Apakah kebencian, dendam karena dibuang, ditinggalkan begitu saja setelah kesuciannya ia serahkan kepada lelaki bernama Muhammad itu, membuat ia tergerak untuk benar-benar membunuhi setiap lelaki bernama Muhammad? Sekali lagi, si tokoh utama dalam cerpen ini terkesan begitu naif, begitu polos, dan tidak cerdas. Karena itulah saya mengatakan bahwa dua hal ini melemahkan. Padahal, seperti biasanya, gaya bercerita Pringadi sungguh kuat, memikat, di beberapa bagian bahkan menyihir. Namun jika yang ingin disampaikan Pringadi dalam cerpen ini adalah bahwa nama seseorang tidak serta merta merepresentasikan kepribadiannya, maka Pringadi sudah berhasil. Hanya itu dia, bangunan kejadian dan sebab-akibatnya kurang terjalin kuat.

Dongeng Afrizal sungguh cerpen yang menarik untuk dibahas. Suatu hari ketika saya tanyakan kepada Pringadi, mengapa judul cerpen ini dijadikan judul buku, dia mengemukakan tiga alasan. Salah satunya adalah bahwa cerpen ini dianggap cerpen yang lebih baik dari cerpen-cerpen lainnya, dengan kata lain: cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen tersebut. Yang dijadikan tolak ukur tentu saja kualitas. Pringadi kemudian menjelaskan bahwa sementara cerpen-cerpen lainnya masih bermain-main di ranah emosi dan impresi, Dongeng Afrizal sudah bermain-main di ranah represi, di mana tokoh, karakter, dan konflik ditekan ke dalam ruang, sehingga cerita terkesan datar namun sesungguhnya penuh konflik, sehingga si tokoh utama terkesan polos-cuek padahal di kepalanya berkecamuk banyak hal. Pringadi kemudian membandingkan cerpen ini dengan Pohon Kersen-nya Linda Christanty, juga cerpennya Avianti Armand—Sempurna(?) Tentang perbandingan ini, saya punya pendapat sendiri.

Tokoh utama dalam Dongeng Afrizal adalah seorang anak kecil, lelaki, di sebuah kampung, usia SD, agamanya Islam. Nani adalah murid pindahan, ayahnya tentara, pandai bernyanyi, agamanya Katolik. Deni adalah teman sekelas mereka, yang menyukai profesi tentara, sering pamer di depan Nani, agamanya Protestan. Deni menyukai Nani. Nani cuek terhadap Deni. Afrizal menyukai Nani. Nani memberi perhatian padanya. Kisah tiga anak SD ini sebenarnya biasa, dan nyaris tanpa klimaks. Yang membuatnya luar biasa adalah hal-hal yang secara represif dikemukakan. Ibu guru yang menanyakan sampai di mana pelajaran sebelumnya, sejarah yang banyak direkayasa, guru agama yang tidak menghargai perbedaan keyakinan, penilaian seseorang hanya dari wajahnya, risiko menjadi anak tentara, kecelakaan pesawat. Pringadi mengemukakan hal-hal tersebut dengan ringan, layaknya anak kecil yang masih belajar membedakan mana yang baik mana yang buruk. Dalam hal ini saya rasa Pringadi cukup berhasil.

Namun ada satu hal dari cerpen ini yang mengganggu saya, yaitu saat Pringadi menulis: “Deni itu Protestan,” kata Nani. O, pantas Nani benci Deni. Apa maksud dari dua kalimat itu? Apakah Pringadi ingin menunjukkan bahwa seorang Katolik (Nani) membenci seorang Protestan (Deni)? Dari mana si Afrizal mengambil kesimpulan seperti ini? Apakah ini pengaruh dari lingkungan? Tak jelas. Dua kalimat itu juga menurut saya berbahaya. Katolik dan Protestan memang berbeda, tapi apakah keduanya ‘bermusuhan’? Pringadi perlu menjelaskan maksud dari dua kalimatnya itu, agar tidak terjadi salah tafsir yang membahayakan.

Satu hal lagi yang mengganggu: pemilihan judul. Kata ‘dongeng’ saya rasa tidak tepat untuk merepresentasikan kisah keseluruhan. Dongeng selalu identik dengan sesuatu yang ajaib, tempat-tempat yang hanya ada dalam khayalan, peristiwa-peristiwa di luar akal sehat. Padahal, cerpen ini sepenuhnya mengisahkan hal-hal yang lumrah terjadi di dunia nyata. Tak ada yang aneh. Tak ada yang ajaib. Tak ada yang di luar akal sehat. Karena itulah penggunaan ‘dongeng’ jadi tidak tepat. Kata ‘hikayat’ mungkin lebih tepat, atau ‘kisah’. Sebagai rujukan sebuah cerpen yang benar-benar dongeng salah satunya adalah Qirzar, cerpennya Linda Christanty.

Senja Terakhir di Dunia adalah sebuah respon atas dua cerpen: Sepotong Senja Untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma), Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Agus Noor). Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerpen ini pun adalah tokoh-tokoh yang pernah ada dalam dua cerpen tersebut: Sakum, Alina, Sukab, Maneka. Pringadi ternyata memilih menulis di kertas yang tak kosong. Ia memilih melanjutkan kisah yang sudah ada, mengembangkannya, mencoba menciptakan tandingannya, mencoba melampauinya. Pilihannya ini bisa menjadi boomerang seandainya ia tak bisa menciptakan kisah yang lebih baik, yang membuat ia akan berada di dalam bayang-bayang pendahulunya. Lain halnya jika ia mampu melampaui para pendahulunya. Apakah Pringadi sudah melampaui para pendahulunya? Bukan saya yang harus menjawabnya.

 

Banyak hal positif bisa diambil dari cerpen ini. Tentang mahalnya kejujuran dan lebih mahalnya lagi kebebasan, tentang kata-kata yang menjadi omong kosong belaka, tentang aparat hukum yang tak berdaya menghadapi orang-orang bermodal, tentang harga bahan bakar dan listrik yang terlampau tinggi. Bangunan kejadiannya sendiri sebenarnya sederhana. Nyaris tak ada konflik antara Sakum dan Alina. Suasana lah yang kuat terasa di cerpen ini. Cerpen ini barangkali lebih condong ke cerpen suasana ketimbang cerpen yang bercerita.

Sisi Gelap Manusia

CERPEN-CERPEN selanjutnya saya kelompokkan sebagai cerpen-cerpen yang mengemukakan sisi gelap manusia, satu hal yang sangat menarik perhatian saya.

Resital Kupu-kupu adalah sebuah cerpen yang absurd. Sulit melacak mana yang benar terjadi mana yang tidak. Di akhir cerita si tokoh utama mencuri dengar percakapan para perawat yang mengatakan bahwa sahabatnya—yang tewas tertabrak truk—itu tak pernah ada. Anggap saja ini benar. Maka ada beberapa pertanyaan: apakah piano itu juga tak pernah ada? apakah resital itu juga tak pernah ada? Sekali lagi, Resital Kupu-kupu adalah cerpen yang absurd. Anda barangkali harus menyelam hingga dalam, melakukan perjalanan hingga berulang-ulang, terbang hingga begitu tinggi, untuk bisa benar-benar mendapatkan pencerahan tentang mana yang benar terjadi mana yang tidak. Satu hal positif yang bisa diambil dari cerpen ini: kupu-kupu jangan dikurung, agar dia tak membalas dendam suatu hari. (Apakah ini juga absurd?)

Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya mengingatkan saya pada sebuah komik berjudul Rabbits, tentang seorang remaja perempuan yang membunuh teman-temannya satu per karena satu alasan: mereka pembohong. Definisi pembohong itu sendiri bervariasi. Kebohongan sekecil apapun menjadi pertimbangan remaja perempuan itu. Tidakkah cerita ini terkesan berlebihan? Bisa jadi iya. Namun perlu diketahui bahwa remaja perempuan itu sebenarnya dalam pengaruh hipnotis dari seorang anak perempuan psikopat, yang membunuh karena ingin. Jadi, dari komik tersebut, ada dua alasan seseorang membunuh. Pertama, orang yang dibunuhnya itu pembohong. Kedua, karena ingin. Menariknya, cerpen ini menggabungkan keduanya. Pembunuhan pertamanya—terhadap ibunya—ia lakukan karena ibunya itu berbohong. Pembunuhan-pembunuhan selanjutnya—dengan teknik hipnotis—dilakukan lebih karena ia ingin.

Di cerpen ini Pringadi benar-benar menjadi seorang psikopat. Bangunan antar-kejadiannya sendiri cukup apik. Aksi terakhirnya dalam cerpen ini bahkan dilatarbelakangi kejadian kuat di masa lampau saat ia kecil. Lelaki itu—si polisi—ternyata adalah anak yang sering mengejek dan menghina cita-citanya yang ingin jadi pesulap dan profesi ibunya yang adalah pelacur. Sampai di sini tak ada masalah. Hanya saja, di pembunuhan pertama—terhadap ibunya—saya merasa jalinan sebab-akibatnya kurang kuat. Ia membunuh ibunya karena ibunya itu membohonginya. (Ia sendiri berbohong kepada polisi yang datang ke TKP besok harinya!) Padahal, sebelum ia tahu ibunya membohonginya, ia begitu menyayangi ibunya itu—“Ibu adalah ratu saya.” Jadi anggaplah si tokoh utama dalam cerpen ini memang memiliki kelainan mental. Ia bisa membunuh seseorang begitu saja karena ingin atau karena orang itu membohonginya. Tapi mungkin akan terasa lebih kuat kalau diceritakan juga kejadian-kejadian yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki kelainan mental.

Dalam cerpen berjudul Sempurna, Avianti Armand dengan apik menghadirkan tokoh Lara yang di luar tampak sempurna, cantik, murah senyum, berprestasi, tapi di dalam dirinya bersarang sesuatu yang jahat. Avianti Armand mendeskripsikannya lewat kejadian-kejadian yang menarik: menyiksa boneka kesayangannya (mengguntingi jarinya, mencabuti rambutnya, menusukkan jarum ke matanya), melemparkan kotoran anjing ke jendela mantan pacarnya, mengunci di luar dalam keadaan telanjang seorang lelaki yang baru saja meminta putus darinya. Tiga hal ini menguatkan identitas Lara sebagai seseorang yang memiliki kelainan mental. Deskripsi berupa kejadian inilah barangkali yang terasa kurang dalam Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya.

Setan di Kepala Ibu adalah cerpen tentang kebencian seorang anak terhadap seseorang, yang diwujudkan dengan munculnya setan bertanduk-berekor di kepala orang yang dibencinya itu. Awalnya orang yang dibencinya itu adalah Ibu—seorang perempuan yang dekat dengan ayahnya. Di akhir cerita orang yang dibencinya itu adalah ayahnya.

Ide penampakan setan ini menarik. Ada satu kejadian yang menggelitik tapi unik: si anak mengacungkan jari tengah kepada setan di kepala Ibu, dan si Ibu mengira anak itu mengacungkan jari tengah padanya. Ini bisa saja dialami seorang anak yang sehari-harinya penuh tekanan. Kebetulan, diceritakan juga bahwa si anak memang mengalami tekanan dari ayahnya, tekanan secara mental.

Namun sebenarnya ada yang aneh. Perpindahan setan dari kepala Ibu ke kepala Ayah terasa janggal. Katakanlah asumsi saya benar, bahwa kemunculan setan adalah wujud dari kebencian si anak. Maka ketika setan tiba-tiba lenyap dari kepala Ibu, sesuai asumi saya tadi, si anak berarti tidak lagi membenci perempuan itu. Mengapa ini terjadi? Karena perempuan itu mulai bercerita panjang lebar padanya tentang ayahnya? Tapi bukankah si anak yang mulai bertanya? Kemunculan setan di kepala Ayah bagi saya juga terkesan terburu-buru.

Avianti Armand pernah menulis sebuah cerpen berjudul Perempuan Tua Dalam Kepala. Sosok perempuan tua itu, yang digambarkan seperti nenek sihir, tinggal di sebuah rumah dengan dinding penuh lumut, sibuk memasak ramuan, adalah wujud dari sisi gelap seorang anak yang mengalami penderitaan akibat anal seks yang dilakukan ayah tirinya. Perempuan tua itu sendiri muncul sesaat setelah ia mengalami anal seks itu. Selanjutnya setiap kali tokoh utama itu melakukan hal-hal yang baik, perempuan tua itu akan berteriak-teriak, mengganggunya, membuat pusing kepalanya. Sebaliknya, ketika ia berbuat sesuatu yang buruk, perempuan tua itu akan tampak gembira dan mendukungnya. Suatu hari ketika ayah tirinya itu melakukan lagi anal seks terhadapnya, perempuan tua di dalam kepalanya tiba-tiba berontak, melawan, dan akhirnya membunuh ayah tirinya. Di cerpen diceritakan seperti itu. Tapi sebagai pembaca kita tentu tahu, anak itulah yang membunuh ayah tirinya itu. Sebab perempuan tua di dalam kepalanya, sesungguhnya tak pernah ada.

Cerpen Setan di Kepala Ibu mirip dengan cerpen Perempuan Tua Dalam Kepala dalam pewujudan sesuatu sebagai sisi gelap manusia. Namun, jika keduanya mau dibandingkan, tampak sekali Setan di Kepala Ibu masih lemah. Deskripsi perempuan tua jauh lebih menarik ketimbang deskripsi setan. Sejarah kemunculan perempuan tua jelas. Sejarah kemunculan setan tidak. Pengaruh dan keikutsertaan perempuan tua lebih terasa ketimbang si setan. Tema yang digarap pun lebih baik cerpen kedua.

Saya jadi ingat. Di sebuah acara di Toko Buku Alternatif Jendela, pembahasan bukunya Asep Sambodja, seorang teman mengatakan kepada saya bahwa cerpen Setan di Kepala Ibu tidak memiliki nilai positif yang bisa diambil jika dibacakan kepada anak-anak. Saya langsung tersenyum. Di dalam hati saya tertawa. Itu tentu saja salah sasaran, salah alamat. Siapa juga yang mengatakan bahwa cerpen ini untuk anak-anak? Sasaran cerpen ini tentunya orang-orang dewasa atau yang sedang menuju kedewasaan. Membacakan cerpen ini kepada anak-anak adalah tindakan konyol. Sebab seperti halnya Saman dan Larung, yang sasarannya adalah orang-orang dari lingkungan tertentu, dan tentunya di atas tujuh belas tahun, cerpen ini pun punya sasaran tertentu, dan jelas bukan anak-anak. Lagipula nilai positif yang bisa diambil jelas ada: jangan memanfaatkan kemampuan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Ucapan seorang teman saat itu menunjukkan bahwa ia gagal menemukan nilai positif ini, lantas menyalahkan karya. Naif saya rasa.

Domba-domba Dalam Suratmu adalah salah satu cerpen favorit saya dalam kumcer ini. Selain bahasanya yang menyihir, konflik pun disajikan lewat bangunan kejadian yang kuat dan masuk akal. Dua perempuan menghuni satu kamar asrama. Yang satu jadi tokoh utama yang katakanlah protagonis. Yang kedua jadi tokoh antagonis. Pertentangan-pertentangan antara kedua tokoh ini adalah tentang perlu-tidaknya perempuan menjaga ‘harta’-nya dari lelaki. Si tokoh protagonis diceritakan mengenakan kerudung. Si tokoh antagonis tidak. Si tokoh protagonis barangkali seorang Muslim(ah)—karena berkerudung. Si tokoh antagonis barangkali seorang Kristiani—karena sering membaca Mazmur. Atau bisa jadi si tokoh antagonis seorang agnostik, sebab diceritakan di meja belajarnya terdapat kitab-kitab—jamak. (Tentang hal ini sebenarnya ingin saya tanyakan kepada si cerpenis: apa tujuan dibedakannya keyakinan kedua tokoh tersebut?) Cerita menjadi menarik ketika si tokoh antagonis menyebut kerudung yang digunakan teman sekamarnya itu adalah untuk menutupi aibnya sendiri. Tokoh protagonis ternyata sudah tak perawan. Dia pun dikatai munafik, dan dia mengakuinya(?)

Beberapa kalimat dan celetukan terasa sedap di cerpen ini, seperti bumbu dalam masakan dengan takaran yang pas. “Agamaku cinta. Ibadahku juga bercinta”, “Tidak semua hal di dunia ini aku pelajari dari kitab. Hidup bukan sebuah konsep di atas kertas”, adalah dua diantaranya. Tentang selimut hadiah ulang tahun yang digunakan si tokoh lelaki untuk menutupi tubuh telanjangnya juga menarik. Itu seperti sebuah sengatan dengan rasa sakit tak tertanggungkan. Di cerpen ini, si tokoh utama memang dideskripsikan sebagai seseorang yang sensitif.

Djibril dan Aku layak dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik dalam kumcer ini. Ada beberapa alasan. Pertama, penyajian tokoh Djibril—salah satu malaikat yang tugasnya mengabarkan wahyu—sungguh unik, menarik, barangkali juga orisinil. Tokoh Djibril tersebut juga disajikan secara berbeda, dan memberikan informasi-informasi yang tidak atau jarang ditemukan dalam kitab-kitab suci. Djibril dalam cerpen ini gemar merokok. Rokok itu sendiri terbuat dari tembakau terbaik yang tumbuh di surga. Surga sendiri digambarkan bukan saja eksotis, tapi juga erotis. Sungai-sungai alkohol mengalir di sana. Para malaikat setiap harinya bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan setelah prosesi itu. Penggambaran surga dan Djibril seperti ini menarik, dan inilah salah satunya yang membuat cerpen ini berbeda dan kuat.

Apa tujuan Pringadi menulis cerpen ini? Barangkali untuk mengingatkan bahwa malaikat selalu ada mengawasi kita, yang kadang bisa saja dalam wujud manusia. Dia juga mengkritik peristiwa yang sempat terjadi di negeri ini: orang-orang yang muncul mengaku nabi, mengaku menerima wahyu dari Djibril.

Dalam mitologi Islam, atau sebut saja sejarah Islam yang termaktub dalam kitab suci, malaikat selalu digambarkan sebagai makhluk yang patuh, nyaris tanpa cela, dan tak punya keinginan macam-macam. Namun dalam cerpen ini, Djibril, salah satu malaikat terpenting yang pernah diciptakan Tuhan, justru melepaskan diri dari semua itu. Ia mabuk(?) di sebuah diskotek, memberitakan temannya Ablasa yang diusir Tu(h)an dari surga, dan mengatakan bahwa Tu(h)an-nya itu sedikit merekayasa kabar yang sampai ke telinga manusia tentang surga, agar Ia tak kehilangan muka. Gila! Imajinasi Pringadi benar-benar liar! Dari mana ia bisa menyimpulkan hal-hal ini? Saya tidak tahu. Saya tertarik untuk mengetahui buku-buku apa saja yang menjadi referensinya ketika menulis cerpen ini.

Secara bangunan antar-kejadian, cerpen ini bisa dikatakan mulus. Tak ada loncatan-loncatan yang terasa mengganggu. Seseorang dari daerah mengadu nasib di pusat, karena tergiur oleh seorang temannya yang bisa dibilang ‘berhasil’. Namun ternyata, ia malah terjebak oleh sesuatu yang sebenarnya klasik: menjadi kurir narkoba.

Ending cerpen ini menarik. Satu malaikat lain dimunculkan dalam wujud seorang lelaki. Malaikat itu barangkali adalah Izrail, si pencabut nyawa. Dan racauan si tokoh aku di bagian paling akhir, juga memberikan dampak sendiri terhadap cerita ini.

Dalam cerpennya berjudul Perempuan Pertama, Avianti Armand menyajikan sesuatu yang serupa. Cerpen ini adalah eksplorasi dari kisah seorang perempuan yang diciptakan dari rusuk lelaki yang termaktub dalam kitab suci—Injil. Jika dalam Injil, fokus cerita adalah si lelaki, dalam cerpen ini fokus cerita adalah si perempuan. Diberitakan apa saja yang terjadi pada si perempuan selama si lelaki ditemani malaikat memberi nama-nama. Perempuan itu sendiri belum memiliki nama saat itu. Ia bahkan hanya diberitahu—oleh Ular—bahwa ia adalah bukan laki-laki. Ia belum mengenal kata ‘perempuan’. Ular terus membisiki perempuan itu. Perempuan itu akhirnya tergoda untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Dan seperti yang dibisikkan Ular, setelah memakan buah itu, perempuan itu tidak mati. Namun, ia mulai mengenali keperempuanannya, dan akhirnya merasa malu sebab ia telanjang. Di dalam Injil perempuan ini kemudian disalahkan karena begitu saja tergoda oleh Ular. Tapi di mana si lelaki saat itu? Ia terlalu sibuk memberi nama-nama. Di akhir cerita, yang menyerupai pementasan di atas panggung itu, Tuhan dimunculkan. Ia duduk di sebuah kursi, menggenggam sebuah dadu di tangannya. Di keenam sisi dadu itu tertulis kata yang sama: dosa.

Menceritakan kembali kisah-kisah dari kitab suci dengan perspektif berbeda barangkali adalah salah satu tugas sastrawan—dalam hal ini cerpenis. Penceritaan ulang seperti ini selalu menarik.

Tuan, Nyonya, dan Cerita di Balik Kartu Pos adalah sebuah cerita tentang penantian. Cerita mengalir, dari awal hingga akhir. Konflik-konflik yang ditawarkan berkisar tentang seorang anak yang memiliki nasib serupa dengan ibunya (ibunya pembantu anaknya juga pembantu), seorang anak yang membenci ayahnya yang menyetubuhinya tapi di saat yang sama juga menginginkan hubungan badan itu, seorang perempuan yang merasa ‘bergairah’ terhadap seorang lelaki dari medan perang, seorang pembantu yang harus dikorbankan karena kenakalan tuannya. Semua itu disajikan dengan lembut dan nyaris tanpa tekanan, menjadi kelebihan sendiri cerpen ini.

Tapi adegan terakhir cerpen ini cukup menyentak. Sejak awal cerita si tokoh utama merindukan seseorang dari negeri seberang—setiap hari perempuan itu menunggu tukang pos lewat. Orang dari negeri seberang itu barangkali si tentara yang berjanji akan selalu bersamanya. Namun, si tentara tak kunjung tiba. Akhirnya, perempuan itu malah memiliki anak dari si tukang pos. Jadi, penantian si perempuan tak membuahkan hasil, dan kesetiaan dikorbankan? Saya tentu saja tak yakin si tukang pos dan seseorang di negeri seberang adalah sosok yang sama. Tapi bisa jadi pemahaman saya keliru.

Dongeng Ikaruz. Di cerpen ini Pringadi kembali menjadi seorang psikopat. Sakum, setelah membunuhi burung-burung hanya untuk bisa membuat sayap, mulai membunuhi manusia dengan imbalan uang. Motif lainnya: dendam dan kebencian. Si sopir taksi mati di tangannya karena sopir itu tidak sensitif atas meninggalnya Alina. Si kembaran Presiden mati karena ia dianggapnya penyebab utama kematian Alina. Di akhir cerita disajikan kegagalan Sakum atas misinya itu. Presiden ternyata masih hidup. Dia telah dijebak.

Apakah Pringadi begitu membenci presiden Indonesia saat ini—kata ‘Cikeas’ menjadi kunci untuk mengenali siapa presiden yang dimaksudnya? Kemacetan parah yang disebabkan rombongan presiden yang menuju istana membuat Alina tak sempat tiba di rumah sakit. Apakah Pringadi juga membenci pemerintah Indonesia, juga Amerika? Entahlah. Yang jelas cerpen ini menarik dan bisa dibilang fantastis. Kata ‘dongeng’ saya rasa tepat, sebab apa yang disajikan adalah sesuatu yang ajaib. Ide bercinta di luar angkasa—berciuman—menjadi nilai lebih lainnya. (Saya jadi ingat salah satu lagu Frau yang berjudul Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Apakah Pringadi mendapatkan inspirasi untuk menulis cerpen ini dari lagu tersebut?)

Pareidolia. Cerpen ini terkesan datar, tapi sesungguhnya mencekam. Tiga dari sepuluh kematian berawal dari dapur. Tentunya menyenangkan mati di dapur. Sebuah survey gila yang dibaca si perempuan entah di kolom mana, yang kemudian dituliskannya di halaman pertama diary­-nya. Si lelaki menemukan diary itu, membaca kalimat pertama, dan ia tersentak. Ia pun berpikir kalau istrinya itu sudah gila. Kematian mertuanya yang tersedak asin garam, hangus terpanggangnya kucing kesayangan istrinya di dapur, membuat liar spekulasinya. Ia barangkali juga berpikir istrinya itulah yang membakar kucing itu di sana. Namun si perempuan, istrinya itu, menyangkal bahwa ia yang membunuh ibunya. Baginya itu sebuah kecelakaan. Sedangkan tentang kucing yang hangus itu, ia justru kebingungan. Jadi, siapa sesungguhnya yang membunuh dan membakar kucing itu? Si lelaki atau si perempuan? Siapa dalam cerpen ini yang sesungguhnya ‘gila’? Si lelaki atau perempuan? Selain suasananya yang mencekam, tidak banyak yang menjejak dari cerpen ini. Konflik yang ditawarkan barangkali sesungguhnya adalah tentang pasangan suami-istri yang belum juga memiliki keturunan dan kehilangan gairah rumah tangga sebab si suami terlalu sibuk bekerja. Adakah konflik yang lain?

Fiksimaksi: Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, meski absurd, justru adalah yang paling saya sukai dari kumcer ini. Pendek, ajaib, rumit, dan penuh sentilan-sentilan berbobot. Si Pringadi, tokoh utama dalam cerita ini, terobsesi dengan wujud Tuhan. Ia merasa melihat Tuhan beberapa kali di berbagai tempat. Bahkan saat membacakan puisi di depan banyak orang, ia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang sudah datang ke acara itu. Pringadi ini barangkali seorang muslim, sebab diceritakan seorang kyai memberinya nasehat bahwa Tuhan tak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. Seperti inilah pemahaman Islam tentang Tuhan. Tapi penampakan Tuhan dalam wujud manusia(?) mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Bruce Almighty, seorang lelaki yang diberi kekuasaan beberapa lama oleh Tuhan yang muncul menemuinya dalam wujud lelaki tua. Dalam pemahaman Kristen, Tuhan memang mungkin tampil dalam wujud manusia, seperti halnya Yesus dari Nazareth yang mereka yakini sebagai Tuhan Anak, Tuhan dalam wujud anak manusia. Oleh karenanya si Pringadi dalam cerita ini barangkali seseorang yang terjebak di antara dua keyakinan: Islam dan Kristen. Tapi saya rasa itu hal yang wajar dialami penulis, terutama jika ia mendalami keduanya. Kadang ketika menulis cerita, penulis mencoba menjadi orang lain yang berbeda sekali dengannya. Agama, keyakinan, ideologi, pada akhirnya saling melintas dan bisa jadi bertubrukan kalau si penulis tidak cukup piawai, tapi justru mencerahkan jika si penulis cukup piawai menyajikannya.

Sayang sekali cerita ini begitu pendek, begitu cepat diakhiri—karena itulah tidak tuntas. Seandainya dituntaskan, efek ajaibnya bisa lebih terasa. Kejadian-kejadian yang dialami si tokoh juga bisa dieksplorasi lebih jauh untuk memberikan dampak yang lebih memikat. Satu hal lagi yang disayangkan, adalah kehadiran Om Yo yang ternyata bisa juga melihat penampakan Tuhan. Apa tujuan dimunculkannya tokoh ini? Saya rasa, seandainya hanya si Pringadi yang (merasa) mampu melihat Tuhan, itu jauh lebih masuk akal dan bisa diterima. Dengan kata lain, ia memang terobsesi dengan wujud Tuhan. Tapi dengan membuat Om Yo juga bisa melihatnya, ini menjadi pertanyaan: apakah Om Yo juga terobsesi dengan wujud Tuhan? Ataukah justru dari tokoh itu Pringadi mengenal Tuhan dalam wujud yang bisa dilihat? Entahlah. Biarkan Pringadi AS yang menjawabnya. Kita tunggu saja.

Karya yang Bagus, Karya yang Besar

PADA akhirnya saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah teorema—atau barangkali masih lemma—tentang sebuah karya yang dikategorikan bagus, dan karya yang dikategorikan besar. Jika menggunakan tiga indikator yang disebutkan Khirsna Pabicara tentang cerpen yang bagus—yang saya cantumkan di bagian awal—maka cerpen-cerpen dalam Dongeng Afrizal tentu cerpen-cerpen yang bagus. Sebab, meski komposisinya tidak merata, di setiap cerpen selalu ada yang terpenuhi, baik sisi kejutannya, gaya ungkapnya, maupun intensinya. Dengan sedikit menambahkan penafsiran saya tentang pentingnya penyajian konflik, bangunan antar-kejadian, hubungan sebab-akibat, cerpen-cerpen tersebut masih terkategorikan bagus—beberapa malah kuat. Sebab konflik, dalam sebuah cerita, tentu tidak bisa begitu saja dihadirkan, melainkan harus dibangun oleh kejadian-kejadian yang runut dan tersambung satu sama lain. Konflik demi konflik ini nantinya akan memunculkan klimaks. Dalam hal ini, penting juga diperhatikan sejauh mana pengaruh kejadian-kejadian itu, juga konflik-konflik itu, dalam memunculkan klimaks. Sejauh mana mereka mampu saling membunuh untuk kemudian hadir sebagai sosok yang tunggal—klimaks—adalah hal yang tak semestinya dilewatkan seorang cerpenis. Lalu sosok seperti apa Pringadi AS? Sila Anda simpulkan sendiri. Tulisan saya ini hanya sebagai pengantar—meski (mungkin) telah mengantar terlalu jauh.

Sebuah karya yang bagus belum tentu juga sebuah karya yang besar. Teorema atau lemma yang saya maksudkan sebelumnya adalah tentang hal ini. Menurut saya, sebuah karya, dalam hal ini saya batasi jadi cerpen, dikategorikan besar jika ia mampu menghadirkan sesuatu yang membuat pembacanya berpikir keras merenungkannya. Bukan karena kerumitannya, melainkan pemikiran atau gagasan si cerpenis yang bisa jadi tidak biasa, kontradiktif, atau bahkan berseberangan dengan pemahaman umum. Gagasan, ide, pemikiran yang dikemukakan di dalam cerpen, pada akhirnya menjadi faktor penting yang membuat sebuah cerpen menjadi cerpen yang besar atau tidak.

Linda Christanty misalnya, di beberapa cerpennya, mengemukakan pertentangan-pertentangan dari pemikiran-pemikiran dan hukum (kitab suci) yang selama ini terpatri. Dalam Kuda Terbang Maria Pinto ia menulis: dunia ini memang kejam terhadap serdadu. Dikisahkan juga bagaimana si serdadu itu dibuat pusing oleh urusan cintanya, padahal perang masih belum usai. Dalam Seekor Anjing Mati di Bala Murghab ia membuka kemungkinan seorang prajurit yang baru saja menembak mati seekor anjing dan menendangnya dengan kejam, menjadi prajurit dan berada di daerah konflik itu karena tak ada pilihan lain. Ia bisa jadi perlu uang untuk orangtuanya di tempat yang jauh. Dua cerpen ini berupaya menunjukkan bahwa prajurit, atau serdadu, seperti apapun mereka di medan perang, sesungguhnya masih memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Mereka tetap manusia. Mereka punya sisi baik. Pemikiran Linda ini seperti bersikeras merobohkan anggapan sebagian orang bahwa tentara, serdadu, perofesi-profesi kemiliteran, adalah melulu tentang kekerasan, dan jauh dari kemanusiaan. Di cerpen berjudul Drama, Linda menghadirkan seorang tokoh bernama Suzanne yang membenci politik, sebagaimana ia membenci agama. Fakta bahwa orang-orang saling membunuh karena agama, menjadi alasan utamanya. Suzanne pun menolak mati demi para nabi yang tak dikenalnya secara dekat. Jika ia mati, ia lebih memilih mati demi dirinya sendiri. Dalam cerpen berjudul Menunggu Ibu, yang saya rasa adalah salah satu masterpiece Linda, pertentangan disajikan dengan apik, tentang ketentuan agama yang terasa janggal ketika diterapkan di kenyataan. Sebuah rumah akan dijual. Hasil penjualannya dibagi-bagi sesuai ketentuan agama. Si pemilik rumah, ibunya Pia yang sedikit gila, hanya mendapatkan setengahnya. Setengahnya lagi dibagi-bagikan kepada adik dan kakaknya. Padahal, adiknya masih bujang, kakaknya kaya raya, sementara ia sendiri tak bekerja dan punya dua anak. Di sinilah pembaca yang jeli menemukan pemikiran Linda, dan diajak untuk terus memikirkannya.

Pemikiran-pemikiran seperti itulah yang dibutuhkan suatu cerpen untuk bisa dikategorikan karya yang besar. Sebab selain mengajak pembaca berpikir, pemikiran-pemikiran itu juga bisa saja mengubah pola pikir pembaca. Jika sudah sampai ke tahap ini, maka tingkatannya sudah lebih tinggi lagi. Sebuah karya jika berhasil mengubah suatu peradaban, tentunya sebuah karya yang luar biasa.

Sejauh mana Pringadi AS mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam kumcer Dongeng Afrizal ini, mari kita coba telusuri. Tema-tema cerpen kebanyakan tentang cinta, hubungan yang rumit dan unik antara lelaki dan perempuan—yang didominasi oleh Sakum dan Alina. Sebab cerpen-cerpen itu tentang cinta, dan jarang mengambil suatu kejadian di dunia nyata sebagai latar belakang—seperti yang kerap dilakukan Linda Christanty dalam cerpen-cerpen realisnya—maka tak banyak pemikiran yang bisa dikutip kecuali tentang cinta, hubungan antara lelaki dan perempuan. Sedang bagi saya, terus terang, cinta dan hubungan lelaki-perempuan tidaklah lebih menarik ketimbang hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya, dengan alam, dengan Tuhan, atau bahkan dengan dirinya sendiri. Bisa kita simak ketika Pringadi mencoba menyajikan hal tersebut, misalnya dalam Dongeng Afrizal, terasa kuat dan dekat dengan kehidupan nyata. Kehidupan berpindah-pindah seorang anak tentara, sikap tidak mengenakkan seorang guru agama terhadap siswanya yang berbeda keyakinan dengannya, adalah sesuatu yang layak untuk dipikirkan. Dalam Seseorang Dengan Agenda di Tubuhnya, sebuah premis unik dikemukakan, bahwa seseorang menjadi polisi karena ia tak ingin ditangkap polisi. Sebuah sindiran tentu saja, dan ini sangat subjektif. Barangkali Pringadi berangkat dari pengalaman-pengalaman pribadinya yang kerap bersentuhan dengan aparat kepolisian, dan mengalami perlakuan atau pelayanan yang tidak membuatnya nyaman. Namun sayang, di tengah kepiawaian gaya ungkapnya, kecerdasannya menata kejadian dan menghadirkan kejutan, Pringadi belum melakukan apa yang saya sebut ‘mendobrak kemapanan’. Saya rasa itulah salah satu tugas penting seorang cerpenis: mendobrak kemapanan, mempertanyakan kekeliruan-kekeliruan yang terlanjur dianggap benar, lewat jalinan kejadian atau percakapan-percakapan atau gumaman si tokoh utama. Salah satu cerpenis yang sering melakukannya adalah Linda Christanty, dan itulah nilai tambah luar biasa bagi sebuah karya sastra—cerpen.

Percayalah, jika Anda menyempatkan diri melihat ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, Anda akan menemukan begitu banyak hal yang semestinya dipertanyakan. Kata ‘tabu’ bukan lagi sebuah hambatan. Bahkan ayat-ayat dalam kitab suci pun terbuka untuk dipertanyakan, sejauh mana penafsiran yang ada, sesuai atau tidak penerapannya dalam kehidupan saat ini. Hal-hal ini bisa digali, dieksplorasi, lalu dikemas jadi sebuah cerpen yang mengagumkan. Tentunya, unsur-unsur lain seperti gaya ungkap (bahasa), penguasaan alur, penerapan logika, juga ikut menentukan apakah suatu cerpen layak dikategorikan karya yang besar atau tidak.(*)

Bogor. Juni.2011

Download Kumpulan Cerpen Pringadi Abdi Surya: Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal

Dongeng Afrizal adalah kumpulan cerpen Pringadi Abdi Surya yang pertama, terbit tahun 2011. Sebagian cerpen di dalamnya sudah pernah dimuat di koran. Dalam kumpulan cerpen ini pula, saya banyak bermain imajinasi dan pola-pola kejutan (plot-twisted) yang katanya sih, cukup sulit tertebak. Silakan diunduh ya.

Ada 15 cerita di dalamnya. Mulai dari Surat Kedelapan hingga Senja Terakhir di Dunia.

Oh, ya, pengaruh Seno Gumira Ajidarma masih sangat kental di dalam penceritaan. Secara, saya memang penggemar beliau,

Berikut tautannya Dongeng Afrizal

Jika berkenan, mohon dishare postingan ini ke medsos masing-masing ya. Terima kasih.

Cerpen Pringadi Abdi: Densha Otoko

Cerpen ini dimuat di  Berita Pagi, 30 Januari 2011

Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).

“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”

Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta.

Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.

***

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kamu jadi cerpenis?”

“Aku ingin jadi pemain bola kok,”

“Seperti M. Nasuha?”

“M. Nasuha?”

“Ya, bek kanan Timnas kita, dulu main di Sriwijaya FC sebelum ikut RD ke Persija. Dia mirip kamu….”

“Apanya yang mirip? Kelaminnya?”

“Aku serius.”

“Aku justru dua rius.”

“Hahaha…”

“Hihihi…”

“Tidak lucu.”

“Aku memang tidak sedang melucu.”

“Orang gila.”

“Dunia memang sudah gila.”

Dan akan bertambah lagi satu hal gila jika benar aku mengikuti petuahnya.

“Ada tiga syarat buat menjadi cerpenis, Pring?”

Wah, cuma tiga.

“Pertama, sering-seringlah bernyanyi di kamar mandi.”

Nah, kalau yang ini aku sudah sering melakukannya.

“Kedua, tinggalkanlah sidik jari di mana-mana.”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah pernah pacaran berapa kali?

“Baru satu kali dan itu pun diselingkuhi…”

“Nasibmu itu, Pring.”

“Terus?”

“Belajarlah untuk berselingkuh… seperti aku.”

“Dengan mantan pacar Dadang Ari Mujiono?”

“Murtono ah.”

“Mujiono saja, biar mirip penyanyi dangdut, geal geol gendat gendut plagiat plagidut…

“Masih hidup dia ya, kapan digantung kemaluannya?”

“Nunggu SBY turun jabatan.”

“Lho?”

“Partai Cabang Rashomon Indonesia.”

“Hahaha….”

“Hihihi…”

“O, ya, yang terakhir yang paling penting, pulang ini kamu harus naik kereta!”

***

Densha Otoko, drama Jepang sebelas episode yang diangkat dari komik itu sedikit bisa menghiburku. Membayangkan perempuan secantik Hermes, dengan rambut pirang dan tinggi yang semampai, bibir tipis yang lembut buat dikecup, bisa bikin jantung deg-degan tak karuan. Kalau saja di kupe pertama, begitu masuk kereta, ia ada dan sedang diganggu pria pemabuk yang lama tak menyusu istrinya, aku bisa tampil bak pahlawan dan memamerkan otot-otot hasil binaan di gymbeberapa bulan belakangan. Aku hajar pria itu sampai giginya rontok satu per satu, kemudian kusuruh ia menelannya lagi. Duh, wanita mana yang tak langsung jatuh hati dan menyandarkan kepalanya di dadaku ini?

“Sekali lagi, Pring, tak pernah ada feminis di kereta ekonomi!”

Raga seperti tahu saja apa yang kukhayalkan. Makhluk satu itu memang pintar membaca pikiranku, termasuk menjejalkan pikiran yang jorok-jorok ke otakku. Aku beri tahu sesuatu ya, aku kenal Sora Aoi sampe Nagase Ai, itu gara-gara Sungging Raga. Oke, tapi ini rahasia ya?

Bicara tentang feminis, kami sering mengidentikannya dengan perempuan yang tak mau kawin, berpakaian terbuka, dan bisa dipakai kapan saja.  Kalaulah kau memperdebatkan arti kawin, aku bersedia menggantinya dengan kata ‘nikah’. Jadi, makhluk bernama feminis ini rata-rata bisa cuap-cuap tentang kebebasan, mengatai-ngatai laki-laki yang penuh ketidaksetiaan, pelaku pelecehan seksual, sampai perampas kebebasan hak asasi para perempuan itu sendiri. Padahal, ini rahasia ya, Pringadi Abdi Surya itu adalah laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, tidak pernah selingkuh, apalagi sampai meninggalkan sidik jari dan menuliskan perkataan semacam “Pringadi was here!” di suatu bagian tubuh. Dan satu lagi, jarang sekali laki-laki yang agresif kalau perempuannya tidak memamerkan onderdil miliknya. Faktanya, sekarang paha dan dada diobral di mana-mana, bukan? Lumayan buat cuci mata, apalagi di kereta.

***

Hanya memang, selain kebohongan-kobohongan yang dikarang-karang dalam ceritanya, Raga itu makhluk yang jujur adanya. Baru sampai di stasiun, aku sudah kebingungan. Orang-orang membawa barang berkarung-karung, kotak-kotak mie, kantung-kantung kresek. Membayangkan akan ditaruh di mana mereka itu, membuatku ingin membatalkan niat naik kereta. Tapi, ketimbang tawa sinis Raga itu meledekku, mending aku nekat naik kereta ini.

Aku mendapatkan tiket berdiri, tetapi beruntung sekali (dalam ekspresi bingungku itu) seorang perempuan—yang kukira sebaya—mempersilakan aku duduk di sampingnya. Awalnya, aku sempat curiga dan teringat dengan cerita-cerita hipnotis, copet, dan hal itu membuatku terjaga memegangi dompet.

“Baru pertama kali naik kereta, ya?” Dia memulai pembicaraan.

Memang tidak secantik Hermes, tetapi bibirnya itu membuatku suka. Aku memang menyukai tipe bibir yang mungil dan agak kemerahjambuan. Kalau dikecup, laki-laki yang semi-agresif seperti aku bisa mendaratkan ciuman dengan mudah—meladeni setiap cara yang dia inginkan. Tentu, dia tak akan bisa menguasai bibirku.

“Dari mana kamu tahu?”

“Tergambar jelas di wajahmu…”

“Baru pertama kali ke Jakarta?” Aku balik bertanya.

“Lha, dari mana kamu tahu?”

Secret makes a man man.”

“Hahaha, epigon Vermouth.”

“Suka Conan juga?”

“Ya, siapa yang tak suka Conan? Aku ingin punya pacar tampan kaya’Heiji Hattori.”

“Hitam?”

“Eksotis.”

“Seperti aku?”

“Kamu… ah, kamu kegemukan.”

“Tapi ‘kan seksi?”

“Seksi di bagian mananya?”

Aku pun tersipu. Dia lebih tersipu melihat aku tersipu.

Kereta mulai bergerak. Sesekali tubuh kami bergesekan.

“Kamu Jogja di mananya? Gejayan atau Kaliurang?”

“Kamu bahkan belum tahu namaku, tapi sudah bertanya tempat tinggalku.”

“Oh iya, aku Pringadi.”

“Waginem.”

“Waginem?”

“Ya, kamu mau mencemooh namaku?”

“Ya, apalah artinya sebuah nama.”

“Keliru. Shakespeare tak pernah bilang begitu.”

“Lantas?”

What is in a name?

“Kamu tahu banyak ya, kuliah di mana?”

“Bahasa dan Sastra Indonesia.”

“Di?”

“Surabaya.”

“Jadi bukan warga Jogja?”

“Kekasihku ada di Jogja, ah tidak pantas juga kalau aku menyebutnya kekasih…”

“Kenapa?”

“Secrets make a woman woman.”

“Ayolah, aku tidak suka penasaran.”

“Aku tidak suka rendang Padang.”

“Aku tidak suka orang Padang.”

“Aku nggak nanya.”

“Hahaha…”

“Lucu?”

“Sedikit.”

“Dia sudah punya kekasih.”

“Dia?”

“Kekasihnya tahu dia juga mencintai aku.”

“Cinta?”

“Cinta yang terbata-bata.”

“Orang belajar membaca dengan mengeja. Orang mengeja pun memulainya dengan terbata.”

“Tapi, aku mencintainya.”

“Lantas, kenapa kamu ke Jakarta?”

“Aku ingin bunuh diri.”

Dia mengangkat sedikit roknya.  Naik ke atas lutut. Sayang, cuma sedikit di atas lutut. “Dia sudah merabaku di sini, sampai ke tempat lain yang tak mungkin aku perlihatkan, Pring.” Dia menangis. Aku memberinya sapu tangan. Ia membuang ingusnya di sapu tangan itu.

“Tapi, kamu masih perawan ‘kan?”

“Penting kujawab?”

“Tes keperawanan di mana-mana.”

“Tapi, bukan dia… bukan dia yang mengambil keperawananku.”

“Lalu siapa?”

“Pacarku yang sebelumnya.”

“Hah?”

“Aku benci cerpenis.”

“Lho?”

“Mereka berdua cerpenis. Pokoknya aku tidak mau melihat cerpenis lagi mulai sekarang!”

“Memang cerpenis-cerpenis itu brengsek. Sekaligus bodoh. Akutagawa, Hemmingway, ah, mereka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jadi, jika kamu bunuh diri, kamu akan sama bodohnya dengan mereka, Nem.” Aku menjawab sambil menjilat ludah sendiri.

“Jadi kamu bukan cerpenis?”

“Bukan. Aku PNS.”

“PNS?”

“Ya. Penyair Negeri Sipil.”

“Hahaha…”

“Pokoknya jangan mati di Jakarta. Biaya pemakamannya mahal.”

Kereta masih berjalan dengan kecepatan yang sama. Suara riuh kereta, keluhan orang-orang, mereka yang mengorok di depan kami, tapi kami tidak berteriak. Kami saling berbisik dalam jarak beberapa centi. Aku ingin menciumnya.

“Lalu aku akan tinggal di mana jika aku batal bunuh diri di Jakarta nanti?”

“Ke kosku saja.” Aku sudah mulai membayangkan adegan-adegan romantis yang terjadi jika sepasang manusia dibiarkan berduaan dalam satu kamar.

Dia mencubit lenganku genit.

“Eh, ngomong-ngomong siapa cerpenis yang kamu maksud tadi? Aku juga lumayan banyak kenal cerpenis.”

“Mereka berdua cukup terkenal sebagai cerpenis muda baru-baru ini. Aku putus dengan Dadang gara-gara kebiasaannya yang suka memplagiat karya orang lain. Aku tidak suka plagiasi. Kalau Raga, ya, dia nggak ganteng-ganteng amat sih, tapi orangnya tegas. Misterius. Suka bikin aku penasaran.”

Tiba-tiba laju kereta ini mendadak seperti berhenti dan berbalik. Kereta tidak jadi ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta di mana Sungging Raga akan duduk tersenyum di stasiun, melambai, dan memelukku sambil mengatakan, “Apa yang sudah kamu pelajari dari perjalanan keretamu yang singkat itu, Pring?”***

(2011)

Kepada Kamu, Bab I

Kepada Kamu.

Aku tahu napasmu masih terengah-engah bakda meloloskan diri dari satpam penjaga pintu gerbang. Dan sebentar lagi, kamu akan merasa panik, sebab buku PR Matematika yang telah kamu kerjakan semalaman ketinggalan di rumah. Tenang saja, hari ini Pak Oman tidak mengajar. Sebagai gantinya, ia hanya akan meminta murid-murid mengerjakan latihan soal-soal dan tidak dikumpulkan.

Bagaimana aku tahu semua hal itu?

Hai, Randi. Aku adalah kamu—kamu sepuluh tahun yang  akan datang.

 ~

Tepat setelah kulangkahkan kaki kiriku turun dari bis, kulihat satpam penjaga sekolah sudah memegang pintu gerbang dan mulai mendorongnya. Begitu kakiku menjejak tanah, aku langsung berlari secepat mungkin sambil kukutuk sopir bis yang berhenti tidak di depan gerbang sekolah. Ia berhenti di bawah jembatan penyeberangan, pas di tanda dilarang berhenti pula.

Aku mengerti ia malas menurunkan penumpang dua kali. Sengaja ia lewati Methodist, meski para penumpang yang ingin berhenti di sana banyak juga. Seratus meter dari Methodist ada sekolahku, SMAN 3 Palembang. Bis berhenti di tengah-tengah kedua sekolah ini.

Untunglah, dalam jarak pendek, aku adalah pelari yang baik. Dengan gesit, aku bisa menyusupkan diri dalam celah gerbang yang belum tertutup.

Selamat!

Sungguh, kecelakaan besar bila sampai terlambat. Mula-mula para siswa yang terlambat akan dibariskan di lapangan. Setelah itu, Kepala Sekolah akan datang. Ia begitu bengis. Bukan hanya dibentak-bentaki, adegan demi adegan penyiksaan akan kami lakoni. Push up, sit up, squat jump hingga merayap bak tentara di medan perang akan menjadi pemandangan menarik selama satu jam pelajaran.

Aku pernah terlambat satu kali dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.

Aku menyesal bangun lebih lambat hari ini. Aku keasikan membaca novel Area X karya Eliza Vitri Handayani hingga tengah malam. Setelah itu, aku baru tertidur. Pukul enam pagi aku terbangun dan buru-buru menyiapkan diri berangkat ke sekolah. Tak sempat kusentuh nasi goreng yang sudah disiapkan Mama. Hanya segelas teh manis yang kuseruput sekadarnya.

Aku tinggal di pinggiran Palembang. Sekolahku berada tepat di jantung kota. Dari rumah ke sekolah, aku harus naik dua kendaraan umum. Angkutan Pedesaan yang berwarna hijau muda, lalu disambung dengan bis. Jika jalanan lancar tanpa kemacetan, lima belas kilometer jarak dari rumah ke sekolah akan dapat ditempuh kurang dari setengah jam. Aku merasa beruntung tidak terlambat hari ini meski sudah bangun kesiangan. Sedianya aku harus bangun sebelum pukul lima pagi lalu mandi dan salat. Tuhan,maafkan aku yang meninggalkan salat pagi ini.

~

Bel sudah berbunyi. Tanda kelas sudah harus dimulai.

Napasku masih terengah-engah karena lari tadi. Kulihat di luar ruang kelasku sudah sepi. Biasanya teman-temanku masih mengobrol di luar sampai guru datang. Artinya, guru sudah datang atau bisa jadi mereka sedang sibuk mengerjakan PR Matematika. Memang, tak ada waktu yang lebih asik untuk mengerjakan PR selain di sekolah, sebelum jam pelajaran dimulai. Apalagi kalau tinggal menyalin hasil pekerjaan teman. Aku juga pernah begitu. Namun, sekarang tidak lagi. Aku sudah menjadi murid yang baik.

Kelasku punya julukan yang unik. Anak gudang. Sebabnya sederhana, kelas kami memang bekas gudang.

Aku tidak tahu kenapa kami mendapat bekas gudang. Kuduga hal ini terjadi karena kesalahan sekolah dalam merencakan penerimaan siswa baru. Di angkatanku ada 12 kelas. Angkatan baru di bawahku juga ada 12 kelas. Ruangan yang tersedia terbatas.

Hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas bukannya berebut tempat duduk di ruang kelas baru. Setelah melihat daftar pembagian kelas, bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru maupun yang sudah kukenal, aku tidak dapat menemukan kelas. Papan nama kelas terhenti sampai 2.10. Tidak ada 2.11 apalagi 2.11.

Aku bersama beberapa teman pun beranjak ke sekretariat. Kami rapikan baju serapi-rapinya dan yang rambutnya sedikit gondrong, mohon maaf, tak dapat kami ajak ketimbang tiba-tiba bertemu Kepala Sekolah yang super galak. Kalau ketahuan tidak rapi, bisa-bisa kami dihukum lari keliling lapangan. Mengerikan.

Benar saja, baru kami menjejakkan kaki, Kepala Sekolah itu keluar dari ruangannya dan menatap kami. Dia menenteng tangannya di pinggang dan membentak kami, “Kalian ngapain di sini?!”

Nama beliau Lukman. Tapi, jangan bayangkan sifat Lukman yang ada dalam surat di Alquran. Lukman yang ini adalah seorang pelatih Taekwondo yang tersasar jadi kepala sekolah. Sabuk hitam. Tidak satu pun siswa sekarang ini yang berani melawannya. Kalau pun nakal, nakalnya kudu diam-diam. Dulu, ketika Lukman baru menjadi Kepala Sekolah, pernah ada beberapa siswa nakal yang menantangnya. Bukan satu, melainkan tiga orang. Ketiga siswa itu diundang masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Dan mereka berkelahi di sana. Hasilnya… ketiga siswa itu keluar dengan  muka babak belur. Rambut mereka pun ditokak.

Ada lagi cerita, suatu hari beliau sendiri yang merazia seisi sekolah. Beliau berhasil menangkap sejumlah anak yang merokok di belakang WC. Hukumannya? Mereka dibariskan secara khusus di lapangan upacara. Kemudian, mereka ditempelengi satu per satu. Plak… Plak… Plak. Setelah itu, mereka pun dihukum membersihkan WC yang baunya naudzubillah.

Dan kini, Lukman yang lebih menakutkan dari Dementor itu ada di depan kami.

Aku hanya bisa diam dilontari pertanyaan itu. Chandra yang maju. Baru saja aku berkenal dengannya. Yang kutahu dia anak PKS, Patroli Keamanan Sekolah. Tinggalnya di Kertapati—daerah yang terkenal bagaikan Texas karena tingkat kriminalitasnya yang tinggi.

“Permisi, Pak. Maaf, kami ingin ke sekretariat,” kata Chandra dengan sopan. Tak lupa ia pasang senyum iklan pasta gigi dengan sempurna.

“Oh, kamu…” Lukman tampak mengenal Chandra. “Ada apa?”

“Kami baru lihat pengumuman pembagian kelas. Kami ditempatkan di 2.11. Tapi, Pak, kami cari-cari tidak ada kelas 2.11. Kami ingin bertanya, ruang kelas kami di mana, Pak?”

“Oh, 2.11 ya… coba tanya Pak Oman…”

Percakapan itu berakhir begitu saja setelah dia mengalihkan tatapannya dari kami.

Kemudian kami mencari yang namanya Pak Oman. Ternyata dia seorang guru. Kami sama sekali belum mengenalnya karena dia tak pernah mengajar anak kelas 1. Dia hanya mengajar Matematika untuk anak kelas 2. Dan ternyata dialah wali kelas kami.

Sebenarnya, aku selalu diam karena aku tak memiliki kepercayaan diri untuk bicara. Di depanku, Pak Oman. Melihatnya aku ingin tertawa. Tapi kutahan. Rambutnya dipotong persis Zinadine Zidane. Botak di tengah. Aku jadi berpikir jangan-jangan Lukman yang menokaki Pak Oman sehingga tampil demikian. Aku tak tega memiliki pikiran lucu seperti ini mengingat dia tampak ramah karena selalu tersenyum.

“Kelas kalian ada di setelah 2.10.”

“Di sebelah 2.10 kan cuma ada gudang?” ujar Chandra.

“Di mana teman-teman kalian yang lain? Maksud saya, anak-anak 2.11 yang lain.”

“Sebagian sih masih di depan papan pengumuman, ada juga yang sudah di kantin, Pak.”

“Kamu, Chan… jadi ketua kelas, ya? Tugas pertamamu, kumpulkan anak-anak di sebelah 2.10 sekarang.”

Aku tidak tahu apakah ditunjuk langsung menjadi ketua kelas adalah keberuntungan atau malah kesialan. Chandra yang kurus dan tak lebih tinggi dariku itu masih tersenyum dan menganggukkan kepala. “Baik, Pak,” katanya. Hari itu kusadari satu hal yang membedakan kami berdua, yakni mental.

Bersama kami, Pak Oman menuju ke 2.10. Anak-anak 2.10 sudah duduk di bangkunya masing-masing seperti ada lem yang lengket di sana. Aku paham, mereka tak mau bangku yang sudah ditandai susah payah diserobot orang lain.

Chandra datang bersama gerombolan siswa. Mereka pasti calon teman sekelasku. Sebagian besar tak kukenali, sebagian kecil aku hanya tahu nama dan sebagian kecil sekali yang pernah berbincang denganku. Satu tahun di SMA tak membuatku memiliki banyak teman.

“Oke, sudah semua ini?” tanya Pak Oman.

“Segini yang ada, Pak.”

“Baiklah. Kelas kita di sini.”

“Di sini?”

“Iya. Di sini. Di gudang.”

“Hah? Di gudang?”

“Kelas adalah keluarga. Dalam keluarga ada gotong royong, ada pembagian tugas. Tadi saya sudah menunjuk Chandra jadi ketua kelas. Kalau ada yang tidak setuju, bilang ke saya, nanti kita adakan pemilihan. Chandra nanti menunjuk wakil, sekretari dan bendahara, ya? Tapi sebelum itu… sebentar…” Pak Oman mengeluarkan serangkaian kunci. Dia memilih-milih kunci. “Nah ini dia…” Dia buka pintu gudang itu dan pemandangan ruangan penuh debu dengan meja, kursi bertumpuk, bersarang laba-laba ada di depan kami. “Berita baiknya hari ini tidak ada kelas. Namun tetap ada pelajaran. Pelajaran pertama adalah merapikan kelas. Silakan kalian bersihkan ruangan ini senyaman-nyamannya… karena satu tahun ke depan, ruangan inilah  yang akan menjadi ruang kelas kalian.”

~

            “Ran, kau sudah kerjakan itu… PR Matematika?” tanya Anton, teman yang duduk di sebelahku. “Semalam mati lampu, aku tak sempat mengerjakan.”

            Belum juga aku meletakkan tas, Anton sudah mencoba memintaku menyerahkan PR. Aku benci sekali menyontek. Aku juga benci diconteki. Tak apa-apa aku mendapat peringkat rendah di kelas, perkara kejujuran dalam mengerjakan ujian itu prinsip.

            Sebelum memasukkan tas ke dalam laci, biasa kuperiksa dulu isi laciku. Biasanya ada sampah. Teman-teman yang iseng sering memasukkan sampah ke dalam kelas. Motifnya, tak lain tak bukan, pemilihan kelas terbersih setiap minggunya. Untuk mendapatkan penghargaan itu, banyak yang bermain curang dengan sengaja mengotori lawan. Kelas kami pernah menang setelah para pengawas melihat kerja kami yang mengagumkan dalam mengubah gudang menjadi ruang kelas yang sedikitlayak ditempati.

            Aku melongok ke dalam laci, tidak ada sampah. Ada satu benda lain. Kupikir itu sebuah amplop. Merah jambu warnanya.

            Apakah ini surat cinta?

            Kusembunyikan surat itu cepat-cepat ke dalam laci, tapi masih dalam genggaman tanganku. Kuperhatikan sekelilingku. Anton masih duduk di sampingku. Dia menunggu PR-ku. Sampai, syukurlah, Yogi berteriak di depan setelah berhasil menangkap basah Bara yang ternyata sudah selesai mengerjakan PR. Anton segera menghambur ke Yogi, dan mengambil posisi tepat untuk menyalin pekerjaan Bara. Di antara kami, Bara memiliki tulisan yang paling rapi. Pasti, Anton akan memilih menyontek Bara ketimbang aku.

            Kukeluarkan amplop merah jambu itu dengan hati-hati. Kuletakkan di samping tas di atas meja. Aku buka pelan-pelan. Dan benar surat isinya.

            Tuhan, masa mudaku datang! Akhirnya aku mendapatkan surat cinta dari seorang gadis.

            Kucek amplop itu. Tak ada nama pengirim. Hatiku makin berbunga-bunga karena ternyata amplop itu memiliki aroma yang lembut.

            Kubuka dengan hati bergemuruh suratnya.

            Kepada Kamu.

            Kubaca paragraf pertama dan dahiku berkernyit luar biasa. Lahir lipatan-lipatan lebih banyak dari sebelumnya karena isi surat itu yang tak masuk akal. Siapa yang jahil begini kepadaku? Atau siapa yang berani menguntitku sepagian ini sehingga segala yang dituliskannya benar?

            Tunggu, dia bilang… aku tak membawa buku PR, dan Pak Oman tak datang hari ini.

            Segera kubuka tas dan kuperiksa isinya. Astaga, aku benar-benar tak membawa buku PR!

            Kemudian pintu diketuk. Aku kaget. Chandra ternyata.

            Dia senyum-senyum sendiri di pintu sebelum berkata, “Teman-teman, ada pesan dari Pak Oman. Pak Oman tidak bisa datang hari ini.” Sontak saja teman-temanku bersorak. “Eitss… ada lagi, Pak Oman nyuruh kita mengerjakan latihan soal di bab II ya…”

            Tapi ini bukan kali pertama Pak Oman tidak masuk kelas. Meski baru dua minggu pengajaran berjalan, Pak Oman sudah tak masuk dua kali. Dan dia selalu meninggalkan tugas yang tak pernah dikumpulkan. “Nanti dikumpulkannya menjelang ujian saja. Saya ingin menguji kedisiplinan kalian.”

            Disiplin dari Hongkong! Paling-paling tak ada yang mau mengerjakan tugas itu, dan sebagian kecil yang rajin akan menjadi bahan contekan sempurna menjelang ujian nanti. Percayalah!

            Aku kembali  ke surat dan mendadak bulu kudukku berdiri. Hal yang ditulisnya benar-benar terjadi. Kubaca kalimat selanjutnya dan itu menjadi kalimat paling tidak masuk akal yang pernah kubaca dalam hidupku.

            Hai Randi. Aku adalah kamu—kamu sepuluh tahun yang akan datang!

            Omong kosong.

Cerpen Haruki Murakami: The Wind Cave (Segera Diterjemahkan)

When I was fifteen, my younger sister died. It happened very suddenly. She was twelve then, in her first year of junior high. She had been born with a congenital heart problem, but since her last surgeries, in the upper grades of elementary school, she hadn’t shown any more symptoms, and our family had felt reassured, holding on to the faint hope that her life would go on without incident. But, in May of that year, her heartbeat became more irregular. It was especially bad when she lay down, and she suffered many sleepless nights. She underwent tests at the university hospital, but no matter how detailed the tests the doctors couldn’t pinpoint any changes in her physical condition. The basic issue had ostensibly been resolved by the operations, and they were baffled.

“Avoid strenuous exercise and follow a regular routine, and things should settle down soon,” her doctor said. That was probably all he could say. And he wrote out a few prescriptions for her.

But her arrhythmia didn’t settle down. As I sat across from her at the dining table I often looked at her chest and imagined the heart inside it. Her breasts were beginning to develop noticeably. Yet, within that chest, my sister’s heart was defective. And even a specialist couldn’t locate the defect. That fact alone had my brain in constant turmoil. I spent my adolescence in a state of anxiety, fearful that, at any moment, I might lose my little sister.

 

My parents told me to watch over her, since her body was so delicate. While we were attending the same elementary school, I always kept my eye on her. If need be, I was willing to risk my life to protect her and her tiny heart. But the opportunity never presented itself.

She was on her way home from school one day when she collapsed. She lost consciousness while climbing the stairs at Seibu Shinjuku Station and was rushed by ambulance to the nearest emergency room. When I heard, I raced to the hospital, but by the time I got there her heart had already stopped. It all happened in the blink of an eye. That morning we’d eaten breakfast together, said goodbye to each other at the front door, me going off to high school, she to junior high. The next time I saw her, she’d stopped breathing. Her large eyes were closed forever, her mouth slightly open, as if she were about to say something.

 

And the next time I saw her she was in a coffin. She was wearing her favorite black velvet dress, with a touch of makeup and her hair neatly combed; she had on black patent-leather shoes and lay face up in the modestly sized coffin. The dress had a white lace collar, so white it looked unnatural.

Lying there, she appeared to be peacefully sleeping. Shake her lightly and she’d wake up, it seemed. But that was an illusion. Shake her all you want—she would never awaken again.

I didn’t want my sister’s delicate little body to be stuffed into that cramped, confining box. I felt that her body should be laid to rest in a much more spacious place. In the middle of a meadow, for instance. We would wordlessly go to visit her, pushing our way through the lush green grass as we went. The wind would slowly rustle the grass, and birds and insects would call out all around her. The raw smell of wildflowers would fill the air, pollen swirling. When night fell, the sky above her would be dotted with countless silvery stars. In the morning, a new sun would make the dew on the blades of grass sparkle like jewels. But, in reality, she was packed away in some ridiculous coffin. The only decorations around her coffin were ominous white flowers that had been snipped and stuck in vases. The narrow room had fluorescent lighting and was drained of color. From a small speaker set into the ceiling came the artificial strains of organ music.

I couldn’t stand to see her be cremated. When the coffin lid was shut and locked, I left the room. I didn’t help when my family ritually placed her bones inside an urn. I went out into the crematorium courtyard and cried soundlessly by myself. During her all too short life, I’d never once helped my little sister, a thought that hurt me deeply.

After my sister’s death, our family changed. My father became even more taciturn, my mother even more nervous and jumpy. Basically, I kept on with the same life as always. I joined the mountaineering club at school, which kept me busy, and when I wasn’t doing that I started oil painting. My art teacher recommended that I find a good instructor and really study painting. And when I finally did start attending art classes my interest became serious. I think I was trying to keep myself busy so I wouldn’t think about my dead sister.

For a long time—I’m not sure how many years—my parents kept her room exactly as it was. Textbooks and study guides, pens, erasers, and paper clips piled on her desk, sheets, blankets, and pillows on her bed, her laundered and folded pajamas, her junior-high-school uniform hanging in the closet—all untouched. The calendar on the wall still had her schedule noted in her minute writing. Itwas left at the month she died, as if time had frozen solid at that point. It felt as if the door could open at any moment and she’d come in. When no one else was at home, I’d sometimes go into her room, sit down gently on the neatly made bed, and gaze around me. But I never touched anything. I didn’t want to disturb, even a little, any of the silent objects left behind, signs that my sister had once been among the living.

I often tried to imagine what sort of life my sister would have had if she hadn’t died at twelve. Though there was no way I could know. I couldn’t even picture how my own life would turn out, so I had no idea what her future would have held. But I knew that if only she hadn’t had a problem with one of her heart valves she would have grown up to be a capable, attractive adult. I’m sure many men would have loved her, and held her in their arms. But I couldn’t picture any of that in detail. For me, she was forever my little sister, three years younger, who needed my protection.

For a time, after she died, I drew sketches of her over and over. Reproducing in my sketchbook, from all different angles, my memory of her face, so I wouldn’t forget it. Not that I was about to forget her face. It will remain etched in my mind until the day I die. What I sought was not to forget the face I remembered at that point in time. In order to do that, I had to give form to it by drawing. I was only fifteen then, and there was so much I didn’t know about memory, drawing, and the flow of time. But one thing I did know was that I needed to do something in order to hold on to an accurate record of my memory. Leave it alone, and it would disappear somewhere. No matter how vivid the memory, the power of time was stronger. I knew this instinctively.

I would sit alone in her room on her bed, drawing her. I tried to reproduce on the blank paper how she looked in my mind’s eye. I lacked experience then, and the requisite technical skill, so it wasn’t an easy process. I’d draw, rip up my effort, draw and rip up, endlessly. But now when I look at the drawings I did keep (I still treasure my sketchbook from back then), I can see that they are filled with a genuine sense of grief. They may be technically immature, but they were the result of a sincere effort, my soul trying to awaken my sister’s. When I looked at those sketches, I couldn’t help crying. I’ve done countless drawings since, but never again has anything I’ve drawn brought me to tears.

My sister’s death had one other effect on me: it triggered a very severe case of claustrophobia. Since I saw her placed in that cramped little coffin, the lid shut and locked tight, and taken away to the crematorium, I haven’t been able to go into tight, enclosed places. For a long time, I couldn’t take elevators. I’d stand in front of an elevator and all I could think about was it automatically shutting down in an earthquake, with me trapped inside that confined space. Just the thought of it was enough to induce a choking sense of panic.

These symptoms didn’t appear right after my sister’s death. It took nearly three years for them to surface. The first time I had a panic attack was soon after I’d started art school, when I had a part-time job with a moving company. I was the driver’s assistant in a box truck, loading boxes and taking them out, and one time I got mistakenly locked inside the empty cargo compartment. Work was done for the day and the driver forgot to check if anyone was still in the truck. He locked the rear door from the outside.

About two and half hours passed before the door was opened and I was able to crawl out. That whole time I was locked inside a sealed, totally dark place. It wasn’t a refrigerated truck or anything, so there were gaps where air could get in. If I’d thought about it calmly, I would have known that I wouldn’t suffocate.

But, still, a terrible panic had me in its grip. There was plenty of oxygen, yet no matter how deeply I breathed I wasn’t able to absorb it. My breathing got more and more ragged and I started to hyperventilate. I felt dizzy. “It’s O.K., calm down,” I told myself. “You’ll be able to get out soon. It’s impossible to suffocate here.” But logic didn’t work. The only thing in my mind was my little sister, crammed into a tiny coffin and hauled off to the crematorium. Terrified, I pounded on the walls of the truck.

The truck was in the company parking lot, and all the employees, their workday done, had gone home. Nobody noticed that I was missing. I pounded like crazy, but no one seemed to hear. I knew that, if I was unlucky, I could be shut inside there until morning. At the thought of that, I felt as if all my muscles were about to disintegrate.

It was the night security guard, making his rounds in the parking lot, who finally heard the noise I was making and unlocked the door. When he saw how agitated and exhausted I was, he had me lie down on the bed in the company break room and gave me a cup of hot tea. I don’t know how long I lay there. But finally my breathing became normal again. Dawn was coming, so I thanked the guard and took the first train of the day back home. I slipped into my own bed and lay there, shaking like crazy for the longest time.

Ever since then, riding in elevators has triggered the same panic. The incident must have awoken a fear that had been lurking within me. I have little doubt that it was set off by memories of my dead sister. And it wasn’t only elevators but any enclosed space. I couldn’t even watch movies with scenes in submarines or tanks. Just imagining myself shut inside such confined spaces—merelyimagining it—made me unable to breathe. Often I had to get up and leave the theatre. That was why I seldom went to movies with anyone else.

When I was thirteen and my little sister was ten, the two of us travelled by ourselves to Yamanashi Prefecture during summer vacation. Our mother’s brother worked in a research lab at a university in Yamanashi and we went to stay with him. This was the first trip we kids had taken by ourselves. My sister was feeling relatively good then, so our parents gave us permission to travel alone.

Our uncle was single (and still is single, even now), and had just turned thirty, I think. He was doing gene research (and still is), was very quiet and kind of unworldly, though an open, straightforward person. He loved reading and knew everything about nature. He enjoyed taking walks in the mountains more than anything, which, he said, was why he had taken a university job in rural, mountainous Yamanashi. My sister and I liked our uncle a lot.

Backpacks on our backs, we boarded an express train at Shinjuku Station bound for Matsumoto, and got off at Kofu. Our uncle came to pick us up at Kofu Station. He was spectacularly tall, and even in the crowded station we spotted him right away. He was renting a small house in Kofu along with a friend of his, but his roommate was abroad so we were given our own room to sleep in. We stayed in that house for a week. And almost every day we took walks with our uncle in the nearby mountains. He taught us the names of all kinds of flowers and insects. We cherished our memories of that summer.

One day we hiked a bit farther than usual and visited a wind cave near Mt. Fuji. Among the numerous wind caves around Mt. Fuji this one was the largest. Our uncle told us about how these caves were formed. They were made of basalt, so inside them you heard hardly any echoes at all, he said. Even in the summer the temperature remained low; in the past people stored ice they’d cut in the winter inside the caves. He explained the distinction between the two types of caves: fuketsu, the larger ones that were big enough for people to go into, and kaza-ana, the smaller ones that people couldn’t enter. Both terms were alternate readings of the same Chinese characters meaning “wind” and “hole.” Our uncle seemed to know everything.

At the large wind cave, you paid an entrance fee and went inside. Our uncle didn’t go with us. He’d been there numerous times, plus he was so tall and the ceiling of the cave so low he’d end up with a backache. “It’s not dangerous,” he said, “so you two go on ahead. I’ll stay by the entrance and read a book.” At the entrance the person in charge handed us each a flashlight and put yellow plastic helmets on us. There were lights on the ceiling of the cave, but it was still pretty dark inside. The deeper into the cave we went, the lower the ceiling got. No wonder our lanky uncle had stayed behind.

My kid sister and I shone the flashlights at our feet as we went. It was midsummer outside—ninety degrees Fahrenheit—but inside the cave it was chilly, below fifty. Following our uncle’s advice, we were both wearing thick windbreakers we’d brought along. My sister held my hand tightly, either wanting me to protect her or else hoping to protect me (or maybe she just didn’t want to get separated). The whole time we were inside the cave that small, warm hand was in mine. The only other visitors were a middle-aged couple. But they soon left, and it was just the two of us.

My little sister’s name was Komichi, but everyone in the family called her Komi. Her friends called her Micchi or Micchan. As far as I know, no one called her by her full name, Komichi. She was a small, slim girl. She had straight black hair, neatly cut just above her shoulders. Her eyes were big for the size of her face (with large pupils), which made her resemble a fairy. That day she was wearing a white T-shirt, faded jeans, and pink sneakers.

After we’d made our way deeper into the cave, my sister discovered a small side cave a little way off the prescribed path. Its mouth was hidden in the shadows of the rocks. She was very interested in that little cave. “Don’t you think it looks like Alice’s rabbit hole?” she asked me.

My sister was a big fan of Lewis Carroll’s “Alice’s Adventures in Wonderland.” I don’t know how many times she had me read the book to her. Must have been at least a hundred. She had been able to read since she was little, but she liked me to read that book aloud to her. She’d memorized the story, yet, still, each time I read it she got excited. Her favorite part was the Lobster Quadrille. Even now I remember that part, word for word.

“No rabbit, though,” I said.

“I’m going to peek inside,” she said.

“Be careful,” I said.

It really was a narrow hole (close to a kaza-ana, in my uncle’s definition), but my little sister was able to slip through it with no trouble. Most of her was inside, just the bottom half of her legs sticking out. She seemed to be shining her flashlight inside the hole. Then she slowly edged out backward.

“It gets really deep in back,” she reported. “The floor drops off sharply. Just like Alice’s rabbit hole. I’m going to check out the far end.”

“No, don’t do it. It’s too dangerous,” I said.

“It’s O.K. I’m small and I can get out O.K.”

She took off her windbreaker, so that she was wearing just her T-shirt, and handed the jacket to me along with her helmet. Before I could get in a word of protest, she’d wriggled into the cave, flashlight in hand. In an instant she’d vanished.

A long time passed, but she didn’t come out. I couldn’t hear a sound.

“Komi,” I called into the hole. “Komi! Are you O.K.?”

There was no answer. With no echo, my voice was sucked right up into the darkness. I was starting to get concerned. She might be stuck inside the hole, unable to move forward or back. Or maybe she had had a convulsion in there and lost consciousness. If that had happened I wouldn’t be able to help her. All kinds of terrible scenarios ran through my head, and I felt choked by the darkness surrounding me.

If my little sister really did disappear in the hole, never to return to this world, how would I ever explain that to my parents? Should I run and tell my uncle, waiting outside the entrance? Or should I sit tight and wait for her to emerge? I crouched down and peered into the hole. But the beam from my flashlight didn’t reach far. It was a tiny hole, and the darkness was overwhelming.

“Komi,” I called out again. No response. “Komi,” I called more loudly. Still no answer. A wave of cold air chilled me to the core. I might lose my sister forever. Perhaps she had been sucked into Alice’s hole, into the world of the Mock Turtle, the Cheshire Cat, and the Queen of Hearts. A place where logic did not apply. We never should have come here, I thought.

But finally my sister did return. She didn’t back out like before but crawled out head first. Her black hair emerged from the hole first, then her shoulders and arms, and finally her pink sneakers. She stood in front of me, without a word, stretched, took a slow, deep breath, and brushed the dirt off her jeans.

My heart was still pounding. I reached out and tidied her dishevelled hair. I couldn’t quite make it out in the weak light inside the cave, but there seemed to be dirt and dust and other debris clinging to her white T-shirt. I put the windbreaker on her and handed her the yellow helmet.

“I didn’t think you were coming back,” I said, hugging her to me.

“Were you worried?”

“A lot.”

She grabbed my hand tightly. And, in an excited voice, she said, “I managed to squeeze through the narrow part, and then, deeper in, it suddenly got lower, and down from there it was like a small room. A round room, like a ball. The ceiling was round, the walls were round, and the floor, too. And it was so, so silent there, like you could search the whole world and never find any place that silent. Like I was at the bottom of an ocean, in a crater that went even deeper. I turned off the flashlight and it was pitch dark, but I didn’t feel scared or lonely. That room was a special place that only I’m allowed into. A room just for me. No one else can get there. You can’t go in, either.”

“ ’Cause I’m too big.”

My little sister bobbed her head. “Right. You’ve gotten too big to get in. And what’s really amazing about that place is that it’s darker than anything could ever be. So dark that when you turn off the flashlight it feels like you can grab the darkness with your hands. Like your body is gradually coming apart and disappearing. But since it’s dark you can’t see it happen. You don’t know if you still have a body or not. But even if, say, my body completely disappeared, I’d still be there. Like the Cheshire Cat’s grin staying on after he vanished. Pretty weird, huh? But when I was there I didn’t think it was weird at all. I wanted to stay there forever, but I thought you’d be worried, so I came out.”

“Let’s get out of here,” I said. She was so worked up it seemed as if she were going to go on talking forever, and I had to put a stop to that. “I can’t breathe well in here.”

“Are you O.K.?” my sister asked, concerned.

“I’m O.K. I just want to go outside.”

Holding hands, we headed for the exit.

“Do you know?” my sister said in a small voice as we walked, so no one else would hear (though there wasn’t anyone else around). “Alice really existed. It wasn’t made up. It was real. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat, the Playing Card soldiers—they all really exist.”

“Maybe so,” I said.

We emerged from the wind cave, back into the bright real world. There was a thin layer of clouds in the sky that afternoon, but I remember how terribly glaring the sunlight seemed. The screech of the cicadas was overpowering, like a violent squall drowning everything out. My uncle was seated on a bench near the entrance, absorbed in his book. When he saw us, he grinned and stood up.

Two years later, my sister died. And was put in a tiny coffin and cremated. I was fifteen, and she was twelve. While she was being cremated I went off, apart from the rest of the family, sat on a bench in the courtyard of the crematorium, and remembered what had happened in that wind cave: the weight of time as I waited for my little sister to come out, the thickness of the darkness enveloping me, the profound chill I felt. Her black hair emerging from the hole, then her shoulders. All the random dirt and dust stuck to her white T-shirt.

At that time, a thought struck me: that maybe, even before the doctor at the hospital officially pronounced her dead two years later, her life had already been snatched from her while she was deep inside that cave. I was actually convinced of it. She’d already been lost inside that hole, and left this world, but I, mistakenly thinking she was still alive, had put her on the train with me and taken her back to Tokyo. Holding her hand tightly. And we’d lived as brother and sister for two more years. But that was nothing more than a fleeting grace period. Two years later, death had crawled out of that cave to grab hold of my sister’s soul. As if her time were up, it was necessary to pay for what had been lent to us, and the owner had come to take back what was his.

Years later, as an adult, I realized that what my little sister had confided to me in a quiet voice in that wind cave was indeed true. Alice really does exist in the world. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat—they all really exist. ♦

(Translated, from the Japanese, by Philip Gabriel.)