Category Archives: cerpen

Cerpen Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kanguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013) dialihbahasakan oleh Habi Hidayat

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


Pada akhirnya, pagi yang kami tunggu-tunggu untuk melihat bayi kangguru datang juga. Kami bangun dari tidur pada pukul enam pagi, membuka gorden, dan yakin hari itu adalah hari yang sempurna untuk kangguru. Kami buru-buru membersihkan diri, sarapan, memberi makan kucing, buru-buru mencuci baju lalu mengenakan topi untuk menghalau sinar matahari, dan kami pun berangkat.

“Apa kau pikir bayi kangguru itu masih hidup?” pacarku bertanya saat kami di kereta.

“Aku yakin ia masih hidup. Tak ada satu berita pun yang mengabarkan bahwa bayi kangguru itu mati. Jika saja ia mati, aku yakin kita sudah membacanya di koran.”

“Mungkin saja tidak mati, tapi bisa saja ia sakit dan dirawat di rumah sakit.”

“Ya, tapi kalau pun itu terjadi, kita sudah membaca di koran.”

“Bagaimana jika kangguru itu ketakutan dan bersembunyi di sudut kandang?”

“Apa bayi kangguru punya rasa takut?”

“Bukan bayinya. Tapi ibunya! Mungkin ia mengalami trauma dan menyudutkan diri bersama bayinya di kandang yang gelap.”

Seorang wanita memang selalu memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Trauma? Trauma macam apa coba yang bisa menyerang seekor kangguru?

“Jika aku tak melihat bayi kangguru hari ini, aku pikir aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi,” katanya.

“Kupikir juga begitu.”

“Maksudku, pernahkah kau melihat bayi kangguru?”

“Tidak, aku tak pernah melihatnya.”

“Apa kau yakin kau bakal punya kesempatan lain untuk melihat bayi kangguru?”

“Aku tak tahu.”

“Nah, karena itulah aku gelisah.”

“Ya, tapi dengar dulu,” kataku nyerocos balik. “Aku tak pernah melihat seekor jerapah melahirkan, atau bahkan melihat hiu yang berenang-renang. Jadi apa masalahnya dengan bayi kangguru?”

“Ya karena ia bayi kangguru,” katanya. “Karena itulah.”

Aku pun menyerah dan mulai membalik-balikkan halaman koran. Aku tidak pernah satu kali pun menang-argumen dengan seorang perempuan.

BAYI kangguru itu, sesuai perkiraan, masih hidup dan sehat, ia (entah jantan atau betina) terlihat tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan gambarnya yang dimuat di koran, bahkan ia melompat-lompat di sekitar pagar kandang. Ia tak lagi seekor bayi kangguru, hanya kangguru mini. Pacarku pun kecewa.

“Ia bukan bayi lagi,” katanya.

“Tentu saja ia masih bayi,” kataku mencoba menghiburnya.

Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Ia cuma menggelengkan kepala. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan tidak bakal mengubah kenyataan bahwa si bayi kangguru ternyata sudah besar. Jadi aku cuma diam.

Aku bergegas menuju warung kudapan dan membeli dua cokelat es krim, dan ketika aku kembali ia masih bersandar menghadap kandang kangguru, menatap bayi kangguru itu lekat-lekat.

“Ia bukan lagi seekor bayi kangguru.”

“Kau yakin?” kataku seraya memberinya es krim.

“Seekor bayi kangguru mesti berada di kantung induknya.”

Aku mengangguk dan menjilat es krimku.

“Tapi yang ini tidak lagi berada di kantung induknya.”

Kami berusaha mengenali induk kangguru. Sang ayah, mudah untuk dilihat, ia tampak paling besar dan begitu tenang di antara lainnya. Layaknya seorang komposer yang bakatnya telah memudar, ia hanya diam saja, menatapi dedaunan yang menjadi makanannya. Dua kangguru lainnya adalah betina, terlihat dari bentuk, warna, dan air muka mereka. Salah satunya mesti ibu si bayi kangguru.

“Satu di antara dua kangguru itu mesti ibu si bayi, dan satu lagi bukan,” kataku berkomentar.

“Um.”

“Jadi yang mana yang bukan ibunya?”

“Aku tak tahu,” katanya.

Kami tak sadar bahwa ternyata bayi kangguru itu melompat-lompat di pagar kandang, lalu sesekali mengorek-ngorek tanah untuk alasan yang tidak jelas. Ia (entah jantan atau betina) tampaknya menemukan cara untuk membuat dirinya sibuk. Si bayi kangguru melompat-lompat di sekitar bapaknya berdiri, mengunyah sedikit dedaunan, dan mengorek-ngorek lumpur, mengganggu kangguru betina, lalu berbaring di tanah, berdiri lalu melompat-lompat lagi.

“Bagaimana bisa kangguru melompat-lompat begitu cepat?”

“Agar bisa melarikan diri dari musuh?”

“Musuh apa?”

“Manusia,” kataku. “Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan menyantap mereka.”

“Kenapa bayi kangguru sanggup naik ke kantong ibunya?”

“Agar bayi kangguru bisa menyelamatkan diri bersama ibunya. Bayi kangguru tidak bisa berlari cepat.”

“Jadi mereka terlindungi?”

“Ya,” kataku. “Sang ibu melindungi anak-anaknya.”

“Berapa lama sang ibu melindungi anak-anaknya seperti itu?”

Aku sadar aku seharusnya membaca beberapa hal tentang kangguru di sebuah ensiklopedia sebelum kami bertamasya kecil seperti ini. Rentetan pertanyaan seperti ini memang sudah seharusnya aku perkirakan.

“Sebulan sampai dua bulan, aku bayangkan.”

“Tapi bayi itu cuma berumur sebulan sekarang,” katanya seraya menunjuk bayi kangguru. “Jadi mestinya ia masih di kantung ibunya.”

“Ya, aku pikir juga begitu.”

Matahari mengangkasa di atas kepala, dan kami tak bisa mendengar teriakan anak-anak di kolam renang di dekat kami. Sepotong awan putih melintasi kami.

Seorang pelajar tengah bekerja di warung hotdog yang dibentuk layaknya sebuah minivan dengan beberapa kotak pengeras suara yang mengedarkan alunan suara Stevie Wonder dan Billy Joel saat aku menunggu hotdog yang tengah dimasak.

Saat aku kembali ke kandang kangguru, pacarku buru-buru berkata, “Lihat!” menjerit, seraya menunjuk satu di antara kangguru betina. “Kau lihat, bukan? Bayi kangguru di kantong ibunya!”

Aku cukup yakin bayi kangguru itu sudah meringkuk di kantung ibunya (anggap saja kangguru betina itu adalah benar-benar ibunya). Kantung kangguru betina itu benar-benar terisi penuh, dan sepasang telinga mungil dan sepucuk ujung ekor mengintip dari balik kantungnya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa dan benar-benar membuat tamasya kami tak sia-sia.

“Mungkin terasa berat membawa bayi kangguru di dalam kantung,” katanya.

“Jangan khawatir, kangguru itu hewan yang kuat.”

“Betul begitu?”

“Ya, tentu. Karena itulah mereka bertahan hidup.”

Meski hidup dengan panasnya matahari, ibu kangguru tidak menderita. Pacarku terlihat layaknya seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan belanjaan sorenya di supermarket di sekitar wilayah Aoyama yang indah, dan tengah bersantai istirahat menikmati secangkir kopi di warung kopi.

“Ibu kangguru itu benar-benar melindungi bayinya, bukan?”

“Ya.”

“Aku bayangkan bayi kangguru itu tidur lelap.”

“Ya, mungkin saja.”

KAMI menyantap hotdog dan meminum kola seraya berjalan meninggalkan kandang kangguru.

Saat kami pergi, sang ayah kangguru masih menatapi makanannya seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang ibu kangguru dan bayinya menyatu, istirahat di antara aliran waktu yang tenang, ketika satu kangguru misterius lainnya melompat-lompat di pagar seolah-olah ingin melarikan dirinya dari kandang.

Hari itu rupanya jadi hari yang panas, hari yang panas pertama bagi kami setelah beberapa waktu yang lama.

“Hei, kau ingin minum bir?” taya pacarku.

“Ayo.”(*)

 

Cerpen Umar Kayam: Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Umar Kayam

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”

“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini …. Uuuuuup ….”

Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.

Dari dapur, “bekas suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”

“Ya, ada apa dengan dia?”

“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”

Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.

“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”

“Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”

“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”

“Oh.”

“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”

Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.

“Marno, Manisku.”

“Ya, Jane.”

“Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?”

“Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”

“Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”

“Kenapa?”

“Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.”

“Tetapi bukankah belum tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”

Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.

“Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?”

Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.

“Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.”

“Kau anak yang manis, Marno.”

Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.

“Marno.”

“Ya, Jane.”

“Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”

“Oh.”

Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini dipegangya itu.

Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.

“Eh, kau tahu, Marno?”

“Apa?”

“Empire State Building sudah dijual.”

“Ya, aku membaca hal itu di New York Times.”

“Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?”

“Tidak. Bisakah kau?”

“Bisa, bisa.”

“Bagaimana?”

“Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah ….”

Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.

“Oh, kalau saja …..”

“Kalau saja apa, Kekasihku?”

“Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”

“Lantas?”

“Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit.”

“Kau anak desa yang sentimental!”

“Biar!”

Marno terkejut karena kata “biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.

“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”

“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”

Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.

Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.

“Jet keparat!”

Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

“Aku merasa segar sedikit.”

Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea ……

“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?”

“He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”

“Oh, lupakan saja. Aku Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep blue sea ….”

“Marno.”

“Ya.”

“Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”

“Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke Park-nya.”

“Dalam perkawinan kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Oh, aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”

“Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.”

Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?

“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!”

“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”

“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.”

“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”

“Aku membosankan jadinya.”

Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.

“Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.

“Marno, kemarilah, duduk.”

“Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ.”

“Kemarilah, duduk.”

“Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”

“Kunang-kunang?”

“Ya.”

“Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”

“Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.”

“Begitu kecil?”

“Ya. Tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”

“Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.”

“Ya, pohon-hari-natal.”

Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.

“Marno, waktu kau masih kecil ….. Marno, kau mendengarkan aku, kan?”

“Ya.”

“Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?”

“Mainan kekasih?”

“Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”

“Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.”

“Itu bukan mainan, itu piaraan.”

“Piaraan bukankah untuk mainan juga?”

“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”

“Siapa dia?”

“Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.”

“Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifie.”

“Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”

Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno yang masih bersandar di jendela.

“Marno, Sayang.”

“Ya.”

“Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?”

“Belum, Jane.”

“Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane.”

“Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.”

Sekarang Jane ikut tersenyum.

“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”

“Apakah itu, Jane?”

“Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”

Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.

“Aku harap kausuka pilihanku.”

Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.

“Kausuka dengan pilihanku ini?”

“Ini piyama yang cantik, Jane.”

“Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”

Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.

“Jane.”

“Ya, Sayang.”

“Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.”

“Oh? Kau banyak kerja?”

“Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah ….”

”Kaumerasa tidak enak badan?”

“Aku baik-baik saja. Aku …. eh, tak tahulah, Jane.”

“Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”

“Terima kasih, Jane.”

“Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.”

“Oh”.

Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.

“Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.”

“Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?”

‘Tentu, Jane.”

“Kapan, aku bisa mengharapkan itu?

“Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.”

“Kautahu nomorku kan? Eldorado”

“Aku tahu, Jane.”

Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga.

Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.

Download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II

Hei, berikut ini adalah Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II. Kamu bisa download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester I di sini.

Silakan download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II.  Passwordnya catatanpringadi.com. Biar kalian ingat sama blog ini.



Kumpulan Cerpen Kompas tahun ini melahirkan juara bersama yaitu Faisal Oddang dan Martin Aleida. Berikut adalah cerpen Martin Aleida tersebut.


Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 21 Oktober 2018)

Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang luntur dibasuh waktu. Di dalamnya ada sehelai baju tetoron biru lengan pendek, kenang-kenangan dari kawan yang dibuang entah ke penjara mana, beberapa tahun lalu. Juga sepotong celana pendek hitam yang ditemukannya hanyut, dan dijangkaunya dari arus ketika kerja paksa di Sungai Silau.

Itulah harta yang dia punya setelah tiga belas tahun ditendang dari kurungan yang satu ke bui yang lain. Kalau tamsilnya lubang jarum, lubang yang dia lalui sepanjang hidupnya adalah lubang jarum berduri. Berapi.

Setelah disekap sehari-semalam, dia, dan beberapa orang, dijajarkan di tubir Sungai Ular, tiga belas tahun lalu. Kedua tangan mereka disilangkan di belakang, diikat pelepah pisang. Dibentak supaya menghadap ke sungai. Disusul dentuman mesiu yang menghambur, menerjang sampai jauh. Menerabas pohon-pohon karet yang jadi saksi, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Peluru mendesing panas di kupingnya. Jantungnya gemuruh, tetapi dia tak terluka.

Sekelebat sempat dia dengar degup dan desis peluru menghantam kepala kawan di sebelah. Dari sarang otak itu, darah memercik ke bahunya, dan tubuh itu tumbang menimpa bahunya. Dia biarkan tubuh itu menindih. Berdua mereka tercebur, dilarikan air yang memerah. Yang satu sempat menggelepar memusar air, saat ajal menjemput, kemudian dibalun arus entah ke mana. Sementara dia menenggelamkan diri, menyerah pada air hendak dibawa ke mana saja. Sesekali, dia mengapungkan hidung untuk menyambung nyawa. Dia digiring air, dan mendamparkannya di mulut muara.

Seminggu, dia hanya makan buah dan dedaunan. Menenggak air sungai. Suntuk akal dan pikirannya. Dia putuskan berjalan kaki menyusuri tepi sungai menuju kampung kelahirannya. Kedua orangtuanya, seluruh sanak-saudara, menyambutnya sebagai orang yang sudah mati, hidup kembali. Pada saat yang sama, dia juga dianggap sebagai hama yang harus segera dihalau karena hanya akan memancing bencana. Tak lama kemudian, keajaiban itu benar-benar berubah dan menjaiar jadi berita buruk. Sepasukan tentara dan tukang jagal mencium keberadaannya. Dia diburu. Dibekuk untuk kedua kalinya. Layaknya tikus yang tertangkap basah, dia dilemparkan ke sel di markas Angkatan Darat. Dioper ke penjara kabupaten, dan akhirnya disekap di kamp di Jalan Gandhi. Ya, Gandhi…. Bagaimana mungkin sebuah nama penyebar anti-kekerasan, di kota ini, telah berubah menjadi pusat pembungkaman kalau bukan pembinasaan manusia….

Selama belasan tahun, ratusan, kalau bukan ribuan manusia, disekap di situ. Sedikit yang bebas. Kebanyakan dipindahkan ke kamp-kamp yang lebih kecil atau penjara di kota lain. Ada pula yang dibuang ke Jawa, ke Nusakambangan, sebelum dicampakkan ke Pulau Bum. Banyak yang menemukan ajal karena kelaparan dan penyakit. Makanan begitu jauh. Cuma kematian yang begitu akrab di sini. Kematian yang disengaja oleh yang berkuasa ataupun tidak.



Komandan kamp membacakan nama-nama tahanan yang dibebaskan menjelang siang hari itu. “Ulong Bahari!” Nama lelaki ajaib itu setengali diteriakkan dari daftar dengan entakan. Yang punya nama bangkit. Melangkah tanpa melihat kiri kanan. “Seminggu sekali kau wajib lapor ke sini! Paham kau ..!?” tentara itu menghardik lagi.

Bahari mendekat pada yang punya suara, yang punya kuasa atas dirinya, menerima secarik kertas, dan memisahkan diri dari kawan-kawan pesakitan lain yang tetap duduk mencangkung di tanah yang berdebu. Dari tangan tentara itu, dia menerima surat pembebasan yang huruf-hurufnya bisa membuat kepala manusia normal jadi batu. Tak ditulis sejak kapan dia ditahan. Cuma disebutkan dia tidak terlibat G30S. Tiga belas tahun dikurung, baru hari ini dia dinyatakan tidak bersalah. Darahnya tersirap menatap kertas itu. Akan tetapi, dia pikir tiga belas tahun disekap sudah terlalu lama untuk mempermasalahkan ketidakadilan yang bodoh ini. Yang dihadapi adalah kecerobohan, kesewenang-wenangan, dengan ujung senjata sebagai pembenaran. Terlalu mahal sebuah kebebasan yang baru saja diberikan dengan bentakan untuk dipersoalkan.

Dia tinggalkan pekarangan kamp jahanam itu. Perasaannya campur aduk antara nikmat kebebasan dan kewajiban akan sumpah setia yang harus dituntaskan. Sejak masih meringkuk di dalam kamp, dia sudah bertekad: suatu ketika, setelah bebas, dengan jalan bagaimanapun, dia harus berangkat ke ujung Sumatera. Naik bus “Sibualbuali”, kalau angkutan orang Batak itu memang masih ada, menuju Padang Sidempuan. Berganti bus ke Bukittinggi. Tegak lurus ke selatan, menuju Lahat, Bandar Lampung, dan mendarat di Tanjung Karang. Di kota terakhir ini, dia harus menemui seorang sersan mayor. Dengan hati yang memendam cinta sekeras karang, dia akan meminta surat pernyataan dari tentara itu, yang menegaskan bahwa “yang bertanda tangan di bawah ini tidak keberatan” jika dia, Ulong Bahari, menikah dengan tahanan perempuan yang jadi istri gelapnya, dulu.

Sebagai tentara yang pekerjaannya hanyalah menista mereka yang lemah, maka dengan surat itu dapat ditafsirkan dia telah berpahala memberikan kebebasan kepada seorang perempuan untuk memilih jalan hidup. Begitulah jalan pikirannya sehingga dengan enteng dia menuliskan surat itu. Lagi pula, dengan begitu, dia akan terbebas dari kewajiban memberi nafkah. Keharusan yang tidak dia pedulikan lagi, yang mungkin juga sengaja dia lakukan, untuk menyiksa perempuan itu selama bertahun-tahun. Perempuan yang dia tendang setelah memuaskan birahi terkutuk pada tubuh yang dilumpuhkan. Namun, seperti kepercayaan orang baik-baik, Tuhan tak pernah terlena, kecuali mengulur waktu untuk memberikan kemenangan bagi korban. Seperti sekarang ini. Pada seorang perempuan beranak satu pula.

Perempuan itu jauh panggang dari api untuk sudi diperistri secara gelap-gelapan oleh sang sersan mayor yang menjadi komandan kamp Gandhi. Namun, apa mau dikata, dia harus berdamai dan menyerah pada keteguhan hatinya untuk menyelamatkan diri dan putrinya, yang berusia dua bulan, yang ikut dijebloskan ke dalam kamp. Dia dan anaknya ditempatkan di kamar yang dulunya adalah dapur. Berimpitan dengan tahanan perempuan lain.

Halawiyali namanya. Sibarani marganya. Menjelang akhir 1964, setelah menikah, suaminya memperoleh kesempatan belajar metalurgi di Moskwa. Menurut rencana, setelah menetap mantap di sana, dia akan balik menjemput istri yang ditinggal selagi hamil muda.

Malang tak pernah dicari. Akan tetapi, datang sesukanya. Bencana politik mengubah segala. Insinyur metalurgi itu tak bisa kembali ke Tanah Air. Sementara istri yang ditinggalkan menemukan nasib yang kesengsaraannya tak terjangkau imajinasi manusia biasa. Ayahnya ditangkap, rumahnya yang bertanda gambar palu-arit diserbu massa, dibakar, jadi abu, luluh dengan tanah. Halawiyah diarak, diteriaki sebagai perempuan jalang, punya anak gampang. Makian paling rendah untuk seorang perempuan baik-baik.

Dia dan anaknya yang masih merah melarikan diri ke kota kecil, sekitar seratus kilometer jauhnya. Pada hari-hari penuh kegelapan dan peradaban negeri ini berada pada titik nol, di mana nyawa dengan mudah melayang karena tuduhan komunis, keluarga yang ketempatan menolak untuk menampungnya lebih lama. Apa kata orang, jadi tuan rumah untuk perempuan jalang kodah, kata orang Melayu. Rumah keluarga itu juga sempat dilempari massa yang menelan hasutan bahwa komunis dan perempuan yang punya anak haram harus dibinasakan.

Halawiyah kembali lagi ke kota besar di mana dia lahir. Tanpa tujuan. Tak sesiapa pun yang ingin menerimanya. Suatu hari, dia diringkus di tepi jalan bersama sejumlah gelandangan. Ketika diperiksa, dia dikepung, diberondong berbagai pertanyaan, dan akhirnya nasibnya kandas di kamp Gandhi walaupun dia bukan apa-apa, apalagi bayi yang digendongnya.

Semasa masih belia, sedang ranum-ranumnya, kalau melintas, Halawiyah adalah bunga bakung yang putih cerlang-cemerlang. Di kalangan aktivis muda, kecantikannya jadi mimpi. Semua ingin mendekat, merebut hatinya. Mungkin ratusan angan-angan yang melayang-layang ingin menerbangkannya. Namun, hanya pemuda yang kemudian jadi insinyur metalurgi di Moskwa itu yang berhasil menawan hatinya.

Digiring, didesakkan berimpit-impitan ke dalam kamp konsentrasi Gandhi, sekilas dia melihat Ulong Bahari yang menempati salah satu sel khusus untuk lelaki. Ulong adalah seniman peniup bangsi yang kemahirannya melantunkan seruling menjadi cita-cita semua remaja walau gagal memukau hati Halawiyah.

Seisi kamp tahu belaka, pada hari-hari tertentu, perempuan kita ini dibawa dengan mengendarai Jeep oleh sersan mayor, komandan kamp itu. Halawiyah dengan sadar mengikutkan nafsu birahi tentara itu. Sebab, dia sadar kejahatan yang memanfaatkan ketakutan seseorang perempuan seperti dia merupakan bagian dari taktik militer untuk merendahkan derajat korban serendah-rendahnya. “Aku, anakku, harus hidup…!” teriaknya dalam hati.

Dalam keadaan bujangan dilemparkan ke dalam kamp itu, jantung Ulong tersirap kembali melihat perempuan yang dulu mekar di hatinya, tetapi gagal dipetiknya. Sel lelaki dengan sel khusus perempuan dipisahkan sebidang tanah yang dimanfaatkan sebagai lapangan bola, tempat para tahanan bisa menghibur diri dengan bola yang dibuat dari kain rombeng. Lapangan itu memisahkan. Cuma klinik yang terletak di bagian depan kamp yang mempertemukan. Tiap Kamis, tahanan diizinkan berobat ke situ. Kasih sayang. Atau sebutkanlah cinta akan menemukan tumpuannya sendiri. Dan penyakit, yang sungguhan, ataupun yang pura-pura, membuka jalan pertemuan di klinik itu.

Ulong Bahari masih sendiri. Sementara politik dan kekejian telah memisahkan Halawiyah dari suami yang jadi insinyur metalurgi di benua jauh. Yang sudah muskil untuk dinanti. Sang suami sudah tak melihat celah untuk pulang, dan memilih kewarganegaraan tempat dia belajar, dan menikah dengan perempuan Rusia.

Anak negeri boleh tak acuh. Akan tetapi, hati nurani dunia menjerit melihat ratusan ribu yang terbunuh, puluhan ribu dibuang belasan tahun, dan banyak yang kehilangan tanah air. Dunia internasional, juga dunia maya, menekan penguasa negeri yang bebal untuk menghormati seruan hati nurani manusia. Harapan akan kebebasan pun menjaiar seperti api ke mana-mana.

Pada hari Kamis, hari kunjungan ke klinik. Ulong Bahari duduk di bangku panjang menunggu panggilan. Dia hampiri Halawiyah, dan dia tawarkan sekepal ubi rebus yang dia bawa dari selnya. “Untuk anakmu,” katanya mengedipkan mata. Sebuah kode bahwa di dalam gumpalan ubi itu terselip segulung surat.

Kembali ke dalam selnya, menyendiri di pojok. Halawiyah seperti membuka kelopak mutiara, hati-hati mengeluarkan segulung kertas kecil dari gumpalan ubi rebus itu. Dia eja di dalam hati: “Begitu hari pembebasan datang, dengan jalan bagaimanapun, Abang akan berangkat ke Tanjung Karang. Si bedebah itu sudah hampir lima tahun dipindahkan ke sana. Dengan baik-baik, aku akan meminta dia menuliskan pernyataan bahwa kau sudah tak ada ikatan apa pun dengan dia. Doakan Abang.”





Martin Aleida, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, akan merayakan hari lahir yang ke-75, Desember 2018. Lebih dari 50 tahun menghabiskan usianya sebagai mahasiswa, wartawan, dan penulis di Jakarta. Cerpennya, “Tanah Air”, dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2016. Ia juga pernah memperoleh penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Harian Kompas.

Cerpen | Hitam Putih Merpati

Cerpen HITAM PUTIH MERPATI ini kutulis sudah lama sekali. Kalau tidak salah sekitar tahun 2008. Cerpen ini pernah dimuat di dua koran yang berbeda karena kesalahpahaman, di Sumut Pos dan Suara Pembaruan. Cerpen ini kemudian masuk dalam antologi Seribu Tahun Mencintaimu (Ecxchange, 2017).



Berikut adalah naskah awalnya (sebelum diedit): Continue reading Cerpen | Hitam Putih Merpati

Dunia Museum

Cerita ini dimuat dalam buku “Kisah yang Hilang” (Dongeng Museum Nusantara) yang digarap oleh Kelompok Pencinta Museum yang digawangi Dwi Klik Santosa.

Tak ada tengkorak dinosaurus, yang bila dibayangkan akan lebih besar dari pengangkut pasir dan bila malam tiba akan bergerak-gerak seperti adegan Night of The Museum. Setidaknya begitulah yang kurasakan tatkala tiba di Balaputera Dewa, naik angkutan pedesaan berwarna hijau yang disewa dari iuran kas mingguan—Rp500/minggu.

Angga turun lebih dulu, seperti biasa, dengan antusiasmenya yang berlebihan mengatakan akan berfoto di antara patung-patung. Nyimas beda lagi—aku kadang benci sama anak serius satu itu, apa dia tidak punya keinginan untuk bersenang-senang, bayangkan saja ada anak kecil, perempuan, berkaca mata, datang ke museum sudah bersiap memegang pena dan sebuah buku, sambil bercita-cita akan mencatat semua hal yang ada di dalamnya!

Aku tidak tertarik pada sejarah Sriwijaya yang entah di mana hilangnya, pada jenis-jenis batuan, sejarah-sejarah yang terpampang tak berbentuk, kalau Bu Irianti tidak mengatakan, “Anak-anak, bakda tur kita ke museum ini, hal-hal yang ada di sini akan banyak muncul di ulangan IPS kita.”

~

Aku mengingat kenangan masa kecil itu sambil tersenyum geli. Orang-orang malah melirikku, dengan tatapan yang sama menggelikannya karena mungkin mengira aku agak tak beres. Itulah kali pertama aku ke museum, dan bakda itu aku merasa tak tertalik untuk kembali ke sana. Banyak patung yang kepalanya sudah tak ada, bulus-bulus langka mati, dan WC-nya, duh, bau pesing!

“Pring, kita bertemunya di Museum Geologi saja, ya? Abang tak bisa ke Gedung Sate. Macet. Ada acara apa tuh di Gasibu?” Benny Arnas mengirim SMS, dan ketika kutelepon, tak diangkat-angkatnya juga.

Awas saja nanti kalau bertemu, aku tabok mukanya jadi ganteng.
Pasalnya, sudah nyaris satu jam aku menunggu, dikepung hujan dan dia tak beri aku kabar selama itu pula. Pasal kedua, aku tak pernah ke Museum Geologi. Hampir dua tahun aku hidup di Bandung saat masih berkuliah di sini, sebelum keluar dan hijrah ke Bintaro, aku tak sekali pun datang ke Museum yang paling terkenal itu. Tak ada hasrat. Tak ada minat. Sesekali aku lewat, dan rasanya museum satu itu tak begitu jauh dari Gedung Sate. Meski kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, aku tak bertanya pada kerumunan orang-orang itu. Gengsi tahu!

Dengan bermodalkan insting, aku berjalan sambil menghindari genangan air, dan berkelit dari titik-titik hujan yang makin rapat—tak ada pohon-pohon lagi yang membuatku bernanung di bawahnya. Mengingat pepohonan yang tinggi menjulang, aku teringat pula pada kawanan burung koak di jalan Ganesha itu.

Banyak yang basah di tubuhku, kecuali kepala karena pesan ibu, bila hujan sederas apapun jangan biarkan kepala basah, karena akan mudah masuk angin. Tapi celanaku telah basah, sepatuku basah, airnya merembes ke dalam, menyentuh kaki, dan bila tak segera diganti aku akan masuk angin jugaBegitu aku sampai, aku ragu-ragu apakah masuk museum ini aku harus membayar seperti di Museum Fatahalillah, Jakarta. Ternyata gratis. Keren. Tapi aku jadi berpikir, biasanya yang gratis-gratis, isinya seadanya, perawatannya asal-asalan.

Membedah jenis museum berdasarkan koleksinya, museum dapat dibedakan menjadi dua, yakni museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu.

Balaputera Dewa, menurutku, tergolong museum umum ini—tapi membatasi dirinya pada lingkungan Sumatera Selatan. Dan yang kedua, museum khusus, adalah museum yang mengumpulkan bukti material hanya dari satu cabang seni atau disiplin ilmu saja. Seperti museum geologi ini. Atau museum layang-layang dan museum perangko—aku sendiri belum pernah mengunjunginya.

Sebuah panggilan masuk, tapi bukan nomor Bang Benny. “Di mana kamu?” Suara lantang itu jelas Bang Benny. “Aku sudah di dalam museum, lagi foto-foto. Ai, hape aku tu la abes baterai, men diangkat tewas dio.” Bang Benny menambahkan dengan logat Sumselnya yang khas.
“Aku baru di bawah. Bingung. Galau,” jawabku.
“Galau kenapa? Belum pernah lihat museum? Dusun!”
“Memangnya di Linggau ada museum?”
“Tak.”
“Ai dusun!” aku tak mau kalah.
“Cepatlah naik ke lantai 2, cari abang yang paling ganteng ini.” Setelah dia bilang begitu, ponselnya langsung dimatikan.
Aku terawang lantai 1, sengaja tak langsung menemui Bang Benny di lantai 2. Ada tiga ruang utama, ruang orientasi yang berisi peta geografi Indonesia dalam bentu relief, layar lebar yang menayangkan kegiatan museum dan geologi dalam bentuk animasi, dan bilik informasi; ruang sayap barat lebih menarik lagi—mulai dari hipotesis terjadinya bumi dalam tata surya, tatanan tektonik regional geologi Indonesia, serta banyak terdapat fosil sejarah manusia.


Aku menatap lekat bagan evolusi manusia menurut Teori Darwin itu. Berpikir keras, apa mungkin nenek moyang manusia adalah kera? Sebelum kudapatkan jawabnya, seseorang menepukku dari belakang, “Hei kau, lama nian abang menunggu di atas. Untung badanmu besar begini, jadi mudah dibedakan.” Ternyata Bang Benny datang bersama kedua orang temannya. Keduanya pula tak kukenali.
“Kau mendukung teori Darwin, Pring?” tanyanya.
“Tidak. Tetapi juga tak bisa kutolak, karena evolusi sudah terbukti benar-benar terjadi. Aku hanya tidak percaya kalau manusia dari kera.”
“Adam dan Hawa.”
“Berdasarkan perhitungan dari kitab suci, mereka muncul puluhan ribu tahun lalu. Sementara manusia purba bahkan ratusan ribu tahun yang lalu sudah ada.”
“Aku tak mau membahas ini Pring, dari mana kita yakin bahwa informasi sains yang kita dapatkan adalah benar valid adanya, jika tidak bersifat empiris? Baiknya kau kenalan dulu sama dua orang sahabatku ini.”

Aku tidak begitu memperhatikan kedua orang itu. Kami lanjut berjalan-jalan ke sayap timur—ruangan yang menggambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Beberapa miliar tahun sesudahnya, berkembanglah beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, reptilia bertulang belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu), dan Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton.

Aku berdecak kagum. Seharusnya kuajak Angga dan Nyimas kemari, seharusnya museum Balaputera Dewa itu belajar dari Museum Geologi ini—dalam hal menyajikan benda-bendanya. Aku masih tak lupakan bau pesing yang menyeruak dari area kamar mandi, kolam-kolam yang kotor dan sampah yang dibuang sembarangan. Berbeda sekali dengan di sini, yang bila hiperbola, debu sejentik pun tak ada. Dengan keadaan yang begini, museum tak diasingkan. Museum akan menjadi objek geowisata yang menarik. Orang-orang bahkan bisa menjadikan museum sebagai tempat kajian awal dengan banyaknya kumpulan peraga yang tersedia.

Dongeng Museum Nusantara
“Kau tahu, Pring, dinosaurus ini akan bergerak kalau tengah malam!”
“Haha, kau kebanyakan nonton film, Bang.”
“Aku serius. Kalau tak percaya, malam ini menginaplah di museum ini,” kilahnya meyakinkan.
“Memangnya aku anak kemarin sore yang bisa ditipu-tipu?”
“Hahaha, suatu saat kita juga akan jadi fosil, Pring.”
“Yang akan dimuseumkan?”
“Kenanganlah yang akan dimuseumkan bagi yang menghargainya,” jawab bang Ben dengan bijak. Kali ini kalimatnya penuh permenungan.

~

Hujan melambat, berhenti. Aku tak sempat naik ke lantai 2 dan menghabiskan waktu yang sedikit untuk berfoto ria sebelum melanjutkan perjalanan ke Gedung Indonesia Merdeka. Saat kami sedang asik berfoto itu, sejenak aku rasakan rangka T-Rex itu bergerak, matanya yang kosong itu seperti menyala—menatapku, dan bulu kudukku mendadak bergidik dan berkata, “Ayo Bang, kita segera pergi dari sini,” ucapku menyembunyikan ketakutan memikirkan kemungkinan bahwa mereka akan benar-benar hidup malam nanti.***

(2012)

Tiga Catatan Terakhir, dimuat di Jurnal Bogor, 18 April 2010

Mereka Bilang Aku Kunang-Kunang

Seharusnya aku ikut mati bersamamu. Seharusnya aku tak lari meninggalkanmu. Seharusnya aku menggendongmu di pundakku ketika aku melihat kau yang tiba-tiba terbaring di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku kerumunan itu. Aku orang-orang yang tak mampu menyembunyikan ketakutan. Aku orang-orang yang takut airmataku sendiri akan membunuh atau membuatku menggelepar-gelepar melebihi rasa lapar yang sudah aku koar-koarkan.

Di Jepang, musim Sakura belum lama berakhir. Dua minggu di awal April menandai musim semi dengan mekarnya kelopak bunga sakura. Mereka bilang itu adalah kelopak dari mata para dewa yang menitikkan kasihnya ke dunia. Kemudian kasih itu laun menjadi cinta di akhir tanggal, ketika kelopak-kelopak yang semula dominan putih berubah warna menjadi merah jambu. Aku ingat kau mengungkapkan itu sebelum kita berdiri di antara lautan orang-orang. Lalu kau mencium ujung-ujung tanganku. Aku tidak pernah tahu kalau itu akan menjadi ciuman terakhirmu untukku.

“Aku ingin sekali menemukan semanggi berkelopak empat, An…” kau berkata setalah ciuman itu. Aku diam mendekap pundakmu.

“Bukan Sakura?” aku bertanya.

“Ini dua hal berbeda, An. Kabarnya semanggi berkelopak empat mampu mengabulkan keinginan kita. Seperti bintang jatuh. Seperti doa-doa di kuil saat awal tahun baru. Seperti koin-koin yang dilempar di air mancur Roma…” kau bergelayut manja.

“Lalu apa keinginanmu?” aku menatap matanya.

Sesungguhnya aku tak pernah menemukan mata yang berbinar-binar seperti matanya. Mata yang jujur seutuhnya, tidak pernah berpura-pura. Mata yang membawa laut yang diam dan dalam, namun dapat menjadi ombak yang melumat.

“Aku ingin semua ini selesai, An. Secepatnya. Biar sejarah, suatu saat, akan mencatat tiga puluh tahun lebih ini adalah derita sebuah bangsa yang terkurung tirani. Biar segala yang sudah terpenjara itu bisa bebas menyuarakan suaranya. Biar aku dan kau bisa merajut senyum ketika melihat sebuah reformasi telah membebaskan negeri ini dari ketidakadilan, dari ketidakbebasan, An…” kau menjawab dan kulihat ada api yang menyala di matamu.

Akan tetapi, yang aku mengerti kemudian, api yang menyala di matamu malam itu telah berpindah ke mataku ketika aku saksikan kau terbaring tetapi bukan tidur. Tetapi bukan pula bersandiwara. Aku berteriak-teriak memanggil kau yang tergeletak begitu saja dan tak mampu menghindari ijakan orang-orang. Aku tidak pula pernah tahu, ketika semua ini selesai, tak pernah ada yang mengaku sebagai seseorang yang telah menyarangkan peluru di matamu. Mata yang begitu aku cintai itu.

Dari sekian banyak orang berpakaian hitam hari ini, harusnya akulah yang memakai pakaian paling hitam. Tetapi, aku tidak berpakaian hitam. Aku hanya memakai kacamata hitam sambil memejamkan mataku ketika aku tahu aku memang sudah tak dapat menyentuhmu lagi. Dan diam-diam aku takut, dari sepasang mataku yang memejam ini akan beterbangan jutaan kunang-kunang. Kunang-kunang kuning seperti daun lerai dari ranting.1

Mereka Bilang Aku Patah Arang

Tiba-tiba aku jatuh cinta melebihi seluruh jatuh cinta yang pernah menyakiti dadaku.2 Ranting-ranting patah. Jutaan kunang-kunang yang berhamburan dari balik mata tak lagi pernah kembali. Sebenarnya ingin sekali aku menyampaikan kata cinta ke telingamu, tetapi aku tak lagi memiliki suara. Malah suaramulah yang kembali terngiang-ngiang di telingaku.

“Negeri ini membutuhkan orang-orang yang berani bersuara, An…” kau berkata di malam yang sama sebelum kau terbaring.

“Pada kenyataannya, sudah banyak orang-orang berani yang hilang, mati, dan tinggal nama. Banyak pula tubuh-tubuh tak dikenal ditemukan di jalan-jalan sepi, di semak-semak, bahkan dikubur hidup-hidup.”

Aku laki-laki yang memiliki keraguan. Aku memang takut sekali jika namaku menghiasi kematian esok hari. Aku takut jika kemudian aku pulang dengan tubuh tinggal kulit dan tulang. Namun, sejak aku bertemu dengannya, wanita bermata laut, pelan-pelan aku diyakinkan akan kebenaran dan keberanian.

“Kamu salah, An,” jawabmu pelan dan tersenyum, “mereka tidak pernah mati. Mereka justru membangkitkan orang-orang mati. Seperti aku. Seperti kamu. Seperti puluhan ribu orang yang berkumpul malam ini dan jutaan orang lain di luar sana yang menyaksikan kita dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka juga pasti mengharapkan perubahan, An… Itulah yang harus kita perjuangkan!” lanjutmu seperti nyala lilin di dalam kegelapan hati. Membuatku merasa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena telah ada seorang wanita berani melebihi masa lalu manapun.

Sekarang, di dalam sana, kau pasti sedang asik membayangkan dirimu telah menjadi salah satu yang menghidupkan kematian orang-orang. Kematian hati yang membuat negeri ini tak berkembang. Kematian informasi yang membuat rakyat mudah dibodoh-bodohi, ditakut-takuti, dan diatur seenak jidat dengan peraturan yang menjerat. Bukan melindungi. Bukan pula melayani.

Setelah semua itu berlalu, aku baru sadar, ternyata aku memang benar mencintaimu dan kehilanganmu adalah sakit hati yang paling pedih yang pernah kurasakan. Seharusnya, aku mencium bibirmu lama-lama malam itu. Seharusnya aku memelukmu erat malam itu. Seharusnya aku mengikatmu dalam tenda dan tak pernah membiarkanmu pergi keesokan hari. Tetapi, terlalu banyak kata seharusnya bagi lelaki patah arang seperti aku.

Dari Sekian Kematian

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. 3

Beberapa keluarga yang menangisi anak-anaknya hari itu, pasti tidak pernah tahu ada kau yang seharusnya tercantum menjadi nama ke-18. Pun ada nama-nama lain yang tak sempat tercatat oleh media-media yang masih main aman, takut jika terlalu banyak yang mereka catat, semakin banyak pula amarah rakyat. Sekian belas saja dirasa sudah cukup untuk mewakili duka yang dalam atas betapa lalimnya sistem yang berlaku.

Aku ingin sekali menunjukkan kepadamu, di rumahku kini ada sebuah kolam dengan ikan-ikan kecil yang berenang dengan tenang. Sebenarnya ingin sekali kuciptakan sungai seperti yang pernah kau impi-impikan. Sebuah sungai kecil dengan batu-batu koral yang mengalir jernih di tiap seluk ibukota. Tidak ada sampah. Tidak ada limbah. Tidak ada air kuning yang mendadak memanggil banjir ketika hujan tengah bertandang menyampaikan salam dari gundulnya bukit-bukit di sebelah timur. Tetapi aku pikir, sudah cukup ada sungai kecil lain yang mengalir dari pori-pori kulitku, dari kedua bola mataku yang pernah kau nyalakan apinya malam itu. Tetapi, harus kau maafkan aku kini, tak ada lagi nyala api itu.

Aku memandang kerdil kematian yang kau pertunjukkan hari itu. Kematian yang klasik namun kucintai seperti laki-laki mencintai laying-layangnya yang putus sambil memandang langit lapang yang selalu haus untuk dipandang. Seperti pula kelereng-kelereng bulat yang warna-warni, dipertaruhkan dalam sebuah permainan namun bukan kemenangan yang kuraih. Atau seperti setiap hitungan petak umpet dan aku mencari sampai sore hari, tak pernah menemukan sosok teman-teman yang sudah kembali ke rumah sementara aku harus menunggu di balik pohon, berhati-hati bila ada yang mengelabui penjagaanku.

Perubahan yang kau impikan dulu hanya terjadi sebatas kulit. Reformasi yang kau gaung-gaungkan dan kematian yang kau persembahkan tampaknya belum cukup untuk membuat mereka paham bahwa kebebasan bukan sebatas bebas menyuarakan pendapat namun pendapat itu menjadi pertimbangan yang agung laiknya suara Tuhan. Tetapi yang terjadi, suara-suara itu hanyalah sekadar mampir untuk lewat dari kuping kiri ke kuping kanan.

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. Dan di ruang ini, aku saksikan rekan-rekanku sedang tertidur sementara pimpinan sidang yang malang itu berbicara sampai berbusa-busa saja. Aku kembali mencoba memejamkan mata, berharap jutaan kunang-kunang yang dulu pernah berhamburan itu kembali ke mataku.

(2010)

1, 2 Kutipan dari puisi berjudul “Tiga Catatan Kecil” karya Aan Mansyur
3 Kutipan dari puisi berjudul “Dari Sekian Kematian” karya Pringadi Abdi