Category Archives: cerpen

Cerpen Rifat Khan | Empat Kisah Tentang Kematian Penulis

SATU

Eliana bilang, “Alan Hamsah adalah seorang penulis gagal, paling tidak bagi istrinya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah Ia menyukai pekerjaan mengutak-atik keyboard itu. Setiap dapat ide, Ia mengurung diri di kamar. Hanya keluar sesekali jika ingin buang air atau makan. Ibadah saja Ia lupa. Beberapa tulisannya akhirnya mangkal di media. Ia senang dan sering melompat-lompat di atas ranjangnya, jika dapat balasan dari redaktur yang akan memuat tulisannya. Ia tak pernah kekurangan rokok, sering mangkal di cafe-cafe lumayan mewah. Namun sejak menikah, Ia seperti kurang bahagia” Eliana terdiam. Teh di meja Ia seruput.

“Lanjutkan ceritamu.. ” Aku berucap. Sebab aku hendak mencari ide juga untuk bahan tulisanku. Aku memesan satu gelas kopi arabic lagi. Si pelayan berambut kriting itu ngangguk-ngangguk mendengar pesananku. Sesaat Ia pamit untuk menyiapkannya.

“Uang hasil tulisan hanya cukup untuk makan. Istrinya kadang pengen ke mall, kadang pengen ke pantai. Tak ada uang lebih, kata Alan Hamsah. Istrinya cemberut. Sering banting piring, sering tak melayani kebutuhannya kala malam. Alan Hamsah semakin banyak diam. Tulisannya tak lagi terlihat di media mana pun” Ada nada berat dari suara Eliana. Ia menatapku. Pelayan tadi datang membawa pesanan. Ia tersenyum. Continue reading Cerpen Rifat Khan | Empat Kisah Tentang Kematian Penulis

Cerpen Eyok El-Abrorii | Beberapa Tokoh yang Membuat Songgah Menderita

Hidup barangkali harus jadi seperti ini. Seperti kehidupan yang ditemukan Songgah dalam cerita ini, bahwa sebenarnya dia tidak berubah, hanya saja tiba-tiba segala hal yang berkaitan dengannya seperti tidak berpihak terhadapnya sama sekali. Misalnya ketika suatu waktu dia menangis sejadinya di perempatan jalan dan orang-orang hanya heran tanpa ada yang bertanya kenapa.

Songgah adalah tokoh yang dipaksa menderita dalam cerita ini. Dari kecil, songgah sudah menderita. Di kampung, bapaknya salah satu yang dipandang melarat oleh masyarakat dan pencerita sendiri. Dan sayang sekali, ibunya harus dibuat meninggal saja ketika dia berusia enam tahun, agar lebih lengkap penderitaannya.



Songgah kecil harus selalu dibawa ngojek oleh bapak setiap hari, sebab tidak ada tetangga yang mau direpotkan untuk menjaganya. Bapak mangkal di pasar. Dan setiap ada penumpang, -jika tidak memungkinkan untuk ikut mengantar karena belanjaan penumpang lumayan banyak- Songgah akan dititipkan di lapak alat-alat dapur milik Ci Mei. Ci Mei sendiri rela menerima Songgah untuk dititipkan bukan tanpa alasan. Sementara bapak kembali dari mengantar penumpang, Songgah akan diperintah untuk merapikan dagangan yang berantakan bekas orang-orang mampir melihat-lihat barang. Selain itu, Ci Mei juga akan meminta upah kepada bapak karena telah mau direpotkan.

Tapi dari kesibukan itu, dia menemukan satu momen yang nantinya akan membuatnya sangat merindukan masa kecil ini. Momen itu adalah ketika bapak memboncengnya. Mengingat, dia sangat gampang menemukan kebahagiaan melalui hal-hal sepele karena kurangnya waktu bermain dengan bocah seumuran. Semisal, jika dia menemukan dunia menjadi lebih biru setelah memejamkan mata sepanjang perjalanan sambil memeluk bapak erat-erat dari belakang. Dunia biru, punggung bapak yang hangat, udara segar, juga barangkali bayangan jilatan lolipop yang dilihatnya di iklan-iklan pinggir jalan merupakan beberapa hal yang berhasil menjadikan Songgah tetap ceria dan bersemangat untuk terus ikut bekerja dengan bapak.

*** Continue reading Cerpen Eyok El-Abrorii | Beberapa Tokoh yang Membuat Songgah Menderita

Cerpen | Uang dari Tuhan

Cerpen “Uang dari Tuhan” ini menjadikan saya sebagai pemenang III lomba menulis cerita pendek Se-Sumatra Selatan tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Sumatra Ekspress. Cerpen ini juga saya masukkan sebagai gimik dalam novel PHI. 😀

Uang dari Tuhan

I.

Sudah dua kali hari ini, ada orang datang ke kantor kas negara sambil berurai air mata dan terbata-bata berkata, “Bapak, di mana saya bisa meminta uang dari Tuhan?”

II.

Sebenarnya saya terhitung baru bertugas sebagai front office pencairan dana, kurang lebih 9 bulan. Ibarat janin, saya baru bersiap diri untuk dilahirkan, merancang tangis pertama agar udara berkenan hadir di paru-paru. Dunia masih hitam putih,  Benar dan salah. Memeriksa SPM dengan uji substantif dan formal. Jangan macam-macam, satu huruf saja salah, akan saya kembalikan. Ada kalanya ibu-ibu petugas satker menangis, memohon supaya SPM itu diloloskan. Tapi apa daya, peraturan berkata tidak. Air mata gombal tidak cukup untuk jadi alasan kebenaran. Macam-macam saja tingkah pola petugas satker. Tapi kali ini tetap yang paling aneh, meminta uang dari Tuhan?

“Bapak dari satker mana ya?” Seseorang berpakaian bebas, memakai kaos dan celana tiga perempat, bersandal jepit dan belum mematikan rokoknya tiba-tiba menyelonong masuk, bertanya, tanpa nomor antrian.

“Satker itu apa?” dia balik bertanya.

“Satuan kerja, Pak.  Stakeholder kita dari satuan kerja yang menerima DIPA APBN. Kalau Bapak mau mengajukan SPM ke loket 1, dalam hal ini saya. Kalau mau rekonsiliasi, ke loket 2 di sebelah kiri, Pak.”

“Stikholder itu makanan jenis apa? Daging sapi atau kerbau?”

“Bapak jangan main-main dengan saya!” Saya menggebrak meja, marah. Akhir-akhir ini saya cukup sensitif. Apalagi saya baru saja ditinggal kekasih. Karena tak kuat pacaran jarak jauh, dia bilang tidak cinta lagi. “Maaf kalau saya tidak sopan dengan Bapak, tapi tolong dong, kalau ke kantor itu harus berpakaian minimal celana panjang dan bersepatu!” Nada saya kali ini lebih keras.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba membalikkan badan, dan langsung keluar ruangan. Saya ditinggalkan dengan penuh tanda tanya. Tuhan tampaknya senang sekali memberi tanda tanya, selain tanda seru. Pacar saya itu, sudah sembilan tahun kami pacaran, sudah semua saya berikan, bahkan kejantanan pun sudah rela saya pasrahkan. Beginilah perempuan sekarang—banyak merayu, banyak menipu. Kedok lugu dan imej sebagai korban selalu digembar-gemborkan. Padahal, seringkali perempuanlah yang merusak lelaki, memperkosa kecintabutaan kami pada keindahan perempuan.

Minggu terakhir bulan. Sepi. Saya memandang keluar, tampak pohon perdu menggugurkan daunnya. Jalan muram, tapi tetap harus hati-hati. Tentang sapi dan kerbau, bila orang Mataram berkendaraan diibaratkan sapi, di Sumbawa Besar mereka seperti kerbau. Normalnya, kita bisa memperkirakan laju kendaraan untuk jarak tertentu. Di sini tidak. Bila dari jauhan ada yang bermotor, berjalan lambat, kita tetap harus waspada, karena bisa saja tiba-tiba ia mengebut, menarik putaran gasnya hingga maksimal, menderu-deru, seolah memamerkan diri sebagai orang pertama yang punya motor di muka bumi ini.

Saya jadi merindukan Palembang. Meski tanpa suara ombak, tanpa bunyi printer dot matrix—pencetak SP2D yang dalam satu tahun mencapai dua puluh lima ribu lembar. Pagu 900an milyar. Tapi belanja modalnya seperti daging koyor-koyor, gelondongan, menumpuk di akhir tahun anggaran, mepet-mepet dengan batas akhir pengajuan SPM. Padahal Presiden sudah marah-marah. Penyerapan anggaran dengan tren demikian tentu tidak akan berefek pada masyarakat. Alhamdulillah, kadang-kadang Presiden kita itu ada benarnya.

 

III.

Saya agak sensi sama sekretaris kantor ini. Kemarin saya pergoki dia bikin teh pakai air kamar mandi. Serta merta saya disemprot dan diancam akan dikempesi badan saya yang gemuk ini bila berani-beraninya membocorkan hal itu. Saya ini pintar menyimpan rahasia, jadi saya cukup mengatakannya kepada Pak Slamet sambil berbisik, “Ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa!” Sore harinya saya kena semprot lagi, karena teh di dalam ceret itu  sedikit pun tak berkurang. Dia bilang pasti saya telah memprovokasi orang-orang.

Pagi-pagi tidak ada satker. Pukul 11 ke atas mereka baru akan datang sekalian pulang. Pegawai Pemda memang parah-parah. Karena absen tidak handkey, mereka bisa bebas datang jam berapa pun dan pulang bila anak-anak mereka kelar bersekolah. “Sekalian menjemput,” kilahnya.

Asumsi saya pun terbukti. Pukul 12 kurang, nyaris istirahat, seorang petugas satker datang dengan setumpuk SPM dibungkus map di tangannya. Dari seragamnya saya tahu dia dari Badan Pusat Statistik. Saya agak heran sama satker satu ini karena SPM yang setumpuk itu hanya berisi belanja 52 yang berupa honor. Semua kegiatan survey dari a-z diberi honor. Saya pun berseloroh, “Mbak mbak… kalau semua hal dihonorin, jadi tupoksi mbak di kantor apa?”

Yang menjawab malah bukan dia. Pak Slamet menyeringai sinis di samping saya dan berkata, “Tupoksinya ya absen, Pring. Mereka digaji cuma buat absen….”

Di dalam hati saya mengaminkan tetapi tidak ikut menyeringai karena khawatir si mbak makin tersinggung nantinya.

Saya bertanya begitu bukan karena saya marah pernah tidak lulus ujian masuk STIS dan malah diterima di STAN. Tetapi, saya benar-benar peduli pada nasib anggaran belanja negara dan daerah yang sudah mayoritas dihabiskan di belanja pegawai (51) malah ditambah seenaknya di 52 untuk keperluan pegawai. Harusnya, jenis belanja itu digemukkan di 53 alias belanja modal guna pembangunan infrastruktur. Penyerapan anggaran yang ideal tentu harus berporsi demikian agar terasa manfaatnya pada masyarakat sekitar.

Saya periksa SPM pertama, sudah ada yang salah. Klasifikasi anggaran pada SPTB tidak ditulis dengan benar. Pasti hasil copy-paste dari lembar SPTB yang lain. Heran saya melihat bendahara-bendahara kadang belum paham dengan penulisan klasifikasi anggaran atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ganti uang persediaan hanya dapat diajukan satu bulan sekali secara rutin. Padahal ganti uang persediaan itu bisa dimintakan berkali-kali dalam satu bulan selama pertanggungjawabannya mencapai 75% nilai uang persediaan.

Sedang asik-asiknya saya memeriksa SPM, suara sekretaris yang cempreng itu terdengar lantang mengusir seorang peminta sumbangan. Si Joeng, bahasa Sumbawanya cerewet, menghalang-halangi lelaki tua itu yang hendak memaksa masuk ke ruang kepala kantor. Merasa tidak berhasil, ia balik berlari ke arah saya. Beruntung ia tidak nekat melompati meja loket penerimaan SPM. “Bapak, katakan, harus ke mana lagi saya meminta uang dari Tuhan?”

Dahi saya bekernyit. “Siapa yang bilang kas negara itu tempat meminta uang dari Tuhan?” Nada saya agak tinggi.

“Orang.”

“Orang yang mana?”

“Orang ya orang.”

Hampir habis kesabaran saya, Si Joeng datang dan langsung memegang lengan peminta sumbangan. Dengan paksa, ia menyeretnya keluar. Sementara itu, satpam-satpam yang harusnya berjaga dan yang duduk di dekat pintu masuk, bertugas membukakan pintu bagi setiap tamu yang datang entah sudah menghilang ke mana. Kepala Kantor serba salah dalam hal ini. Pernah saya tanyakan kenapa kita tidak menggunakan tenaga penyedia jasa satpam dan cleaning service seperti halnya kantor pajak. Beliau menjawab tidak mudah untuk “memecat” dan mengganti mereka sebab sudah lama mereka bekerja di sini. “Mengganti mereka bisa saja sama dengan membunuh hidup mereka, Pring….” Saya diam kalau alasannya sudah perasaan.

Perasaan. Ah, perasaan. Saya kembali mengingat Aina. Apa Aina punya perasaan? Kalau tidak, harusnya Aina saja yang jadi kepala kantor. Biar kinerjanya bagus, pegawai tentu harus diperintah seperti robot. Kalau sudah usang, dipensiunkan. Kalau tidak bisa diinstalasi program terbaru, disingkirkan di gudang sampai menunggu penghapusan barang dari KPKNL. Duh.

Saya kemudian menghadap kepala seksi. Bapak satu ini dekat dengan Tuhan. Shalatnya selalu pas setelah adzan. Dia yang pernah bilang, Tuhan selalu mendatangi kita tapi kita tak sedang di rumah. Ah, saya selalu merasa di rumah. Hanya kadang-kadang saya sedang tidur dan tak mendengar ketukan pintu. Selain konsultasi masalah pencairan dana dan peraturan-peraturan terkait, beliau selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang Tuhan. Tuhan yang satu itu sering bikin saya galau.

“Permisi Pak…”

“Ya, duduk. Ada apa, Mas?”

“Begini, Pak… tadi ada orang datang ke sini…”

“Satker? Pihak ketiga? Kalau pihak ketiga, usir aja… jangan sungkan-sungkan.”

“Bukan. Bukan keduanya. Ini orang, tiba-tiba datang terus bertanya, di mana bisa meminta uang dari Tuhan.” Pak Kepala Seksi malah melongo. “Saya pikir di kantor ini bapak yang paling kenal Tuhan, barangkali bapak tahu di mana tempatnya,” lanjut saya.

Bapak itu tampak berpikir keras. Tetapi tidak ada adegan bola lampu menyala di samping kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja lalu berkata, “Ini berat, Mas. Saya tidak tahu caranya meminta uang dari Tuhan, kalau memanjatkan doa saya tahu…”

“Jadi bagaimana harusnya kita memberi jawaban, Pak? Saya tak tega melihat orang-orang itu datang dan penampakannya sangat lusuh sekali. Mungkin mereka benar-benar butuh uang. Sementara negara bukanlah Tuhan yang dapat memberikan uang kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.” Saya pun menjadi iba dan prihatin seperti kebiasaan presiden.

“Iya sih… kamu benar. Nanti saya pikirkan sebuah cara,” tukasnya.

KPPN selama ini memang jadi tempat yang dituntut serba tahu. Jadi, kalau tak dapat menjawab saat ditanya, itu adalah aib. Beberapa hari yang lalu ada yang protes karena terdapat selisih antara saldo di aplikasi SAKPA dengan aplikasi BMN. Saya jawab, KPPN tidak mengurusi masalah BMN, itu wewenangnya KPKNL. “Lho kalian kan sama-sama Kementerian Keuangan, kok tidak tahu menahu sih?!” Dia agak marah. Saya jawab, “Apa Ibu tahu-menahu soal Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama, kan sama-sama 025?” Dia pun diam. Tapi itu belum seberapa, ada seorang lagi yang datang saat hujan, membawa mobil, parkir tepat di depan pintu masuk, lalu membawa beberapa perangkat komputer sambil berkata, “Tolong cek komputer saya, apanya yang rusak?” Duh.

 

IV.

Tepat sebelum istirahat, orang yang kali pertama datang menanyakan uang dari Tuhan itu datang lagi. Pertanyaannya agak berbeda, “Tolong jangan berbohong, saya tahu di sinilah tempat meminta uang dari Tuhan!”

Kami sudah mengantisipasi ini. Pak Kepala Seksi berinisiatif meminta sumbangan sukarela kepada para pegawai dengan dalih untuk membantu fakir miskin. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara negara dan kami, para pegawai pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab pada mereka. “Ini Pak, semalam Tuhan mengirimkannya diam-diam. Ini untuk semua orang yang meminta uang dari Tuhan.”

“Tuh kan, kalian ini jangan coba-coba menyimpan uang yang bukan hak kalian!” Dia membuka amplop. Saya yang geram. Seenaknya saja menuduh demikian. Biar pun dikata nanti saya masuk neraka, penyebabnya tak akan karena korupsi. “Hah, kok jumlahnya Cuma sembilan ratus lima puluh ribu? Saya mintanya kan satu juta!” tambahnya tak puas.

Karena bingung menjawab apa, saya katakan, “Pajak penghasilan 5%. Dipotong itu.”

“Ooo, memang dasar ya tukang pajak itu, Tuhan saja masih dipotong.” Dia mengangguk-angguk sebelum pergi dan saya harap tak akan pernah kembali.

 

V.

Saya datang ke KUA. Penjaga di loket pelayanan yang seadanya menyambut saya dengan muka kecut. “Maaf Bapak, ada keperluan apa?” tanyanya.

“Tolong katakan sejujurnya, di mana saya bisa minta istri dari Tuhan?!”

 

(2012)

Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi: Pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma

Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi 

Pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma pada malam peringatan 51 tahun berdirinya Taman Ismail Marzuki Jakarta (10 November 1968), di Teater Besar, TIM, Jakarta, Minggu (10/11).





Ibu, Bapak, Saudara-saudara Saya yang Terhormat, 

Suatu ketika dalam perjalanan hidup saya yang begini-begini saja, tersesatlah saya di rimba filsafat, tempat semua orang biasanya mengira, di sinilah tempatnya mencari sesuatu yang disebut kebenaran. Suatu ketersesatan yang sungguh saya syukuri, karena di sini saya mendapatkan kesadaran betapa saya ini cuma orang bodoh. Dalam kebodohan itulah justru saya mendengar ujaran yang kira-kira seperti berikut: “Kata kebenaran lebih baik tidak digunakan, dihindari, atau digunakan dengan hati-hati sekali, karena kebenaran, meskipun ada, tidak bisa diketahui.” 

Busyeeeettt … Apakah kalimat ini merupakan ‘kebenaran’ ? ☺ Sebagai orang bodoh, tentu saja saya wajib belajar: betulkah kebenaran itu tidak dapat diketahui? 

Begitulah, seperti Bima yang menurut saja ditugaskan Mahaguru Dorna pergi ke tengah laut mencari air suci supaya terbunuh oleh naga, saya mengarungi samudera tempat bertiupnya badai wacana-wacana yang saling bertentangan tiada habisnya, seperti pernah digambarkan Mpu Tanakung dalam Siwaratrikalpa pada pertengahan abad ke-15: 

manuk asukha-sukhan muńgwiń pań rãmya masahuran kadi papupul i sań wriń tatwâdhyātmika maceńil 

burung-burung menghibur diri di antara reranting, bahagia saling bercuit seperti pertemuan para pakar yang berdebat mencari kebenaran esoterik  Continue reading Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi: Pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma

Download Majalah Horison 1966-1990

Mau download Majalah Horison 1966-1990? Gampang banget. Tinggal klik di sini, arsip elektronik Majalah Horison tersebut dapat diunduh.

Majalah Horison adalah majalah khusus yang membahas tentang seni sastra di Indonesia. Majalah Horison pertama kali diterbitkan pada bulan Juli 1966 di Jakarta. Majalah yang didirikan oleh Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail dibuat untuk para pegiat sastra di seluruh Indonesia.

Pada ulang tahun ke-50 tanggal 26 Juli 2016, redaksi Horison memutuskan berhenti membuat Horison cetak.

Cerpen Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kanguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013) dialihbahasakan oleh Habi Hidayat

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


Pada akhirnya, pagi yang kami tunggu-tunggu untuk melihat bayi kangguru datang juga. Kami bangun dari tidur pada pukul enam pagi, membuka gorden, dan yakin hari itu adalah hari yang sempurna untuk kangguru. Kami buru-buru membersihkan diri, sarapan, memberi makan kucing, buru-buru mencuci baju lalu mengenakan topi untuk menghalau sinar matahari, dan kami pun berangkat.

“Apa kau pikir bayi kangguru itu masih hidup?” pacarku bertanya saat kami di kereta.

“Aku yakin ia masih hidup. Tak ada satu berita pun yang mengabarkan bahwa bayi kangguru itu mati. Jika saja ia mati, aku yakin kita sudah membacanya di koran.”

“Mungkin saja tidak mati, tapi bisa saja ia sakit dan dirawat di rumah sakit.”

“Ya, tapi kalau pun itu terjadi, kita sudah membaca di koran.”

“Bagaimana jika kangguru itu ketakutan dan bersembunyi di sudut kandang?”

“Apa bayi kangguru punya rasa takut?”

“Bukan bayinya. Tapi ibunya! Mungkin ia mengalami trauma dan menyudutkan diri bersama bayinya di kandang yang gelap.”

Seorang wanita memang selalu memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Trauma? Trauma macam apa coba yang bisa menyerang seekor kangguru?

“Jika aku tak melihat bayi kangguru hari ini, aku pikir aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi,” katanya.

“Kupikir juga begitu.”

“Maksudku, pernahkah kau melihat bayi kangguru?”

“Tidak, aku tak pernah melihatnya.”

“Apa kau yakin kau bakal punya kesempatan lain untuk melihat bayi kangguru?”

“Aku tak tahu.”

“Nah, karena itulah aku gelisah.”

“Ya, tapi dengar dulu,” kataku nyerocos balik. “Aku tak pernah melihat seekor jerapah melahirkan, atau bahkan melihat hiu yang berenang-renang. Jadi apa masalahnya dengan bayi kangguru?”

“Ya karena ia bayi kangguru,” katanya. “Karena itulah.”

Aku pun menyerah dan mulai membalik-balikkan halaman koran. Aku tidak pernah satu kali pun menang-argumen dengan seorang perempuan.

BAYI kangguru itu, sesuai perkiraan, masih hidup dan sehat, ia (entah jantan atau betina) terlihat tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan gambarnya yang dimuat di koran, bahkan ia melompat-lompat di sekitar pagar kandang. Ia tak lagi seekor bayi kangguru, hanya kangguru mini. Pacarku pun kecewa.

“Ia bukan bayi lagi,” katanya.

“Tentu saja ia masih bayi,” kataku mencoba menghiburnya.

Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Ia cuma menggelengkan kepala. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan tidak bakal mengubah kenyataan bahwa si bayi kangguru ternyata sudah besar. Jadi aku cuma diam.

Aku bergegas menuju warung kudapan dan membeli dua cokelat es krim, dan ketika aku kembali ia masih bersandar menghadap kandang kangguru, menatap bayi kangguru itu lekat-lekat.

“Ia bukan lagi seekor bayi kangguru.”

“Kau yakin?” kataku seraya memberinya es krim.

“Seekor bayi kangguru mesti berada di kantung induknya.”

Aku mengangguk dan menjilat es krimku.

“Tapi yang ini tidak lagi berada di kantung induknya.”

Kami berusaha mengenali induk kangguru. Sang ayah, mudah untuk dilihat, ia tampak paling besar dan begitu tenang di antara lainnya. Layaknya seorang komposer yang bakatnya telah memudar, ia hanya diam saja, menatapi dedaunan yang menjadi makanannya. Dua kangguru lainnya adalah betina, terlihat dari bentuk, warna, dan air muka mereka. Salah satunya mesti ibu si bayi kangguru.

“Satu di antara dua kangguru itu mesti ibu si bayi, dan satu lagi bukan,” kataku berkomentar.

“Um.”

“Jadi yang mana yang bukan ibunya?”

“Aku tak tahu,” katanya.

Kami tak sadar bahwa ternyata bayi kangguru itu melompat-lompat di pagar kandang, lalu sesekali mengorek-ngorek tanah untuk alasan yang tidak jelas. Ia (entah jantan atau betina) tampaknya menemukan cara untuk membuat dirinya sibuk. Si bayi kangguru melompat-lompat di sekitar bapaknya berdiri, mengunyah sedikit dedaunan, dan mengorek-ngorek lumpur, mengganggu kangguru betina, lalu berbaring di tanah, berdiri lalu melompat-lompat lagi.

“Bagaimana bisa kangguru melompat-lompat begitu cepat?”

“Agar bisa melarikan diri dari musuh?”

“Musuh apa?”

“Manusia,” kataku. “Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan menyantap mereka.”

“Kenapa bayi kangguru sanggup naik ke kantong ibunya?”

“Agar bayi kangguru bisa menyelamatkan diri bersama ibunya. Bayi kangguru tidak bisa berlari cepat.”

“Jadi mereka terlindungi?”

“Ya,” kataku. “Sang ibu melindungi anak-anaknya.”

“Berapa lama sang ibu melindungi anak-anaknya seperti itu?”

Aku sadar aku seharusnya membaca beberapa hal tentang kangguru di sebuah ensiklopedia sebelum kami bertamasya kecil seperti ini. Rentetan pertanyaan seperti ini memang sudah seharusnya aku perkirakan.

“Sebulan sampai dua bulan, aku bayangkan.”

“Tapi bayi itu cuma berumur sebulan sekarang,” katanya seraya menunjuk bayi kangguru. “Jadi mestinya ia masih di kantung ibunya.”

“Ya, aku pikir juga begitu.”

Matahari mengangkasa di atas kepala, dan kami tak bisa mendengar teriakan anak-anak di kolam renang di dekat kami. Sepotong awan putih melintasi kami.

Seorang pelajar tengah bekerja di warung hotdog yang dibentuk layaknya sebuah minivan dengan beberapa kotak pengeras suara yang mengedarkan alunan suara Stevie Wonder dan Billy Joel saat aku menunggu hotdog yang tengah dimasak.

Saat aku kembali ke kandang kangguru, pacarku buru-buru berkata, “Lihat!” menjerit, seraya menunjuk satu di antara kangguru betina. “Kau lihat, bukan? Bayi kangguru di kantong ibunya!”

Aku cukup yakin bayi kangguru itu sudah meringkuk di kantung ibunya (anggap saja kangguru betina itu adalah benar-benar ibunya). Kantung kangguru betina itu benar-benar terisi penuh, dan sepasang telinga mungil dan sepucuk ujung ekor mengintip dari balik kantungnya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa dan benar-benar membuat tamasya kami tak sia-sia.

“Mungkin terasa berat membawa bayi kangguru di dalam kantung,” katanya.

“Jangan khawatir, kangguru itu hewan yang kuat.”

“Betul begitu?”

“Ya, tentu. Karena itulah mereka bertahan hidup.”

Meski hidup dengan panasnya matahari, ibu kangguru tidak menderita. Pacarku terlihat layaknya seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan belanjaan sorenya di supermarket di sekitar wilayah Aoyama yang indah, dan tengah bersantai istirahat menikmati secangkir kopi di warung kopi.

“Ibu kangguru itu benar-benar melindungi bayinya, bukan?”

“Ya.”

“Aku bayangkan bayi kangguru itu tidur lelap.”

“Ya, mungkin saja.”

KAMI menyantap hotdog dan meminum kola seraya berjalan meninggalkan kandang kangguru.

Saat kami pergi, sang ayah kangguru masih menatapi makanannya seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang ibu kangguru dan bayinya menyatu, istirahat di antara aliran waktu yang tenang, ketika satu kangguru misterius lainnya melompat-lompat di pagar seolah-olah ingin melarikan dirinya dari kandang.

Hari itu rupanya jadi hari yang panas, hari yang panas pertama bagi kami setelah beberapa waktu yang lama.

“Hei, kau ingin minum bir?” taya pacarku.

“Ayo.”(*)