Category Archives: Catatan Perjalanan

Solo Traveling ke Coban Parang Tejo yang Berkabut

Gerimis turun tipis. Bermodalkan petunjuk dari petugas parkir saat ke Coban Putri, katanya di dekat situ ada Coban Parang Tejo. Kupakai jas hujan plastikku, dan sendiri aku menembus dinginnya Kota Batu menuju Coban Parang Tejo. Itu bukan solo traveling pertamaku. Tapi itulah kali pertama aku melakukan treking sendirian saat pagi masih diselimuti kabut, tanpa ada seorang pun di tempat tujuan.



Kabut di Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo

Bermodalkan kenekatan, aku terus berjalan mengikuti petunjuk arah menuju Peacock Pine Porest dan Coban Parang Tejo. Kuketahui kemudian, bahwa keduanya satu lokasi.

Peacock Pine Forest atau Hutan Pinus Merak adalah semacam bumi perkemahan dengan pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang. Dari tempat perkemahan itu, kita perlu berjalan kaki melewati jalan setapak di pinggir tebing sejauh sekitar 800 meter untuk sampai ke Coban Parang Tejo.

Begitulah kemudian aku berjalan sendirian di jalan setapak itu. Kabut pun perlahan mulai naik dan nampaklah air terjun yang kutuju dari kejauhan. Air terjun itu tinggi sekali. Dan sepanjang jalan aku berzikir karena dalam keadaan sendiri, hanya Allah yang bisa menjadi pelindung.

Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo memiliki ketinggian sekitar 100 meter dengan air yang halus. Air terjun ini terletak di lereng Gunung Butak yang membentuk aliran Sungai Metro di perbatasan Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang mengalir hingga Kabupaten Blitar.

Saat sedang menyiapkan kamera agar bisa mendapatkan foto terbaik, anak-anak yang camping di Peacock Pine Forest ternyata juga ikut turun ke sini. Akhirnya, aku pun gagal mendapatkan foto sendirian yang ciamik. Keburu ramai deh.

Lokasi Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo lokasinya berada di Dusun Princi, Desa Ngading Kulon 02. Letaknya berada di perbatasan Malang dan Batu.
Bila kamu berangkat dari pusat kota Malang, berjalanlah menuju UNMER (Universitas Merdeka) ➱Jalan Bondowoso ➱ Jalan Tidar ➱ Jalan Puncak Mandala ➱ Jalan Puncak Yamin ➱ Jalan Esberg sampai ketemu Pangkalan Mikrolet AT ➱ Dari tempat itu lanjut ke ➱ Jalan Candi V ➱ Desa Karangwidoro ➱ Petungsewu Tegalweru ➱ Setelah kalian menemukan Pertigaan Dukuh Sempu, ambil arah ke kiri Desa Gadingkulon ➱ Dukuh Princi ➱ Parang Tejo.

Sementara jika kamu berangkat dari alun-alun kota Batu Menuju arah Sengkaling ➱ pertigaan Polsek Dau ke kiri ➱ perempatan Semanding ke kiri ➱ Asrama Putri Arrohmah ➱ Dukuh Sempu lurus ➱ Desa Gadingkulon ➱ Dukuh Princi ➱ Parang Tejo.

Spot Foto Instagramable di Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo terkenal juga karena di kawasan hutan pinusnya terdapat beberapa tempat untuk berfoto. Ada Hutan Peterpan sampai bisa naik ayunan di ketinggian. Hanya saja, aku nggak begitu suka untuk berfoto begitu. Selain karena, rumah-rumah Peterpan berada di Tusuk Sate, yang biasanya angker, sedangkan ayunannya tampak tidak begitu terjamin standar keamanannya.

Credit: Instagram.com/lidiiaputrii

Tengoklah ayunannya, begitu doang. Kalau tiba-tiba angin kencang, gimana?

View this post on Instagram

Coban Parang Tejo Pagi-pagi sekali saya nekat ke Coban Parang Tejo. Sendirian. Bermodalkan motor sewaan. Tidak tahu jalan dan bergantung pada Google Maps. Sensasinya luar biasa. Saya memilih melewati jalan pinggiran. Melewati banyak rumah penduduk, lalu ketika jalan mulai menanjak banget, di sisi jalan penuh kebun jeruk. Banyak yang sudah matang pula. Sampai bertemu pohon-pohon pinus. Itu pertanda sudah dekat. Jalan santai menuju Coban, kurang lebih 650 meter dari camping ground Peacock Pine Forest. Asli sendirian menuruni jalan setapak di tengah kepungan kabut. Seram? Ya lah. Karena jam 10 sudah harus briefing Kemenkeu Mengajar, setelah mengambil beberapa foto, saya pun kembali pulang ke Malang. #cobanparangtejo #parangtejo #cobanmalang #airterjunparangtejo #peacockpineforest #odtexplore #pendakicantik #treking #trekingday #waterfall #idpetualang #travelblogger #travelingphotography #solotraveler #solobackpacker

A post shared by Pringadi Abdi Surya (@pringadisurya) on


Kalau mau ke Coban Parang Tejo, kamu bisa menikmati semua keindahan dengan hanya membayar tiket masuk Rp15.000. Murah ‘kan?

 

Kecantikan Coban Putri di Batu

Perjalanan ke Coban Putri sebenarnya tidak sengaja kulakukan. Namun, ketaksengajaan itu berbuah rasa syukur karena aku akhirnya bisa melihat kecantikan Coban Putri di Batu.




Minggu lalu, aku ke Malang guna mengikuti Kemenkeu Mengajar di SDN Kebonsari 2. Aku sengaja berangkat Jumat malam, agar Sabtu dan Minggu bisa berjalan-jalan dahulu. Karena kegiatan tersebut tidak menggunakan APBN sepeser pun, maka aku juga berhemat dalam memilih akomodasi. Terpilihlah Arfand Kos di Jalan Gejayana No. 22, Malang sebagai tempat aku menginap. Harganya hanya 50 ribu semalam. Di sana juga bisa menyewa motor dengan harga 70 ribu seharian.

Sampai di Stasiun Malang (Kota Baru) pada Sabtu pukul 10.00, aku makan dan menuju kos. Pukul 13.00 baru aku mendapat motor, dan aku harus memilih tujuan perjalanan. Awalnya, aku memilih Coban Rais karena katanya coban tersebut adalah salah satu coban termegah di Batu. Sengaja kutulis Batu ya, bukan Malang, karena Batu sudah menjadi wilayah administrasi tersendiri, terpisah dari Malang.


Jarak dari Arfand Kos ke Coban Rais di Google Maps hanya sekitar 15 km. Aku pun dengan semangat menuju ke sana sendirian berkendara sepeda motor.

Namun sayang, hujan mulai turun dan aku pun berteduh di warung mi ayam. Aku makan mi ayam sambil menunggu hujan sedikit reda, dan syukurlah, warung di sebelahnya menjual jas hujan plastik.

Perjalanan pun kulanjutkan setelah mi ayam itu habis dan kukenakan jas hujan menembus gerimis yang romantis.

Gagal ke Coban Rais

Beberapa saat kemudian, aku sampai ke pintu masuk Coban Rais. Sang penjaga bertanya, aku mau ke mana, kujawab, “Ke Coban Rais”. Sang penjaga menjawab, “Oke, 850 meter lagi jalan kaki.”

Pasalnya, selain coban, di lokasi ini ada Batu Flower Garden. Semacam Rangoon Hills kalau di Bogor, sebuah tempat untuk berfoto dengan ornamen-ornamen yang katanya instagramable. Aku tentu tak tertarik dengan tempat seperti itu.

Namun, begitu aku mau ke Coban Rais, petugas yang berada di dalam mengatakan jarak ke Coban Rais masih 3 km lagi dan yang lebih dekat ada Coban Kaca. Namun karena barusan hujan, jalanan ditutup, kecuali mau nekat sendiri.

Aku pun mengerutu karena aku udah jelas-jelas bilang mau ke Coban Rais pas masuk. Jika ditutup kenapa tidak bilang ditutup sejak awal. Lima belas ribuku melayang sia-siang.

Coban Putri Sebagai Alternatif

Di perjalanan, aku melihat pintu masuk ke Coban Putri. Tukang ojek di Coban Rais pun sempat menawarkan mengantar ke Coban Putri PP 50 ribu. Dia tidak tahu aku bawa motor sendiri. Dari Coban Rais, Coban Putri hanya berjarak sekitar 2 kilometer.

Biaya dan Rute Masuk Coban Putri

Biaya masuk Coban Putri hanya 10 ribu rupiah. Parkirnya 5 ribu rupiah. Dari pintu gerbang ke parkiran, jaraknya sekitar 1 kilometer. Sebagian besar jalan sudah diperkeras dengan batu meski ada sebagian yang masih berupa tanah. Bila hujan turun, jalan akan sangat licin. Sehingga tidak kurekomendasikan bila berboncengan dengan motor matic. Dari parkiran ke Coban jaraknya hanya sekitar 100 meter. Dekat sekali.

Kalau dari kota, perjalanan ke lokasi ini, Coban Putri berada di Oro-Oro Ombo, bisa melalui Kota Malang. Ambil jalur menuju ke Arah BNS atau Predator Fun Park. Teruskan sampai kamu menemukan penunjuk bertuliskan Wisata Coban Putri dan Coban Rais.

Karakteristik Coban Putri

Coban Putri yang Indah

Ada dua air terjun (coban) di Coban Putri dengan karakteristik yang berbeda. Air terjun pertama air tampak mengalir di bebatuannya. Sedangkan di air terjun kedua, air barulah tampak jatuh. Di atasnya, pohon besar menambah aura keeksotisannya.

Di sekitar air terjun, telah dibangun beberapa ornamen seperti jembatan bambu dan ayunan juga taman bunga untuk menambah kecantikan wilayah Coban Putri.

Coban Putri tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar 30 meter dengan lebar 3 meter.

Mitos Coban Putri

Dinamakan Coban Putri karena  masyarakat sekitar yang sering melihat penampakan putri mandi di air terjun ini. Putri tersebut adalah Ken Dedes, permaisuri Ken Arok, raja Singosari. Selain di Songgoriti, Ken Dedes konon kerap mandi di coban ini.


Jadi, kalau kamu ke Malang atau Batu, jangan lupa mampir ke Coban Putri ya. Selain murah, tempat ini indah banget lho. Jangan khawatir, karena di sekitar sini ada bumi perkemahan, fasilitas seperti toilet dan warung penjual kopi dan gorengan juga ada. Enak dingin-dingin sambil minum kopi melihat air terjun yang eksotis!

Nostalgia di Curug Dago yang Mistis dan Romantis

Curug Dago adalah sebuah nostalgia. Aku kembali ke curug yang dekat dengan pusat kota Bandung itu demi menemukan jawaban, kenapa aku begitu suka berwisata ke air terjun (curug). Dan dalam perjalanan menyusuri ingatan itu, aku teringat sebuah momen tatkala awal pacaran dengan Zane.

Saat itu, aku masih berkuliah di Akuntansi STAN, tahun pertama, setelah minggat dari ITB–meski sudah 2 tahun berkuliah. Zane sendiri masih sebagai mahasiswa Fisika ITB, semester V. Kami menjalin hubungan asmara jarak jauh, Bintaro-Bandung.

Pertemuan kami setelah jadian terjadi di Tangerang saat Zane berkunjung ke rumah pamannya. Dia pun kuajak naik kereta dari Serpong ke Bintaro, main di kosanku beberapa menit, sebelum kembali pulang ke rumah pamannya.

Giliranku mengunjunginya ke Bandung. Aku ingat travel yang kunaiki adalah Baraya (karena murah). Menginap di kos Wilaga, namun waktu banyak kuhabiskan bersama Zane. Ya, di pertemuan pertama di Bandung itulah, Zane mengajakku jalan pagi. Tujuannya? Ke Curug Dago.

Sayangnya, saat itu, fisikku tak prima. Kami hanya berjalan di sebuah jembatan yang berada di atas  Curug Dago. Kami melihat air itu terjun di pangkal air terjun. Tidak turun untuk melihat kemegahannya.

Setelah sekian lama berniat mengunjungi lagi Curug Dago, baru beberapa waktu lalu niat itu kesampaian.

Curug Dago sendiri terletak dekat dengan terminal Dago. Di pertigaan, pilih jalan menurun. Sekitar 200 meter dari situ, akan ada gang kecil yang mengarah ke Curug Dago. Gang tersebut bisa dilalui oleh sepeda motor atau berjalan kaki. Sekitar 150 meter dari bibir gang, barulah kita akan menemukan Curug Dago. Harga tiketnya murah kok. Cuma 10 ribu dan itu bisa buat sekalian masuk ke Taman Hutan Raya (TAHURA) Juanda juga karena Curug Dago sebenarnya merupakan bagian atau rangkaian dari TAHURA.

Sejarah Curug Dago

Sejarah Curug Dago terbilang tidak terduga. Unik. Dan bernilai tinggi.

Curug Dago yang berada pada ketinggian 800 meter di atas permuakaan laut, dengan tinggi air terjunnya sekitar 12 meter ini terbentuk oleh aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya ke Kota Bandung. Di sini terdapat jejak peninggalan sejarah kerajaan Thailand yang ada di Bandung.

Jejak sejarah yang ada di tempat wisata di Bandung yang satu ini dapat dilihat dari adanya prasasti batu Kerajaan Thailand yang berasal dari abad ke 18. Prasasti batu ini bertuliskan nama raja yang diketahui bernama Raja Chulalongkom II (Rama V) yang berasal dari Thailand. Raja Rama V mengunjungi Curug Dago sekitar tahun 1896 silam. Kemudian beliau kembali mengunjunginya untuk kali kedua pada tahun 1901. Pada kunjungannya yang kedua ini sang raja kembali menulis di atas batu prasasti. Raja Rama V menuliskan paraf dan tahun Rattanakosin, Era 120 (Bangkok).

Pada batu prasasti yang lain terdapat ukiran nama Raja Prajadipok atau yang juga dikenal dengan gelar Raja Rama VII yang juga berasal dari kerajaan Thailand. Raja Rama VII mengunjungi Curug Dago pada tahun 1929, hal ini dapat diketahui dari tulisan yang terdapat pada batu yang ditemukan.

Sayangnya…

Sayangnya, aliran sungai Cikapundung keruh. Banyak sampah. Curug semegah Curug Dago seharusnya bisa memiliki nilai yang jauh lebih tinggi kalau airnya bersih. Kolam di bawahnya butek. Kecoklatan dan sampah-sampah mengambang. Kita pu n tidak dianjurkan untuk turun ke sana.

5 Hal yang Harus Kamu Ketahui dari Coban Talun

Coban Talun adalah salah satu coban terkenal di Batu selain Coban Rondo. Dulu, bolehlah menyebutnya sebagai coban terkenal di Malang, tetapi sekarang Batu sudah memisahkan diri dari Malang menjadi Kota Batu tersendiri. Setidaknya, ada 5 hal yang harus kamu ketahui dari Coban Talun. Apa saja itu?

Tentang Coban Talun

Coban Talun memiliki arti air terjun (coban) yang bergema (talun). Coban Talun memiliki ketinggian sekitar 75 meter. Letaknya sendiri berada di ketinggian  950 meter di atas permukaan laut. Sudah barang tentu, ketinggian seperti itu membuat udara di sekitarnya cukup sejuk berkisar antara 18-23 derajat celcius.



Bila ingin menuju Coban Talun, dari Kota Malang, kamu tinggal melaju menuju arah Batu, melewati alun-alun Kota Batu, ke arah Selecta. Kamu bisa percaya pada Google Maps. Total jarak tempuhnya tidak sampai 30 km, kok. Jadi kalau tidak macet, kamu bisa menuju ke Coban dalam waktu kurang dari 1 jam.

Biaya masuk Coban Talun Rp10 ribu/orang. Parkir motornya Rp5 ribu. Dari parkiran, kita harus berjalan kaki yang sebagian sudah dipaving sejauh 1 kilometer kurang-lebih. Kita akan berjalan di tengah-tengah hutan pinus dan berasa Edward Cullen dan Bella.

500 meter akhir perjalanan begitu licin dan terjal. Kita harus ekstra hati-hati. Oh ya, buat kamu yang malas berjalan kaki, sebenarnya ada sewa ojek yang akan mengantarkanmu sampai tinggal 200 m lagi dari Coban.. Aku memanfaatkan fasilitas ojek ini saat pulang karena kakiku cedera. Biaya ojeknya hanya Rp15 ribu.

Coban ini sendiri dikelola oleh Perhutani bekerja sama dengan swasta. Coban Talun ini merupakan hulu Sungai Brantas.

Misteri dan Mitos di Coban Talun

Coban Talun

Coban Talun memiliki banyak mitos maupun cerita misteri yang menyelimutinya. Coban Talun pun terkenal karena keangkerannya. Banyak yang percaya wilayah Coban Talun adalah kerajaan jin sehingga tidak sedikit orang yang kesurupan saat camping di wilayah tersebut.

Mitos Jembatan Asmara di Coban Talun

Jembatan Asmara di Coban Talun

Jembatan sepanjang empat belas meter yang menghubungkan area check point dengan air terjun ini memiliki mitos yang menarik dan membuat banyak orang sengaja datang ke sana bersama pasangannya. Konon, sepasang kekasih yang bisa melintasi jembatan ini bersama-sama, hubungannya akan langgeng.

Cerita ini didasarkan pada cerita masa lalu. Ya, jembatan ini merupakan tempat tempat bertemunya pangeran dari Kerajaan Kediri bernama Jaya Nalendra dengan Dewi Seruni.

Pada zaman dahulu, pangeran Jaya Nalendra sedang melakukan pertapaan di bukit Kalindra yang letaknya tak jauh dari air terjun Coban Talun. Pertapaan tersebut dalam rangka mencari jodoh.

Akhirnya ia pun menemukan petunjuk, Sang Pangeran berjalan ke arah utara dan sampai di sungai dekat jembatan.Di jembatan itulah ia melihat seorang gadis cantik yang sedang mengambil air. Gadis tersebut tak lain adalah Dewi Seruni, anak seorang resi bernama Ki Ageng Tritih. Berawal dari pertemuan tersebut, Sang Pangeran dan Dewi Seruni pun menjadi sering bertemu dan akhirnya jatuh cinta. Untuk mencapai ke lokasi air terjun, ada yang terbuat dari bambu dan kayu, nah yang kayu inilah yang Jembatan Asmara.

Misteri Anak-anak Tenggelam di Coban Talun

Tiga pelajar Sekolah Dasar (SD) Insan Mulia Kota Malang  tenggelam di Coban Talun pada tahun 2018. Sebenarnya, yang berenang di Coban Talun ada sekitar 68 orang, namun naas 3 siswa terjebak misteri Coban Talun meski sudah diperingatkan agar tidak berenang mengingat cuaca juga sedang buruk saat itu.

Menurut keterangan, awalnya ada anak yang terpeleset di bebatuan dan jatuh di kolam, yang meski kedalamannya hanya sepaha orang dewasa. Namun, kolam air terjun tersebut ternyata menyimpan misteri karena ada “lubang” atau “kubangan” di sela-sela bebatuan yang memiliki kedalaman hingga 3 meter.  Bahkan ada yang lebih dalam lagi, sampai 4 meter lebih dengan arus yang kuat yang mampu menyedot orang di dekatnya.



Ada cerita menarik beberapa hari terakhir sebelum salah satu korban tewas tenggelam. Anak  yang tengah berikhtiar menjadi hafiz itu sempat menanyakan tentang ayat Alquran tentang Tenggelam pada gurunya.

Coban Talut Tempat Pembuangan Jasad G 30S PKI

Cerita misteri lain yang beredar adalah Coban Talun menyisakan sisa dari tragedi G 30S PKI. Di kawasan hutan di sekitar Coban Talun terdapat beberapa jenazah para korban tragedi G 30S PKI yang meninggal dengan cara yang keji. Beberapa orang yang memiliki mata batin konon dapat melihat potongan-potongan tubuh di sekitar situ.

Rumah Apache di Coban Talun

Sumber: jejakpiknik.com

Coban Talun memiliki beberapa fasilitas penginapan. Salah satunya adalah Apache Camp atau Rumah Apache. Kosepnya dibuat betulan seperti perkampungan khas Indian. Beberapa atribut seperti pakaian Indian dan topi kepala suku Apache bisa disewa di sana.

Meski indah dan instagramable, kelemahan Apache Camp ini adalah kamar mandinya terpisah dari rumah.

Rumah Pagupon dan Taman Bunga di Coban Talun

Spot menarik lainnya adalah rumah Pagupon atau yang dalam bahasa Jawa berarti sangkar burung merpati. Dalam Rumah Pagupon sudah ada kamar mandinya, Fasilitas di sekitarnya juga sudah lumayan lengkap.

Coban Talun Terkenal sebagai Bumi Perkemahan

Ya, Coban Talun lebih dikenal sebagai bumi perkemahan. Anak-anak pramuka minimal pernah berkemah di sini,  Banyak cerita menarik dari pengalaman kamp di sini.

Suasananya yang rimbun, kabut yang bisa turun kapan saja, menjadi tantangan tersendiri buat para pencinta camping. Apalagi ya, Coban Talun terkenal karena kemistisannya sehingga banyak cerita kesurupan di sini. Pas banget tuh buat kemah-kemah penataran.


Gimana, sudah tertarik belum dengan Coban Talun? Kalau kamu berkunjung ke Malang, lalu ke Batu, jangan lupa kunjungi  dan rasakan keindahannya.

5 Tempat Wisata di Banyuasin Kampung Halamanku

Kabupaten Banyuasin yang merupakan pecahan Kabupaten Musi Banyuasin juga memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik. Kelima destinasi tersebut memiliki nilai sejarah dan sosial budaya yang luar biasa.

Kabupaten Banyuasin berbatasan langsung dengan Kota Palembang. Kalau dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kalau nggak mau ribet pilihannya naik LRT atau pesan saja Golden Bird. Cek Golden Bird telepon biar bisa mendapatkan layanannya. Nikmati dulu jalan-jalan di Kota Palembang, makan pempek yang beragam, pindang ikan khas Palembang, dan menikmati senja di Benteng Kuto Besak. Barulah besoknya main ke Banyuasin.

Berikut 5 tempat wisata di Banyuasin yang juga kampung halamanku:

Berikut 5 destinasi wisata di Kabupaten Banyuasin:

Sungsang, Desa Wisata Air

Sungsang sebagai Desa Wisata Air yang terkenal mempunyai pemandangan alam yang indah. Sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata air di daerah Kabupaten Banyuasin yang dapat meningkatkan pemasukan daerah dengan menempuh pembangunan industri pariwisata air dan lebih memantapkan dan menaruh perhatian yang lebih mendalam menyangkut pariwisata di Desa Sungsang.

Selain itu, adat istiadat pernikahan desa Sungsang yang dikenal dengan nama basengi juga menarik disaksikan. Upacara adat pernikahan ini diawali dengan pemotongan hewan kerbau sebagai persembahan untuk sang pencipta sebagai rasa syukur warga atas segala nikmat. Wisata Budaya ini di tampilkan saat acara Pawai Budaya Nusantara di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tim kesenian Kabupaten Banyuasin yang mewakili provinsi Sumatera Selatan dibawahkan oleh 45 penari dari sanggar seni Sedulang Setudung dibawah asuhan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuasin Hj Hafinalty Amiruddin Inoed. Ini menunjukan bahwa Wisata Budaya di Kabupaten Banyuasin memiliki potensi. Adat tersebut merupakan salah satu kekayaan kebudayaan Budaya Bumi Sedulang Setudung yang bisa dijadikan objek wisata dan memperkenalkan kebudayaan daerah yang sangat menarik.

Monumen Front Langkan

Front bersejarah yang terletak di Jalan palembang – betung KM 35. Banyuasin III. Monumen yang dibuat karena pristiwa pertempuran lima hari lima malam dikota palembang tanggal 1 Januari s/d 5 Januari 1947, merupakan salah satu ikon Kabupaten Banyuasin karena bangunan bersejarah ini memiliki daya tarik pengunjung, terkadang banyak para pengunjung yang berkunjung ketempat bersejarah ini untuk melihat monumen dan berfoto disini, Dengan adanya kegiatan pariwisata jangka pendek, misalnya pada akhir pekan atau dalam masa liburan sehingga orang dapat mengadakan perjalanan sekedar untuk melihat bangunan bersejarah, suasana pedesaan atau kehidupan  dan dengan di potensi tempat bersejarah ini diharapkan para wisatawan bisa berkunjung untuk mengetahui dan menambah wawasan tentang tempat bersejarah daerah Kabupaten Banyuasin.

Sembawa, Lokasi Penas KTNA XII

Lokasi Penas KTNA XII Desa Sembawa Kecamatan Banyuasin III, yang dicanangkan Presiden SBY sebagai kawasan percontohan pengembangan agrobisnis atau dikenal dengan agrocenter penelitian tanaman Holtikultura dan mempunyai banyak sarana bangunan yang dibangun pemerintah Propinsi Sumatera Selatan di Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, baik itu berupa jalan, gedung, taman dan rumah adat. Tetapi karena kurang pemanfaatan, perawatan dan perhatian dari Pemerintah setempat sekarang kondisinya terlantar dan disalah gunakan pemanfaatannya oleh remaja. Mulai dari dijadikannya sebagai tempat berpacaran yang dinilai sudah melebihi batas diluar kewajaran sampai yang paling menonjol sekarang sarana jalan dijadikan arena balapan liar. Kondisi lokasi yang menghabiskan anggaran mencapai Rp 3 miliar ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai ikon daerah dan dijadikan objek wisata Kabupaten Banyuasin jika dirawat dan dikelola dengan baik.

Pulau Ekor Tikus

PEMERINTAH Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan akan mengembangkan Pulau Ekor Tikus atau Pulau Alangan Tikus yang berada dalam wilayah Desa Sungsang 2, Kecamatan Banyuasin II, sebagai lokasi wisata yang potensial.

Suasana alam yang menawan mengisyaratan lokasi ini mirip kawasan wisata di Raja Empat ataupun wisata sungai di Mekong Vietnam. Letaknya juga mudah dikunjungi dengan melalui akses Jalan sungai dan laut yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Siapi-api (TAA) hanya berkisar waktu 20 menit sudah dapat sampai.

Taman Nasional Sembilang

Secara administratif pemerintahan, TN Sembilang termasuk wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Aksesibilitas menuju Kawasan TN Sembilang dilakukan dengan menggunakan kendaraan air. Hal ini dikarenakan karakteristik dan lokasi kawasan yang merupakan perairan. Jalur yang umum digunakan untuk mencapai kawasan TN Sembilang adalah dengan menggunakan kendaraan air speedboat dari Palembang.

3 Tempat Wisata Terbaru di Blitar

Bicara tentang wisata Blitar, pikiran kita pasti tertuju pada tempat peristirahatan terakhir presiden pertama Indonesia yang juga dilahirkan di kota ini. Selain itu, kita akan teringat pula pada kompleks Candi Penataran dengan relief dan bangunannya yang memikat. Dua destinasi ini memang sudah dikenal sebagai wisata andalan Kota Proklamator.

Namun, objek wisata di Blitar tak hanya terbatas pada tempat yang telah populer saja. Kini, banyak bermunculan destinasi baru yang tak kalah menarik untuk dijadikan tujuan wisata. Nah, inilah beberapa tempat wisata terbaru di Blitar untuk referensi kunjungan kita ke Blitar.

Gumuk Sapu Angin

Ingin merasakan sejuknya suasana alam dengan udara segar? Berkunjunglah ke Gumuk Sapu Angin (GSA). Tempat wisata baru di Blitar ini menawarkan bentangan alam hijau yang sungguh memukau. Pun, udaranya begitu sejuk sehingga cocok untuk menyegarkan diri sejenak. Berada di ketinggian sekitar 828 mdpl, Gumuk Sapu Angin dapat kita temukan di Resapombo, Doko.

Gumuk Sapu Angin(sumber : explorewisata.com)

Untuk lebih menikmati keindahan pemandangan kawasan Gunung Kawi dan Kelud, kita dapat memanfaatkan gardu-gardu pandang yang tersedia. Selain untuk menyaksikan panorama, gardu-gardu pandang dari bambu ini juga berfungsi sebagai spot favorit untuk berfoto dengan latar alam memesona.

Negeri Dongeng

Mau berfoto dengan landmark populer di seluruh dunia, tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri dan menghabiskan banyak biaya? Cukup datang saja ke Negeri Dongeng Blitar. Di sini, kita bisa menemukan berbagai miniatur bangunan terkenal di dunia, seperti Menara Pisa, Colosseum Roma, Patung Liberty, Menara Eiffel, bahkan Candi Borobudur dan Monas. Tentunya, mengambil gambar berbagai gaya dengan latar landmark ini pasti keren.

negeri dongeng(sumber : travelingyuk.com)

Nah, kita pun berkesempatan berfoto dengan latar unik lainnya. Sebut saja rumah pohon, sepeda terbang, karpet Aladdin, wahana rumah terbalik, maupun pemandangan alam sekitar yang indah. Lelah berfoto, bersantai di bawah teduhnya pohon-pohon belimbing bisa menjadi pilihan. Jangan lupa mencoba relaksasi dengan terapi ikan atau menyegarkan diri di kolam untuk menyempurnakan liburan di Blitar.

Puncak Kejora

Satu lagi tempat wisata terbaru di Blitar yang patut kita kunjungi adalah Puncak Kejora. Objek wisata ini berada di Ngadirenggo, Wlingi. Nikmati kesejukan alam di tengah kawasan hutan teduh yang dipenuhi pepohonan hijau untuk menghapus rasa penat. Anda bisa menikmati pemandangan Gunung Kelud, Kawi, maupun Butak dengan lebih maksimal lewat beberapa gardu pandang di Puncak Kejora.

Puncak Kejora(sumber : detikpiknik.blogspot.com)

Jangan lupa untuk mengabadikan keindahan setiap sudut Puncak Kejora. kita bisa berfoto dengan latar alam di gardu pandang yang terbuat dari bambu dan kayu atau jalan setapak di antara barisan pepohonan. Pilihan lainnya adalah kawasan puncak yang menawarkan bintang kejora besar sebagai background unik untuk mengambil gambar. Spot favorit wisatawan inilah yang juga mendasari penamaan Puncak Kejora.

Masih belum puas menikmati liburan di Blitar, Anda dapat bertandang ke Kebun Teh Sirah Kencong yang tak kalah menarik. Berada tak jauh dari Puncak Kejora, kawasan perkebunan ini menjadi salah satu spot foto Instagramable di Blitar yang tak boleh kita lewatkan.


Itulah beberapa destinasi baru di Blitar yang bisa menjadi alternatif tujuan wisata, terutama jika kita menghendaki suasana berbeda. Selain destinasi di atas, ada pula Zegra (Zero Gravitation) yang menawarkan banyak spot foto unik atau Bukit Teletubbies yang menghadirkan perbukitan hijau lengkap dengan para Teletubbies.

Nah, siapkan segera barang-barang untuk liburan ke Blitar. Jangan lupa booking hotel di Airy. Temukan berbagai hotel di Blitar yang nyaman dan mumpuni, tetapi dengan harga terjangkau.

Semoga liburan kita di Blitar menyenangkan.