All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Lirik Lagu Kun Saraswati dan Cerita Perjalanan

Lirik lagu Kun Saraswati berjudul “Done” itu mengena di hati. Tidak banyak penyanyi Indonesia yang menulis lirik lagu dalam bahasa Inggris. Yang kekinian kita kenal Raisa, Isyana Saraswati, dan kini ada Ku lon Saraswati.

Lirik Lagu Kun Saraswati

DONE
 
Verse 1
Take me with you or let me be with you
But if we knew, I’m trynna forget you
What did I do? I’m feeling so pale blue
This felt so true, but how about you?
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you
Verse 2
I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too
Pre-chorus
The sky starts raining, but my heart keeps tracing 
The storms are raging, but my heart keeps falling
Reff
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue
I’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no I love you
Lagu Kun Saraswati yang berjudul ‘Done’ ini menyuguhkan musik yang megah di lagu tersebut. Lagu balada tersebut juga memiliki karakter pop dan jazz.

Lirik musik Kun Saraswati bercerita mengenai kekecewaan. Judul lagu Kun Saraswati  ‘Done’ ternyata ditulis sendiri oleh Kun Saraswati yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Bagi Kun Saraswati tidak apa-apa merasa sedih, yang penting adalah bagaimana kita bangkit dari kesedihan itu dan melanjutkan hidup dengan semangat baru.

Baca juga:

Lagu Kun Saraswati tersebut sebenarnya mulai diciptakan pada 2016, tapi baru dijadikan sebuah karya lagu pada Agustus 2019.

Siapa Kun Saraswati?

Kun Saraswati ternyata adalah seorang musisi indie muda di Indonesia yang sudah mulai terlihat bakat musiknya sejak umur tiga tahun. Wanita yang lahir pada tanggal 9 September 1998 ini aslinya bernama Kun Andini Putri Saraswati.

Musik memang sudah lama dikenal oleh wanita 21 tahun itu. Ia sudah menunjukkan bakat bernyanyinya sejak usia 3 tahun.

Beranjak dewasa, Kun Saraswati makin yakin dengan dunia seni satu ini. Ia bahkan terjun menimba ilmu di Fakultas Ilmu Seni Musik Universitas Pelita Harapan.

Tentang Produksi Lagu Kun Saraswati

Kun Saraswati bekerjasama dengan Passion Vibe, label rekaman yang digawangi oleh Balanegara Abe dan Edo Abraham. Label ini telah banyak bekerja sama dengan musisi tanah air lainnya seperti Rinni Wulandari, Sherina, Heidi, Laki Official dan masih banyak yang lainnya lagi.

Lagu-lagu Kun Saraswati saat ini sudah dapat didengar di platform streaming musik seperti Spotify, Joox, iTunes, Deeger, dan Google dan tentu saja di channel Youtubenya. Nih kalau mau mendengarkan single Done dari Kun Saraswati.

Kenapa Lirik Musik Kun Saraswati Bisa Related dengan Cerita Perjalananku?

I’m broken in two, I’m drowning in deep blue
My feelings for you, has drowned with me too

 

Pada verse tersebut, aku merasa teringat kenanganku saat pernah hendak menyerah. Tidak banyak yang tahu bahwa aku pernah gagal di ITB dengan alasan yang remeh. Patah hati. Buruknya, patah hati itu aku alami persis sebelum ujian semester. Akibatnya, aku tidak bisa berpikir jernih. Nilaiku hancur, sehancur-hancurnya.

Aku masih ingat rasanya berjalan kaki dari kos kos ke Ciampelas Walk lalu berlanjut ke jalan layang sebelum kembali ke Plesiran. Aku terbelah menjadi dua, tenggelam pula. Tak tahu arah dan harus kemana.

Seandainya saat itu ada lagu Kun Saraswati ini aku akan bisa menghibur diri dan bangkit lebih cepat dari keterpurukanku.

Lagu Kun Saraswati di Belantara Lagu Indonesia

Kehadiran Kun Saraswati dengan lagunya yang berjudul ‘Done’ sebenarnya adalah kabar baik. Kebangkitan musik dengan lirik yang bagus sedang terjadi dan dibawakan justru oleh penyanyi generasi Z. Sebut saja yang paling fenomenal adalah Stephanie Poetri dengan I Love You 3000 yang membuatnya go international dan begabung dengan label 88 rising. Di sana sebelumnya sudah bercokol Rich Brian dan Niki yang terkenal lewat lagunya Low Key.

Seberapa besar peluang Kun Saraswati untuk sukses di industri musik?

Mengingat Kun Saraswati adalah musisi indie, kita bisa merasakan semangat indienya itu di lirik musik Kun Saraswati ini. Risikonya adalah pasarnya segmented. Meski diksi segmented sebenarnya sudah ambigu karena batas major label dengan indie label sudah begitu tipis. Keduanya punga peluang disukai sama besarnya oleh pencinta musik.

Medianya adalah Youtube. Semua penyanyi bisa eksis di Youtube dan menunggu nasib.

Single Kun Saraswati yang berjudul Done ini merupakan pintu masuk ke sana, meski secara pribadi aku tak begitu yakin nasibnya akan memiliki jutaan pendengar. Namun, mengingat materi vokal Kun, saya optimis, jika lagu berikutnya lebih mudah didengar, ia bisa menembus ekspektasi saya. Materi vokal Kun itu bagus banget lho.

Jadi ingat kata seorang teman, bahwa musisi itu akan terus eksis jika terus bisa memproduksi lagu sendiri. Maksudnya mungkin menulis lirik dan membuat musik sendiri. Karena itulah Andmesh sukses. Raisa, Isyana, dan Stephanie Poetri juga sukses. Mungkin Kun yang selanjutnya.

 

Apakah Negara Membaca Eka Kurniawan?

Selumbari, Eka Kurniawan secara resmi menolak pemberian Anugrah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buat saya, selain apakah Eka cocok menerima anugrah tersebut (mengingat nomenklaturnya adalah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi), saya juga bertanya-tanya apakah negara sudah membaca Eka Kurniawan?

Eka Kurniawan memang monumental. Dia adalah sastrawan yang karyanya dibicarakan, diterjemahkan di berbagai negara. Lewat Cantik Itu Luka (yang memang sudah diakui oleh pembaca sastra Indonesia), Eka menggebrak panggung dunia. Karya-karyanya yang lain pun ikut menyusul diterjemahkan.

Apakah negara tahu cerita seperti apa itu Cantik Itu Luka?

Buat saya, Cantik Itu Luka memiliki banyak kritik kepada negara. Komunis sebagai hantu, persoalan kemanusiaan, ah banyak sekali. Sudahkah kemudian negara mengakui bahwa komunitas hanyalah hantu? Bahwa semua persoalan kemanusiaan harus tuntas?

Saya bisa saja menjadi negara yang sangat membenci Eka Kurniawan kalau sudah bisa membaca serius tulisan-tulisannya. Apalagi dalam “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”, Eka dengan cerdik mengkritik situasi politik kiwari dalam polarisasi yang jelas dan nyata. Ia membatalkan yang polar itu dalam sebuah karakter bernama Ajo Kawir yang namanya dekat sekali dengan seseorang, namun kemaluannya tidak bisa berdiri.

Ah, di luar karyanya, bila kita baca tulisan Eka saat menolak penghargaan itu, kita masih juga diperlihatkan sebuah ironi. Hadiahnya “hanya” 50 juta, tak berarti dibanding peraih medali emas yang bermilyar-milyar. Bagi saya ini bukan menunjukkan sisi mata duitan Eka (yang banyak dinyinyiri sebagai alasan Eka menolak), tetapi betapa di luar sana, ada orang-orang yang mungkin masih mempertahankan idealismenya ketika ditawari uang sedikit, tetapi luluh ketika tawarannya di luar akal sehat. Kayak para aktivis itu tuh….


ANUGERAH KEBUDAYAAN DAN MAESTRO SENI TRADISI 2019

“Apakah Negara Sungguh-Sungguh Memiliki Komitmen dalam Memberi Apresiasi Kepada Kerja-Kerja Kebudayaan?”

Ketika sekitar dua bulan lalu saya dihubungi oleh staf Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan informasi bahwa saya calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang rencananya diberikan besok, 10 Oktober 2019, pertanyaan saya adalah, “Pemerintah bakal kasih apa?”

Dia bilang, antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” Sebagai informasi, peraih emas memperoleh 1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya.

Jujur, itu terasa mengganggu sekali. Kontras semacam itu seperti menampar saya dan membuat saya bertanya-tanya, Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih? Meskipun terganggu dengan pertanyaan itu, terpikir juga oleh saya untuk: ya sudah, ambil saja uangnya, setelah itu kembali beraktivitas seperti biasa. Uang sebesar itu bisa untuk membayar iuran BPJS selama bertahun-tahun. Bisa juga untuk meringankan beban Pajak Penghasilan. Saya pun mengikuti sesi wawancara untuk membuat profil.

Ketika surat resmi dikirim melalui surel datang, ternyata pertanyaan itu terus mengganggu saya. Seserius apa Negara memberi apresiasi kepada pekerja sastra dan seni, dan pegiat kebudayaan secara umum? Memberi penghargaan kepada penulis macam saya memang tak akan menjadi berita heboh, apalagi trending topic di media sosial. Tapi, terlepas dari kekesalan dan perasaan di-anak-tiri-kan macam begitu, selama beberapa hari saya mencoba mengingat dan mencatat dosa-dosa Negara kepada kebudayaan, setidaknya yang masih saya ingat:

Beberapa waktu lalu kita tahu, beberapa toko buku kecil digeruduk dan buku-buku dirampas oleh aparat. Kita tahu, itu kasus yang sering terjadi, dan besar kemungkinan akan terjadi lagi di masa depan. Bukannya memberi perlindungan kepada perbukuan dan iklim intelektual secara luas, yang ada justru Negara dan aparatnya menjadi ancaman terbesar.

Akhir-akhir ini, industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku. Saya tak ingin bicara tentang pajak yang diambil dari perbukuan, salah satu yang membuat buku terasa mahal bagi daya beli masyarakat kebanyakan. Bagaimanapun, membayar pajak adalah kewajiban semua orang. Yang jelas, sudah selayaknya Negara memberi perlindungan. Jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah (ilustrasi: gampang sekali aparat merampas buku dari toko), setidaknya Negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi? Meyakinkan semua orang di industri buku hak-haknya tidak dirampok?

Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis (bahkan siapa pun?) atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan. Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar.

Di luar urusan hadiah, ada hal-hal mendasar seperti itu yang layak untuk membuat saya mempertanyakan komitmen Negara atas kerja-kerja kebudayaan. Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan.

Dengan kesadaran seperti itulah, beberapa hari lalu saya membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan tersebut, bahwa saya memutuskan tidak datang pada tanggal 10 Oktober 2019 besok, dan bahwa saya menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. Saya tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan Negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan, bahkan cenderung represif. Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan.

Terakhir, terima kasih sekaligus permohonan maaf untuk siapa pun yang telah merekomendasikan saya untuk anugerah tersebut.

9 Oktober 2019

Joker, Pandeglang, dan Identitas Moral

 

Saya bersorak, bertepuk tangan, tatkala Joker menembak Murray pas di kepalanya. Apakah saya tidak bermoral?

Sempat saya tulis di Twitter bahwa karya seni tidak usah diidentikkan dengan moralitas. Lalu apa yang menjadi keutamaan sebuah cerita (dan film)? Jawabannya adalah ironi.

Saya meyakini, cerita yang baik adalah yang memuat ironi dan menyajikannya dengan cara yang luar biasa. Parasite melakukan itu. Joker juga. Ironi merasuk ke setiap penokohannya. Ketika kita terbuai dengan ironi itu, maka moralitas adalah sesuatu yang ambigu.

Saya teringat sebuah lelucon, “Dosa apa yang paling dicintai oleh Tuhan?”

Jawabannya, “Memperkosa anak setan.”

Dari sudut pandang moral yang baku, keduanya tidak bisa dibenarkan. Namun, pada kenyataannya banyak orang bersorak dengan kehadiran “Vigilante” macam Robin Hood dan City Hunter yang mencuri dari mereka yang “corrupt” dan bukan “orang baik”. Dan kali ini Joker berhasil mencuri perhatian yang sama secara ekstrem, membuat banyak orang menyadari ironi yang hadir di dalam kehidupannya.

Saat Joker masih tayang, di Pandeglang kita menyimak soal penusukan. Lalu tidak sedikit orang yang seperti bersorak, bertepuk tangan, menduga-duga itu semacam konspirasi, dan semacamnya… seperti orang-orang yang mendukung Joker melakukan itu.

Apakah mereka tidak bermoral? Apakah mereka politis?

Bodoh sekali rasanya jika kita menjustifikasi hal semacam itu. Buat saya, mereka hanya melihat ironi. Ya, ironi adalah ironi. Ironi tidaklah politis (dalam kacamata praktis). Seperti yang Joker bilang ke Murray, “I’m no political, Murray!”

Tidak bermoral? Ah, saya jadi teringat satu episode “It’s Okay That’s Love” yang dibintangi Jo In Sung dan Ging Hyo Jin. Saat In Sung yang memerankan tokoh penulis bertemu Hyo Jin, Sang Psikiater di sebuah Talk Show, ia mengatakan bahwa ciri psikopat ada di dalam diri setiap menusia. Ia bertanya kepada penonton di studio, “Siapa yang pernah memiliki pikiran untuk membunuh orang lain?” Lalu hampir semua penonton mengangkat tangan.

Hyo Jin tidak kalah cerdik. Dia ikut bertanya, “Kalian yang pernah punya pikiran membunuh, apakah memang melakukannya atau ingin membunuhnya betulan?”

Lalu, tidak seorang pun yang mengangkat tangan.

Ada perbedaan besar antara hadirnya “pikiran ingin membunuh” seperti misalnya dalam hal Pandeglang, “Ah, kenapa kok pisaunya kecil sekali.” dengan benar-benar merencanakan pembunuhan. Dan itu normal karena Anda semua menyadari sebuah ironi.

Bahkan termasuk, bila suatu hari kita menyadari ada ironi di dalam diri kita sendiri!

Cerpen Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kanguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013) dialihbahasakan oleh Habi Hidayat

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


Pada akhirnya, pagi yang kami tunggu-tunggu untuk melihat bayi kangguru datang juga. Kami bangun dari tidur pada pukul enam pagi, membuka gorden, dan yakin hari itu adalah hari yang sempurna untuk kangguru. Kami buru-buru membersihkan diri, sarapan, memberi makan kucing, buru-buru mencuci baju lalu mengenakan topi untuk menghalau sinar matahari, dan kami pun berangkat.

“Apa kau pikir bayi kangguru itu masih hidup?” pacarku bertanya saat kami di kereta.

“Aku yakin ia masih hidup. Tak ada satu berita pun yang mengabarkan bahwa bayi kangguru itu mati. Jika saja ia mati, aku yakin kita sudah membacanya di koran.”

“Mungkin saja tidak mati, tapi bisa saja ia sakit dan dirawat di rumah sakit.”

“Ya, tapi kalau pun itu terjadi, kita sudah membaca di koran.”

“Bagaimana jika kangguru itu ketakutan dan bersembunyi di sudut kandang?”

“Apa bayi kangguru punya rasa takut?”

“Bukan bayinya. Tapi ibunya! Mungkin ia mengalami trauma dan menyudutkan diri bersama bayinya di kandang yang gelap.”

Seorang wanita memang selalu memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Trauma? Trauma macam apa coba yang bisa menyerang seekor kangguru?

“Jika aku tak melihat bayi kangguru hari ini, aku pikir aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi,” katanya.

“Kupikir juga begitu.”

“Maksudku, pernahkah kau melihat bayi kangguru?”

“Tidak, aku tak pernah melihatnya.”

“Apa kau yakin kau bakal punya kesempatan lain untuk melihat bayi kangguru?”

“Aku tak tahu.”

“Nah, karena itulah aku gelisah.”

“Ya, tapi dengar dulu,” kataku nyerocos balik. “Aku tak pernah melihat seekor jerapah melahirkan, atau bahkan melihat hiu yang berenang-renang. Jadi apa masalahnya dengan bayi kangguru?”

“Ya karena ia bayi kangguru,” katanya. “Karena itulah.”

Aku pun menyerah dan mulai membalik-balikkan halaman koran. Aku tidak pernah satu kali pun menang-argumen dengan seorang perempuan.

BAYI kangguru itu, sesuai perkiraan, masih hidup dan sehat, ia (entah jantan atau betina) terlihat tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan gambarnya yang dimuat di koran, bahkan ia melompat-lompat di sekitar pagar kandang. Ia tak lagi seekor bayi kangguru, hanya kangguru mini. Pacarku pun kecewa.

“Ia bukan bayi lagi,” katanya.

“Tentu saja ia masih bayi,” kataku mencoba menghiburnya.

Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Ia cuma menggelengkan kepala. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan tidak bakal mengubah kenyataan bahwa si bayi kangguru ternyata sudah besar. Jadi aku cuma diam.

Aku bergegas menuju warung kudapan dan membeli dua cokelat es krim, dan ketika aku kembali ia masih bersandar menghadap kandang kangguru, menatap bayi kangguru itu lekat-lekat.

“Ia bukan lagi seekor bayi kangguru.”

“Kau yakin?” kataku seraya memberinya es krim.

“Seekor bayi kangguru mesti berada di kantung induknya.”

Aku mengangguk dan menjilat es krimku.

“Tapi yang ini tidak lagi berada di kantung induknya.”

Kami berusaha mengenali induk kangguru. Sang ayah, mudah untuk dilihat, ia tampak paling besar dan begitu tenang di antara lainnya. Layaknya seorang komposer yang bakatnya telah memudar, ia hanya diam saja, menatapi dedaunan yang menjadi makanannya. Dua kangguru lainnya adalah betina, terlihat dari bentuk, warna, dan air muka mereka. Salah satunya mesti ibu si bayi kangguru.

“Satu di antara dua kangguru itu mesti ibu si bayi, dan satu lagi bukan,” kataku berkomentar.

“Um.”

“Jadi yang mana yang bukan ibunya?”

“Aku tak tahu,” katanya.

Kami tak sadar bahwa ternyata bayi kangguru itu melompat-lompat di pagar kandang, lalu sesekali mengorek-ngorek tanah untuk alasan yang tidak jelas. Ia (entah jantan atau betina) tampaknya menemukan cara untuk membuat dirinya sibuk. Si bayi kangguru melompat-lompat di sekitar bapaknya berdiri, mengunyah sedikit dedaunan, dan mengorek-ngorek lumpur, mengganggu kangguru betina, lalu berbaring di tanah, berdiri lalu melompat-lompat lagi.

“Bagaimana bisa kangguru melompat-lompat begitu cepat?”

“Agar bisa melarikan diri dari musuh?”

“Musuh apa?”

“Manusia,” kataku. “Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan menyantap mereka.”

“Kenapa bayi kangguru sanggup naik ke kantong ibunya?”

“Agar bayi kangguru bisa menyelamatkan diri bersama ibunya. Bayi kangguru tidak bisa berlari cepat.”

“Jadi mereka terlindungi?”

“Ya,” kataku. “Sang ibu melindungi anak-anaknya.”

“Berapa lama sang ibu melindungi anak-anaknya seperti itu?”

Aku sadar aku seharusnya membaca beberapa hal tentang kangguru di sebuah ensiklopedia sebelum kami bertamasya kecil seperti ini. Rentetan pertanyaan seperti ini memang sudah seharusnya aku perkirakan.

“Sebulan sampai dua bulan, aku bayangkan.”

“Tapi bayi itu cuma berumur sebulan sekarang,” katanya seraya menunjuk bayi kangguru. “Jadi mestinya ia masih di kantung ibunya.”

“Ya, aku pikir juga begitu.”

Matahari mengangkasa di atas kepala, dan kami tak bisa mendengar teriakan anak-anak di kolam renang di dekat kami. Sepotong awan putih melintasi kami.

Seorang pelajar tengah bekerja di warung hotdog yang dibentuk layaknya sebuah minivan dengan beberapa kotak pengeras suara yang mengedarkan alunan suara Stevie Wonder dan Billy Joel saat aku menunggu hotdog yang tengah dimasak.

Saat aku kembali ke kandang kangguru, pacarku buru-buru berkata, “Lihat!” menjerit, seraya menunjuk satu di antara kangguru betina. “Kau lihat, bukan? Bayi kangguru di kantong ibunya!”

Aku cukup yakin bayi kangguru itu sudah meringkuk di kantung ibunya (anggap saja kangguru betina itu adalah benar-benar ibunya). Kantung kangguru betina itu benar-benar terisi penuh, dan sepasang telinga mungil dan sepucuk ujung ekor mengintip dari balik kantungnya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa dan benar-benar membuat tamasya kami tak sia-sia.

“Mungkin terasa berat membawa bayi kangguru di dalam kantung,” katanya.

“Jangan khawatir, kangguru itu hewan yang kuat.”

“Betul begitu?”

“Ya, tentu. Karena itulah mereka bertahan hidup.”

Meski hidup dengan panasnya matahari, ibu kangguru tidak menderita. Pacarku terlihat layaknya seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan belanjaan sorenya di supermarket di sekitar wilayah Aoyama yang indah, dan tengah bersantai istirahat menikmati secangkir kopi di warung kopi.

“Ibu kangguru itu benar-benar melindungi bayinya, bukan?”

“Ya.”

“Aku bayangkan bayi kangguru itu tidur lelap.”

“Ya, mungkin saja.”

KAMI menyantap hotdog dan meminum kola seraya berjalan meninggalkan kandang kangguru.

Saat kami pergi, sang ayah kangguru masih menatapi makanannya seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang ibu kangguru dan bayinya menyatu, istirahat di antara aliran waktu yang tenang, ketika satu kangguru misterius lainnya melompat-lompat di pagar seolah-olah ingin melarikan dirinya dari kandang.

Hari itu rupanya jadi hari yang panas, hari yang panas pertama bagi kami setelah beberapa waktu yang lama.

“Hei, kau ingin minum bir?” taya pacarku.

“Ayo.”(*)

 

Cerpen Umar Kayam: Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Umar Kayam

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”

“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini …. Uuuuuup ….”

Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.

Dari dapur, “bekas suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”

“Ya, ada apa dengan dia?”

“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”

Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.

“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”

“Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”

“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”

“Oh.”

“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”

Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.

“Marno, Manisku.”

“Ya, Jane.”

“Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?”

“Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”

“Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”

“Kenapa?”

“Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.”

“Tetapi bukankah belum tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”

Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.

“Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?”

Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.

“Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.”

“Kau anak yang manis, Marno.”

Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.

“Marno.”

“Ya, Jane.”

“Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”

“Oh.”

Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini dipegangya itu.

Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.

“Eh, kau tahu, Marno?”

“Apa?”

“Empire State Building sudah dijual.”

“Ya, aku membaca hal itu di New York Times.”

“Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?”

“Tidak. Bisakah kau?”

“Bisa, bisa.”

“Bagaimana?”

“Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah ….”

Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.

“Oh, kalau saja …..”

“Kalau saja apa, Kekasihku?”

“Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”

“Lantas?”

“Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit.”

“Kau anak desa yang sentimental!”

“Biar!”

Marno terkejut karena kata “biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.

“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”

“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”

Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.

Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.

“Jet keparat!”

Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

“Aku merasa segar sedikit.”

Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea ……

“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?”

“He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”

“Oh, lupakan saja. Aku Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep blue sea ….”

“Marno.”

“Ya.”

“Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”

“Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke Park-nya.”

“Dalam perkawinan kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Oh, aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”

“Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.”

Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?

“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!”

“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”

“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.”

“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”

“Aku membosankan jadinya.”

Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.

“Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.

“Marno, kemarilah, duduk.”

“Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ.”

“Kemarilah, duduk.”

“Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”

“Kunang-kunang?”

“Ya.”

“Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”

“Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.”

“Begitu kecil?”

“Ya. Tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”

“Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.”

“Ya, pohon-hari-natal.”

Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.

“Marno, waktu kau masih kecil ….. Marno, kau mendengarkan aku, kan?”

“Ya.”

“Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?”

“Mainan kekasih?”

“Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”

“Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.”

“Itu bukan mainan, itu piaraan.”

“Piaraan bukankah untuk mainan juga?”

“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”

“Siapa dia?”

“Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.”

“Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifie.”

“Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”

Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno yang masih bersandar di jendela.

“Marno, Sayang.”

“Ya.”

“Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?”

“Belum, Jane.”

“Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane.”

“Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.”

Sekarang Jane ikut tersenyum.

“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”

“Apakah itu, Jane?”

“Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”

Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.

“Aku harap kausuka pilihanku.”

Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.

“Kausuka dengan pilihanku ini?”

“Ini piyama yang cantik, Jane.”

“Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”

Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.

“Jane.”

“Ya, Sayang.”

“Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.”

“Oh? Kau banyak kerja?”

“Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah ….”

”Kaumerasa tidak enak badan?”

“Aku baik-baik saja. Aku …. eh, tak tahulah, Jane.”

“Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”

“Terima kasih, Jane.”

“Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.”

“Oh”.

Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.

“Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.”

“Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?”

‘Tentu, Jane.”

“Kapan, aku bisa mengharapkan itu?

“Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.”

“Kautahu nomorku kan? Eldorado”

“Aku tahu, Jane.”

Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga.

Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.

Rubrik Puisi | Puisi Anugrah Gio Pratama

TENTANG KAU

untuk Hetty Nurul Pratiwi

Kau menyukai
badai yang berlalu
dan menyukai kemesraan
yang fana bagai abu.

Kau selalu berhasil
menyenandungkan rasa perih,
seakan hidupmu adalah luka
yang tak kunjung memulih.

Kau seperti ketabahan dari musim semi,
merangkai setiap duka jadi bunga
berwarna pelangi.

2019


TIDUR DI MATAMU

Setiap malam,
aku ingin tidur di matamu
dan berselimutkan air matamu.

2019


KETIKA KITA TUA

Ketika kita tua.
Waktu mematahkan tubuhnya.

Dan saat masa itu tiba,
aku hanya ingin menjadi
satu-satunya pakaian yang memeluk
kelemahan tubuhmu tanpa henti,
yang kau sukai dan selalu kau kenakan
berulang kali.

2019


PELANGI YANG INDAH JATUH DI ANTARA SENYUMMU

Pelangi yang indah
telah jatuh di antara senyummu.

Sejak saat itu aku merasa
bahwa seluruh kebahagiaan
yang luruh terlahir
dari manisnya bibirmu.

Sungguh, aku rela menghabiskan
sisa umurku untuk mengumpulkan
senyummu itu.

Lalu menerjemahkannya
hingga aku benar-benar
lelah dan lemah.

Sungguh, aku merasa
bahwa senyummu itu
telah cukup kuat

untuk membangun
seribu kebahagiaan
yang ingin kumiliki,

telah cukup kuat
untuk meruntuhkan
seratus kesedihan
yang kuperam selama ini.

2019


SUNGGUH AKU INGIN

Sungguh, aku ingin
menyaksikan pagi yang jauh
jatuh dengan cepat dan tepat
menuju ke arah pelukan musim semi.

Dan sungguh, aku ingin
menyaksikan sepasang matamu
memancarkan cahaya untuk kegelapan hidupku
di hari ini dan masa depan nanti.

2019


Tentang Penulis

Puisi Anugrah gio pratama

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999.  Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang akan terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang
Remuk Berkeping-keping (Interlude).


Silakan kirimkan puisimu ke Rubrik Puisi Catatan Pringadi. Akan ada bentuk apresiasi pulsa Rp25.000 buat kamu.