All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Merawat Akuarium Dunia di Teluk Saleh

Kaget ketika kudengar kabar dari teman-teman Adventurous Sumbawa, bahwa terumbu karang di Teluk Saleh terancam kerusakan. Sebuah foto yang dikirimkan padaku menggambarkan keadaan terumbu karang di Dangar Ode (Dangar Kecil), salah satu pulau di Teluk Saleh, sudah sedemikian hancur akibat penggunaan bom ikan oleh nelayan. Padahal di tempat yang sama, satu tahun sebelumnya, terumbu karang di sana begitu indah. Bahkan beberapa coral table menjadi keindahan tak terbantahkan dengan berbagai jenis ikan berenang di sekitarnya. Kini, sudah saatnya, kita serius memikirkan untuk merawat akuarium dunia di Teluk Saleh tersebut.

Teluk Saleh Continue reading Merawat Akuarium Dunia di Teluk Saleh

Cerita Misteri Curug Kondang

Namanya saja Curug Kondang. Sudah pasti curug ini kondang atau terkenal.  Sebab, curug ini pernah dianggap sebagai curug yang paling indah di kawasan Taman Nasional Halimun Gunung Salak. Pernah, karena sekarang, yang lebih terkenal dan indah ada di Balong Endah. Tepat di atasnya Curug Kondang.

Bukan tanpa alasan kenapa Curug Kondang sangat terkenal. Pertama, jalur trekingnya mudah. Kurang dari 200 m dari parkiran kendaraan. Kedua, airnya jernih sekali. Jika difoto, ia akan berwarna kehijauan, eksotis sekali. Ketiga, bentuk air terjunnya menjuntai indah, dan termasuk air terjun yang tidak pernah kering di kawasan Taman Nasional Halimun Gunung Salak. Dan keempat, kolam di bawah air terjun sangat asik diberenangi, ditambah lagi dengan beberapa bebatuan di pinggir, yang menjadi tempat untuk melompat.

Continue reading Cerita Misteri Curug Kondang

Sajak Setelah Umur 30 Tahun

 

Setiap kereta datang, kukenang masa kecil. Bapak pulang
di Kertapati, membawa sisa keringat di bajunya.
Lalu malam demi malam bersama, setelah Maghrib berjamaah
Ia mengajariku Hijaiyah. Di sana ada Tuhan, dan Ia
berharap aku menemukannya, lalu menyimpannya baik-baik di dada.

Sebelum kereta lain merampasnya, dan aku hanya bisa
memberikan lambaian tangan paling sempurna. Lalu di satu titik
Ia menghilang. Dan aku meraba dadaku, berdoa pada Tuhan di sana
Sesegera mungkin Bapakku dikembalikan.

Aku tidak pernah tahu, nasib seorang lelaki ternyata
harus menanggung kedewasaan. Setelah kereta datang
aku masuk ke gerbong nasib, berdiri, dan sedemikian karib
dengan waktu yang sia-sia. Sambil kuingat tangisan
anakku yang tak rela Bapaknya pergi, setelah terpaksa
kulepas pelukannya yang gigih.

Aku baru tahu, ternyata hati yang pergi
tak kalah pedihnya
dengan hati yang ditinggalkan.

Menonton Tari Kecak di Uluwatu

Tiba-tiba Sang Hanoman melompat ke sana kemari. Firasatku mengatakan ia akan menghampiri. Dan benar saja, Sang Hanoman datang dan duduk di sampingku, berupaya mengusiliku. Namun, bukan takut, spontan kukeluarkan ponsel, dan kulakukan wefie bersama Sang Hanoman saat menonton Tari Kecak di Uluwatu.

Hanoman di Uluwatu

Continue reading Menonton Tari Kecak di Uluwatu

Undangan Menulis Antologi Puisi Pringsewu

PRINGSEWU MEMANGGIL MELALUI PUISI

Pringsewu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten ini disahkan menjadi kabupaten dalam Rapat Paripurna DPR tanggal 29 Oktober 2008, sebagai pemekaran dari Kabupaten Tanggamus. Kabupaten ini Terletak 37 kilometer sebelah barat Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung.

Sejarah Pringsewu diawali dengan berdirinya sebuah perkampungan (tiuh) bernama Margakaya pada tahun 1738 Masehi, yang dihuni masyarakat asli suku Lampung-Pubian yang berada di tepi aliran sungai Way Tebu (4 km dari pusat Kota Pringsewu ke arah Selatan saat ini). Kemudian 187 tahun berikutnya, pada tahun 1925, sekelompok masyarakat dari Pulau Jawa, melalui program kolonisasi oleh pemerintah Hindia Belanda, juga membuka areal permukiman baru dengan membabat hutan bambu yang cukup lebat di sekitar tiuh Margakaya tersebut. Karena begitu banyaknya pohon bambu di hutan yang mereka buka tersebut, oleh masyarakat desa yang baru dibuka tersebut dinamakan Pringsewu, yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya Bambu Seribu. Continue reading Undangan Menulis Antologi Puisi Pringsewu

Aturan Pemakaian Tanda Baca Sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Ada sekian banyak tanda baca dalam bahasa Indonesia. Kita mengenal ada tanda titik, tanda koma, hingga tanda elipsi. Kira-kira bagaimana sih aturan pemakaian tanda baca tersebut?

Penulisan Tanda Titik (.)

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan. Continue reading Aturan Pemakaian Tanda Baca Sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia