All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Menjadi Pendekar Anak dan Melindungi Anak Indonesia

Anak-anak merupakan generasi yang perlu dilindungi dengan sepenuh hati. Sebab, anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin pada masa yang akan datang. Peran besar ada di pundak anak-anak Indonesia agar Indonesia bisa menjadi negara yang maju di masa depan.

Agar anak-anak Indonesia bisa menjadi generasi penerus bangsa yang unggul, maka dibutuhkan bantuan dari para pendekar anak melalui pemberian sumbangan online secara rutin setiap bulannya. Sebab, masih banyak anak Indonesia yang kurang beruntung dan belum hidup dalam kondisi yang sejahtera hingga sulit untuk bisa menjalani tumbuh kembang secara optimal dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Padahal, agar bisa menjadi calon pemimpin anak-anak perlu menjalani proses tumbuh kembang secara optimal melalui pemberian gizi yang lengkap, fasilitas kesehatan yang layak hingga lingkungan tempat tinggal yang sehat.

Menjadi pendekar anak dan membantu anak-anak Indonesia agar bisa hidup dengan sejahtera bukanlah hal yang sulit. Anda bisa melakukannya dengan cara memberikan donasi melalui UNICEF Indonesia. UNICEF merupakan Lembaga resmi dunia yang berfokus pada kesejahteraan anak-anak. Melalui UNICEF Indonesia, Anda bisa membantu anak Indonesia secara mudah karena UNICEF merupakan Lembaga yang terpercaya punya misi untuk memastikan setiap anak Indonesia hidup sejahtera.

Panduan Donasi Online

Untuk menjadi pendekar anak, Anda bisa melakukannya secara online melalui laman resmi donasi UNICEF Indonesia di link berikut https://www.supportunicefindonesia.org/. Kemudian, pilih opsi jadi pendekar anak dan tentukan nominal donasi yang ingin disalurkan setiap bulannya. Tentukan metode pembayaran yang diinginkan serta masukkan data diri seperti nama, alamat email dan nomor handphone. Selesaikan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit agar donasi bisa dilakukan secara otomatis setiap bulannya. Selamat! Anda telah berhasil menjadi pendekar anak yang turut serta membantu melindungi anak Indonesia agar bisa mendapatkan kehidupan yang sejahtera.

Selain mudah dan terpercaya, sebagai pendekar anak Anda juga bisa melihat seberapa besar manfaat dari donasi yang telah disalurkan setiap bulannya. Anda bisa melihatnya melalui berita kegiatan seputar UNICEF Indonesia yang bertujuan untuk membantu anak-anak di Indonesia sepenuhnya. Ayo jadi pendekar anak dan bantu lindungi anak Indonesia agar memiliki kehidupan yang sejahtera.

Rasa Pempek Cek Uni & Tips Agar Pempek Tidak Basi di Perjalanan

Awal Agustus kemarin, aku pulang ke Palembang. Kakakku menikah. Setiap perjalanan ke Palembang hendak berakhir, pasti ada satu oleh-oleh yang wajib kami bawa. Yak, pempek. Meski bisa beli online atau banyak juga toko pempek di Depok, Bogor, dan Jakarta, tetap saja beda sensasinya. Nah, kemarin, aku mencoba beli di toko pempek baru. Namanya Pempek Cek Uni. Aku penasaran dengan rasa Pempek Cek Uni ini.



Namanya unik. Cek Uni. Usut diusut ternyata, yang punya orang Minang. Sukunya Bungatanjung. Tapi suaminya orang Palembang. Pempek Cek Uni ini juga baru berdiri. Mungkin baru setahunan terakhir. Lokasinya ada di km. 12, dekat terminal Alang Lebar. Continue reading Rasa Pempek Cek Uni & Tips Agar Pempek Tidak Basi di Perjalanan

Download Kumpulan Puisi Koran Tempo

Puisi-puisi ini termuat di Koran Tempo dan dikumpulkan oleh Ardy Kresna Crenata. Lumayan, ada lebih dari 200 halaman. Bisa kita baca dan pelajari kenapa puisi ini bisa dimuat di Koran Tempo.

Silakan download kumpulan puisi Koran Tempo.



Continue reading Download Kumpulan Puisi Koran Tempo

Download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II

Hei, berikut ini adalah Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II. Kamu bisa download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester I di sini.

Silakan download Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2018 Semester II.  Passwordnya catatanpringadi.com. Biar kalian ingat sama blog ini.



Kumpulan Cerpen Kompas tahun ini melahirkan juara bersama yaitu Faisal Oddang dan Martin Aleida. Berikut adalah cerpen Martin Aleida tersebut.


Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 21 Oktober 2018)

Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang luntur dibasuh waktu. Di dalamnya ada sehelai baju tetoron biru lengan pendek, kenang-kenangan dari kawan yang dibuang entah ke penjara mana, beberapa tahun lalu. Juga sepotong celana pendek hitam yang ditemukannya hanyut, dan dijangkaunya dari arus ketika kerja paksa di Sungai Silau.

Itulah harta yang dia punya setelah tiga belas tahun ditendang dari kurungan yang satu ke bui yang lain. Kalau tamsilnya lubang jarum, lubang yang dia lalui sepanjang hidupnya adalah lubang jarum berduri. Berapi.

Setelah disekap sehari-semalam, dia, dan beberapa orang, dijajarkan di tubir Sungai Ular, tiga belas tahun lalu. Kedua tangan mereka disilangkan di belakang, diikat pelepah pisang. Dibentak supaya menghadap ke sungai. Disusul dentuman mesiu yang menghambur, menerjang sampai jauh. Menerabas pohon-pohon karet yang jadi saksi, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Peluru mendesing panas di kupingnya. Jantungnya gemuruh, tetapi dia tak terluka.

Sekelebat sempat dia dengar degup dan desis peluru menghantam kepala kawan di sebelah. Dari sarang otak itu, darah memercik ke bahunya, dan tubuh itu tumbang menimpa bahunya. Dia biarkan tubuh itu menindih. Berdua mereka tercebur, dilarikan air yang memerah. Yang satu sempat menggelepar memusar air, saat ajal menjemput, kemudian dibalun arus entah ke mana. Sementara dia menenggelamkan diri, menyerah pada air hendak dibawa ke mana saja. Sesekali, dia mengapungkan hidung untuk menyambung nyawa. Dia digiring air, dan mendamparkannya di mulut muara.

Seminggu, dia hanya makan buah dan dedaunan. Menenggak air sungai. Suntuk akal dan pikirannya. Dia putuskan berjalan kaki menyusuri tepi sungai menuju kampung kelahirannya. Kedua orangtuanya, seluruh sanak-saudara, menyambutnya sebagai orang yang sudah mati, hidup kembali. Pada saat yang sama, dia juga dianggap sebagai hama yang harus segera dihalau karena hanya akan memancing bencana. Tak lama kemudian, keajaiban itu benar-benar berubah dan menjaiar jadi berita buruk. Sepasukan tentara dan tukang jagal mencium keberadaannya. Dia diburu. Dibekuk untuk kedua kalinya. Layaknya tikus yang tertangkap basah, dia dilemparkan ke sel di markas Angkatan Darat. Dioper ke penjara kabupaten, dan akhirnya disekap di kamp di Jalan Gandhi. Ya, Gandhi…. Bagaimana mungkin sebuah nama penyebar anti-kekerasan, di kota ini, telah berubah menjadi pusat pembungkaman kalau bukan pembinasaan manusia….

Selama belasan tahun, ratusan, kalau bukan ribuan manusia, disekap di situ. Sedikit yang bebas. Kebanyakan dipindahkan ke kamp-kamp yang lebih kecil atau penjara di kota lain. Ada pula yang dibuang ke Jawa, ke Nusakambangan, sebelum dicampakkan ke Pulau Bum. Banyak yang menemukan ajal karena kelaparan dan penyakit. Makanan begitu jauh. Cuma kematian yang begitu akrab di sini. Kematian yang disengaja oleh yang berkuasa ataupun tidak.



Komandan kamp membacakan nama-nama tahanan yang dibebaskan menjelang siang hari itu. “Ulong Bahari!” Nama lelaki ajaib itu setengali diteriakkan dari daftar dengan entakan. Yang punya nama bangkit. Melangkah tanpa melihat kiri kanan. “Seminggu sekali kau wajib lapor ke sini! Paham kau ..!?” tentara itu menghardik lagi.

Bahari mendekat pada yang punya suara, yang punya kuasa atas dirinya, menerima secarik kertas, dan memisahkan diri dari kawan-kawan pesakitan lain yang tetap duduk mencangkung di tanah yang berdebu. Dari tangan tentara itu, dia menerima surat pembebasan yang huruf-hurufnya bisa membuat kepala manusia normal jadi batu. Tak ditulis sejak kapan dia ditahan. Cuma disebutkan dia tidak terlibat G30S. Tiga belas tahun dikurung, baru hari ini dia dinyatakan tidak bersalah. Darahnya tersirap menatap kertas itu. Akan tetapi, dia pikir tiga belas tahun disekap sudah terlalu lama untuk mempermasalahkan ketidakadilan yang bodoh ini. Yang dihadapi adalah kecerobohan, kesewenang-wenangan, dengan ujung senjata sebagai pembenaran. Terlalu mahal sebuah kebebasan yang baru saja diberikan dengan bentakan untuk dipersoalkan.

Dia tinggalkan pekarangan kamp jahanam itu. Perasaannya campur aduk antara nikmat kebebasan dan kewajiban akan sumpah setia yang harus dituntaskan. Sejak masih meringkuk di dalam kamp, dia sudah bertekad: suatu ketika, setelah bebas, dengan jalan bagaimanapun, dia harus berangkat ke ujung Sumatera. Naik bus “Sibualbuali”, kalau angkutan orang Batak itu memang masih ada, menuju Padang Sidempuan. Berganti bus ke Bukittinggi. Tegak lurus ke selatan, menuju Lahat, Bandar Lampung, dan mendarat di Tanjung Karang. Di kota terakhir ini, dia harus menemui seorang sersan mayor. Dengan hati yang memendam cinta sekeras karang, dia akan meminta surat pernyataan dari tentara itu, yang menegaskan bahwa “yang bertanda tangan di bawah ini tidak keberatan” jika dia, Ulong Bahari, menikah dengan tahanan perempuan yang jadi istri gelapnya, dulu.

Sebagai tentara yang pekerjaannya hanyalah menista mereka yang lemah, maka dengan surat itu dapat ditafsirkan dia telah berpahala memberikan kebebasan kepada seorang perempuan untuk memilih jalan hidup. Begitulah jalan pikirannya sehingga dengan enteng dia menuliskan surat itu. Lagi pula, dengan begitu, dia akan terbebas dari kewajiban memberi nafkah. Keharusan yang tidak dia pedulikan lagi, yang mungkin juga sengaja dia lakukan, untuk menyiksa perempuan itu selama bertahun-tahun. Perempuan yang dia tendang setelah memuaskan birahi terkutuk pada tubuh yang dilumpuhkan. Namun, seperti kepercayaan orang baik-baik, Tuhan tak pernah terlena, kecuali mengulur waktu untuk memberikan kemenangan bagi korban. Seperti sekarang ini. Pada seorang perempuan beranak satu pula.

Perempuan itu jauh panggang dari api untuk sudi diperistri secara gelap-gelapan oleh sang sersan mayor yang menjadi komandan kamp Gandhi. Namun, apa mau dikata, dia harus berdamai dan menyerah pada keteguhan hatinya untuk menyelamatkan diri dan putrinya, yang berusia dua bulan, yang ikut dijebloskan ke dalam kamp. Dia dan anaknya ditempatkan di kamar yang dulunya adalah dapur. Berimpitan dengan tahanan perempuan lain.

Halawiyali namanya. Sibarani marganya. Menjelang akhir 1964, setelah menikah, suaminya memperoleh kesempatan belajar metalurgi di Moskwa. Menurut rencana, setelah menetap mantap di sana, dia akan balik menjemput istri yang ditinggal selagi hamil muda.

Malang tak pernah dicari. Akan tetapi, datang sesukanya. Bencana politik mengubah segala. Insinyur metalurgi itu tak bisa kembali ke Tanah Air. Sementara istri yang ditinggalkan menemukan nasib yang kesengsaraannya tak terjangkau imajinasi manusia biasa. Ayahnya ditangkap, rumahnya yang bertanda gambar palu-arit diserbu massa, dibakar, jadi abu, luluh dengan tanah. Halawiyah diarak, diteriaki sebagai perempuan jalang, punya anak gampang. Makian paling rendah untuk seorang perempuan baik-baik.

Dia dan anaknya yang masih merah melarikan diri ke kota kecil, sekitar seratus kilometer jauhnya. Pada hari-hari penuh kegelapan dan peradaban negeri ini berada pada titik nol, di mana nyawa dengan mudah melayang karena tuduhan komunis, keluarga yang ketempatan menolak untuk menampungnya lebih lama. Apa kata orang, jadi tuan rumah untuk perempuan jalang kodah, kata orang Melayu. Rumah keluarga itu juga sempat dilempari massa yang menelan hasutan bahwa komunis dan perempuan yang punya anak haram harus dibinasakan.

Halawiyah kembali lagi ke kota besar di mana dia lahir. Tanpa tujuan. Tak sesiapa pun yang ingin menerimanya. Suatu hari, dia diringkus di tepi jalan bersama sejumlah gelandangan. Ketika diperiksa, dia dikepung, diberondong berbagai pertanyaan, dan akhirnya nasibnya kandas di kamp Gandhi walaupun dia bukan apa-apa, apalagi bayi yang digendongnya.

Semasa masih belia, sedang ranum-ranumnya, kalau melintas, Halawiyah adalah bunga bakung yang putih cerlang-cemerlang. Di kalangan aktivis muda, kecantikannya jadi mimpi. Semua ingin mendekat, merebut hatinya. Mungkin ratusan angan-angan yang melayang-layang ingin menerbangkannya. Namun, hanya pemuda yang kemudian jadi insinyur metalurgi di Moskwa itu yang berhasil menawan hatinya.

Digiring, didesakkan berimpit-impitan ke dalam kamp konsentrasi Gandhi, sekilas dia melihat Ulong Bahari yang menempati salah satu sel khusus untuk lelaki. Ulong adalah seniman peniup bangsi yang kemahirannya melantunkan seruling menjadi cita-cita semua remaja walau gagal memukau hati Halawiyah.

Seisi kamp tahu belaka, pada hari-hari tertentu, perempuan kita ini dibawa dengan mengendarai Jeep oleh sersan mayor, komandan kamp itu. Halawiyah dengan sadar mengikutkan nafsu birahi tentara itu. Sebab, dia sadar kejahatan yang memanfaatkan ketakutan seseorang perempuan seperti dia merupakan bagian dari taktik militer untuk merendahkan derajat korban serendah-rendahnya. “Aku, anakku, harus hidup…!” teriaknya dalam hati.

Dalam keadaan bujangan dilemparkan ke dalam kamp itu, jantung Ulong tersirap kembali melihat perempuan yang dulu mekar di hatinya, tetapi gagal dipetiknya. Sel lelaki dengan sel khusus perempuan dipisahkan sebidang tanah yang dimanfaatkan sebagai lapangan bola, tempat para tahanan bisa menghibur diri dengan bola yang dibuat dari kain rombeng. Lapangan itu memisahkan. Cuma klinik yang terletak di bagian depan kamp yang mempertemukan. Tiap Kamis, tahanan diizinkan berobat ke situ. Kasih sayang. Atau sebutkanlah cinta akan menemukan tumpuannya sendiri. Dan penyakit, yang sungguhan, ataupun yang pura-pura, membuka jalan pertemuan di klinik itu.

Ulong Bahari masih sendiri. Sementara politik dan kekejian telah memisahkan Halawiyah dari suami yang jadi insinyur metalurgi di benua jauh. Yang sudah muskil untuk dinanti. Sang suami sudah tak melihat celah untuk pulang, dan memilih kewarganegaraan tempat dia belajar, dan menikah dengan perempuan Rusia.

Anak negeri boleh tak acuh. Akan tetapi, hati nurani dunia menjerit melihat ratusan ribu yang terbunuh, puluhan ribu dibuang belasan tahun, dan banyak yang kehilangan tanah air. Dunia internasional, juga dunia maya, menekan penguasa negeri yang bebal untuk menghormati seruan hati nurani manusia. Harapan akan kebebasan pun menjaiar seperti api ke mana-mana.

Pada hari Kamis, hari kunjungan ke klinik. Ulong Bahari duduk di bangku panjang menunggu panggilan. Dia hampiri Halawiyah, dan dia tawarkan sekepal ubi rebus yang dia bawa dari selnya. “Untuk anakmu,” katanya mengedipkan mata. Sebuah kode bahwa di dalam gumpalan ubi itu terselip segulung surat.

Kembali ke dalam selnya, menyendiri di pojok. Halawiyah seperti membuka kelopak mutiara, hati-hati mengeluarkan segulung kertas kecil dari gumpalan ubi rebus itu. Dia eja di dalam hati: “Begitu hari pembebasan datang, dengan jalan bagaimanapun, Abang akan berangkat ke Tanjung Karang. Si bedebah itu sudah hampir lima tahun dipindahkan ke sana. Dengan baik-baik, aku akan meminta dia menuliskan pernyataan bahwa kau sudah tak ada ikatan apa pun dengan dia. Doakan Abang.”





Martin Aleida, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, akan merayakan hari lahir yang ke-75, Desember 2018. Lebih dari 50 tahun menghabiskan usianya sebagai mahasiswa, wartawan, dan penulis di Jakarta. Cerpennya, “Tanah Air”, dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2016. Ia juga pernah memperoleh penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Harian Kompas.

LOMBA Menulis UMiCroScope, Kenali UMi Lebih Dekat Berhadiah Total Puluhan Juta

Hei kawan, ada yang sudah kenal dengan UMi? Ini ada lomba menulis UMicroScope guna kenali UMi lebih dekat yang diselenggarakan oleh Direktorat Sistem Manajemen Investasi, Direkrorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan lho. Hadiahnya puluhan juta rupiah dan kamu bisa bertemu dengan jajaran pimpinan Kementerian Keuangan.

Sekilas Tentang UMi

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) merupakan program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menjadi kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). UMi memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah dan disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).

Pemerintah menunjuk Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai coordinated fund pembiayaan UMi. Pembiayaan UMi disalurkan melalui LKBB. Saat ini lembaga yang menyalurkan pembiayaan UMi antara lain: PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBN, kontribusi pemerintah daerah dan lembaga-lembaga keuangan, baik domestik maupun global.

Ketentuan Umum Lomba

1. Tulisan ditulis dalam bahasa Indonesia
2. Setiap peserta berhak mengirimkan maksimal 2 karyanya.
3. Melakukan registrasi melalui link http://tinyurl.com/lombaumi paling lambat tanggal 9 September 2019 pukul 24.00 WIB
4. Merupakan karya sendiri (orisinil)
5. Tidak bermuatan unsur SARA dan Pornografi
6. Karya belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba sejenis
7. Karya yang masuk menjadi milik panitia dan dapat digunakan untuk kepentingan panitia
8. Mencantumkan hashtag #UMicroScope dan #KenaliUMiLebihDekat
9. Peserta bukan merupakan pegawai Direktorat SMI atau BLU Pusat Investasi Pemerintah
10. Peserta wajib follow akun media sosial Direktorat SMI dan BLU Pusat Investasi Pemerintah
a. Fanpage: https://www.facebook.com/DirektoratSMI/
b. Instagram: @direktoratsmi @pusatinvestasipemerintah
c. Twitter: @DirektoratSMI
11. Akun media sosial dan blog milik peserta tidak boleh Anonim dan tidak di-private
12. Menambahkan gambar atau foto menarik dan sesuai tema akan menjadi nilai tambah dalam penilaian juri
13. Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
14. Panitia berhak untuk membatalkan pemenang apabila ditemukan plagiarisme dan/atau tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan

Ketentuan Khusus Per Kategori

Medsos bagi Umum

1. Peserta dapat berasal dari Pelajar, Mahasiswa, Jurnalis, Pegawai Instansi Pemerintahan, atau Masyarakat Umum;
2. Karya berupa tulisan menarik berisi pengalaman, opini, atau tulisan menarik lainnya berkaitan dengan penyaluran UMi
3. Tulisan maksimal terdiri dari 500 kata dan diunggah melalui facebook atau instagram
4. Mencantumkan hashtag #UMicroScope dan #KenaliUMiLebihDekat serta menandai akun media sosial Direktorat SMI dan BLU PIP

Tulisan Populer Bagi Umum

1. Peserta dapat berasal dari Pelajar, Mahasiswa, Jurnalis, Pegawai Instansi Pemerintahan, atau Masyarakat Umum;
2. Karya berupa tulisan menarik berisi pengalaman, pendapat, atau tulisan menarik lainnya berkaitan dengan penyaluran UMi;
3. Tulisan harus mencantumkan kata “Pembiayaan UMi”, serta minimal 2 kata kunci dari pilihan berikut: Kementerian Keuangan, BLU Pusat Investasi Pemerintah, Microfinance, inklusi keuangan, usaha mikro, UMKM, wirausaha, modal usaha, mudah dan cepat, pemberdayaan, pendampingan, SIKP, sejahtera, mandiri;
4. Tulisan minimal terdiri dari 300 kata;
5. Pengiriman karya dapat melalui Blog (dengan melampirkan link tulisan di form registrasi) atau surat elektronik ke alamat ultramikropembiayaan@gmail.com dalam format Ms Word.

Medsos bagi Penyalur Umi

1. Merupakan pegawai/ Account Officer (AO) dari Penyalur/Lembaga Linkage Pembiayaan
Ultra Mikro yang masih aktif
2. Tidak ada batasan jumlah pegawai/account officer yang berhak mengikuti lomba ini untuk masing-masing Penyalur/Lembaga Linkage
3. Tulisan berupa pengalaman unik/inspiratif berkaitan dengan penyaluran UMi, subtopik yang dapat dipilih antara lain: pendampingan, penyaluran, monitoring, kisah sukses debitur, atau kisah inspiratif lainnya
4. Tulisan maksimal terdiri dari 500 kata dan diunggah melalui facebook atau instagram
5. Mencantumkan hashtag #UMicroScope dan #KenaliUMiLebihDekat serta menandai akun media sosial Direktorat SMI dan BLU PIP
6. Bila tidak memungkinkan menggunakan media sosial, tulisan dapat dikirimkan melalui surat elektronik ke alamat ultramikropembiayaan@gmail.com.

Kami nantikan ya keikutsertaanmu dalam lomba ini. Silakan bagikan lomba ini seluas-luasnya ya.

Selengkapnya di http://tinyurl.com/umicroscope

5 Alasan Kenapa Harus Liburan Akhir Pekan ke Bandung

Penat dengan kepadatan Kota Jakarta? Setelah 5 hari kerja bergelut dengan pekerjaan di kantor dan kemacetan ibukota ditambah tekanan atasan? Mudah kita bilang, week end ke Bogor atau ke Bandung saja dong. Namun, apakah perjalanan ke keduanya menjamin bisa bebas penat juga?



Sudah dalam beberapa tahun terakhir, mau ke Bandung itu rasanya malas banget. Padahal aku punya rumah di Cigadung (dekat Dago Atas). Dulu, sempat tinggal di sana mulai 2013 sampai pertengahan 2016 sebelum pindah kerja ke Jakarta. Sekarang, adikku yang menempati. Continue reading 5 Alasan Kenapa Harus Liburan Akhir Pekan ke Bandung