Pernyataan
Baris-baris yang kutuliskan
ialah gema dari segala cinta
kata-kata yang mengalir
dari sayap-sayap penyair
Baris-baris kepercayaan yang kami peluk
ialah kemerdekaan yang tak kenal takluk
selalu siap membendung bencana
menyelamatkan jembatan kencana
menyelamatkan jembatan kencana
Baris-baris kehormatan yang kami jaga
ialah kutukan harga manusia
di mana dusta dan mulut neraka
tak punya hak menyebut-nyebut surga
Sumber: Horison No.3 Thn. II, Maret 1967.
Baca Dulu: Puisi Radhar Panca Dahana
Sumber
Selalu kureguk sinar dari matamu
keyakinan menghargaihari
tak sangka helai demi helai daun
turun mengubur tubuhmu dengan kelam
Begitulah: matahari terbaring
membakar rumput hijau
langit bernapas sunyi
meniupkan lagu kering
Kala bel berdering
kukira kau pulang
kubuka pintu
angin melengos bisu
Sumber: Horison No.3 Thn. II, Maret 1967.
Macbeth
Gagak hitam
terbang dalam kelam
Mestinya pada malam begini buta
hantu-hantu menyiapkan kerja durjana
tombak tajam menghunjam korban
: melepas setan-setan dari kurungan
Gagak hitam
dalam malam
Paginya beribu ribu jiwa
merasa malapetaka tiba:
derap kuda menderu di mana-mana
Gagak hitam
terbang dalam kelam
Sumber: Horison No.3 Thn. II, Maret 1967.
Baca Juga: Puisi Toeti Heraty
Karuhun
1.
Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau
lupa siapa cucumu. Di hulu sungai
badak. Salah srigala di belantara kota.
Kamarku di sana, beratap pengap, berdinding
kaca, langit-langit undian, tujuhpuluhlima juta
Mari bergadang: main kartu, minum arak, makan sajak
bicara mahasiswi, nyanyi-nyanyi, jingkrak-jingkrak
berteriak! Kaset pusing merintihkan daging
Hiburan murahan. Sedang dulu karuhun
nayuban sampai pagi, minum kopi
merangkul penari, hidup
dalam gamelan
mimpi
2.
Itu jaman penjajahan
Kami jauh lebih dewasa, begitu
sederhana dalam alam merdeka, antara
gubuk-gubuk dan rumah mewah barang berlimpah
Sarapan menganga: kopisusu, rotibakar dan matasapi
Air jeruk ekstra. Ayam apa pula bertelur tanpa
berkelamin makan vitamin di bumbung janin?
Cinta memerlukan dapur dan tempat tidur
Rumput. Ombakkah yang di laut. Hiu
ikan cucut, kau lupa siapa cucumu
Dulu, kau mengira bahagia
Kami, dari hari ke hari
memupuk diri dengan
pinjaman mimpi
Sumber: Horison, No. 2, Thn. XXVII, Februari 1993
Piknik 55
Kereta terakhir menderit
di ujung stasiun. Telah habis hari ini
perjalanan bersama, senja di balik bukit-
bukit kelabu. Telah lalu umur hari, satu dari
panjangnya rasa. Jauh berbeda
udara pegunungan daripada kota
yang satu ketenangan, yang lain keriuhan,
ketekunan dalam kerja, kesibukan dalam nyala.
Dua-duanya sama-sama
menghidupi kelanjutan,
kehijauan tumbuhan
dan harapan. Masih luas
lapangan dan subur
turun keakanan.