Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Menu Asing

 

kita adalah sepasang kekasih

tetapi tak pernah saling menggenggam

bertemu hanya untuk duduk, melihat menu

memesan makan malam

tetapi tak juga saling bertatapan

yang kutahu kau hanya tertunduk, dan kudengar sebuah isakan

aku menanyakan siapa yang telah berani

membuatmu menangis

lewat sebaris kalimat di dalam pesan singkat

kau menjawab pengetahuan

juga tuhan yang ternyata mahatahu

termasuk sejak kali pertama bertemu

menjalin hubungan hingga menu apa

yang akan kita pesan, apa yang akan terjadi kemudian

dari kuncup bunga hingga gugur kelopak terakhir milik mata

segala telah ditentukan

untuk apa lagi percakapan, perdebatan, kecupan, dekapan

kalau itu tak dapat mengubah sesuatu

aku juga ingin menangis

tetapi pria tak seperti perempuan

ada banyak hal yang lebih berkecamuk

bangsa, negara, itu nanti saja

apalagi tuhan dan pengetahuan

aku lihat daftar menu, sebelah kanan terlebih dahulu

lalu teringat bulan yang hampir mati

hanya ada air putih di kepala

dengan es yang cukup untuk mengguyurnya

seperti tantangan dari orang ternama

apa besok kita dapat hidup atau mati sepele

tersedak, ada bom, atau meteor jatuh

pulang dari sini kecelakaan lalu lintas, terlindas

waktu

bicara atau diam, waktu tidak peduli

kita adalah sepasang kekasih, waktu juga

tidak peduli kita tidak pernah saling menggenggam waktu

apakah peduli

tuhan,

apakah maha peduli?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Berutang Padamu Satu Jalan Pulang

 

aku bertamu padamu di desember itu

membawa bunga tulip

lambang depresi besar yang kini kembali

mengenalkan dirinya sebagai khidir

 

di perjalanan aku terjebak kemacetan

bukan hanya dadaku yang lalu lintas

perasaan mengenaimu yang selalu bebas

 

ketika kubuka jendela sedikit, udara

berbau sakit, apa yang marah di mata

mereka membakar ban, menelan korban

seolah menang sebelum mengapikan tuhan

 

desember yang kukenang tidak mengenal

darah hitam kental

 

desember yang kukenang adalah

royal opera dibuka di taman covent dan

pietro mascagni tak bermain di sana

 

tapi pemuda itu, yang percaya ibrahim

mempertontonkan alusi namrud di istana

 

aku tidak pernah sampai ke rumahmu

pada desember itu, bunga-bunga tulip

membumbung tinggi ke langit

menjadi balon-balon sabun

 

siapa percaya, balon-balon sabun itu

bisa meletus kapan saja

siapa menyangka, berkat itu

aku berutang padamu sebuah jalan pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuan Reynold dan Soal Lidah Orang Indonesia

 

agaknya ini hanya masalah lidah, orang indonesia
lebih suka memakan ikan yang terlalu matang
bila perlu digoreng hingga kering kerontang, hingga
tulang terasa renyah dan hancur
tentu saja, bukan demi alasan kalsium
seperti yang dimiliki ikan teri, bilis, lais dan seluang
segala yang muda tampak tidak lebih terpercaya
segala yang ranum hanya untuk ibu hamil yang mengidam
maka kepantasan untuk menikah pun ditentukan usianya
seperempat abad adalah usia yang pas
padahal chairil mati di usia dua puluh enam,
soe hok gie juga meninggal di usia yang sama
apa yang bisa dirasakan dalam satu tahun perkawinan
kalau tuhan menakdirkan panjang usia tak berbeda
cara memasak ikan pada satu sisi tidak akan cukup
untuk lidah orang indonesia
sebab tidak cuma ikan, semua hal dapat dibolak-balik
dalam berita dan perkataan
misalnya, pemerintah indonesia berhasil membuat perjanjian
dengan freeport, tentu ini akan lain maknanya
jika dikatakan freeportlah yang berhasil menekan perikatan
sebagai rakyat dan penonton, tentu kita kecewa
tuan reynold yang mahir dan mempesona harus tereliminasi
rasanya seperti calon presiden yang kita pilih kalah
jodoh yang kita idam-idamkan dibawa kabur orang
atau yang sepele, sulit buang air karena kena tipus
negara yang memiliki wilayah laut yang luas ini
seharusnya tidak kesulitan menemukan pemasak ikan
mau dibakar, digoreng, diasap atau digangan sekalian
segala rasa, aroma rempah, tidak ada masalah
hanya agaknya ini memang masalah lidah
orang indonesia lebih suka ikan yang terlalu matang
orang indonesia lebih suka lagi makan roti

 

 

 

 

 

 

 

 

Membelikan Es Krim

 

aku akan membelikannya es krim setiap aku pulang ke rumah

aku tak ingin ia menyadari ada leleh yang lain

setiap kulihat dirinya, kerinduan mengamuk bagai banteng

ingin menyeruduk setiap benda yang berwarna merah

ia suka rasa vanila, dengan begitu, hatiku seperti bendera

kuperhatikan dengan seksama, detik demi detik yang ada

aku telah menjadi seorang ayah, dan suatu hari ia akan dewasa

menjadi seorang gadis yang memakai rok, memegang buku

dan menatapku dengan kenangan pertemuan di akhir pekan

aku selamanya menjadi pacarnya, cinta pertamanya

dengan segala kelemahan dan luputnya perhatian

sampai kubayangkan lelaki lain akan merampasnya dari pelukanku

ia akan duduk di pelaminan, memakai gaun, bunga-bunga

aku tidak tahu harus menghadiahi apa

aku akan memberikannya es krim, seperti setiap minggu

aku pulang ke rumah dan ia akan memelukku

kemudian ia akan memburu, tak membiarkan es krim itu meleleh

kemudian ia juga tak akan tahu, hatiku juga tengah meleleh

 

 

 

 

 

Sebelum 1998

 

Yang diingatnya dari bangku sekolah hanyalah

papan tulis yang bisu. Setiap pertanyaan dari gurunya,

ia takut mengangkat tangan seperti ada beban masa

lalu—ketakutan-ketakutan dikuntit dalam perjalanan

pulang ke rumah. Ia tidak pernah bertanya apalagi

menjawab. Ia bukan takut jawabannya salah. Bukan pula

takut jika pertanyaannya tidak bermutu. Hanya

papan tulis yang diingatnya itu bisu,

apa aku

punya hak berbicara? Di laci meja, ia menyembunyikan

tas dan kedua telapak tangannya. Ia tahu

di laci meja yang lain, bibir-bibir siswa yang sudah

lulus sekolah bersembunyi dan meringkuk,

sesekali berbisik—mengutuk-ngutuk Tuhannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *