Puisi Toeti Heraty

Tentang Toeti Heraty

Toeti Heraty lahir di Bandung 27 November 1933. Meraih sarjana muda kedokteran dari Universitas Indonesia (1955), sarjana psikologi dari Universitas Indonesia (1962), sarjana filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden (Belanda) dan doctor filsafat dari Universitas Indonesia (1979). Pernah menjabat sebagai Ketua Jurursan Filsafaat UI, Ketua Program Paskasrjana UI bidang studi filsafat, Rektor Institut Kesenian Jakarta. Tahun 1994 dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra UI. Karyanya: Sajak-sajak 33 (1971), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dalam Budaya (disertasi, 1984), Wanita Multidimensional (1990).

Selesai

suatu saat toh harus ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
– api petualangan cinta telah pudar –
bayang-bayang dalam mimpi, senyum tanpa
             penyesalan kini
beberapa peristiwa, tinggakan asap urai
             ditelan awan

beberapa nama, beberapa ranjang
berapa tinta mengalir, dan terbuang
             – mengapa tidak? –
menyeka debu dari buku, menemukan coretan
             yang hampir musna
jadi permainan yang hilang
             ketegangannya

dunia ini nyata, suatu penemuan!
dunia ini nyata, suatu keheranan
keheranan dan penemuan
             jelmakan benda-benda mesra:
bola usang dan beruang tercinta
sepatu merah yang lepas-lepas kulitnya,

– dunia ini nyata –
             sebentar lagi anak-anak pulang
             dari pesta

Jan. 67

Sumber: Majalah Horison, No. 10, Th. II

Doa

Jalanlah dalam terang
jalanlah dengan lapang
jangan terusik oleh sesal
terlambat dilepas oleh
mereka yang tertinggal
tanggalkan relung-relung kenangan
kisah yang setengah ingat
harapan yang setengah dapat
maafkan, bila telah lalai, kita
mendampingi, membisikkan
bekal untuk perjalanan
yang sangat jauh

jalanlah dalam terang
jalanlah dengan lapang
ke istana mimpi dalam kekal
ketiduran
dengan cita rasa harapan
dengan cinta sempurna
dalam renungan
yang paling dalam

satu tetes air mata
menutup sejarah
yang tidak terungkap lagi
kedalamannya – penjabarannya
yang terpadu, jadi terurai
yang terikat cerai-berai
yang mantap berserakan
yang tangguh tak dapat lagi
diharapkan

lupakan saja
tali-temali melekat
yang tidak ikhlas melepas
hanya membiarkan
simpul-simpul semakin menjerat
hiruk-pikuk
huru-hara kehidupan –
semakin sesat dalam lengang
sepi dan hampa
yang belum kentara, belum bermakna
tapi akhirnya
merangkul pergi

relakan kita-kita ini
yang kurang setia, kurang mesra
kurang peduli mencinta
hanya mampu menata
kenangan semakin indah
menutup sejarah
yang tidak terungkap lagi
yang telah gagal kita rengkuh
telah sampai pada
kelengkapan yang paling utuh
jalanlah dalam terang,
jalanlah dengan lapang,
dalam kelengkapan
tujuan

Siklus

sejenak pun tak akan kubiarkan
hiruk-pikuk pikir dan getir
merasuki hati
hutan belalang yang tak terseberangi lagi
karena kau telah resmi minta diri

resmi bersikap menunggu memberi waktu
untuk berkemas
melemparkan diri dalam api, ah janda
setia dan perawan suci
tidak diharapkan
hanya ketulusan untuk berjabat tangan
tersenyum ringan

harapan-dahulu, penyesalan kini
merupakan larangan, hanya menghela napas
karena berlomba dengan waktiu
menghitung bulan dan hari, pula
membuang kesempatan, karena terlalu segera
sudah sampai di sini saja

menghilang dari hidupku, melepaskan
dekapan bersyarat di atas pulau
terdampar oleh gerak harapan akhir
bertumpu erat
dengan pertimbangan-pertimbangan getir

di perbatasan, lambaian tangan dan
diam-diam mulai menanggapi tanda-tanda
penuh arti, suatu bukti
bahwa telah kau redakan pencarian peran
yang enggan menambatkan diri pada usia
antara manusia

karena kau belai dengan kata, hangati
dengan berahi, membuahi
hati dengan nikmat madu dan pelangi
lembut jari mencari, menjelajahi
bukankah segala ingin kau ketahui?

segala ingin kau ketahui
karena asing, mungkin tersayang
seperti maut tampak demikian, tidur
membawa mimpi di peraduan
paduan, dengan yang mesra, dengan kedahsyatan
yang masih asing, yang baru lampau,
yang telah hilang

Sumber: Nostalgi = Transendensi (PT. Grasindo, Jakarta; Cetakan : I, 1995)

Ballada Setengah Baya

di suatu losmen di Kampung Bali
agak terhormat dengan sebutan wisma
seorang wanita setengah baya, menunggu pacarnya
kamar yang tigaribu perak itu pengap
dengan kipas angin yang macet selalu
kamar mandi agak berlumut, tapi air jernih
gayung plastik kuning, alas ranjang berwarna biru
tembok tidak begitu bersih, berdebu
ada coretan spidol: “Romeo dan Julia”

di bawahnya “Cicih dan Iman”, gambar jantung
ditembus dua panah beradu

tak apa menunggu -, hanya agak terganggu
atau lebih tepat tersinggung barangkali
oleh pemilik losmen yang tadi membiarkannya
naik tangga tapi sambil bertanya-tanya:
“ini perempuan dipesan, datangnya
terlalu terburu-buru, meskipun
agak malu-malu”
di luar bunyi-bunyi jalanan terdengar
nenek cerewet memaki-maki, jemuran
dikotori anak-anak bermain tadi

tak apa menunggu -, meski sudah agak lama
apa gerangan, yang menunda kedatangannya
ia duduk, kemudian terbaring, bantal didekap
gelisah, menghalau macam-macam pertimbangan:
“sayang -, aku sangat rindu dan butuh
jangan sekali-kali kau khianati janji
walau pun terbiasa, sudah
mengkhianati istri –
ini bukan sembarang kencan, kita sudah
lama hubungan -, sedikit manisnya hidup
hendak kukecup, ah, ini
hak azazi yang sangat kuharap”

jangan-jangan ia telah sadar kembali
kemudian pulang pada istri, di sana
‘kan ada pertimbangan juga:
“bukankah aku telah cukup berbakti
membesarkan anak, nafkah dibantu mencari
hutang-hutang telah kita lunasi
hubungan dengan mertua lumayan, meski
dititipi ipar-ipar sialan”
hari-hari Minggu, waktu Lebaran
hari-hari selamatan, acara arisan
sekali-sekali nonton berdua, membicarakan
tetangga, itu pun semacam ikatan juga…
“apa lagi yang kutunggu di sini
tak tahu malu -, pasti ia telah kembali
apa pula yang kuharap, tak sepantasnya
kutunggu suami orang – ”

pas pintu berderak, ia masuk bawa tas echolac
tak ada yang tertunda lagi
sekian pertimbangan tidak laku lagi
tanpa perlu basa-basi, peluk cium
membuang waktu, karena ranjang
tadinya benua antara kutub utara dan
antartika, kini
telah diseberangi oleh dua makhluk setengah baya
yang di antara mesum debu, saksi-saksi bisu
mengecap madu -, hidup
yang tidak begitu muda lagi
telah cukup dilukai, dan saling membelai,
mengecup bekas duri, senjata tajam, berbagai
torehan luka kehidupan
dalam waktu satu, dua jam, sempat mujarab
disembuhkan –

memang,
tak banyak kesempatan
lalu pintu diketuk lagi:
“kamar tadi sudah dibayar,
ini kembalinya sekalian
handuk kami antar
lantas pesan minum apa?”

1980

Sumber: Manifestasi Puisi Indonesia Belanda (Pustaka Sinar Harapan; Jakarta; 1986)

Jakarta

Jakarta
tidak aman bagiku selalu
terungkap lagi segala yang lalu
betapa kan kuredakan kepedihan ini
betapa kerinduan,
keharuan ini…

adalah
kepedihan cerah cuaca luas
menggetarkan siang hari yang biru
menggetar pula jaringan luka beku
yang telah ditimbun dengan kenangan
dengan kenangan, kenangan lalu

kerinduan panas hari menyilau
merangsang uap dan debu
pada bayang-bayang sejuk di taman hening
tergolak rasa menyeluruh
tersingkap akhirnya pada takdir

keharuan malam hari yang menyesakkan
malam yang tiada membawa harap
tidak tergenggam kepiluan hati
tidak terjawab pertanyaan oleh
lentera malam di jalan senyap

kusangka sejarah bergerak maju
betapa beda Salemba dahulu
limabelas tahun telah berlalu
tetapi
Jakarta…
kotaku.

Sumber: Majalah Horison, No. 10, Th. II; Oktober 1967.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *