Puisi Radhar Panca Dahana

Hari ini, 22 April 2021, sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana meninggal dunia. Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta, 26 Maret 1965. Lulusan EHESS Paris, Prancis dan pengajar Sosiologi di fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Kini menetap di Tangerang Selatan, Banten. Kumpulan puisinya Simfoni Duapuluh (1985), Lalu Waktu (1994), Lalu Batu (2003), Lalu Aku (2011) dan Manusia Istana (2014). Buku prosa Masa Depan Kesunyian (1996), Ganjar & Si Leungli (1997), Cerita-cerita dari Negeri Asap (2005). Buku teater Republik Reptil (2010), Teater dalam Tiga Dunia (2012), Pekcang dan Marita (2014). Komiknya Mat Jagung (2009). RPD juga membukukan esai-esai seni (4 buku) dan humaniora (5 buku).

ZIARAH COGITO

dataran melengkung yang kutapaki ini adalah: waktu.
sementara batubatu yang mengonggok,
keras, bebal, dan memantul cahaya itu adalah: kamu.
dan pasir yang menggenang mengembara tanpa gelombang, itulah: aku.
gelap dan matahari menjadi pintu kedua mataku, bahwa: kau di situ.
sejak dulu, sejak udara bergerak memberiku ombak,
menciptakan perjalanan
menawarkan kejutan dan perubahan.
ia membawa tujuan, bagai daun di udara: menyeret ombak ke tepian.
kukenal benar ia, seperti irama yang membuat pucuk cemara berdansa,
awan-awan melata, hingga kuhapal lengkung dataran ini di tiap incinya.
kukenal benar ia, bahasa di mulutku yang terbuka.
kukenal ia, namanya cinta.
tapi kau, menatap selalu,
tak meliuk bersama lengkungan itu,
mengonggokan tak tentu,
kesombongan tak berirama,
melulu nama berdiam dan mengkhianati kami;
karena itu, tak pernah kau mengenalinya.
tanpa pernah kita jalan bersama
tiada pemah kita menikah.
bagiku, kau adalah keletihan bagi waktu, kau pemberhentian.
dan cinta mengenalmu sebagai bosan.
kau sibuk menciptakan jejak, memberi sebutan,
menghitung tiap nada yang kami nyanyikan,
menawarkan melulu keletihan dan kekaguman.
aneh ! bagi kami kekaguman adalah kita,
bagi kau adalah kau : jarak jarak-jarak
yang meluputkan kita selalu.
ahh… betapa menyusahkan, tiada habis kau sebar kesulitan.
bagaimana mungkin aku menolak kau;
kau menolak aku.
sementara lengkung waktu dan angin cinta memberiku selalu rindu.
begitupun kau;
biarpun kau tipu, kau tak mengaku.
aku tahu, lengkung dan angin ini
menawarkan selalu: sabar dan kesetiaan.
aku tahu, biarpun angin dan lengkung ini
menggoyangku selalu : aku mesti menunggumu.
tahu, aku sangat tahu,
di tepi dataran ini, kita mesti bersama,
biar waktu pergi berlalu
biar cinta kabur tak tentu,
aku harus menunggumu,
(sekali lagi) menunggumu.
Besancon, 1998

LANGIT SATU, MENJERIT WAKTU, MENJADI AKU

pergi aku menuju bulan pertama
cahaya menjerit dan memuntahkan hitam
datang kau menjanjikan senggama
hari dan detik ditarik-tarik, menghujam
kepala nasib, lalu segala raib segala gaib
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
walillahilhamd
kereta datang menggeram seribu dendam
rejam … rejam … rejam bangsa yang diam
bunga kuncup lagu layu gadis tak merayu
sini, ku dendangkan satu lagu, untukmu
untuk seluruh hidupmu.
dan kincir, gemelincir, air mengalir
darah yang anyir angin bersilir waktu bergulir
kamu, tak juga silir: hidupmu sihir.
air … air….air…yang melautkan semua zaman
menautkan kezaliman, putus di pucuk awan
serahkan jantungmu, seperti dulu
waktu menjeratmu, seperti lalu
kau selalu malu mencumbu rindu
yang berbelit waktu dikandung batu.
pecahkan telur itu, tuangkan mimpi
biar sajak pun mengerti, andai kau berpaku diri
sepi tak beranjak pergi, kini tak lagi nanti
dan aku akan berhenti, mencetak cahaya
di lubang-lubang gelap matamu
di lembam malam ludah dendammu
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
walillahilhamd

pernahkan lagi cuci badan di subuh hari
letihkan lagi caci zaman di tubuh pagi
nantikan lagi suci bulan di siang ini
darahkan lagi masa depan yang kini mati.
cukup nafsu kau eja ilmu
melulu bisu kau jaja jemu
lagi bulan tinggal seringgit ramadhan
kutegaskan getas selangit jeritan :
ini waktu laut darat menyatu,
cakrawala jingga menjadi tentu
sebuah bangsa menjadi satu…
menjadi aku.
Besancon, 1998

BERMIMPI MIMPI DALAM MIMPI

lalu, tiba-tiba gelap
semua cahaya padam
semua yang dihidupkan manusia: mati.
langit sisa senja mencetak ujung cemara,
puncak-puncak menara, gunung semua derita.
kilat mengerjap di semua saat
teriakan dan sumpah malaikat
memotret bumi yang roboh sekarat:
kafilah tumbang rajaraja mangkat
tertinggal melulu rakyat melulu jema’at
dan pundi-pundi berkarat.
lalu, tiba-tiba badai
hujan dan angin menggeram
yang tinggi patah yang kuasa kalah
yang berpikir yang berani menyerah
semua habis sudah semua rebah telah
tertinggal melulu hawa melulu nyawa :
cerita dan sejarah tak terbawa
waktu dan cerita monyong tertawa
tubuh tergesa mencari jiwa mencari jiwa.
lalu, tiba-tiba meledak
semesta terbuka begitu mendadak
pintunya neraka kuncinya surga
yang mulia terpana yang jelata terlena,
sisa samudera mengalirinya : jembatan air
bagi segala getir segala dzikir
bagi pengelana tanpa nama tanpa akhir:
langit dan tanah cuma batas berpikir
maka, jasad tinggal tergenang
dan jiwa melayang tanpa kenang.
lalu, tiba-tiba diam
do’a do’a terbang tanpa gerak
katakata tak huruf tak berteriak
ruang berhenti, tak mengembang
yang tumbuh usai, tak berkembang
waktu bisu, jarak tersisa pandang
tak ada pergi tiada kembali
semua yang bertepi tertinggal sunyi
tertinggal batu, yang sepi.
lalu, tiba-tiba bunyi
tanpa telinga tak ada arti
namanama sembunyi takjadi diri
cuma lengking di tiap inci, di semua hati
nasib mengintip ingin jadi kecuali,
tiada-tapi tiada-tapi tiada-tapi.
lalu, tiba-tiba usai
bunga kembang tanpa warna: bunga air
wanita bunting anak tak lagi lahir
langit tumpah bumi cuma sebutir
apalagi yang terakhir?
lalu, tiba-tiba lenyap
lalu, tiba-tiba aku
Aku.
Besancon, 1998

PULANG

hujan sedari tadi belum berhenti

kenapa merpati terbang sendiri

kuyup basah tidak perduli

sudah berapa pagi,

tak mau juga ia menepi.

apa yang kau cari?

kabar kekasihkah menyertai

atau sekedar ingin kembali?

tahukah kamu, di sini

seumur hujan ia menanti

1987

PEMBUNUHAN KOPI DI PAGI HARI

andaikata kuregang badan sekujur waktu, tetap saja tak kutemukan kau di situ. sejak lama sudah, kecewa ini kupelihara, seperti lumut menyelimuti batu. aku tak pernah sia-sia, walau sekali lagi, sekali lagi, melulu kekalahan kurayakan.

secangkir kopi panas yang kuhirup pagi dini sekali, menyodorkan kangen yang selalu datang di permukaan peruntunganku; kapan aku bisa memenangkan kejuaraan yang tak pernah dipertandingkan? kangen yang selalu mengingatkan bahwa kau masih ada. tapi koran pagi, berita radio dan televisi tak henti mengingatkan siapa saja bahwa waktu sudah tiada. karena itu, silakan kita ramai ramai membunuh kecewa. kita tidak bisa lagi mengenali diri sendiri lewat cermin mephistopheles. bahkan kata hati pun sudah tidak jujur pada dirinya sendiri. lidah selalu me- ngatakan “yang sebenarnya” dari yang sebenarnya bukan. emhh…betapa panas hari, dan tak ada angin di sini. pada- hal masih dini pagi, dan tukang sayur mulai menjajakan koran. pada saat seperti itu, pada suasana seperti itu, hanya satu yang ingin aku nyatakan; aku dapatkan satu dari kamu dengan melenyapkan satu dariku. kau tak tahu.

1992

LELUCON ABU ABU

terdengar diketuk itu pintu

tak juga kubuka, walau kutahu

di luar, Kau sabar menunggu.

1985

PERJALANAN

inilah arti banyak dari satu kata laknat: saat.

inilah halte kehidupan, konstanta peradaban, partikel

sebuah perjalanan; semua tumbuh sendiri semua rusak

sendiri, untuk akhirnya mati. (dan saat mengalir di situ).

inilah arti banyak dari perjalanan yang tak mampu kita

hentikan. biang keladi semua yang tak terelakkan.

tak pernah aku percaya jika hanya Tuhan dan kematian

bisa meluputkan kita darinya.

tapi, inilah arti banyak jika hidup dan peradaban baru

dari sejarah yang terbelenggu, akan kita rapikan.

dengan segenap kemurnian, tanpa lagi campur tangan

raksasa perusak itu. dan cuma ini jawabku,

“kalahkan waktu!”

1985

SAJAKKU, CINTA

: rianti

jika sungai ini cairan waktu

cinta kanyut di dalamnya, hanya,

lebih panjang jarak alirnya

lebih luar batas tepinya

lebih deras kuat arusnya

lebih bening corak warnanya

lebih tak mungkin merumuskannya

tapi, tentang itu

telah terlanjut kita bicara,

“hei kekasih, mana kau senang

tenggelam atau berenang?”

1985

CATATAN KAKI SEHABIS DEMONSTRASI

aku melihat diam

tak seorang saja

tapi satu bangsa

kulihat batu

padahal manusia

menunggu waktu

padahal sia sia

di ini negeri apa pun boleh terjadi

tapi jangan sebut revolusi,

siapa pun pahlawan ngeri. mimpi saja tak berani

mereka capek dikibuli, dikebal sakit hati

kubasuh kaca lensa, kuhapus kata berikutnya

dan kutulis cerita: “aku melihat bisu

berjuta juta kamu berjuta juta aku.”

1987

Manusia Istana, Kumpulan Puisi Politik

Judul : Manusia Istana
Penulis : Radhar Panca Dahana
Cetakan : I, Maret 2015
Penerbit : PT Bentang Pustaka, Yogyakarta
Distribusi : Mizan Media Utama
Tebal : xviii + 166 halaman (31 puisi)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *