Sapardi Djoko Damono dalam Esai

Silakan unduh bungai rampai Sapardi Djoko Damono dalam Esai di sini. Berikut pengantar bunga rampai Ode Bagi Sapardi dari Warih Wisatsana.

Baca Juga: Sajak Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono dalam Esai

Ode Bagi Sapardi

Bunga rampai esai menarik disimak, terlebih bila mengacu pada sebuah topik tertentu. Buku bertajuk “Sapardi Waktu Itu”—digagas Bentara Muda dan Bentara Budaya, merangkum sejumlah tulisan tentang sosok dan karya sastrawan Sapardi Djoko Damono, yang berpulang pada 19 Juli 2020 dalam usia 80 tahun. Segera mengemuka, esai 22 penulis dari berbagai kota di Indonesia ini bukan hanya mengisahkan kesan pribadi tentang sosok Sapardi, namun juga bagaimana pertemuan mereka dengan karyakarya sastrawan sohor ini.

Sebagian besar penulis berusia rata-rata 25 tahun, mengetengahkan pandangan yang beragam—mencerminkan pula sisi diri mereka yang boleh dikata tergolong milenial atau generasi Net. Generasi ini hadir
dengan segala kecenderungan-kecenderungan uniknya serta ciri-ciri yang membedakan dengan generasi-generasi sebelumnya, ditandai dengan pola konsumsi, pola interaksi, berikut cara menjalani kehidupan keseharian yang tak bisa dipisahkan dengan dunia digital dan komputer.

Mereka sigap dan inovatif, berorientasi menjalin hubungan sosial yang bersifat global. Tidak heran bila mereka amat terampil menggunakan media digital interaktif atau media sosial untuk bersosialisasi dan berkomunikasi, sehingga condong menjadi sosok-sosok yang individual; menjalani keseharian secara soliter, atau mengekspresikan sikap solider melalui komunitaskomunitas tertentu dan eksklusif. Terbersit pertanyaan,
dengan rentang usia yang jauh dan latar zaman yang berbeda, mengapa mereka tertarik karya-karya dan sosok Sapardi, serta dapat mengungkapkannya dengan tinjauan yang mempribadi?

Emi Suy dan Taufiqurrahman, dengan bahasa yang terbilang jernih, menuangkan pertemuan mereka dengan puisi Sapardi, terutama yang merujuk perihal Waktu. Sedangkan penulis lainnya, semisal Risda Nur Widia, Rizki Amir, Hanputro Widyono, Ade Ubaidil, Widyanuari Eko Putra, Ais Nurbiyah Al- Jum’ah, Rizky Nur Laily Muallifa, Dymussaga, Uun Nurcahyanti, Ani Marga, Gody Usnaat dan Setyodewi; mencoba menelisik karya-karya Sapardi—secara tersirat menautkannya dengan berbagai
pengalaman yang melatari mereka bergiat di dunia susastra atau penulisan.

Sisi lain dari dunia Sapardi, yang kerap mewarnai puisi lirisnya, tentang alam kehidupan anak-anak yang naif dan bersahaja namun penuh imajinasi menakjubkan; diurai secara akrab oleh Nai Rinaket, Vera Safitri dan Seyaningsih.

Esai mereka mengandaikan satu perbincangan intim antarsahabat yang lama tak bertemu. Bagaimana tentang sosok Sapardi sebagai pribadi
sehari-hari, maupun sebagai sastrawan dan cendekiawan?

Setidaknya ada 5 esai, ditulis M.A. Mas’ud, Adib Baroya, Olive Hateem, Agus Wedi dan Wulan Dewi, yang berupaya mendeskripsikannya dengan pendekatan yang subyektif, jauh dari ragam tulisan yang berpretensi ilmiah atau terlalu ketat dengan fakta dan data.

Ya, hakikatnya esai adalah sebuah seni beragumentasi melalui bahasa, memungkinkan data dan fakta diolah sedemikian rupa menjadi Pertanyaan, Pemertanyaan, Keraguan dan Kesangsian, bahkan gambaran akan realitas yang berlapis; sebuah Dunia Rekaan, bauran antara Realita
Senyatanya, Realita Virtual, dan Realitas Imajiner. Dengan demikian, tidak mengherankan bila esai datang kepada pembacanya seperti laiknya pertemuan penuh percakapan hangat yang mempribadi; tak jarang diselingi unsur gurauan yang satir, ironi, atau parodi.

Bunga rampai ini jelaslah menunjukkan bahwa esai tidak menuntut satu kebulatan pikiran, melainkan sejumlah gagasan yang dilukiskan; tak hendak mewartakan kepastian kebenaran namun sebentuk sentuhan yang memungkinkan pembaca sejenak tercenung, terbawa merenung seraya
tergoda untuk mengkritisi keyakinan pada sesuatu, boleh jadi hal-hal sehari-hari atau sesuatu yang hakiki. Esai-esai dalam bunga rampai ini, disadari atau tidak oleh penulisnya, sesungguhnya adalah sebuah ode bagi seorang sastrawan mumpuni dengan pergumulan batin yang intens, sekaligus cendekiawan paripurna; Profesor Emeritus—yang tak henti mengabdikan dirinya bagi upaya alih pengetahuan.

Baca Juga: Tips Sapardi dalam Menulis Sajak Liris

Sudut Pandang Baru dan Jalan Lain

Penulis esai, sebagaimana penyair dan kreator lainnya, sudah menjadi panggilannya untuk menemukan sudut pandang baru sebagai bagian dari laku kreatif dan kemungkinan penciptaannya. Ibarat hendak menaklukkan puncak gunung, para pendaki sejati (baca juga: esais) biasanya lebih tertantang untuk merintis jalan baru, yang belum terambah dan masih diselimuti hutan-lambang yang sungguh perawan; belukar liar gagasan, silang pandang pemikiran.

Sebuah tematik yang disikapi dengan sudut pandang “baru” adalah satu celah kreatif yang menawarkan lahan kemungkinan penciptaan. Esais yang tanggap, dengan kesadaran di atas itu, akan berusaha menghadirkan kesegaran pada karyanya (tematik atau stilistik), bukan semata dipicu oleh pengalaman berbahasa (intrinsik) melainkan juga oleh sensitivitasnya akan suatu percepatan perubahan yang terjadi di dalam lingkungan sosialglobalnya (ekstrinsik). Terkait hal itu, esai sesungguhnya memiliki kedekatan dengan puisi; mengolah pengalaman menjadi pemahaman melalui ragam bahasa yang lebih plastis; dan dengan sendirinya mengelak bersifat dogmatis guna menghadirkan aneka lapis pandangan; terbukalah
kemungkinan tafsir yang lebih demokratis.

Sebagai sastrawan dan cendekiawan, karya-karya Sapardi telah teruji waktu. Sedini awal penciptaan puisinya, semisal terangkum dalam buku ‘Mata Pisau’, kebersahajaan dirinya tecermin pada diksi puisinya; kata-kata seharihari yang terangkai dalam kepaduan bunyi dan arti. Pada sisi lain, esai-esai yang ditulis Sapardi menyarankan satu kebulatan pandangan terhadap tema tertentu, dan tersampaikan dengan jernih, jauh dari beban teori dan analisa akademis yang berlebihan. Tidak heran bila karyakarya Sapardi menyapa pembacanya dengan meninggalkan kesan yang mendalam—sentuhan yang mempribadi. Hal mana inilah yang membuat para penulis bunga rampai ini terpikat karya dan sosok Sapardi.

Setiap pembaca yang mendalami karya Sapardi, baik esai, cerpen, novel, dan terlebih puisi, sesungguhnya tengah mengkonfirmasi pengalamannya sendiri. Karya-karya Sapardi menyajikan sebuah cermin bening yang tembus pandang; ketika seseorang membacanya sesungguhnya tengah bercermin pada laku pengalaman yang ditemuinya sehari-hari. Demikian pula 22 penulis esai di buku ini, melalui tinjauan pada karya dan sosok Sapardi, hakikatnya tengah berbincang dengan diri sendiri.

Warih Wisatsana

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. Sudah pernah ketemu saat di perpustakaan nasional. Tiap tahun opa sapardi selalu mengisi acara gramedia selama sepekan.

    Pembawaan kalem, ngomong sederhana tapi penuh makna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *