Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran, Paringgonan 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris, Spanyol dan Esperanto. Menulis puisi sejak 2006. Buku puisinya Doa Orang Telanjang. Aktif COMPETER Indonesia. 

Puisi Muhammad Asqalani Eneste

Silakan kirimkan puisimu ke Catatan Pringadi!


Palembang, Kepalaku yang Memutar Kaset Hitam

Di bawah kursi kayu dekat mesin jahit manual, dalam gelap, kepalaku tanpa alas telentang di lantai. Aku menarik napas dengan perhitungan pelan-pelan, mungkin semacam meditasi ringan yang coba kutemukan.

Dalam mata pejam, kenangan terbang terang melintasi Palembang. Hinggap di beton pembatas sungai, kemudian terbang lagi ke lapak-lapak yang menjajakan aneka barang, juga _power bank_ yang pernah kuimpikan.

Kenangan gigil itu memanggil-manggil, ketika perempuan berambut panjang yang baru kukenal seolah akan menciumku. Aku belajar liar kala itu.

Kupandangi Ampera lewat sempit mataku, imajiku berdesing dan meluncur bagai peluru, menembus masuk ke pusat dadaku, membius perasaan: ada sejumlah kebahagiaan tak terbahasakan.

Di suatu senja, di ngaga jendela, aku lupa di jalan apa, kubolak-balik sebuah buku yang membuatku berdebar, takut seseorang tahu aku membongkar tiap laman. Seorang perempuan paruh baya, yang kukenal belum lama dari linimasa dunia maya, merapatkan tubuhnya ke tubuhku, dan ia nyaris berbisik, menderitkan engsel rahasia kelamnya. Aku mengulum senyum, di sekotah aneh yang tak mampu kukotakkan dalam kenyataan-kenyakinan.

Di Jaka Baring, aku mencoba mengukur jarak perjalanan, dadaku lagi-lagi berdebar, kebahagiaan melebarkan  keabstrakan dirinya.

Di rumah entah lagi-lagi di jalan apa, rumah yang tak mampu kucatat nomor dan warna cat temboknya, kudapati pahala melilit di kepala seorang wanita. Dalam segelas jus kental mangga dan hidangan makan siang sedikit di atas sederhana.

Hendak kupukul-pukul dada. Perempuan yang tak sempurna hendak kusapa, menjamuku seperti tamu dari Jakarta.

Sungguh, di tembok yang membatukan _merk_ Universitas Sriwijaya, sejarah gagah: tak kunjung tua. Aku sekadar berpose kurang manja, ekspresi malas membaca kebenaran cerita raja-raja.

Tiba di Danau Opi, sebut saja begitu, perempuan yang pernah mendadar rahasianya di depan telingaku yang tak berpagar, lagi-lagi biarkan rahasianya kuterima, aku tak dapat menolak, luka meruyak langkahi marhalah demi marhalah kekejaman ayah.

Dari bawah kursi kutarik kepala, mata sempitku mencari cahaya, pusing memberat-membebat, kunang-kunang di mana-mana.

2019


Baca Juga: Puisi Maruf Mazuki


Kepada QQ

Ayo ke belakang sekolah, mari kita gali lempung tanah, masukkan ke dalam plastik, tanam biji semangka kesukaan kita. Jika hujan tak turun, ayo kita siram dengan keringat, jika hujan tak turun, ayo menangis di atasnya, jika sedang betapa iblis kita, ayo kita kencingi saja, kau duluan, biar aku mengambil kamera.

Begitulah QQ caraku menanam kata di kebun belakang kepala, setahap demi setahap, sesabar demi sesabar, jika tak sabar, selembar demi selembar kalimat kubakar, abunya akan kuberikan padamu, taburi ke kepalamu jika mau, masukkan ke dalam air, tenggalaklah jika perlu. Ajimat bukan?

Januari 2020


Baca Juga: Puisi Ardhi Irwansyah


Rumah Tanpa Ibu

: Dentoj

Bagaimana anak manis sepertimu menelan kesunyataan pahit. Ibu terluka atas kepergianmu. Rindu begitu lindu, sakit memerihkan lambung.

Baik-baik di sana ibu. Aku baik-baik saja di sini. Menuntut ilmu sekuat-kuat mampuku, katamu.

Tapi ibu tidak baik-baik saja, cintanya padamu kian membesar dan tak juga sempurna. Terus menyemburkan airmata. Deras dan dingin, sedalam cinta.

Di depan kamar kosmu yang pengap, kau sering menguap, semangatmu ikut menguap. Kekuatanmu melemah seperti android kehabisan daya–menuju mati total.

Aku dorong-dorong engkau sekuat tenaga, meski aku bukan seorang atlet kuat angkat besi. Berkali-kali kudorong berkali-kali aku ngos-ngosan.

Kau duduk manislah, biarkan aku selesaikan segalanya. Katamu. Aku diam, seolah-seolah tak melakukan apa. Aku tak putus berdoa; untuk kesehatan ibu, kau aku dan cinta kita.

Satu hari kulihat wajahmu cerah, jiwaku bercahaya. Katamu kita tetap berdua pelajari bagaimana eratkan cinta, seperti ajaran ibu.

Kau kembali manis, seperti jeruk manis oleh-olehmu, selalu kurindu–kutunggu.

Sehat-sehat, segala doa untuk ibu; dari jantung ke lambung, dari bibir ke kata, dari doa ke amin.

2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. Puisinya bagus bingits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *