puisi Louise Glück

Puisi Louise Glück (Pemenang Nobel Sastra 2020)

Louise Glück dinobatkan sebagai pemenang nobel sastra 2020. Bila teman-teman ingin membaca puisi Louise Glück dalam bahasa Inggris silakan unduh kumpulan puisi Louise Glück yang berjudul A Village Life.

PERSIMPANGAN

terjemahan Budi Hutasuhut

Tubuhku,
kini menyadari
kita tak lagi sejalan
dalam waktu yang panjang.

Aku miliki perasaan baru
selalu kepadamu,
betapa murni dan sungguh asing,
seperti cinta monyet.

Cinta yang dungu
tanpa tujuan, tapi aku tak mampu menolak
tuntutannya begitu telak
jiwaku tertekan
meski tak ada kepastian:
maafkanlah kekasaranku
tanganku ragu membelaimu

Aku enggan menyakitimu
tapi sikapku jelas,
akhirnya, bukan dunia yang kurindui
kaulah yang kugilai.

Baca Juga: Puisi Wiji Thukul

Ingatan Pertama

terjemahan Wawan Kurniawan

Dulu, aku terluka. Aku hidup
demi balas dendam
melawan ayahku, bukan
sebagaimana dia adanya —
sebagaimana aku adanya: sejak awal waktu,
di masa kanak-kanak, aku merasa
rasa sakit itu bermakna
aku tidak dicintai.
Itu berarti aku dicintai.

Teleskop

terjemahan Wawan Kurniawan

Ada masa setelah kau mengalihkan pandangan
saat kau lupa di mana kau berada
sebab sepertinya, kau telah hidup,
di tempat lain, dalam sunyi langit malam.

Kau tak lagi ada di tempat ini, di dunia.
Kau berada di tempat yang berbeda,
tempat di mana kehidupan manusia tak punya makna.

Kau bukanlah makhluk di dalam tubuh.
Kau ada sebagaimana bintang-bintang ada,
menyatu dalam keheningan mereka, kebesaran mereka.

Kemudian kau berada lagi di dunia.
Di malam hari, di bukit yang dingin,
menguarai teleskop itu.

Setelahnya kau menyadari
bahwa bukan gambarnya yang keliru
melainkan hubungan itu yang keliru.

Kau kembali melihat seberapa jauh
setiap hal berjarak dari setiap hal lainnya.

Baca Juga: Puisi Kriapur

Salju

terjemahan Wawan Kurniawan

Akhir Desember: aku dan ayahku
pergi ke New York, ke pertunjukan sirkus.
Dia menggendongku
di pundaknya dalam getir hembusan angin:
potongan kertas putih
melayang di atas rel kereta api.

Ayahku gemar
berdiri seperti ini, menggendongku
hingga dia tak bisa melihatku.
aku ingat
menatap lurus ke depan
ke dalam dunia yang dilihat ayahku;
Aku belajar
menyerap kekosongannya,
salju lebat
yang tidak jatuh, berputar-putar di sekitar kami.

Mitos Kesetiaan

terjemahan Dedy Tri Riyadi

Saat Hades memutuskan untuk mencintai gadis ini
Dibuatlah untuknya tiruan dari bumi,
semuanya sama, sampai padang rumput,
hanya sebuah ranjang ditambahkan.

Semuanya sama, termasuk cahaya matahari,
karena akan sulit untuk gadis muda itu
berpindah dengan cepat dari benderang ke gelita

Perlahan, dipikirkan, ia akan mengenalkan malam,
pertama sebagai bayang-bayang dari dedaunan bergoyang.
Lalu bulan, gemintang. Lalu tak ada bulan, tak ada gemintang.
Biarlah Persefoni terbiasa dengan pelan-pelan.
Sampai pada, pikirnya, ia akan mendapat bahwa itu menyenangkan.

Sebuah tiruan dari bumi
kecuali tak ada cinta di sana.
Bukankah setiap kita mendamba cinta?

Ia menunggu bertahun lamanya,
membangun dunia, mengamati
Persefoni di padang rumput itu.
Persefoni, seorang pencium wewangian, pencecap rasa.
Kalau kau punya satu keinginan, dipikirnya,
kau akan punya semuanya.

Bukankah setiap kita ingin merasa di sebuah malam
tubuh tercinta, penanda arah, polaris,
untuk mendengarkan hela napas pelan yang berkata
Aku hidup, yang berarti juga
kau hidup, sebab kau mendengarku,
kau sekarang bersamaku. Dan jika seorang berpaling,
yang lain juga berpaling—

Itulah yang ia, sang penguasa kegelapan, rasakan,
memandang pada dunia yang ia telah
bangun untuk Persefoni. Tak pernah terlintas di pikirannya
bahwa tak ada yang mencurigakan di sini,
yang pastinya tak akan mengganggu.

Rasa bersalah? Gangguan? Takut akan cinta?
Hal-hal semacam ini tak dapat ia bayangkan;
tak seorang kekasih pun bisa membayangkan yang demikian.

Ia berangan-angan, bertanya-tanya dengan apa akan ia sebut tempat ini.
Yang pertama terpikir: Neraka Baru. Lalu: Taman.
Akhirnya, ia putuskan untuk menamainya
Kegadisan Persefoni.

Cahaya lembut terbit di atas padang rumput yang datar,
di belakang ranjang. Hades mendekap erat Persefoni.
Ia ingin mengatakan aku mencintaimu, tak ada yang bisa melukaimu

tapi ia pikir
ini dusta, lalu akhirnya ia berkata
kau telah mati, tak ada yang bisa melukaimu
yang menurutnya itu
awal yang lebih menjanjikan, lebih murni.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *