Review Film The White Tiger

Film pertama yang kutonton pada tahun 2021 adalah The White Tiger. Film India. Dan saat menontonnya, aku seperti sedang membaca buku. Ya, wajar, karena film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel karya Aravind Adiga berjudul sama. Yang tak kusangka, buku ini sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Kalian pernah membaca dan menonton Life of Pi? Ya, nuansa yang kurasakan saat menonton The White Tiger serupa dengan karya Yann Martel tersebut. Yang berbeda adalah apabila Life of Pi penuh simbol dan melahirkan berbagai penafsiran lewat metafora yang diberikan, The White Tiger menyajikan metafora yang terang untuk menggambarkan realitas.

Baca Juga: Review Film Tilik

Adalah Balram Halwai (diperankan oleh Adarsh Gourav) yang berasal dari desa miskin, keluarga miskin, dan kasta rendah pembuat roti. Balram kecil menunjukkan kecerdasannya dan dijanjikan beasiswa oleh seorang pejabat ke Delhi. Harimau putih atau White Tiger adalah julukan untuk Balram dari seorang pejabat yang datang ke sekolahnya. Ia dinilai memiliki semangat belajar yang lebih besar dan lebih pintar dibandingkan kawanny a yang lain.Namun sebelum itu terjadi, ia sudah dituntut menghasilkan uang dengan bekerja memecah batu. Lalu ayahnya meninggal.

Meski demikian, kecerdasan alaminya menjaga mimpinya untuk bisa keluar dari sangkar. Sangkar inilah yang menjadi premis di benak penonton: apakah seseorang yang terlahir miskin bisa mengubah nasibnya?

Teringat kan perdebatan di media sosial beberapa waktu lalu, tentang privilege. Akan sangat wajar bila anak orang kaya menjadi pintar dan kaya juga. Seseorang yang lahir dengan sendok emas di mulutnya akan mudah menikmati berbagai fasilitas untuk menunjang perkembangan dirinya.

Balram ingin membuktikan bahwa tanpa sendok emas, ia juga bisa keluar dari sangkar, dari “takdir”kasta yang sudah ia terima sejak lahir.

Baca Juga: Review Film Start Up

Ide dimulai ketika Balram melihat anak bungsu Sang Tuan Tanah dan bertekad ingin menjadi sopirnya. Ia pun berhasil masuk ke dalam keluarga kaya sebagai sopir kedua. Di sana, ia kemudian menyingkirkan sang sopir pertama dengan mengancam akan membuka identitas sang sopir pertama tersebut sebagai muslim. Ya, Sang Tuan Tanah membenci Islam, tetapi sopir kepercayaannya justru seorang muslim yang menyembunyikan identitas keagamaannya itu.

Namun, keberhasilan itu belum cukup bagi Balram karena keluarganya seperti gurita yang menyedot semua penghasilan Balram, hanya disisakan 200 Rupee. Dipaksa menikah, Balram menolak dan ia menemani Tuan Mudanya ke Delhi, kota yang pernah menjadi impiannya. Di sana, Sang Tuan Muda bersama istrinya menyuap pejabat-pejabat politik guna melanggengkan kepentingan bisnis keluarga yang enggan membayar pajak.

Transformasi Balram terjadi di Delhi. Di sana ia melihat berbagai kenyataan hidup. Di sini, Sang Sutradara patut diacungi jempol. Ia memberikan formula berbeda dari film semacam Parasite yang sangat simbolistik. Semua begitu terang benderang. Ironi yang ada di India disingkap begitu saja lewat “kepolosan”Balram. Ketika “kepolosan”itu hendak dimanfaatkan, ia balas balik dengan mencengangkan. Ia menjelma The White Tiger yang menerkam mangsanya dengan elegan.

Hebatnya, apa yang terjadi pada hidupnya, tidak membuat Balram membalas dendam pada kehidupan dengan cara yang salah. Ia menjalani perubahan hidupnya dengan pelajaran perbaikan atas segala hal yang salah yang pernah dialaminya. Ia mendirikan perusahaan transportasi dengan memperhatikan keadilan bagi para pegawainya agar tidak ada orang yang mengalami ketidakadilan seperti yang pernah dialaminya.

Begitulah ceritanya. Tentu saja ada banyak hal lain di dalam film yang juga simbolis. Seperti misalnya persinggungan antara Barat dan Timur. Tuan Mudanya masih begitu percaya Amerika Serikat yang akan memenangkan perang perekonomian sementara Balram percaya China yang akan “menguasai” India di masa depan. Omong kosong idealisme juga disinggung habis-habisan di sini lewat tokoh Partai Sosialis Besar, ibu-ibu, yang ternyata bajingan sangat. Saya sih sebagai orang Indonesia sangat relate karena ada lah yang mirip-mirip….

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *