Review Film TILIK dari Sudut Pandang Cerita Pendek

TILIK, sebuah film pendek, tiba-tiba viral, diperbincangkan di berbagai media sosial. Saya jadi tergerak bikin review film Tilik.

Beragam pendapat muncul dari para penonton. Ada yang menyukainya hingga stiker-stiker Bu Tejo bermunculan di mana-mana. Ada juga yang tidak menyukainya dengan menyeret nilai dan keperempuanan yang nihil di dalam film tersebut.

Saya menontonnya. Sampai habis. Dan bahkan meminta istri saya menontonnya. Juga sampai habis. Buat saya, TILIK memberikan sebuah hiburan baru, sekaligus harapan, ternyata film Indonesia dan kualitas akting pemerannya, bisa berkualitas. Ya, saya katakan TILIK adalah film yang apik.

Saya melihat TILIK sebagai film pendek dari sudut pandang penulis cerita pendek. Elemen-elemen cerita pendek dijewantahkan dengan baik di sana.

Banyak orang memikirkan ide menulis cerita dengan memikirkan peristiwa yang besar. Padahal ide atau gagasan tidak melulu harus demikian. Kepiawaian seorang penulis akan terlihat manakala ia berhasil menangkap sebuah momen, sebuah ruang kecil, tetapi momen dan ruang kecil itu bisa mewakili sesuatu yang lebih besar.

Plesiran naik truk. Peristiwa dasarnya itu sebenarnya. Ini mengingatkan saya ketika kecil, pernah juga ramai-ramai naik truk dari Purwosari (Kab. Banyuasin) ke Pematang Panggang (Kabupaten Ogan Komering Ilir). Di dalam truk, dalam perjalanan tiga jam itu, bisa terjadi berbagai perbincangan.

TILIK menempatkan Bu Tejo dalam truknya. Bu Tejo, karakter ibu gemes itu, dipuji dan dihujat sekaligus. Dianggap mewakili karakter nyinyir, tukang gosip, pamer yang menjadi stigma ibu-ibu kaya. Tukang cerocos tak sudah-sudah yang hobi membicarakan keburukan orang lain. Ia juga dianggap menghina perempuan oleh kaum Sok Jiwa Warrior.

Tapi itulah uniknya. Saya selalu beranggapan, dalam cerita pendek yang realis sekali pun, kita tidak perlu menangkap realitas apa adanya. Cerita pendek mengamplifikasi kenyataan. Ini sesuai dengan paradigma bahwa homofictus tidak boleh moderat. Ia harus ditarik sedemikian rupa ke arah yang ekstrem.

Bu Tejo adalah homofictus. Saya tidak akan mengangapnya plek, sebuah tiruan dari kenyataan. Ia bisa jadi sebagai perbandingan, entah itu totem pro parte (keseluruhan Bu Tejo adalah untuk mengangkat oknum yang ada di kenyataan) atau pars pro toto (bahwa per bagian sifat yang ada pada Bu Tejo dimiliki banyak orang). Saya condong yang terakhir sih. Penulis cerita mengumpulkan per bagian sifat ekstrem itu ke dalam satu orang.

Hebatnya, kualitas akting Bu Tejo mumpuni. Dan detail. Bukan hanya ekspresi yang tampak di wajah, gesturnya dari cara membenahi lengan baju untuk menunjukkan emas-emas yang dipakainya, caranya menunjukkan status sosialnya, komplet.

Cerita pendek tentu saja bukanlah bentuk mini dari sebuah novel. Ia punya ruang sempit. Dan di ruang sempit, ada sesuatu yang harus diledakkan.

Penulis memang unggul dalam memainkan karakter-karakternya. Termasuk dalam tokoh-tokoh side kick. Yang paling berkesan tentu saja, ibu-ibu Attahiyat.

Lagi-lagi pro-kontra muncul dari karakter-karakter itu yang dianggap tidak mungkin ditemukan di dunia nyata. Perempuan mana yang sanggup mengungkapkan kegelisahan bahwa suaminya sudah tidak bisa ngaceng lagi?

Tapi di situlah justru menariknya. Di satu sisi, tidak sedikit yang menganggap film ini menghina keperempuanan. Namun di sisi lain, ada perlawanan di sini. Kevokalan ibu Attahiyat menunjukkan bahwa ia sudah melampaui seks sebagai sesuatu yang tabu di saat perempuan-perempuan kampung (dan kebanyakan) masih menganggap bahwa seks adalah bagian dari pelayanan terhadap laki-laki.

Superiotas yang sama terlihat dalam adegan sopir yang nggateli saat membincangkan Dian. Justru lelaki yang merindukan eskapisme lewat gadis cantik bernama Dian di saat posisinya sebagai suami justru tak berkutik kepada istrinya.

Di sini penulis cerita berhasil menangkap fenomena bahwa meskipun masyarakat Indonesia hidup dalam misoginisme, menjadikan perempuan sebagi ibu rumah tangga, namun di sisi lain, misoginisme itu menempatkan perempuan sebagai ratu lebah. Suami hanyalah lebah pekerja yang menuruti semua kemauan istri.

Lanjut ke elemen berikutnya, plot.

Tidak sedikit penulis yang berpandangan bahwa cerita pendek yang bagus adalah yang memiliki elemen kejutan. Kejutan berupa puntiran di akhir yang akan mengagetkan para pembanya. Penutup yang tidak tertebak.

Dulu, saya pernah berpandangan demikian. Sekarang, itu tidak mutlak. Manakala seorang penulis terlalu berfokus memberikan kejutan, ia akan melupkan deskripsi karakter dalam pembentukan plot.

Dan ini terjadi dalam dilm Tilik. Pemberian ending Dian ternyata memang simpanan Pak Lurah justru menyempitkan ruang penceritaan. Meski semuanya masih terasa masuk akal.

Petunjuk-petunjuk yang diberikan seperti Dian yang mengantar ke rumah sakit, ada yang melihat Dian berjalan dengan Om-om misalnya… memang mengarah ke ending yang demikian.

Hanya saja, ending tersebut tidak memberikan ledakan lebih. Hanya sekadar letupan. Kalau saya penulisnya, mungkin saya akan beri ending bahwa Dian juga ada main dengan Pak Tejo. Tentu saja dengan tambahan petunjuk dan pendekatan ending yang berbeda.

Di luar itu, film ini daebak. Saya tertawa geli manakala ada IG Story yang bilang film ini nggak punya nilai. Justru nilai yang ditawarkan penulisnya luar biasa. Ia membuat area abu-abu bahwa orang yang tampak nyinyir, pamer, juga bisa menangkap kebenaran. Sedangkan orang-orang yang tampak berusaha mempertahankan kebenaran, justru sedang membela kesalahan.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

  1. Senang sekali menemukan tulisan Kak Pring tentang Tilik.

    Ibu ibu Attahiyat itu kalo nggak salah ingat, nama lakonnya Yu Sam.

    Favoritku sih di scene Gotrek mogok, karena Bu Tejo ogah ikutan dorong. Dan pas ditilang polisi, soalnya malah Bu Tejo maju duluan buat ribut sama Pak Polisinya.

    1. Iya lupa aku namanya. Yu Sam toh.
      Thanks Cha sudah mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *