Review Film | House of Hummingbird

Review film House of Hummingbird ini ditulis oleh Rama Firdaus

Judul: House of Hummingbird
Tahun: 2018
Sutradara: Kim Bora
Genre: drama, coming of age
Durasi: 2 jam 18 menit
Skor: 5/5

Pernahkah Anda berada pada satu titik di mana Anda benar-benar merasa gamang dan bertanya-tanya akan arti dari kehadiran Anda di dunia? Berapa kali Anda mengutuk dan membenci diri Anda sendiri yang tidak mampu menebak datangnya nasib buruk?Lewat debut film fiturnya, Kim Bora berupaya mendedah cara kerja kehidupan yang absurd dan fana ini, mengajarkan kita memahaminya melalui mata seorang remaja tanggung.

Bagi Eun-Hee (Park Ji-hoo), seorang siswi SMP, kehidupan tidak lebih dari rentetan hal dan kejadian absurd yang sulit ia pahami dengan otak remaja tanggungnya. Pelan dan tanpa tergesa Kim Bora mengajak kita menjejaki kesehariannya, sembari menelusuri biang kerok kegamangannya, membuat film ini menyentuh berbagai isu sosial. Isu sosial ini, lewat kepiawaian Kim Bora bertutur, tidak berdiri sendiri-sendiri, ia bagai terjalin oleh benang-benang korelasi halus namun kuat yang sanggup menjerat Eun-hee. Menjadikan film ini drama coming of age yang sarat dan mengenyangkan.

Eun-hee hidup dalam ragam tekanan. Di sekolahnya ia masuk kelas siswi “B”, kelas khusus bagi murid-murid yang dianggap sulit menyamai murid-murid di kelas “A” yang berisi anak-anak yang pintar secara akademik. Ia dicap sebagai anak nakal. Di kelas ia asyik menggambar ketika jam pelajaran berlangsung. Di saat jam istirahat murid lain mencemoohnya sebab ia tertidur di kelas. Sementara itu, gurunya selalu menuntut murid-muridnya supaya kelak masuk perguruan tinggi terbaik (padahal mereka masih SMP). Sekolah Eun-hee seakan-akan menjadi gambaran dunia pendidikan Korea Selatan yang kompetitif. Pada akhirnya, seperti di film “The Wall”-nya Pink Floyd, sekolah bagai pabrik batu bata. Murid-murid tidak lebih dari adonan yang dicetak menjadi batu bata oleh guru-guru ambisius. Batu bata yang seragam. Sekolah begitu menekankan nilai dan prestasi akademik dan abai pada potensi terpendam yang dimiliki murid. Adakah ini demi reputasi sekolah belaka?

Mirisnya, ketika pulang ke rumahnya, Eun-hee tidak mendapat tempat bersandar demi melepas penatnya di sekolah. Orang tuanya sibuk bekerja. Yang ada hanya kakak lelakinya yang getol belajar dan abusif, sementara kakak perempuannya acapkali kelayapan bersama pacarnya sehabis pulang sekolah. Dari rumah ini kita diajak melihat gambaran nilai-nilai patriarki yang masih melekat erat pada kebanyakan keluarga di Korea Selatan. Dengan cerdik, Kim Bora membuat korelasi di antara budaya patriarki ini dengan dunia pendidikan di Korea Selatan, juga dengan perilaku Eun-hee (termasuk di sekolahnya) dan anggota keluarga lainnya. Kim Bora tidak menyampaikan isu dan tema ini dalam propaganda eksplisit secara verbal. Ia membiarkan penonton berasumsi, meraba-raba lewat adegan dan dialog yang halus (ini yang membuat saya banyak memakai kata “mungkin” di ulasan ini, sebab kecenderungan film yang multi tafsir).

Baca Dulu: Review Film The White Tiger

Di masa mudanya, ibunya Eun-hee yang cerdas (Lee Seung-yeon) harus rela tidak melanjutkan pendidikan sebab orang tuanya lebih memprioritaskan biaya pendidikan kepada anak lelakinya. Hal ini menjadi gambaran budaya patriarki yang membuat perempuan kehilangan haknya atas pendidikan. “Perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, toh nanti ada lelaki yang akan menjamin kehidupannya”, kita tentu sering mendengar kalimat ini. Dan, bagai sebuah siklus jahat, hal ini berlanjut di keluarga Eun-hee. Kepedulian ayahnya (Jung In-gi) terhadap pendidikan anak lelakinya nampak lebih besar ketimbang kepada anak-anak perempuannya. Ketika Eun-hee kepergok mencuri, ayahnya bahkan membiarkannya, bahkan tidak peduli meski penjaga toko mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Di rumah ini pula kita melihat dominasi yang kuat dari ayah Eun-hee sebagai lelaki kepala keluarga. Dominasi yang membuat istrinya sulit mengemukakan pendapat. Di sepanjang film, ia selalu nampak murung dan terdiam, sementara suaminya banyak bicara.

Dari sinilah korelasi antara isu dunia pendidikan dan budaya patriarki itu terjalin rapi. Tanpa ayah Eun-hee sadari, hal inilah (mungkin) yang membuat Eun-hee dan kakak perempuannya menyepelekan pendidikan. Ayahnya yang nampak lebih peduli kepada pendidikan anak lelakinya membuat Eun-hee ogah-ogahan di sekolah. Pun kakak perempuannya Eun-hee, ia sering bolos, pulang sekolah keluyuran dengan pacarnya, dan hal ini menuntunnya menuju kecenderungan kompleks inferioritas. “Aku tidak cukup baik dalam hal apapun”, ucapnya kepada Eun-hee.

Sementara itu, kakak lelaki Eun-hee acapkali menghajarnya. Di sini, korelasi antar isu kembali terjalin rapi. Dunia pendidikan yang kompetitif dan budaya patriarki yang membuat ayahnya menyuruhnya untuk giat belajar membuatnya tertekan. Rasa tertekan ini yang (mungkin) ia lampiaskan kepada adik perempuannya. Isu perilaku repsresif dan abusif laki-laki kepada perempuan akibat budaya patriarki hadir. Perilaku kakak Eun-hee (mungkin) bukan cuma akibat rasa tertekan oleh ambisi ayahnya akan pendidikan. Tanpa ia sadari, budaya patriarki di keluarganya ikut menjangkitinya. Budaya patriarki yang membuatnya merasa dianakemaskan dan membuatnya mengimitasi perilaku ayahnya sebagai sosok “lelaki penguasa”. Budaya patriarki membuatnya merasa memiliki kekuasaan penuh atas tubuh adik perempuannya.

Menariknya, adegan kekerasan ini tidak ditampilkan. Kamera hanya membidik ruang keluarga, sementara bunyi pukulan dan rintihan Eun-hee terdengar samar-samar dari celah pintu kamarnya. Ada estetika film-film Edward Yang yang kuat di sini. Ini mungkin sindiran bagi kita yang tahu, tapi berpura-pura tidak “melihat”.

Parahnya, Eun-hee tidak pernah melawan, budaya patriarki ikut menjangkitinya dan menganggap tindakan kakaknya sebagai laki-laki “bisa dimaklumi, meski menyakitkan”. Dalam adegan lain, hal ini dibahas lagi ketika teman Eun-Hee memilih tidak melawan ketika dipukuli pacarnya. Sekali ia melaporkan tindakan kakaknya, tapi reaksi ayahnya biasa-biasa saja, berbeda ketika ayahnya memarahi habis-habisan kakak perempuannya yang selalu bolos dan pulang malam.

Hal inilah pula yang mungkin membuat Eun-hee bungkam ketika diam-diam memergoki pacarnya menggoda perempuan lain, sama seperti ibunya yang bungkam ketika diam-diam menduga suaminya main gila dengan perempuan lain. Ketika telinganya sakit akibat digarap tinju kakaknya, dokter menanyakan penyebabnya. Eun-hee tetap bungkam dan menolak divisum.

Begitulah, rumah yang harusnya menjadi tempat yang hangat bagi Eun-hee tidak ubahnya seperti gua sepi dan dingin. Kasih sayang berupa kalimat-kalimat penghangat hati nyaris tidak pernah meluncur dari mulut orang tuanya. Ibunya diam, nyaris selalu diam, sementara yang meluncur dari mulut ayahnya nyaris selalu tentang pendidikan, amarah, dan keluhan. Hubungan antar manusia di rumahnya amat berjarak. Sebagai pasutri, hubungan ayah dan ibunya nampak datar. Korelasi lalu terjalin lagi pada isu pernikahan yang seringkali dipenuhi mitos berlebihan tentang sumber kebahagiaan, institusi yang membuat pasangan saling melengkapi, dsb.

Eun-hee bingung dengan pasang-surut hubungan antar manusia yang baginya rumit. Hubungan kedua orang tuanya nampak datar, pacarnya berselingkuh, teman-temannya berkhianat, kakaknya yang kasar. Pendirian manusia yang tidak bisa ditebak membuatnya bingung.

Atas semua tekanan ini, Eun-hee tumbuh menjadi pemberontak dan kerapkali melakukan “percobaan-percobaan” sebagai wujud pemberontakannya. Ia merokok, mengutil di toko, dugem, (mungkin) menjalin asmara sejenis, dsb. “Percobaan” yang sering disebut orang dewasa sebagai kenakalan, padahal merekalah biang keladi kenakalan itu. Dalam usia remaja yang harusnya bersemarak warna, Eun-hee terjebak dalam ruangan bercat kelabu dan disesaki ragam pertanyaan yang membuatnya gamang: kenapa ayahnya tidak memarahi kakaknya yang menghajarnya? Kenapa ayahnya hanya peduli ketika ia sakit? Kenapa di sekolah ia dicap nakal? Kenapa ayah dan ibunya bisa berdamai kembali setelah sebelumnya bertengkar hebat? Apa orang tuanya akan terpukul jika ia meninggal? Dan semua pertanyaan lainnya. Rumah sakit terasa lebih nyaman baginya ketimbang rumah. Ia hidup dalam keserbasalahan. Mekanisme dunia dan kehidupan terasa rumit dan absurd baginya.

Ketika Eun-hee limbung dalam memahami kehidupan dan bingung menemukan konsep dirinya inilah, hadir Young-Ji (Kim Sae-byuk), guru baru lesnya yang misterius, eksentrik, dan pecandu rokok. Seperti mentor bagi pahlawan dalam tradisi wiracarita, Young-Ji menggembleng Eun-hee. Ia membantu Eun-hee memahami cara kerja kehidupan. Ia mengajari Eun-hee untuk melawan (budaya patriarki) jika dipukul kakaknya, mengajarinya berjuang dan bertahan hidup, tanpa mengesampingkan fakta bahwa mekanisme kehidupan seringkali mengkhianati usahanya. Young-ji membantu Eun-hee memahami dirinya.

Saya suka cara sang sutradara, Kim Bora, mengenalkan sosok Young-ji. Karakternya begitu kuat dan berkesan meski ia misterius. Selain dari dialognya, Kim Bora memberi kita petunjuk-petunjuk kecil mengenai latar belakangnya yang misterius dan karakternya. Anda bisa samar-samar mengetahui latar belakang/masa lalunya dan karakternya dari kebiasaan merokok, gaya busana, selera bacaan, lagu yang ia nyanyikan, cara bicara, tatapannya, dsb. Lewat ini, kita juga samar-samar bisa tahu bahwa ia memiliki koneksi erat dengan Eun-hee terkait kisah hidupnya. Inilah yang membuat ia begitu berkharisma dalam kemisteriusannya. Kim Sae-byuk sukses memerankan sosok Young-ji. Ia tidak hanya berbicara lewat bibirnya, tapi juga tatapan matanya, gerak-geriknya. Park Ji-hoo sukses memerankan seorang remaja perenung yang memiliki tingkat kebijaksanaan lebih dari anak seusianya.

Saya suka cara halus Kim Bora menjalin korelasi antar isu, membuat filmnya kokoh dalam satu kesatuan. Ia adalah pencerita yang piawai. Kang Gyook-hyun selaku sinematografer sukses menebarkan atmosfer kesepian dan kemuraman dalam komposisi warna dan pencahayaan yang cenderung cerah. Angle-angle-nya di rumah Eun-hee membuat saya teringat film-film besutan salah satu pelopor gerakan film New Wave Taiwan, Edward Yang.

Pada akhirnya, “House of Hummingbird” tidak hanya berkisah tentang kegamangan remaja. Kegamangan Eun-hee adalah juga kegamangan yang seringkali kita rasakan. Film ini bisa menjadi buku saku yang berisi panduan Anda dalam menjalani kehidupan dan merelakan kehilangan. Tidak, film ini tidak menjual motivasi muluk-muluk tentang meraih mimpi dan kebahagiaan yang larut dalam toksik optimisme/pikiran positif berlebihan.

Film ini memberitahu kita tentang cara kerja kehidupan, bahwa kita harus selalu bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang tidak terduga/takdir, kehidupan yang penuh teka-teki dan misteri, seperti sang guru Young-Ji. Film ini mengajari kita untuk berdamai dengan kenyataan dan lebih mengakrabi kehidupan dengan semua nasib baik dan buruknya. Jembatan besar dan kokoh yang runtuh di film ini mungkin adalah simbol dari kematian, hancurnya mimpi yang kita bangun, rusaknya hubungan dengan orang lain, dan segala nasib buruk yang bisa terjadi tanpa kita duga dalam kehidupan.

Barangkali itulah sebabnya Eun-hee tidak menangis di menit-menit terakhir film ketika kehilangan sosok yang dicintainya. Barangkali itulah sebabnya, diiringi alunan piano melankolis dari Matija Strnisa, kita sulit menebak ekspresi wajahnya di adegan penutup. Ada raut pesimistik, tapi ada juga senyum samar dan gurat kebijaksanaan dari seseorang yang mendapat pencerahan.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *