Review Buku Puisi Sergius Mencari Bacchus

Norman Erikson Pasaribu membuat kaget dunia kepenyairan pada saat pengumuman Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 lalu. Naskahnya, Sergius Mencari Bacchus, berhasil menjadi pemenang pertama pada sayembara tersebut.

Sejumlah kritik mengalir kepada puisi-puisinya. Bahkan pada saat ia membacakan puisi pada pengumuman pemenang, konon, sejumlah hadirin melakukan aksi keluar dari ruangan. Puisinya dianggap kurang bunyi, puisinya terlalu prosa—berhubung Norman berangkat dari seorang cerpenis, sampai kritik terhadap gagasan yang ia angkat.

Aku sendiri menyimak perdebatan itu sembari mengingat kembali puisi-puisi Norman yang kerap dianggit di blognya. Dan wajar saja reaksi-reaksi seperti di atas lahir, karena cara menulis puisi Norman tidak lazim di sini. Bila harus mencari meme di antara penyair Indonesia yang sudah ada, akan sangat sulit (atau bahkan mungkin tidak ada) menemukan kepada siapa Norman mengacu.

Referensi dan gaya yang dimiliki Norman memang tidak Indonesiawi. Aku menduga ia menempatkan dirinya di Eropa. Seperti kesan pertama saat aku membaca tulisannya di bangku kuliah—saat aku menduga dia akan menjadi penulis penting karena flow tulisannya yang berbeda itu.

Lalu bagaimana pendapatku tentang Sergius Mencari Bacchus?

Aku akan mengawali bahwa ada satu puisinya yang sangat kuat. Satu puisi ini mungkin saja menjadi puisi terbaik di buku ini, atau bahkan dibandingkan seluruh puisi yang diikutkan ke sayembara.

CINTA

Ketika hujan datang
dan ia sedang di rumah
ia naik, dan memasuki kamar ini
untuk memastikan tak ada
rembesan pada langit-langit.

Satu puisi ini menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Norman menjadi seorang imagiste. Seperti yang dikatakan Ezra Pound, sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadi seketika, lepas dari ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada.

Dalam imajisme, kata-kata tidak boleh digunakan berlebihan. Bahkan dianjurkan, sebisa mungkin, tak ada kata sifat. Sebab kata sifat selalu abstrak. Sedangkan puisi membutuhkan yang konkret.

Sergius Mencari Bacchus (Cover Baru)

Dalam puisi di atas, kata sifat betul-betul tak ada, bukan? Norman menghadirkan imaji utuh. Dan kita, pembaca, dibuat merasakan sesuatu yang begitu dalam.

Sensasi seperti itu kurasakan pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono di masa jayanya. Pernah dengar puisi yang berjudul Gadis Kecil:

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis

Di tangan kanannya bergoyang payung

Tangan kirinya mengibaskan tangis

Di pinggir padang ada pohon dan seekor burung

Tiga puluh dua puisi lain di buku ini sayangnya tidak sekuat puisi tersebut. Dibanding berteguh diri menghadirkan imaji yang utuh, menjadi seorang imagiste, Norman justru menunjukkan dirinya melalui taburan Alusi di berbagai puisinya.

Alusi, sebagai sebuah gaya bahasa, juga menunjukkan intelektualitas sang penyair. Ia membuka ruang kemungkinan pembaca untuk melompat dari satu teks ke teks lain di luar puisi. Namun, Alusi yang berlebihan membuat puisi seolah kehilangan pondasinya. Ibarat bangunan, ia hanya diberi ornamen atau keindahan eksterior. Ada yang bermasalah di interiornya.

Atau kalau boleh saya mengutip kalimat Goenawan Mohamad. Bahwa bahasa menjadi terang dan komunikatif ketika ia bergerak di tataran ide. Alusi di satu sisi bisa menjadi cara penyair menunjukkan kualitas dirinya. Namun di sisi lain, alusi kerap menjadi tempat bersembunyi para penyair yang tidak memiliki gagasan yang kuat—atau sang penyair masih belum selesai dengan gagasannya itu, sehingga untuk menutupi kebingungannya, ia memanfaatkan sang alusi tersebut.

Alusi menjadi word salad, yang di Wikipedia didefinisikan “unintelligible mixture of seemingly random words and phrases”. Tentu saja, word-salad di sini bukan definisi totok yang digunakan dalam dunia kejiwaan itu.

Gejala itu muncul dalam beberapa puisi Norman, meski kita tetap melihat jejak-jejak imagiste masih ada di sana. Dan itulah kabar baiknya. Bila saja Norman berhasil menguasai dan menenangkan dirinya dalam level seperti puisi CINTA di atas, dalam bentuk panjangnya, barangkali suasana yang dibawa Norman akan membuat kita merasakan hal yang sama manakala membaca puisi-puisi Sapardi di buku KOLAM.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *