Perjamuan Khong Guan

Dari Maurizio Cattelan Hingga Joko Pinurbo, Sebuah Catatan atas Perjamuan Khong Guan

Sebuah pisang dilakban laku seharga USD120 ribu, atau sekitar 1,7 Miliar. Itulah pisang termahal di bumi, karya seniman asal Italia, Maurizio Cattelan. Lucunya, “karya seni” tersebut berakhir di mulut seorang seniman panggung bernama David Datuna yang menamai aksinya dengan “Seniman Lapar”.

Kalau bukan Maurizio Cattelan, apakah pisang dilakban akan berharga seperti itu? Apalagi pisang itu sama saja dengan pisang yang dibeli di pasar buah lokal.

Mauruzio Cattelan adalah seorang seniman yang rajin membuat karya-karya satir. Dia sudah terkenal. Pisang lakban sendiri baginya adalah satir atas perdagangan global.

Pisang Lakban

Jauh dari Italia, ada Joko Pinurbo di Indonesia. Beliau muncul dengan kredo celana dan puisinya yang bergaya satir berhasil menohok dunia kesusastraan sehingga memberikannya tempat penting. Lalu kini ia menandai come back dirinya dengan buku puisi berjudul Perjamuan Khong Guan.

Sekilas, tanpa membaca keseluruhan buku puisinya, aku menduga Joko Pinurbo ingin memerangkap kegelisahan dan romantisme banyak orang dalam simbol kaleng Khong Guan.

Di Indonesia, Khong Guan memang menjadi legenda tersendiri. Bagi generasi saya, kaleng Khong Guan karib dengan kenangan masa kecil, terutama saat lebaran. Khong Guan menjadi target utama setiap bersilaturrahmi. Kue pertama yang diincar adalah yang berjenis wafer. Setelah itu, biskuit yang ada isinya. Barulah sisa-sisa biskuit polosan. Khong Guan juga menjadi simbol kekayaan. Karena di rumah orang-orang yang beradalah, Khong Guan memang berisi sesuai dengan yang diinginkan. Di tempat lain, Khong Guan menjadi jebakan betmen. Sebab isinya kebanyakan rempeyek atau rengginang.

Atas romantisme itulah, Khong Guan kemudian hadir di laman maya sebagai meme milik bangsa. Mulai dari isi rengginang, sampai pertanyaan gambar di kaleng Khong Guan yang tanpa keberadaan ayah menjadi bahan meme.

Membaca Perjamuan Khong Guan

Perjamuan Khong Guan

Akan tak adil jika menilai Perjamuan Khong Guan dari gimik yang ditampilkan saat peluncuran bukunya sehingga kecurigaan-kecurigaan terhadap kualitas karyanya lebih besar dibanding keinginan untuk membaca dan menelaah puisi-puisi di dalamnya.

Hipotesis yang perlu dibuktikan adalah:

Apakah Joko Pinurbo sudah seperti Maurizio Cattelan yang dihargai mahal karena sosoknya sebagai seniman? Ataukah memang benar Perjamuan Khong Guan bisa menunjukkan nilai seninya sendiri dan berhasil melepaskan diri dari nama besar pengarangnya?

Perjamuan Khong Guan terdiri dari 80 puisi. Dibagi menjadi 4 bagian dalam Kaleng Satu (19 puisi), Kaleng Dua (18 puisi), Kaleng Tiga (21 puisi), dan Kaleng Empat (22 Puisi).

Kaleng Satu Perjamuan Khong Guan

Coba kita simak puisi pertama dalam Kaleng Satu.

Dari Jendela Pesawat

Dari jendela pesawat
yang sebentar lagi mendarat:
Jogja berhiaskan rona senja

Besi, beton, dan cahaya
tumbuh di mana-mana.
Rezeki anak soleh tak ke mana-mana.

Dua perantau muda
beradu rindu di angkringan
–pepet terus
jangan kendor–
sembari menambal cinta yang bocor.

Hatiku yang ranum
tertinggal di kedai kopi,
disimpan sepi
di saku jaketmu,
dan akan dikembalikan padaku
lewat sajak yang bakal kutulis nanti

(2018)

Menulis puisi seolah-olah membangun dunia yang khusus, sebuah bangunan pencitraan yang utuh, yang pada akhirnya melahirkan interpretasi bagi pembacanya. Dan interpretasi itu bisa beragam.

Aku-puisi dalam Dari Jendela Pesawat pada mulanya berada di dalam sebuah pesawat yang hendak mendarat. Ia melihat senja. Ia melihat cahaya lampu dan gedung-gedung tumbuh. Sampai situ tidak ada masalah.

Namun, ketika setting beralih ke angkringan, lalu bicara soal hatiku di kedai kopi, aku jadi bertanya-tanya, apakah mungkin dari sebuah pesawat mampu melihat angkringan dan kedai kopi? Apakah pikirannya saja yang melayang ke sana? Namun, jembatan antarcitraan itu tidak ada. Ini yang kerap aku sebut sebagai pecah-citraan. Aku tidak bisa menikmatinya.

Masalah teknis yang lain adalah soal Tanda Pisah (—). Kenapa kok ditulis (–). Itu editornya apa nggak berusaha memperbaikinya? Padahal mudah caranya.

Dalam puisi-puisi selanjutnya, tampak Joko Pinurbo terlalu berfokus pada ekspresi bunyi dari. Ia berusaha ketat pada teknik pembentukan bunyi, terutama aliterasi dan anafora.

Dalam puisi Wawancara Kerja (kalian beli dong bukunya), ada substansi yang tidak tepat dalam diksinya. Ia menggunakan kata instansi. Padahal, instansi digunakan untuk menyatakan kantor Pemerintah (dalam arti sempit: eksekutif). Dari premis yang dibangun, sebenarnya wawancara kerja tersebut tidak mungkin ditujukan kepada seseorang di kantor eksekutif, karena tidak akan mungkin ada permintaan gaji. Sebab, gaji eksekutif sudah ditetapkan lewat peraturan, dan tidak bisa dinegosiasi.

Pada Kaleng Satu, saya baru menemukan Joko Pinurbo yang sesungguhnya dalam puisi Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya.

Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomorMu

Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa.

(2018)

Puisi di atas sungguh keren. Satir yang mahal.

Kaleng Dua Perjamuan Khong Guan

Usaha menghadirkan ironi pada dunia yang dekat dengan kita (seperti ibu, kamar) dan citra kesendirian lekat di bagian ini. Permainan bunyi juga dominan.

Namun, jika dihadapkan pada kebaruan, puisi-puisi sejenis ini telah banyak dijumpai. Bahkan ada beberapa frasa yang nyaris setali tiga uang dengan penyair lain.

Misalnya saja “tambah sabar, tumbuh subur”. Sama dengan yang digunakan oleh Aan Mansyur dalam puisi Hukum Kekekalan Tawa.

Bila tawa hadir/ di dunia lalu mampir/ dari bibir ke bibir
Tawa tak pernah bertambah besar/ tak pernah bertumbuh subur

Kritik-kritik terhadap negara, agama, dan hubungannya dengan keadilan sosial menjadi gagasan sentral pada bagian ini. Joko Pinurbo kali ini tidak menempatkan dirinya di antara redup dan remang, tapi ia lebih memperlihatkan dirinya sehingga para pembaca bisa menduga gagasan yang ingin ia sampaikan di sana dengan realtif lebih mudah.

Kaleng Tiga Perjamuan Khong Guan

Joko Pinurbo menghadirkan Minnah dalam bagian ketiga di buku ini. Minnah menjadi tokoh sentral seperti Sukab milik Seno Gumira Ajidarma.

Siapa Minnah? Apakah Minnah adalah Marsinah?

Saya mencoba mencari-cari arti Minnah. Muncul Minnah sebagai nama bayi dalam Islam. Artinya, keramahan atau anggun. Lalu juga ada buku karya Nashirudin Albani, judulnya Tamamul Minnah fit Ta’liq Alaa Fiqhus Sunnah.

Tapi apa yang dimaksud Minnah oleh Jokpin? Interteksnya ke mana? Di sini aku menyerah dan memilih menikmati Minnah yang baru saja lahir, dan kemudian menjadi simbol dari “yang bukan siapa-siapa” yang kemudian dipuisikan.

Barangkali Jokpin ingin menyindir banyak orang yang menggunakan intertekstualitas, yang kerap malah seperti pamer intelektualitas. Kenapa kita tidak pernah membuat puisi untuk mereka yang tidak pernah dianggap oleh dunia? Minnah kemudian lahir menjadi perwakilan dari banyak nama lain yang tidak penting yang tidak ada di teks-teks mana pun.

Kaleng Empat Perjamuan Kong Ghuan

Nah, inilah kaleng yang menjadi kunci dari buku puisi Perjamuan Khong Guan. Sebab di sinilah menu utamanya.

Puisi pertamanya aku suka banget.

Perjamuan Khong Guan

Di kaleng Khong Guan
hidup yang keras dan getir
terasa renyah seperti rengginang

Berkerudungkan langit biru,
ibu yang hatinya kokoh membelah
dan memotong-motong bulan
dan memberikannya
kepada anak-anaknya yang ngowoh.

Anak-anak gelisah
sebab ayah mereka
tak kunjung pulang.
“Ayahmu dipinjam negara.
Entah kapan akan dikembalikan,”
si ibu menjelaskan.

Lalu mereka selfi di depan
meja makan: “Mari kita berbahagia.”

Si ayah ternyata sedang ngumpet
menghabiskan remah rengginang.

(2019)

Puisi ini buatku sukses mengalihkan meme yang viral di mana-mana ke dalam sebuah puisi. Di mana ayah Khong Guan? Dipinjam negara. Itu dahsyat sekali.

Meski saya sangat suka puisi ini, saya mempertanyakan penggunaan kata ngowoh. Ngowoh itu artinya mulut yang terbuka lebar karena bengong. Apakah kata melongo, mulut yang menganga nggak bisa menggantikan kata ngowoh? Sebab, Jokpin yang sejak awal tampak disiplin dengan bunyi (seperti yang saya tebalkan pada puisi di atas), kok malah membuang bunyi dengan percuma demi kata ngowoh?

Begitu pula dengan kata ngumpet, tidak adakah kata lain yang lebih pas menggantikannya? Bahkan lebih jauh lagi, dua baris akhir itu sebenarnya tidak perlu. Lebih epik bila ditutup saja sudah dengan baris sebelumnya.

Sebab, di puisi lain, usaha untuk menerjemahkan rengginang di dalam kaleng Khong Guan itu bisa dilakukan (dan itu memang dilakukan dalam beberapa puisi lain yang tampak sumbil, misalnya dalam puisi Agama Khong Guan.


Kira-kira begitulah hasil pembacaan saya terhadap Joko Pinurbo. Sebagai pembaca, apalah saya, dari 5 bintang ala Goodreads, saya memberikan 3,5 bintang untuk puisi ini. Sebab saya menanti hal baru dari Joko Pinurbo. Namun, saya hanya menemukan sedikit kejutan di dalam buku puisi ini.

Jadi, setelah membaca hal-hal di atas, bagaimanakah jawaban atas pertanyaan hipotesis saya tadi? Silakan simpulkan.

Dari segi lay out-nya pun, buat saya pemborosan ya. Nggak ngerti kenapa banyak ruang kosong dalam 1 halaman. Padahal seharusnya puisinya muat di satu halaman. Mungkin Gramedia lupa, berapa batang pohon yang ditebang untuk menghasilkan buku-buku itu.

(2020)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

3 Comments

  1. Melongo gak bisa menggantikan kata ngowoh. Kalo dalam pemaknaan orang Jawa, ngowoh memiliki makna yang lebih kompleks, gak cuma melongo karena terpesona, tapi ada keinginan dalam hati yang menantikan sesuatu

  2. Tanggapan yang komprehensif dari “seorang pembaca puisi” menarik disimak dan menarik untuk dibaca ulang

  3. Kok aku bingung sendiri ya :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *