
Antologi Dari Timur 2 adalah buku yang dibuat dalam rangka menyambut Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018, MIWF dan Gramedia Pustaka Utama mengundang seluruh alumni Emerging Writers untuk berpartisipasi dalam proyek buku antologi DARI TIMUR VOL. 2. Tiga puisi saya terpilih ikut serta dalam antologi ini.
Bunuh Diri
Ia ingin melepaskan hidupnya
seperti seseorang yang melepaskan kekasihnya
dan pergi bersama hujan yang tak bosan
mengenalkan diri sebagai setia
Tak ada yang perlu bertanya apa kabar,
sudah makan belum, bagaimana nilai-nilainya,
punya pacar, kapan menikah, atau kenapa
tak kunjung memiliki keturunan
Hidup hanyalah pengulangan pertanyaan
dan tak tahu mana yang penting
dan mana yang sia-sia
Ia merasa anugerah tertinggi seharusnya
tak pernah merasakan hidup
Pelajaran Membaca Nasib Buruk
Sejumlah nasib buruk tak bisa bersembunyi
di telapak tangan seseorangMereka akan datang seperti pasukan berkuda Qin
yang memorak-porandakan musuh
karena berpikir, tujuan yang sama sekalipun
tak menjamin manusia bisa bersama-sama
Tak dapat diduga bagaimana, hanya tiba-tiba
Tersentak dari tidur panjang, dan api berkobar
di sekelilingHidup yang dikira baik-baik saja
dengan pandai telah berkhianat
Peperangan demi peperangan hadir dan tergurat
di garis tangan
ada yang bisa berubah, ada yang memang benar-benar
tak bisa diubah
Tinggal menunggu, dan menyaksikan
bagaimana kita habis disapu oleh nasib
yang sudah digariskan
Atau jika tak terima, bisa kita genggam sebuah bom
Atau juga memotong setiap ikatan yang ada
Sejak kita dilahirkan
Kereta ke Rohingya
Tuhan meninggalkanku
di Manggarai
Kereta-kereta penuh sesak
Setiap orang berebut naik
Tanpa membicarakan surga
Tanpa membicarakan-Mu
Samar-samar kudengar
Kita cukup menjadi manusia
Untuk peduli
Tapi dadaku mungkin lupa
Kemanusiaan seperti apa
Yang menggerakkan tubuh pekerja
Rasa takut terlambat
Kemacetan lalu lintas
Atau gangguan aliran listrik atas
Telah sungguh melebihi dosa
Kereta berangkat, menjauh
Semakin kecil, semakin
Kecil
Tuhan meninggalkanku
di Manggarai
Pringadi Abdi Surya. Lahir di Palembang, 18 Agustus. Ia sempat bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Sekarang, ia bekerja sebagai ASN di Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan. Catatan pribadinya bisa disimak di http://catatanpringadi.com dan kenarsisannya di @pringadisurya (instagram).