Puisi-Puisi Dhimas Muhammad Yasin

Puisi-puisi Dhimas Muhammad Yasin di bawah ini adalah beberapa puisinya dalam buku RAYUAN AMPLOP PUTIH. Buat kamu yang mau mengirimkan puisi ke Catatan Pringadi, silakan kirimkan tulisanmu.

Bersama Videoklip

Sebuah diska lepas putih
delapan gigabita dalam genggamanku,
dengan tali pita abu-abu
yang mengekang sekaligus menjaganya.

Jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh tepat,
kunyalakan laptop dan kutata rapi kabel pengeras suara.

Kucolokkan benda itu
dan berkediplah lampu biru kecilnya.
Kucari sebuah berkas dalam diska lepas
dan syukurlah … langsung ketemulah ia.

Sebuah videoklip lagu karya anak bangsa,
yang baru saja kuunduh dari internet.
Membuatku tidak sekadar terpesona dalam keindahan,
tetapi juga asyik-masyuk dalam kerinduan.

Dalam videoklip ada bulir-bulir ketombe
yang berjatuhan,
jutaan barangkali, bersemayam
hingga segala sesuatu yang ditempati
menjadi beruban karenanya.

Jalan raya, bangku taman, kanopi pohon,
Mobil-mobil, tiang-tiang, genting-genting,
hingga taman-taman hijau
tersibak oleh sisik-sisik putih.

Tampak seorang pria bertubuh tinggi-besar
berjaket hitam legam.
Setiap embusan napas dan mulutnya
selalu mengeluarkan asap putih.
Pandangannya seringkali menatap ke arah langit,
sesekali ke arah sepatu botnya.
Sementara seekor burung–entah dara atau merpati–
dan seekor anjing melintas di hadapannya,
mencuri dengar nyanyiannya yang amat merdu.

Pria itu kadang berada di dalam ruangan serba putih.
Dilihat dari segala sesuatu yang ada di dalamnya,
dia adalah tipe penyendiri.

Namun, dilihat dari setiap jejak langkahnya,
dia merasa terasing di tempat yang antah-berantah.

Dari bentuk rumah, jenis pohon,
serta rambu lalu lintas yang terlihat,
jelas tempat itu bukan berada di Tanah Airku.

Satu hal lirik lagunya yang menyentuh,
supaya sahabatnya harus percaya.

Aku tersenyum kecut
dan angkuh dalam kejengkelan
mengingatkanku pada defisit kepercayaan,
dari seorang pria yang katanya
tidak sekadar pengusaha minyak,
tetapi juga tuan tanah.

Ya benar! Tidak salah lagi.
Seorang pria yang awalnya
mendatangiku dengan senyuman,
hingga akhirnya membiarkanku
terjerumus dalam ketidakpastian.

Mengenang Tanggal Sebelas,
di dalam Kamar yang Jembar.

Sajak Seekor Bebek Putih

Seekor bebek putih berdiri tegak,
bersama ratusan bebek cokelat,
saling bertatapan dan menyapa

Masing-masing asyik sendiri,
tanpa keluh kesah di sana sini.
Sekalipun frekuensi bunyi yang dihasilkan,
memekakkan telinga barang siapa di dekatnya.

Seekor bebek putih bertubuh tegap,
bersama ratusan bebek cokelat
saling bertatapan dan menjawil
dengan paruh tumpulnya,
yang hanya mengenal niat canda.

Masing-masing asyik sendiri,
tanpa tersinggung di sana sini.

Sekalipun serangan paruh yang ditonjolkan,
menjadikan bengkak kulit barang siapa di dekatnya.

Seekor bebek putih berjalan lambat,
bersama ratusan bebek cokelat,
menceburkan diri ke kali sebelah,
berteriak dalam jutaan kubik air,
yang hanya mengenal aliran gembira.

Masing-masing asyik sendiri,
tanpa menjegal di sana sini, tanpa menyosor wira-wiri.
Sekalipun kepakkan sayap yang dibentangkan,
menodai kotor pakaian barang siapa di dekatnya.

Seekor bebek putih merangkak naik,
bersama ratusan bebek cokelat,
berduyun-duyun mendatangi besek,
yang berisikan beberapa kilogram bekatul
dengan racikan sedemikian rupa,
sehingga menambah nafsu makan.

Masing-masing saling serobot memang,
tetapi tak sampai berkelahi.
Saling mengoceh memang,
tetapi tak sampai menghakimi.

Di ujung senja seekor bebek putih tetap tinggal,
sedangkan puluhan bebek cokelat pilihan berbaris rapi,
digiring masuk ke mobil barang dengan mengantre.

Sungguh gelap gulita hingga masing-masing bola mata
cuma bisa celingak-celinguk dan plonga-plongo.

Sesekali langkahnya membentur tubuh aluminium itu,
sambil bertanya-tanya,
“Mau dibawa ke manakah nasib kami?”

Seekor bebek putih yang memang awam
hanya terheran-heran,
menyaksikan perpisahan yang tak terduga.
Sebab dia tak pernah bahkan sanggup menyangka,
bahwa si pengasuh hendak menunaikan janjinya
ke setiap penjuru rumah makan di jantung kota.
Disulap menjadi hidangan
pemuas hawa nafsu para konglomerat,
yang polos akan rengekan lidah dan perutnya.

Mengenang Tanggal Dua Puluh Tujuh,
di Perkampungan Ngasem yang Ayem.

Anggun Layaknya

Setiap kedua binar matamu memancar
dan bibir senyummu merekah,
ada gelombang tak beraturan di kedua pupil mataku
yang mengisyaratkan pada seluruh urat sarafku,
bahwa kau tak sekadar bidadari yang terjun ke Bumi.

Kau layaknya sumber mata air yang suci,
sehingga setiap sel tubuhku
yang memang pemalas dan sedang sekarat ini pun
mempunyai alasan terbesar
untuk bangkit dan bugar kembali.

Kau mungkin tak pernah menyadari,
bahkan kau mungkin tak mau peduli.
Bahwa di setiap pose selfi-mu
yang sekadar mengisi luangnya waktu,
ada ribuan pasang mata yang selalu menantikan
kehadiranmu yang memesona.

Kau layaknya ikan terbang yang muncul ke permukaan,
sehingga setiap detak jantungku
yang memang mengendur dan sedang seret ini pun
mempunyai keterangan logis
untuk kencang dan mengalir deras kembali.

Kau mungkin tepat menilai
bahwa kamera sekadar cermin
yang melukiskan kurang tertatanya penampilanmu,
serta betapa sunyinya perhatian
seluruh makhluk hidup terhadapmu.

Tetapi, kau tak pernah menduga
bahwa di dalam lensa kamera yang bening itu
terselip beribu-ribu ungkapan cinta kasih
yang berapi-api dari para makhluk manusia.

Betapa sungguh mereka mengagumi kesempurnaanmu.
Kau layaknya bunga mawar yang bermekaran,
sehingga setiap jemariku
yang memang pasif dan sedang kaku ini pun
mempunyai referensi untuk aktif dan lentur kembali.

Aku tak sekadar ingin memandang dan merabamu,
tetapi aku juga ingin
memetik dan membawamu pulang bersamaku.
Supaya kau selalu aman
dari kamuflase kupu-kupu dan sabotase lebah
yang selalu semena-mena memperdayaimu.

Maka kutuliskan entah sepucuk surat atau puisi ini
bukan sekadar tanda peringatan,
tetapi juga sebagai simbol perasaan.
Bahwa lampiran ini akan segera ditenggelamkan
oleh ribuan surat atau puisi lainnya pun
bagiku tak masalah.

Biarlah janji yang akan mencatat dan mengabarkan
betapa khidmat rasa syukurku diciptakannya dirimu
untuk menjadi penyemai, penyubur,
ataupun penghias
di Bumi yang tandus ini,
kasihku yang anggun.

Mengenang Tanggal Empat,
di Taman Balekambang yang Membentang.

Tragedi Kubangan

Aku melintasi sebuah jembatan layang,

yang di bawahnya mengalir beton-beton putih,

dengan aneka mobil, bus, dan truk yang melintasinya,

membuatku teringat pada sebuah tragedi kubangan,

yang kini telah terlepas dari ingatan para pelakunya.

Ada tiga anak kecil,

selalu lincah seperti kancil,

saling berkejaran sambil getil,

bersenda gurau dalam jahil.

Sampailah pada sebuah proyek tol,

yang dilancarkan dengan daya getol,

dengan desain megah layaknya kapitol,

membuat naluri mereka ikut kecantol.

Masuklah mereka dalam tanah lapang,

yang sejatinya merupakan daerah terlarang,

tanpa dibayangi oleh rasa bimbang,

darah muda mereka pun merasa tertantang.

Bertemulah mereka pada sebuah lubang,

yang merupakan tanah galian berkubang,

bentuknya cekung dalam serupa jurang,

dengan air keruh jauh membentang.

Semuanya terdiam dan tergelitik,

hingga salah satunya terjun dan tak berkutik,

sebab tubuhnya seperti ada yang menarik,

hingga membuat kedua kawannya pun panik.

Cepat-cepat mereka berdua terjun menyelam.

Sungguh kejam alam … air keruhnya terlalu bawah.

Dalam keadaan yang hitam mencekam,

mereka bertiga seperti kapal yang karam.

Menjerit-jerit mereka dalam gelagap,

memohon bala bantuan dengan penuh harap,

hingga tibalah petang datang merayap,

kubangan itu kembali dalam sunyi senyap.

Kisah ini hampir tiga tahun yang telah silam,

agar segenap pengguna jalan mafhum dan takzim,

bahwa daratan di sekitar gerbang tol sana,

ada tiga arwah yang telanjur melayang percuma,

akibat sebuah visi dan misi peradaban yang berkejaran.

Mengenang Tanggal Tiga,
di Perkampungan Ngasem yang Ayem.

Tentang Penulis

Lahir dengan nama lengkap Dhimas Muhammad Yasin di Surabaya. Alumnus sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret. Memperoleh sejumlah penghargaan dalam lomba menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya berjudul “Rayuan Amplop Putih” (Guepedia Publisher, 2019). Buku cerpennya berjudul “Dalam Ruang Gerhana” (Guepedia Publisher, 2019). Buku nonfiksinya berjudul “Sekapur Sirih Filologi Indonesia” (Guepedia Publisher, 2019). Buku novelnya berjudul “Warsa: A Cheerful Boy” (Kindle Amazon, 2020). Kegiatan sehari-harinya bergumul dengan buku-buku pelajaran sekolah untuk SD/MI. Penulis bermukim di daerah Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Penulis dapat dihubungi lewat FB: Dhimas Muh Yasin; IG: @dhimas.yasin; Twitter: @dhimasyasin

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *