Puisi-Puisi Ardhi Ridwansyah

Gembala

Anak domba mengembik lirih kala senja datang.
Untuk kali pertama dia rasa kehidupan.
Tak bersama sang induk yang tak tahu ke mana.
Dan untuk kali pertama, sang gembala bersamanya.

Giringlah dia ke tempat di mana anak domba beristirahat.
Kenang dan mimpi menyerbu batinnya, pikirannya, emosinya.
Ia mengembik kala tak bisa tidur, ibunya datang ke dalam mimpi.
Sang gembala jelas tak ada di sana, ia berada di pinggir sungai kecil.

Yang mendesah dingin kala ingatanya membawa ke tragedi nahas.
Dibakar sepuntung rokok yang berkobar bara api, dan ia mulai meratapi,
Ketika gigi rubah mencabik, mengoyak, menggigit bulu dan daging yang lunak.
Kala ia hanya mampu menatap dan termangu layaknya arca di sebuah candi.

Sementara anak domba harap cemas menunggu ibu tiada henti.
Sang gembala datang dengan senyum tak pasti.
Senyum munafik, senyum naif, senyum kebohongan dan kepalsuan.
Lembut tangannya belai bulu si si anak domba, agar dia tenang.

Bohong sisakan kekacauan dalam benak sang gembala.
Ia merintih kala fajar tiba, menangis saat senja lahir, dan merenung kala malam hadir.
Dia terjebak dalam pukat harimau yang menjaring ribuan ikan di laut.
Dan kini ia meronta tak keruan diselingi bayang si anak domba yang sendu.

Jakarta, 25 Januari 2020

Duka-cita

melirik bintang yang redup.
hinggap kabut sedih meratap.
kerling sendu dari sang bulan.
menyisir semesta yang bertuan.

senyap ngarai berhias deras sungai.
sejenak jangkrik berdendang aduhai.
di selubung rimba, anak-anak berwajah masai.
tatap belukar menahan cemas.

takut mendekap seluruh raga.
serta amarah menggeliat cepat.
telusuri hati yang damai.
angin hempaskan harap dari genggaman.

jika pohon menjelma jadi beton.
gajah, macan, burung, atau orang utan.
tinggal kerangka tak berdaya,
berduka citalah alam raya.

Jakarta, 25 Januari 2020


Baca Juga: Puisi Thomas Elisa


Hambar

kuberjalan menatap waktu.
putar-memutar alasan tiba.
saat mentari menutup cahaya rindunya.
dan seruling murai bertiup lirih.

masa ke masa tidaklah sama.
tangis bayi tak sesunyi mata itu.
hampa tanpa nyala suluh kerinduan.
dan hambar tanpa asin garam kehidupan.

menyasar tiap kerling pandangan.
orang-orang berotak mesin berhati baja.
bergerak kokoh hantam siapa saja.
tiada kenal rasa kemanusiaan.

Jakarta, 25 Januari 2020

Romansa

Poles sendu dengan rindu.
Semerbak melati tersapu angin.
Di kala hari terasa kelabu.
Juntai indah sentuhmu di saat itu.

Telisik bibir merah nan ranum.
Bak fajar hinggap di ujung pantai.
Sementara ombak bergulung indah.
Tanpa meninggalkan masai.

Kau suapi aku dengan cinta.
Hasil racikan alam semesta.
Dibalut malam yang terkenang
Kini gulita menelan terang.

Jakarta, 25 Januari 2020


Baca Juga: Puisi Rudi Santoso


Konflik

Menerpa angin malam, berdesis di tiap lekuk wajah.
Menyisir mata, hidung, dan bibir tak terarah.
Nikmati belaian dingin cintamu padaku.
Gigil diri menahan rasa dan raga yang sudah terpaku.

Renung sang rembulan menatapku resah.
Bimbang meratap jiwaku yang mendesah.
Dalam dada berkecamuk antara rindu dan sendu.
Dalam angan tumbuh belenggu dan ambigu.

Di antara bintang yang gemerlap.
Dan hadirmu membuatku kalap.
Di samping nyanyian jangkrik yang terkesiap.
Melihat cinta dan benci yang saling melalap.

Kau hadir membawa belati.
Dan kau tusuk ke dalam hati.
Yang tak tahu engkau wahai kasih.
Jika terus berbasa-basi.

Sejumput cahaya hilang dari sudut mata.
Dan terhempas dalam sebuah penjara.
Yang dirundung gulita dan lara.
Sesal siap berkunjung, harap tinggal sejarah.

Jakarta, 25 Januari 2020

 

BIODATA

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Kini, sedang kuliah di UPN Jakarta. Jurusan Komunikasi. Dia suka sekali mendengarkan musik, menulis, dan membaca. Baginya, hal tersebut merupakan sarana penyaluran isi hati dan pikiran. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, dan nyimpang.com. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. E-Mail: ardhir81@gmail.com, Intagram: @ardhigidaw.

 

 

 

 

 

 

 

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *