Puisi Lilis Karlina

Kali ini dihadirkan puisi Lilis Karlina, penulis kelahiran Madiun, Jawa Timur. Silakan kirimkan karyamu ke Catatan Pringadi.

Waktu Paling Baik Melawan Lupa

kita memilih terjaga saban malam
menikmati udara dingin dengan secangkir kopi pahit kesukaanmu
menghabiskan pagi dan siang memeluk mimpi lebih dulu
karena malam adalah tempatmu bekerja
waktu paling baik melawan lupa

di sebelah mesin ketikmu
sekarang ada foto perempuan berbaju merah jambu
berkacamata dan rambutnya pendek
aku baru sadar saat menulis ini
sambil memandangnya penuh tanya
ternyata rambut kita sama dengan poni samping
yang mengganggu.

entah tiba-tiba aku ingin memandangnya sepanjang hari
wajahnya dingin, seperti malam ini, dingin sekali
tidak ada senyum, apalagi kata-kata manis
ini hanya gambar seorang perempuan yang hilang
dua puluh lima tahun lamanya
tak ada kabar, tak ada berita
kecuali malam
tempat paling rahasia setiap manusia

perempuan yang membuatku sangat kesepian
yang membuatku kehilangan segala arah pulang

perempuan yang membuatku hampir gila
karena harus menelan pahitnya penderitaan
tanpanya.
dan jika kau pulang
lalu, apa yang akan kau tanyakan padaku?
atau apa yang harus kukatakan?
selamat datang atau selamat tinggal
tapi rasa cinta yang diciptakan semesta
selalu jadi pemenang
di antara peliknya rindu atau melupakan

Kota Gadis, 2022

Baca Juga: Puisi Ikuta Zen

Berkelana dengan Puisi

berkelana dengan puisi membuat kita makin tahu arti
semua hal jadi kata
bahkan tak sempat dibunyikan
hati kita makin merasa
merasa hilang
tapi kadang begitu penuh dan tumpah ke mana-mana

kita hilang dari jangkauan masa kini
dan menggembara liar dengan masa lalu
mencari lagi potongan sisa singkong bakar yang di bawa kakek
sore itu sambil membawa rumput untuk sapi
belum sempat mandi

badanya basah kuyup
aku yang duduk di depan dapur
menunggu nasi masak
kakek memasukan singkong di bagian paling belakang tungku
katanya biar tidak gosong
kita sama-sama menebar senyum
sebelum kakek mandi dan sembahyang
yang sudah amat telat

menyenangkan mengingat kembali rumah gubug bambu
tanpa sekat dan tidak bisa untuk bermain lari-lari
aku serasa memiliki dunia ini
semuanya milikku
makan nasi, tempe dan sambal bawang tiap hari
tak membuat kami merasa miskin
dan tidur di dipan bertiga
aku dipeluknya dengan dua pintu surga
yang kini sudah padam dan tiada

Kota Gadis, 2022

Pulang

hari ini kita memilih bermalam dalam diam
terjaga dalam dinginnya malam
dan menyalakan rindu seperti api
agar kita sama-sama mampu bermimpi

melewati jalan pintas di mana kita selalu rindu
ladang tempat padi-padi ditandur
waktu mundur menghitung detik
pelukan serta jendela tua yang rapuh
di jendela itu
waktu tak pernah berputar
waktu serasa abadi
dan tidak ada hari-hari yang perlu dikenang kembali

Kota Gadis, 2022

Malam

hujan bintang di matamu
langit gelap dan bulan bersembunyi di dadamu
tak lagi mampu menampung derasnya perasaan
yang kau terjemahkan menjadi air mata, bukan?

kau membunuh dirimu di masa lalu
menyimpannya menjadi poto-poto di dinding
agar mereka yang pura-pura mengenalmu
mengembalikan hutang yang telah dijanjikan
untuk masa depan

kau kubur dirimu dengan diam
dan menyimpan suara pada angin, di sela dedaunan
dan ranting yang tidak mau tua
ranting ingin melihat senja membawa para burung pulang

membawa makanan untuk anak-anaknya yang ditinggal seharian
ranting bahkan punya rasa bahagia melebihi manusia
dia bicara dan tertawa dengan bahasa hujan
bahasa dedaunan gugur

kau memang tak pernah merasa tua
jendela kamarmu memang tak bisa bicara atau menghiburmu
dengan puisi bisu
karena tak ingin ada suara
kau hanya ingin abadi dengan diam
dan melihat musim gugur dan tumbuh bergantian

Kota Gadis, 2022

Cara Mencintaimu

cara mencintaimu itu sederhana
melihat senyum mekar seperti melati
harum, merangkai kata dan menjadikannya puisi
kita akan menyimpan tentang hari ini menjadi biji hujan
nanti jika musim sudah tandang
dada kita yang kering
akan diguyur sederas perasaan

Kota Gadis, 2022

Menemukan Pelukanmu

Ibu, aku ingin kembali ke masa lalu

menemukan lagi puting dan air susumu
menemukan pelukkan paling hangat
yang tidak asing oleh musim

ibu aku ingin kembali ke masa lalu
menemukan lagi suara-suara merdu di balik dapur gubug
memanggil-manggil namaku
terdengar seperti nyanyian alam

ibu aku ingin kembali ke masa lalu
menantimu di awal waktu
di ujung jalan sana
ada hati kecil yang menunggu penuh khawatir

ibu
bisakah aku kembali ke masa lalu?
biarkan waktu berlalu tanpa bincang
kita hanya duduk mengabiskan
dingin malam
melihat daun gugur
dan ranting-ranting menumbuhkan
anak-anak daun
melihat embun memeluk
air mata kita, ibu

tidak ada yang akan kita jelaskan
dengan masa depan

yang menghilangkan separuh pertemuan
dan separuh perpisahan
dan saat kita sama-sama pulang
di waktu bersamaan
dengan perpisahan cium kening
yang menyimpan segala hening

Kota Gadis, 2022

Baca Juga: Puisi Mauliya Nandra Arif Fani

Kita Memilih Untuk Tidak Setia Pada Siapa-Siapa

kita bisa memilih menjadi apa saja untuk cerita ini
jalan terlalu panjang
dukamu, lukamu dan air mata
akan ke mana kau bawa
dan waktu menjadi serasa beku
mencari cahaya pada dirimu yang tak lagi penuh
kita memutuskan untuk tidak setia pada siapa-siapa
ruang tunggu di rumah ini akan aku nyalakan lampu
lebih terang dari rembulan
agar sinarnya menembus gulitanya malam
agar hangat memeluk sudut-sudut ruang
yang gagal menemukan kasih sayang
dan jendela tidak akan pernah kita buka
karena tidak ada yang akan datang
kecuali suara rintik hujan
penanda musim telah tua

dan kita tidak sedang setia pada siapa-siapa

nama-nama yang telah kau tulis rapi di lembar
pertama di buku yang paling rahasia sudah kau robek dan bakar
sebuah cara lupa yang gagal
tapi kita tidak sedang setia pada siapa-siapa
kecuali musim kering yang membuat ranting-ranting pohon kehilangan
daun-daun,
lalu angin merengkuh memelukmu yang tak berdaya
rumahmu tempat tidur berbaring di kursi panjang
menengok dapur kosong, kasur berdebu dan pintu-pintu rapuh oleh waktu
tempat mandi, bernyanyi dan menahan lapar tiap dini hari

kita memilih untuk tidak setia pada siapa-siapa
kecuali kata-kata yang tidak akan sempuran menumpahkan rasa
kita akan berbahagia di hari-hari raya
melihat kursi-kursi dan meja-meja kosong
jam tak lagi berputar
hari ini telah sampai lagi di depan rumah
kau melihat daun-daun yang kau cintai gugur bergantian
tersapu angin dan hilang
dan kita memutuskan untuk tidak setia pada siapa- siapa

Kota Gadis, 2022

Lilis Karlina, lahir di Kebonsari, Madiun, Jawa Timur. Penulis puisi, karyanya termaktub dalam kumpulan buku puisi pertamanya Menghitung Air Mata Dalam Gerimis (2020) beberapa antalogi bersama dan terbit beberapa media online seperti Tiratimes, Literasikalbar, Competer Indonesia, Kepul, dan lain-lain. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit. Surel: putrilili1806@gmail.com, IG: putrililis1806

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *