Puisi Ikuta Zen

Aku Yang Terbaring Sunyi

  • kepada abau

Dengan kacamata tua
ia pakai sebagai penanda
bahwa ia seseorang telah menua

Di suatu minggu kelabu
pelangi saat itu berwarna biru
tepatnya pada tanggal tua
ibunya telah pergi ke surge

Ia tetap diam menahan kesedihan
dan keheningan, baginya sepi
yang sudah mendarah daging
tanpa diundang dan dikehendaki
sepi sudah berada pada darah
suatu menginjak kaki ke bumi

Semasa senja baginya waktu terdiam
menunggu kunci dan balik ke rumah
badan telah letih, juga kepala berat
hanya kesepian yang memahaminya
dibanding keramaian membuatnya menyendiri

Ia tak sudah tak peduli lagi
kicauan burung menggantung di dinding rumahnya
rerumputtan saban kali ia siram telah layu
ia memang pendiam
mengendara malam sendiri
serupa karam terbaring sunyi
kata-katanya hiasan tawanya
buat menghibur diri
yang tengah dirundung duka

Dengan kacamata tua
ia pakai sebagai penanda
bahwa ia seorang perkasa
meski terbaring sunyi
meski terbaring sunyi
ia seorang pekasa – selalu bahagia

Banjarmasin, Januari 2022

Firdaus

Tanpa berkata sepatah bilah
tempat dimana aku hidup selamanya
dengan mata air masing-masing
mengalir sesuai jalur
tak ada lagi sampah dan limbah
membuat bau tak sedap
Semakin jalang adalah diri kita
barangkali lupa kemana pulang
Dunia bukan tempat bercumbu
apalagi selamanya waktu
aku tembak dengan karet
yang aku saring di hutan kota
dan setibanya aku tidur
bermimpi sorga paling atas
jangan sampai Hawa membuatku
tergoda dunia lagi –

Banjarmasin, Januari 2022

Burung

Ia terbang di ambang batas benua
antara dinding sorga dan neraka
ia sambil memikul dosa
di lihat paruhnya yang lancip
di lihat corak sayapnya beraksara

Terpejam mata,
melihat ia terbang di badai senja

Senandungnya mengaung
pada bagian paruh atau mulut
buat memancing makanan
di laut dan di darat

Dan ia pun hampir mirip malaikat
bersayap dan mengepakkan
terbang di atas kembara
pulang tak tahu kemana

Banjarmasin, Februari 2016 – Juni 2021

Domba Hitam

Di kumpulan keramaian, aku duduk bersandar
di sebuah taman Firdaus
sejenak aku bediri dan memandang suasana
melihat sekitar manusia masih banyak bersengketa
pengemis memaksa meminta
anak kecil bermain api
bayi dibiarkan menangis di tengah jalan
juga tampak asing aku pandang –

Aku mulai berjalan perlahan demi perlahan
bermacam duga yang aku rasa dan aku cerna
bergejolak gairah kegelisahhan
dalam semesta jiwa berwarna mendung
berusaha membunuh diri itulah aku

Melihat suasana keramaian, semakin berjalan
aku berdiri di tengah mereka semua
mereka menatapku – tatapannya setajam pisau
sehabis menyembelih anak domba sebagai tumbal

Aku berusaha diam, aku takut memulai berkata
sebabnya aku sudah biasa bersuara
tapi tak diacuhkan dan dianggap
aku ada diantara mereka semua
tapi aku dianggap mainan

Waktu membunuh detik semakin kejam
mereka semua menunjukku dengan jari tengah
dan membentuk lingkaran sambil menyalakkan api
seperti simbol perlawan dan pemberontak
melindungi diri yang sudah sirna

Bisaku hanya menatap diam mengunci bisu
sebab bibirku sudah mengerut di makan usia
yang sudah larut menganggap diri tiada
yang aku gapai sudah abai
mengejar mimpi semata sebuah penghiburan

Mereka ucap aku seorang cadangan bila perlu di tangkap –  Kalau perlu di buang di pinggir jembatan tempat seseorang menyembelih kepala anak kecil incarannya sebagai tumbal

Aku terus berdiri di lingkaran mereka semua
di bawah mendung mega, berusaha membunuh diri
tapi aku perlu berpikir seribu kali
aku ingin kembali mengejar mimpi

Biar warnaku berbeda dari mereka
aku takkan sirna dan bila waktu berhenti berbicara
bersekutu menyiramkan keluruhan
aku sudah berbicara lantang
aku sudah hadir tepat waktu di tempat kerja
aku sudah ada di hadapan mereka semua
aku di pandang tetap hina dan sudah tiada

Banjarmasin, Februari 2021 – September 2021 – Oktober 2021

Nuh

Ia menjemputku
lonceng  bahtera sebagai pengenal
yang terdengar di jendela kamar

Saat itu aku masih berada di pesta
apa hal tak di sangka
ia ingin berjumpa aku
ia datang namun tak di undang
aku kenali ia
rambutnya masih basah
belum bisa diikat gelang karet
karena habis keramas

Ia menyampaikan
dan membisikkan,
juga membawaku agak jauh
supaya tak ada yang melihat
apalagi yang menguping

Padahal saat itu aku tengah menari
sampai lupa diri
tapi ia ingin berjumpa aku

Ujarnya sambil bergetar
ini dunia hanya ujung waktu
ini dunia akan tenggelam dan musnah
ikutlah bersamaku
selagi cerobong asap kapal masih mengepul
dan menembus awan gelap
kita akan menuju pulau yang berkilau
bukan lagi berlabuh di gurun pasir

Jakarta-Banjarmasin, Desember 2015 – Januari 2019

Tentang Penyair

Ikuta Zen, Tinggal di Banjarmasin. Menulis puisi sejak 2015. Puisi-puisinya termuat berbagai antalogi lomba cipta puisi dan di media online, seperti Omong-omong dan Ruangjaga. Aktif di Facebook : Ikuta Zen dan di Instagram : @iktzen24

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *