Mengenal Penyakit Jantung Bawaan dan Cara Perawatannya

Tahukah kamu, prevalensi penyakit jantung bawaan (PJB di Indonesia) mencapai sekitar 8-10 dari 1.000 kelahiran hidup, dengan sepertiga di antaranya bermanifestasi dalam kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan dan 50 persen dari kegawatan pada bulan pertama kehidupan berakhir dengan kematian?

Nah, dalam proses penyembuhan PJB pada anak, orang tua memegang peranan yang sangat penting. Bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia yang tahun ini mengangkat tema “Use Heart to Connect”, Danone Specialized Nutrition Indonesia memperkuat edukasi agar para orang tua dengan Anak PJB dapat mengoptimalkan perawatan dan pemberian dukungan nutrisi tepat agar tumbuh kembang anak optimal.

Pada kesempatan ini, dihadirkan sejumlah pembicara, antara lain Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes yang saat ini berpraktik di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bali.

Baca dulu: Manfaat Olahraga Badminton bagi Kesehatan

Sejarah Hari Jantung Sedunia

Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day diperingati setiap tanggal 29 September. Tujuan peringatan Hari Jantung Sedunia adalah untuk memberi tahu orang-orang di seluruh dunia bahwa penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke, adalah penyebab kematian utama di dunia.

Peringatan ini juga menyoroti tindakan yang dapat dilakukan individu untuk mencegah dan mengendalikan penyakit jantung.  Hari Jantung Sedunia pertama kali dicanangkan pada 1999 oleh World Heart Federation (WHF) bekerjasama dengan World Health Organization (WHO). Ide acara tahunan itu dicetuskan oleh Antoni Bayes de Luna, presiden WHF dari 1997-2011.

Menurut Federasi Jantung Dunia (World Heart Federation), Hari Jantung Sedunia penting karena penyakit kardiovaskular (CVD) menjadi pembunuh nomor satu di dunia, yaitu 18,6 juta kematian per tahun. Penyebab munculnya penyakit kardiovaskular antara lain merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas, hingga polusi udara. Selain itu bisa juga disebabkan kondisi yang kurang umum seperti penyakit Chagas dan amiloidosis jantung.

Selain itu dengan diperingatinya Hari Jantung Sedunia, dunia dapat menyoroti tindakan yang dapat dilakukan individu untuk mencegah dan mengontrol CVD. Perlu adanya edukasi bahwa dengan mengendalikan faktor risiko seperti penggunaan tembakau, pola makan yang tidak sehat dan aktivitas fisik, setidaknya 80 persen kematian dini akibat penyakit jantung dan stroke dapat dihindari.

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) adalah kelainan pada struktur maupun fungsi jantung yang didapat sejak masih berada dalam kandungan. Kelainan ini dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung, maupun pembuluh darah yang ada di dekat jantung. Akibatnya, dapat terjadi gangguan aliran darah di dalam tubuh penderita, misalnya terjadi sumbatan aliran darah, atau darah mengalir ke jalur yang tidak semestinya.

Jantung terbentuk mulai hari ke-15 kehamilan dan telah selesai pada hari ke-50, jadi pada usia kehamilan 7-8 minggu jantung telah menjalankan fungsinya. Pada masa itu, apabila terjadi gangguan maka proses pembentukan struktur jantung menjadi tidak sempurna.

Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi pada tubuh anak. PJB memiliki variasi kelainan yang sangat luas sehingga anak bisa tumbuh normal, terutama pada kelainan yang tidak tampak biru. Meski PJB merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terdapat sejak lahir, namun gejala dan tandanya dapat timbul di kemudian hari.

Meskipun ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe.

Tipe 1, yaitu PJB biru (sianotik), jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah/bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah.

Tipe 2, PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menyusu atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Bagaimana Mengenali Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Website Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa.

Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda/gejala gagal jantung, kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Namun sering kali PJB tidak memberikan gejala/tanda yang khas saat bayi baru lahir mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB.

Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat waktu yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi/intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan hingga anak tumbuh dewasa.

Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Hati dan Penyebabnya

Merawat Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Anak yang menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB) biasanya mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dan kurang optimal bila dibandingkan dengan anak normal pada umumnya. Hal ini disebabkan karena anak penderita PJB mengalami malnutrisi alias kekurangan kalori.

Meskipun Si Kecil cukup Air Susu Ibu (ASI) atau formula, anak dengan PJB mungkin masih mengalami kenaikan berat badan yang sangat lama, karena kalori yang mereka butuhkan juga bertambah. Karena alasan inilah anak dengan PJB harus diberikan asupan kalori yang lebih untuk “mengejar” kekurangan berat badan serta pertumbuhan yang lebih lambat.

Kondisi medis khusus seperti PJB pada anak memang mempersulit pemenuhan nutrisi yang diperlukan, sehingga apabila tidak ditangani dengan tepat, dapat berujung pada gangguan pertumbuhan anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut, angka kejadian PJB dilaporkan sekitar 8 – 10 bayi dari 1000 kelahiran hidup.1 PJB bisa ditandai dengan napas pendek dan cepat, sulit makan, keringat berlebih saat makan, sianosis (kulit, bibir dan kuku berwarna kebiruan).

PJB yang tidak ditangani dengan baik bisa memicu pertumbuhan buruk dan kurang nutrisi (wasting/stunting), gangguan perilaku anak, gangguan saraf, infeksi saluran pernapasan yang berulang, hingga menyebabkan kematian. Secara garis besar, malnutrisi pada anak dapat disebabkan oleh tiga hal; masukan kalori yang tidak adekuat, penyerapan dan pemanfaatan yang tidak efisien, dan/atau peningkatan kebutuhan energi/ kalori.

Masalah gizi ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak dengan PJB. Jantung mereka harus memompa lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Metabolisme tubuh juga lebih cepat dalam kondisi ini. Untuk alasan inilah anak dengan PJB membutuhkan kalori ekstra untuk mempertahankan berat badan dan tumbuh.

Anak dengan PJB kemungkinan menjadi cepat lelah karena tubuh bekerja lebih keras di bawah kondisi kelainan jantung sehingga anak mungkin tidak memiliki energi yang cukup untuk makan dengan benar. Bayi mungkin cepat lelah saat menyusu atau bahkan memilih tidur dan melewatkan jadwal menyusu. Sedangkan pada anak dengan PDB yang lebih besar cenderung menjadi pemilih makanan, mengeluh kenyang setelah beberapa gigitan, atau meminta istirahat/menolak makan.

Meskipun anak dengan membutuhkan lebih banyak kalori hanya untuk mempertahankan berat badan, ia mungkin terlalu lelah untuk makan dalam jumlah cukup. Ini ditambah dengan usus anak penderita PJB tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik (malabsorpsi) karena saluran cerna tidak mendapatkan cukup oksigen.

Karena alasan inilah, anak dengan PJB membutuhkan penatalaksanaan nutrisi yang berbeda dengan anak yang lainnya. Dengan kata lain, anak dengan PJB memerlukan asupan nutrisi yang agresif dan makanan tinggi kalori.

Pemberian nutrisi yang tepat dan pemantauan rutin menggunakan grafik pertumbuhan yang sesuai dapat membantu anak dengan PJB untuk terhindar dari kondisi serius lainnya yaitu malnutrisi dan stunting yang dapat memperburuk kesehatannya. Kunci utamanya adalah deteksi dini yang dapat menentukan penanganan yang sesuai.

Kebutuhan Nutrisi Anak dengan PJB

Dokter, perawat, dan ahli gizi dapat membantu mengembangkan rencana untuk memastikan bahwa anak dengan PJB mendapatkan nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Cara yang bisa dilakukan antara lain:

1.Berikan ASI dan susu berkalori tinggi

Suplemen nutrisi khusus bisa ditambahkan ke dalam susu formula atau ASI yang dipompa untuk meningkatkan jumlah kalori. Anak mungkin minum lebih sedikit tetapi masih mendapatkan kalori yang cukup untuk tumbuh. Minuman berkalori tinggi juga bisa diberikan untuk meningkatkan gizi pada anak yang lebih besar.

2. Berikan makanan dan camilan tinggi kalori

Bunda dapat menawarkan makanan bergizi dan makanan ringan untuk anak dengan PJB. Baca tabel informasi nilai gizi terutama kandungan kalorinya dengan cermat. Makanan sehat seperti sayuran mungkin tidak memiliki banyak kalori, tetapi bisa disiasati dengan menambahkan beberapa keju atau saus yang dicairkan untuk meningkatkan kalorinya.

3. Hindari memberikan makanan dengan kalori kosong

Jangan berikan makanan anak PJB yang memiliki kalori kosong, misalnya makanan dengan banyak gula dan sedikit nutrisi, seperti minuman ringan bergula, junk food, dan makanan cepat saji. Lebih baik berikan anak makanan bergizi seimbang dan tinggi kalori. Minta saran dokter, perawat, atau ahli gizi jika Bunda membutuhkan petunjuk soal makanan untuk anak PJB.

4. Bantuan tabung nasogastrik

Beberapa bayi dengan PJB kemungkinan tidak mengonsumsi kalori dalam jumlah yang cukup hanya dengan menyusu ASI atau minum susu formula. Anak-anak ini mungkin memerlukan makan tambahan menggunakan tabung nasogastrik (NG). Tabung NG ini ditempatkan di hidung bayi dan melewati perut. ASI/susu formua diberikan melalui tabung sehingga anak tak membutuhkan kerja keras untuk minum susu guna menambah berat badan.

Untuk mendapatkan tambahan nutrisi yang dibutuhkan, berikut beberapa contoh makanan yang dapat diberikan pada Si Kecil dengan PJB:

Tambahan kalori

Bunda bisa menambahkan mentega ke nasi, roti, kentang, dan sayuran yang dimasak; Tambahkan mayones ke sandwich atau salad; Oleskan selai, jeli, atau madu di roti panggang; Tambahkan buah kering ke sereal dan muffin

Tambahan protein

Oleskan selai kacang di biskuit, roti, dan buah seperti apel dan pisang; Campurkan susu ke sup, puding dan sereal; Tambahkan keju ke sandwich, saos, dan sayuran, serta tambahkan telur ke berbagai hidangan.

Sedangkan untuk menjaga kadar lemak jenuh sekaligus menjaga jumlah kalori Si Kecil agar tetap optimal, berikan yogurt, pudding dan susu/keju rendah lemak. Dengan catatan, makanan/minuman rendah lemak ini hanya direkomendasikan untuk Si Kecil yang sudah berumur lebih dari 2 tahun.

Upaya gigih dan penuh kasih sayang untuk memberi makan Si Kecil dengan PJB akan terbayar. Memberi makan Si Kecil dengan kelainan jantung harus menjadi pengalaman positif, bukan medan pertempuran. Biarkan Si Kecil memutuskan kapan dia puas.

Jika Si Kecil tidak tumbuh secara normal karena penyakit jantung, operasi jantung dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat, yaitu dengan cara ‘mengejar’ tinggi dan berat badannya sesuai grafik pertumbuhan. Anak-anak dengan PJB bukan tidak mungkin mencapai pertumbuhan yang memuaskan pada saat mereka mencapai usia remaja.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *