Ke Mana Arah Kiblat

Ke Mana Arah Kiblat yang Benar? Yuk, Kita Simak Sejarah Arah Kiblat dan Cara Menentukan Arah Kiblat!

Ke mana arah kiblat yang benar? Mungkin sebagian kita akan menjawab arah kiblat yang benar adalah ke barat, ke arah matahari tenggelam. Begitulah banyak orang berasumsi tatkala menentukan arah kiblat di rumahnya masing-masing. Padahal, asumsi tersebut keliru.

Dalam film Sang Pencerah, arah kiblat juga menjadi diskusi yang menarik. Film yang menceritakan kisah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah tersebut, juga menyinggung penentuan arah kiblat di masjid-masjid yang waktu itu masih banyak keliru. Termasuk di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta.

Baca Dulu: Sejarah Umroh dan Hal Penting yang Harus Diketahui dari Umroh

KH Ahmad Dahlan yang saat itu adalah Khatib Masjid Gede berusaha mengubah arah kiblat masjid yang salah. Beliau menggunakan alat yang saat itu dianggap modern, yaitu peta dan kompas. Tentu saja, hal tersebut mengundang banyak protes dari para kiai, di antaranya Kiai Abdullah dari Blawong yang mempertanyakan mengapa saat ini semua masjid di Nusantara memiliki kiblat ke Barat. Ahmad Dahlan pun menjelaskan bahwa sejak awal berdiri masjid di Nusantara, yang umum diketahui adalah bahwa Tanah Suci Mekkah berada di sebelah barat dan Nusantara di sebelah timur Tanah Suci. Karena itu, seluruh arah kiblat saat dibuat menghadap ke barat. Namun ilmu pengetahuan terus berkembang. Dengan peta dan kompas, Ahmad Dahlan mengatakan bahwa arah kiblat yang benar adalah 24 derajat dari arah sebelumnya.

Kenapa Arah Kibat Itu Penting?

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 144, Allah SWT berfirman:

Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.

Tafsir singkat dari Kemenag RI atas ayat itu ialah: Sebelum arah kiblat dipindahkan kembali ke Kakbah, Nabi sering menengadahkan wajahnya ke arah langit. Nabi sangat berharap agar Allah segera memindahkan kiblat dari Baitulmakdis ke Kakbah, maka turunlah ayat ini. Kami melihat wajahmu, wahai Nabi Muhammad, sering menengadah ke langit. Kami Maha Mengerti tentang keinginanmu, oleh karena itu akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, wahai pengikut Nabi Muhammad, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dengan pemindahan ini, Baitulmakdis sudah tidak lagi menjadi kiblat salat yang sah. Orang Yahudi dan Nasrani tahu benar akan hal ini. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab Taurat dan Injil tahu bahwa pemindahan kiblat itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Hal itu mereka ketahui dari kitab-kitab suci mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. Allah pasti akan mencatat semua langkah perbu-atan mereka yang melawan ketentuan-Nya.

Ya, perubahan arah kiblat adalah salah satu sejarah penting umat Islam. Umat Islam pernah salat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan tiga hariHal ini berdasarkan perhitungan Rasulullah SAW tiba di Madinah pada Senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul awwal.’Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk mengganti arah kiblat ke Ka’bah pada hari Selasa pertengahan bulan Sya’ban.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 243, Alah SWT berfirman:

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.”

Memang ada beberapa alasan kenapa terjadi perubahan arah kiblat tersebut, namun alasan utamanya adalah kesalihan.

Dalam ayat ini juga dikatakan bahwa pemindahan kiblat itu terasa amat berat. Kisah Ahmad Dahlan yang mengubah arah kiblat supaya lebih tepat pun sama beratnya karena melawan tradisi dan hegemoni.

Kisah yang sama juga pernah dilakukan oleh KH Zainuddin MZ. Beliau membongkar masjid Fajrul Islam yang terletak di depan rumahnya karena kiblatnya salah. Namun, ia bertanggung jawab dengan membangun kembali masjid yang dibongkar tersebut.

Sampai kini, permasalahan soal kekeliruan arah kiblat di masjid-masjid ini masih jamak terjadi. Sosialisasi dari pihak terkait agar masjid mengecek arah kiblatnya terus dilakukan. Tanpa perlu membongkar masjidnya, hanya mengubah arah sajadahnya.

Baca Juga: Ceritaku tentang Jaket Kuning

Nah, dulu sih ada beberapa cara untuk mengamati arah kiblat yang benar, mulai dari mengamati matahari, mengamati pertumbuhan lumut, dan menggunakan kompas sederhana dengan jamur dan air. Sekarang, ada cara yang lebih mudah yaitu menggunakan aplikasi arah kiblat.

Salah satu aplikasi yang bisa dipakai adalah Maqmur. Salah satu fitur yang aplikasi dimiliki MAQMUR adalah penunjuk arah kiblat. Dengan fitur ini, kita bisa mencari arah kiblat dengan akurat. Aplikasi MAQMUR ini dapat diunduh secara gratis dan tersedia di Google Play Store (Android).

Selain fitur arah kiblat, Aplikasi MAQMUR memiliki banyak kemudahan yang lain. Ada Alquran digital (bakal cocok buat mengisi waktu saat naik kereta), ada pengingat waktu salat, ada jurnal ibadah juga. Lewat Maqmur, kita juga bisa berzakat dan berkurban. Selain itu, aplikasi MAQMUR juga mengatur transaksi keuangan sesuai prinsip syariah untuk membayar zakat dan bersedekah. Transaksi antar bank bisa bebas biaya lho!

Pokoknya, jangan lupa install aplikasi MAQMUR ya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *