Cerita tentang Jaket Kuning

Aku akan memulai cerita ini dari sebuah kabar baik. Akhirnya, pada usia ke-33, aku akan melanjutkan pendidikan. S2 Administrasi Publik. Universitas Sriwijaya.

Aku memutuskan ikut seleksi beasiswa Bappenas pada Februari lalu. Hari terakhir, dokumen baru siap dengan selingan salah materai. Harusnya, materai yang ditempel adalah materai 10.000. Aku malah memakai materai 6.000. Untungnya, Fahma, rekan kerja di bagian Tata Usaha, dengan cepat berkenan membelikan materai pengganti terlebih dahulu. Loloslah dokumen sebagai persyaratan pendaftaran itu.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku ingin mengikuti beasiswa Bappenas. Setelah gagal pada seleksi Australia Awards Scholarship beberapa tahun lalu, aku agak trauma dengan kegagalan itu. Tak percaya diri rasanya mengajukan beasiswa S2 ke luar negeri lagi. Jadinya, aku mengincar yang dalam negeri saja. LPDP dan Bappenas menjadi pilihan. Kebetulan saat itu, Bappenas datang lebih dulu.

Aku pun menyiapkan dokumen yang diperlukan. Lagi-lagi, ya, kebiasaanku, mepet dengan jadwal terakhir pendaftaran. Lalu terjadilah hal itu, dokumen pengajuan beasiswaku tertahan di sekretaris (yang sepertinya sengaja menjegalku karena permasalahan keberpihakan pada atasan). Waktu pun habis. Aku terpaksa menerima keadaan, gugur sebelum berperang.

Tahun-tahun berlalu. Pandemi menjadi tamu yang tak mau pulang-pulang. Baru tergerak tahun ini, untuk mengikuti seleksi beasiswa Bappenas itu lagi. Situasinya masih sama, pilihan antara Bappenas dan LPDP. Bappenas datang lebih dulu dengan tidak perlu ada nilai TPA maupun TOEFL. Ya sudah, aku mendaftar.

Pilihan pertamaku, tentu saja, Universitas Indonesia. Ilmu Ekonomi. Alasannya, ya Ekonomi mana lagi yang lebih baik dari UI? Selain itu, aku bisa motoran ke kampus. Nggak perlu repot mengurus pindahan.

Pilihan kedua, aku sempat bingung. Lalu teringat kata-kata seorang teman tatkala aku curhat, sudah lebih 10 tahun aku bekerja di Perbendaharaan, belum juga kunikmati kampung halaman. Tahun-tahun rantau yang panjang membuatku semakin rindu pada tanah Palembang. Dia berkata, “Ikut beasiswa saja nanti, pilihnya UNSRI.”

Saat itu konteksnya LPDP. Kukatakan apa mungkin bisa lolos wawancara LPDP kalau ketahuan motif kuliahnya ingin pulang kampung. Sambil kemudian kuceritakan ada sahabatku lulusan UI, memilih S2-nya di Spanyol. Saat wawancara ia ditanya apakah suka sepakbola. Dia polos menjawab ya. Ketahuan motifnya memilih Spanyol, salah satunya demi bisa menonton sepakbola. Hasilnya, tentu saja tidak lulus.

Ya, untungnya, Bappenas tidak ada tes wawancara. Hanya ada TPA dan TOEFL, plus esai singkat yang akan jadi pertimbangan. Jadi aku mantap memilih UNSRI sebagai pilihan kedua.

Tes demi tes pun kulalui. Untuk TOEFL, nilai minimal kelulusan adalah 500. Tes dilakukan secara online. Cemas karena jaringan internet suka gangguan. Sampai-sampai aku kirim pesan ke CSO-nya. Tolong pada hari H dipastikan tidak ada gangguan dari jam X ke jam Y. Benar saja, tes hari itu lancar. Begitu tes selesai kukerjakan, nilai langsung keluar. 540. Entah kenapa, ini kali kedua aku ikut TOEFL, nilainya sama persis. 540.

Senang dong. Wah, lulus UI nih.

Saat kuceritakan itu ke temanku, dia bilang jangan senang dulu. Karena ada pengalaman teman seangkatan, sudah sampai TOEFL dan hasilnya di atas 500, tapi tidak lulus. Katanya, kebijakan Bappenas itu mengutamakan peserta dari Pemerintah Daerah. Kuota mereka lebih banyak. Sehingga peserta dari K/L harus berebut kuota yang sangat sedikit. Berdoa saja kalau saingan kita nilainya tidak lebih tinggi.

Ternyata kabar itu memang benar. Begitu hasilnya keluar, peserta yang lulus didominasi dari Pemerintah Daerah. Aku tidak lulus UI. Alhamdulillah, UNSRI. Satu temanku yang sama-sama lulus UNSRI, TOEFL-nya 567. Jadi mungkin saja, aku beruntung berada di peringkat terbawah dari yang lulus.

Tentang itu pernah aku mengalaminya. Saat kuliah D4 STAN, peringkatku nomor 2 terbawah dari mahasiswa yang mengikuti yudisium. Saat wisuda, aku dipanggil kedua terakhir betulan.

Karena itulah aku patut bersyukur. Tak mendapat jaket kuning UI, aku akan memakai jaket kuning UNSRI. Jaket kuning yang sama yang pernah kudapatkan tatkala aku kabur dari ITB.

Ya, tak banyak yang tahu, setelah keluar dari ITB, aku ikut SNMPTN lagi selain USM STAN. Aku lulus di Fakultas Ilmu Komputer. Jurusannya, Sistem Komputer. Aku sudah sempat mendapatkan jaket kuning itu dan kupakai satu kali. Rasanya jaket kuning itu masih ada di lemari.

Setelah ini, aku akan pulang ke Palembang, membuka lemari itu, dan memakainya. Tapi, upss, apa masih muat?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *