Cerpen Anton Kseleodipatra: Mimpi Hitam Pak Item

Hai, malam Jumat ini cerpen Anton Kseleodipatra: Mimpi Hitam Pak Item menghiasi laman Catatan Pringadi. Catatan Pringadi menerima tulisan dari penulis tamu. Tulisan bisa berupa puisi, cerpen, review buku, dan catatan perjalanan. Silakan kirimkan tulisanmu.


Warga Desa Tambak Rawang memangil pria tua bertubuh jangkung itu sebagai Pak Item. Apa sebabnya dan sejak kapan persisnya panggilan itu mulai digunakan warga, aku sendiri tak tahu. Tapi sepanjang ingatanku sejak aku menetap di desa ini lebih dari dua puluh tahun silam, tidak pernah terdengar olehku ada sebutan lain yang digunakan warga untuk memanggil pria yang mengaku sebagai tetua adat itu.

            Sudah dua tahun ini Pak Item membuat resah warga. Bukan karena pengakuannya sebagai tetua adat itu penyebabnya, tetapi karena kegilaannya mempercayai hal-hal yang bersifat mistis. Tahun lalu misalnya, Pak Item mengatakan kepada warga desa bahwa ia bermimpi didatangi arwah leluhur mereka yang meminta persembahan seekor kambing, dan tentu saja ujung-ujungnya warga Desa Tambak Rawang harus mengumpulkan uang untuk membeli kambing persembahan itu. Beruntung tahun lalu kebetulan bertepatan masa kampanye pemilihan calon legislatif, sehingga warga tak jadi urunan, konon kabarnya Pak Item mendapat sumbangan dana dari salah seorang caleg, dari Partai Wong Licik yang nilainya bahkan cukup untuk membeli seekor sapi.

Kejadian tahun lalu sepertinya bakal terulang lagi tahun ini. Itu kudengar dari beberapa warga yang duduk-duduk sambil minum kopi di warung jajan kalangan.  Kata mereka beberapa hari lalu Pak Item telah menceritakan wangsit yang ia terima, tentu saja melalui mimpi, bahwa leluhur mereka kembali meminta tumbal hewan persembahan. Bahkan tahun berupa seekor sapi. Karena itulah minggu-minggu ini ia sibuk mendatangi para warga untuk menyampaikan mimpinya, dan menghimbau para warga untuk melaksanakan sedekah adat untuk memenuhi permintaan  leluhur mereka itu.

Itulah hal yang menjadi topik perbincangan hangat warga Desa Tambak Rawang minggu-minggu ini. Ada keresahan dihati mereka, apalagi mengingat besarnya uang yang harus mereka keluarkan sebagai sokongan untuk pembelian sapi persembahan itu. Maka wajar saja kalau akibatnya mendatangkan keresahan warga Tambak Rawang.

Beruntung hari ini aku membuktikan sendiri kebenaran cerita itu.

“Malam Jum’at  lalu aku bermimpi didatangi Puyang Rambut Putih.” begitu kata Pak  

  Item  sambil mengangkat gelas kopi yang tadi disuguhkan istriku.

“Terus apa yang disampaikan Puyang Ubanan itu?” tanyaku dengan nada bergurau

“Eit … hati-hati kalau bicara, mulutmu harus dijaga baik-baik!” katanya tiba-tiba mengingatkanku dengan suara yang sengaja ia tinggikan.  

“Nama leluhur kita itu  Puyang Rambut Putih, bukan seperti yang tadi kau bilang!” lanjutnya seraya meletakan gelas kopi di atas meja sedikit keras menandakan ia agak marah karena gurauanku.

Terus terang aku agak terkejut atas sikap Pak Item itu, maksudku yang tadinya ingin bergurau kini jadi sirna seketika. Satu hal lagi yang sesungguhnya membuat aku makin terkejut adalah, mengetahui bahwa lelaki tua yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah itu ternyata memiliki tingkat kecerdasan yang lumayan. Terbukti ia dapat membaca gurauanku yang bernada pelecehan terhadap leluhur itu. Selain itu sikap yang ia perlihatkan  menunjukan kemampuannya menganalisa perbedaan makna antara rambut putih dengan rambut uban. Ah  tentu saja sebagai seorang yang menekuni dunia klenik yang penuh dengan hal-hal mistis tentu saja harus memiliki kecerdasan yang cukup, kalau tidak bagaimana mungkin akan mampu mempengaruhi orang banyak pikirku kemudian.

            Kedatangan Pak Item sore itu ke rumahku, sepertinya tiada maksud lain, sengaja bertujuan ingin menyampaikan rencananya untuk mengadakan perhelatan sedekah adat itu, termasuk menyampaikan rencananya memungut sokongan yang lebih besar dari tahun lalu. Tentu karena persembahan yang akan mereka berikan tahun ini berupa seekor sapi, lebih besar dari dari tahun lalu yang hanya seekor kambing. Tak lupa ia juga mengulangi penjelasannya  tentang nilai penting ritual yang akan mereka laksanakan, sebagai ajang  memohon keselamatan dari para leluhur. Suatu hal yang dalam pandangan masyarakat moderen sangat tidak masuk akal, terlebih lagi jika ditinjau dari aspek keimanan. Bagaimana mungkin orang dari masa lampau yang telah berbentuk tulang-belulang itu, dapat menjamin keselamatan orang di masa depan. Tapi apakah artinya sebuah logika, bagi seseorang yang telah membenamkan pada masa lalu dan bersekutu dengan kegelapan seperti yang dilakoni Pak Item kini.

Tak terasa dua minggu berlalu dari pristiwa turunya wangsit itu. Pak Item terlihat mulai gelisah. Hampir dua minggu ini ia telah berusaha, dan dengan berbagai cara untuk meyakinkan warga agar mau mendukung perhelatan sedekah adat yang akan ia laksanakan. Bahkan tak sungkan ia mengingatkan warga tentang akibat yang akan mereka alami sekiranya permintaan leluhur itu tidak mereka penuhi, namun tetap saja usaha itu tidak menuai hasil yang memuaskan hatinya. Dan kondisi ini sudah tentu saja menyebabkan uang sokongan warga yang ia kumpulkan jauh harapannya. Jangankan untuk membeli seekor sapi, untuk membeli seekor kambing kuruspun sepertinya tidak cukup.

            Makin lama keresahan hati Pak Item makin memuncak. Terlebih ketika ia menyadari bahwa tanggal satu suro waktu yang ia rencanakan untuk menggelar sedekah adat itu hanya tinggal beberapa hari saja. Tak ada cara lain pikir Pak Item, terpaksa ia harus kembali  meminta bantuan dari para pemuka desa sebagaimana yang ia lakukan tahun lalu.

Maka sore itu ia mulai berkeliling desa, mendatangi orang-orang yang diyakininya bersedia membantunya. Dimulai dari rumah Pak Mus mantri kesehatan yang terkenal sebagai orang yang dermawan yang sering membebaskan biaya berobat bagi warga miskin di Desa Tambak Rawang, selanjutnya ia juga mendatangi rumah bapak Kepala Desa, yang terletak diujung desa, sampai ke rumah Mang Boim pengusaha kerupukpaling sukses di Desa Tambak Rawang turut didatanginya. Ada semburat rona cerah terlihat menghiasi wajah Pak Item sore itu, namun tetap saja tak cukup untuk mengusir keresahan hatinya.  

“Sepertinya rencana kita untuk mempersembahkan seekor sapi bakal sulit terlaksana.”  begitu Pak Item memulai pembicaraan sore itu sesaat sampai di rumahku.  

“Masalahnya apa?” tanyaku

“Ini … lihat sendiri!” Pak Item menyahut sambil menyodorkan buku catatan kumal yang tiap hari ia bawa.

Dengan rasa sungkan aku membuka buku yang penuh bau peluh itu, dan dari catatan yang kulihat, aku jadi mengerti apa sebabnya Pak Item seolah kehilangan semangat mengahadapi pelaksanaan sedekah adat yang sudah didepan mata.

“Sebagai salah seorang pamong desa, seharusnya kau bisa ikut membantu mengajak

  warga untuk mendukung sedekah adat ini.” Pak Item berkata kepadaku dengan intonasi datar.

Aku terdiam tidak mampu berkata lagi mendengar keluhnya itu, memang kuakui kegiatanku minggu-minggu ini cukup banyak sehingga tidak sempat membantunya, selain itu  sebenarnya ada perasaan sungkan setelah mengetahui sebagian besar masyarakat Desa Tambak Rawang tidak mendukung acara sedekah adat itu, dengan berbagai alasan. Sebagian ada yang bersikukuh bahwa ritual persembahan semacam itu adalah tergolong perilaku syirik yang dimurkai Tuhan. Sebagian lagi adalah kelompok warga yang memang tidak lagi peduli terhadap ritual-ritual mistis semacam itu. Dalam pikiran mereka, apapun yang mereka persembahkan, jika nasib memang kurang beruntung, hal-hal buruk tetap saja akan mereka alami,  juga soal ajal, jika saatnya tiba ajal tetap saja akan datang menjemput, baik mati karena tua atau bisa juga mati tragis, digilas mobil tanki pengangkut tinja seperti yang pernah mereka tonton di berita televisi.  

Tanpa terasa hari pelaksanaan sedekah adat itupun tiba. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari itu pagi-pagi sekali Pak Item sudah terjaga dari tidurnya. Kambing hitam yang akan dijadikan tumbal persembahan sudah ia mandikan dengan air kembang. Ya kembali hanya seekor kambing yang mampu mereka  berikan, sapi yang katanya permintaan leluhur akhirnya tak mampu ia wujudkan. Kemarin Pak Item telah membuat keputusan sendiri untuk membeli seekor kambing saja, sama persis seperti persembahan mereka tahun lalu. Pak Item sebenarnya ingin membeli dua ekor kambing, karena ia tahu uang  sumbangan warga yang ia bawa cukup untuk membayar dua ekor kambing. Namun tiba-tiba terbayang dibenaknya tentang upayanya mengumpulkan dana untuk melaksanakan sedekah adat ini, sungguh bukanlah pekerjaan yang ringan, beberapa kali ia harus membayar sewa perahu ketek untuk mendatangi rumah-rumah warga yang tersebar sepanjang aliran sungai. Selain itu bukankah ia juga telah mengorbankan banyak waktu dan tenaganya untuk urusan ini. Lalu apa salahnya jika uang itu ia sisakan sebagai pengganti ongkos dan jerih payahnya itu, pikirnya

Tengah hari selepas zuhur, Pak Item sudah bersiap di depan rumahnya dengan pakaian serba hitam menunggu kedatangan warga desa. Dua buah gentong ukuran besar yang berisi air kembang telah ia siapkan dibawah tenda. Tahun ini sengaja ia meminjam dua unit tenda dan beberapa buah kursi plastik untuk dipasang didepan rumahnya. Ia teringat kejadian tahun lalu, ketika acara pembagian air berkah berlangsung tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, sehingga para warga yang sedang mengambil air berkah saat itu basah kuyup seketika. Hujan juga membuat gentong berisi air berkah itu luber. Airnya meluap menyebabkan kembang di dalamnya berhamburan di tanah. Saat itu Pak Item sempat mendengar orang-orang bercanda soal kemurnian air berkah yang telah tercampur air hujan itu, Untunglah ia cukup cerdik menyikapi situasi saat itu, dengan mengatakan bahwa hujan yang sedang turun saat itu adalah  pertanda baik yang harus mereka syukuri.

Setelah cukup lama menunggu, tetap saja tidak banyak warga desa yang hadir, Pak Item akhirnya memutuskan untuk memulai saja ritual sedekah adat itu. Ada rasa kecewa dihati Pak Item menyaksikan sepinya warga yang hadir,  tapi mau apa lagi, toh dari kemarin ia sudah memperkirakan menurunnya warga yang datang pada acara sedekah adat itu, Karena dari tetangganya ia mendengar Pak Haji Husen warga yang baru beberapa bulan pindah di desa mereka, hari ini juga menggelar acara do’a bersama di mesjid dekat rumahnya. Namun sama sekali ia tidak menyangka acara sedekah adat yang ia gelar akan berlangsung sesepi ini.

            Maka tanpa membuang-buang waktu lagi acara sore itu dimulai. Mula-mula Pak Item membaca beberapa mantera sambil tangannya menggenggam beberapa lembar daun sirih, sebelum akhirnya daun sirih itu ia suapkan ke dalam mulut kambing persembahan. Mak Nai, istrinya, terlihat sibuk membagikan kue-kue kepada warga yang hadir. Dan rangkaian ritual sore itu diakhiri dengan pembagian air berkah kepada yang hadir masing-masing mendapat bagian seukuran botol air mineral. Secara bisik-bisik Mak Nai menawarkan kepada warga yang ingin mendapatkan lebih banyak air berkah itu, dapat ia berikan tentunya dengan menyumbang sedikit uang sedekah.

            Meskipun masih tergolong sore, cuaca saat itu terlihat lebih gelap dari biasanya. Mendung yang sejak sore menyelimuti Desa Tambak Rawang adalah penyebabnya. Situasi itu sesungguhnya sesuai benar dengan harapan Pak Item, karena dalam situasi seperti itu, rencananya untuk melaksanakan ritual persembahan sebagaimana ia sampaikan kepada sore tadi, akan berlangsung dengan lancar.

            Tepat tengah malam Pak Item telah bersiap di perahunya. Ia sengaja menggunakan perahu tak bermesin karena menurutnya suara bising mesin tidak disukai oleh para arwah. Kambing hitam persembahan yang katanya akan ditenggelamkan dalam sungai sudah terikat dengan kuat di bagian depan perahunya.

Setelah semua persiapan diranggap cukup, Pak Item mulai mendayung perahunya menuju ke arah hilir Desa Tambak Rawang. Dia terus mendayung dalam kegelapan malam sambil menikmati kretek kesukaannya. Beberapa kali ia terbatuk-batuk karena terlalu banyak menghisap cairan kental nikotin dari batang kreteknya, namun sama sekali tak ia hiraukan. Udara malam yang makin dingin karena mulai bercampur dengan embun membuat selera merokoknya makin menjadi. Entah sudah berapa kali ia mengganti batang kreteknya, tanpa sedikitpun ada rasa khawatir akan kehabisan. Karena itu, tadi ia sengaja membawa dua bungkus kretek kesukaannya itu. Hal ini ia lakukan karena, dari pengalamannya mengantar kambing tahun lalu, perjalanannya menuju warung sate kambing Cak Kandar malam ini, akan berakhir menjelang subuh nanti.

Catatan bahasa :

  • kalangan                  : pasar desa (biasanya sekali satu minggu)  
  • wangsit                      : ilham / wahyu / petunjuk
  • sedekah adat             : acara selamatan desa.
  • satu suro                   : tanggal satu bulan Muharam (Islam)
  • sokongan                   : sumbangan.
  • perahu ketek             : perahu bermesin kecil.
  • mantra kesehatan     : tenaga medis.
  • cak                            : panggilan laki-laki suku Madura.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. Ternyata dia penipu yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *