Category Archives: Catatan Perjalanan

Menikmati Perjalanan yang Mencekam ke Pulau Satonda

Masih jelas dalam benakku, 27 Agustus 2014 yang lalu, kami berangkat bakda Magrib dari Sumbawa menuju Satonda.

Di perjalanan, kami mengalami tragedi beberapa kali pecah ban, saling tunggu saling bantu di kegelapan malam di Jalan Lintas ke Bima. Juga harus kehabisan bensin karena akibat isu kenaikan BBM, tak ada bensin tersisa di pom sepanjang jalan, semua habis (mungkin ditimbun). Hingga baru pada pagi hari kami sampai ke tempat penyeberangan menuju Satonda disambut dengan ombak yang sanggup membuat kami berpikir tentang kematian.

What is an adventure? Adventure is adventurous.

Satonda

Trip ke Satonda dan Istana Karang dimulai Jumat, pukul 17.30 setempat. Dan kembali Senin 00.15 dini hari. Ini adalah sebuah perjalanan yang komplit suka dukanya. Belum masuk Dompu, salah satu kendaraan mengalami pecah ban dan kendalanya, tidak ada kunci yang sesuai untuk membuka ban. Jadi, kami menunggu kendaraan lain lewat dan mencari jenis kunci yang sesuai. Sebelum masuk Kendidi, satu kendaraan pecah ban juga. Saya masih bisa tidur lelap itu.

Setelah sarapan di Kendidi, membeli bahan makanan di pasar untuk dimasak di pulau nanti, pantai dan sebuah kapal terlihat. Agak aneh, pagi hari ombak lumayan keras di sisi. Angin kencang. Jadilah aku pakai pelampung di kapal. Niatnya duduk di hidung kapal, tapi nggak jadi. Goyang mamennnn….. alhamdulillah setengah jam tak sampai sudah tiba di tujuan. Ternyata ombaknya keras di pinggir saja, di tengah nyaman.

Satonda, pulau yang katanya sudah dibeli, atau dikontrak 30 tahun oleh swasta itu memang unik. Digoda treking bakda menurunkan barang, aku pun mengiyakan karena katanya cuma 20 menit. Ternyata 20 menitnya itu mendaki curam. Tapi itu terbayar dengan pemandangan puncak bukitnya. Sebuah danau tampak seperti kawah. Lanskap pulau sumbawa, laut, pulau Moyo, dan juga gunung tambora terlihat begitu indah.

satonda

Alamat tak bawa sleeping bag, niat tidur di terpal, hujan rintikrintik. Pindah ke baruga, ternyata angin seperti kesetanan. Badai. Untung penjaga pulaunya baik. Kita dipersilakan pindah ke pondok kosong. Sebenarnya aku sudah tertidur itu, dengan modal jaket dan sarung saja, celana baju berlapis-lapis, tapi angin masih tembus. Di dalam tidurku aku bermimpi tidur di sebuah hotel tinggi bertingkat. Lalu tibatiba terdengar gemuruh dan kulihat di luar angin topan, beberapa buah angin topan mengamuk. Hotel yang kutinggali terkena dan patah. Kamarku jadi patahan sendiri dan dibawa angin terbang jauh. Ternyata itu saat angin gila datang di pulau, aku terbangun pukul 1 malam.

Pengalaman pertama snorkeling, baru pasang alatnya sudah huek huek. Tapi sungguh, indah sekali pemandangan bawah laut satonda. Ikan kecil berwarna biru, terumbu, tapi karena newbie, tak lamalama snorkeling itu. Di calabai pun tak ikut terjun. Temanteman menanam terumbu di sana.

Pemandangan pulang di sore hari sangat eksotis sekali. Puncak tambora terlihat, matahari berwarna kuning keemasan. Padang terbentang dengan pohon jarangjarang. Puluhan bahkan ratusan ekor sapi mencari rerumputan. Di sisi sebelahnya, laut begitu biru dan beberapa titi ada batubatu besar, gunung-gunung gersang. Ini seperti afrika di indonesia.


Bermimpilah Mendaki Tambora

sekalipun kau sampai nanti
di padang puncak satonda
ingatlah, perjalanan ke sumatera
masih begitu jauh
dompu sejengkal ingatan

gadis cantik yang masih bisa dilihat mata ghaib
mengambang di laut sekitar calabai

rambutnya yang hitam memanjang
dimainkan gelombang

begitu pun kata-kata yang disangkutkan
di pohon harapan

kau akan dengan jelas mengingat itu
butir-butir keringat yang mengelereng

saat harus berdamai dengan langkah kaki
taklah sanggup membawamu bermimpi

suatu hari kau akan mendaki tambora

yang meledak karena cinta ibu dan anak

sekalipun kau pergi nanti
dari padang puncak satonda
ingatlah, sebuah danau lebih asin dari lautan
atau air mata mana pun

tatkala cinta yang menggelegak
tak sampai hati untuk ditenggak

(2014)


Menanam Terumbu di Calabai

Adventurous Sumbawa tak sekadar jalan-jalan, horehore, tapi jugs ikut melestarikan alam dengan tidak buang sampah sembarangan, dan ikut menanam terumbu karang. Ini adalah metode yang dilakukan di Calabai, relatif lebih murah dengan cara yang disosialisasikan pemerintah. Hanya butuh semen dan paralon, serta keikhlasan hati untuk terjun ke lautan.


Dunia itu indah ketika aku menyadari, di manapun kita berada, kita tidak akan kesepian selama kita menemukan teman dan keluarga baru. Di mana pun…

Datanglah, setidaknya sekali dalam hidupmu, ke Sumbawa yang indah ini ya.

Mengenang Keseruan Perjalanan ke Aceh

Dua tahun lalu, untuk kali pertama, aku menginjakkan kaki ke Tanah Rencong. Malam ini, karena membuka Explorer, tanpa sengaja aku menemukan foto-foto perjalanan ke Aceh dan mau tak mau aku mengenang keseruan perjalanan tersebut.

Sebagian catatan perjalanan sudah kutuliskan. Di antaranya adalah perjalanan ke Air Terjun Suhoom Lhoong di Aceh Besar.


Baca: Indahnya Air Terjun Suhoom Lhoong


Selain itu, Museum Tsunami Aceh juga menjadi catatan spesial karena membuatku bergidik membayangkan fenomena alam sedemikian dahsyat pernah merenggut nyawa banyak orang.

Baca: Jalan-jalan ke Museum Tsunami Aceh


Nah, beberapa catatan penting dalam perjalanan itu belum sempat kutuliskan.

Kedatanganku ke Aceh sebenarnya untuk menjadi narasumber pelatihan menulis ilmiah populer. Hari pertama ke Aceh, rekanku mengajak mencari kopi dan mi aceh. Pertama, aku tak begitu suka kopi. Soal mi aceh, hmm, doyan sih, tapi tidak terlalu menggilai.

Hari pertama, sore hari, kami menyempatkan makan mi aceh. Minum yang kupesan, es timun.

Mi Aceh

Hari kedua (Selasa) sampai Jumat, aku mengajar. Tidak banyak aktivitas yang kulakukan di luar selain tidur di hotel. Hotel yang kutempati bukan hotel modern, melainkan hotel mekah, yang dimiliki oleh orang lokal. Memang beda sih selera generasi milenial dengan selera orang tua. Tapi ya disyukuri sudah dipesankan hotel.

Kejadian yang cukup membuatku merasa bersalah adalah manakala Pak Kepala Kanwil dan rombongan mengajak makan malam. Pada dasarnya, aku tak bisa berlama-lama berada di ruangan terbuka pada malam hari. Namun, budaya di Aceh, ngopi dan ngobrol itu ya lumayan lama. Sayangnya, aku tak tidak suka ngopi, dan aku alergi rokok. Jadi, tindakanku agak kurang enak dilihat pada malam itu.

Aku lupa pada hari apa, ada jam mengajar yang selesai pada pukul tiga. Waktu yang tersisa kumanfaatkan dengan pergi ke pantai. Namanya Pantai Lampuuk.

Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk terletak di Lhok Nga, Aceh Besar. Pantai ini menjadi saksi utama dahsyatnya gelombang tsunami pada 2004 silam. Ombak besar itu menerjang pantai dan menghancurkan penduduk sekitar. Rumah-rumah hacur diempas gelombang. Lebih dari separuh penduduk Lhok Nga meninggal dunia karenanya.

Pantai dengan hamparan pasir putih yang indah ini butuh waktu untuk pulih seperti semula. Dulu, di sini banyak orang berselancar. Pas saya ke sana, tidak ada yang berselancar. Hanya ada beberapa orang yang berani bermain ombak. Saya tidak. Mendengar cerita tentang gelombang datang dari sini, saya hanya bermain air di pinggir-pinggir saja.

Sebenarnya, di dekat sini ada konservasi penyu juga lho. Garis pantainya yang panjang, sayangnya membuat saya yang kurang punya waktu tidak bisa menjelajahinya dari ujung ke ujung. Barangkali suatu hari nanti.


Setelah jadwal mengajar selesai, saya sengaja tidak langsung pulang. Saya beli tiket penerbangan sesudah Maghrib biar bisa jalan-jalan. Teman saya Chichi dan Farid yang menjadi pemandungnya. Karena itulah saya sempat ke Museum Tsunami Aceh dan Air Terjun Suhoom Lhoong. Selain kedua tempat itu, saya diajak menyaksikan saksi bisu fenomena alam di Aceh yakni PLTD Apung dan Masjid Baiturrahman Aceh.

PLTD Apung

PLTD APUNG PLTD Apung 1 tepatnya, ialah kapal generator listrik milik PLN di laut Banda Aceh. Pada saat tsunami terjadi, kapal dengan luas 1900 km persegi dan panjang mencapai 63 meter ini terbawa gelombang hingga ke daratan.

Kapal Apung ini beratnya kurang lebh 2600 ton. Sebelumnya ia berada di area penyebrangan Ulee Lheuh sebelum terseret sejauh 2,4 kilometer ke Punge Blang Cut, Jaya Baru.

Tak sedikit korban yang meninggal akibat tertindih oleh kapal ini. Makanya, kalau kalian ke sini, pasti bulu kuduk kalian akan bergidik karena korban yang tertimpa kapal itu tentu tak bisa dievakuasi.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Salah satu video yang masyarakat Indonesia ingat adalah ketika tsunami terjadi, sejumlah orang menyelamatkan diri ke Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Dari posisi yang cukup tinggi video itu direkam, memperlihatkan air menghanyutkan apa saja yang di depannya, dari reruntuhan bangunan, kendaraan, maupun manusia.

Masjid ini adalah landmark Banda Aceh yang menjadi simbol agama, budaya, semangat, kekuatan dan perjuangan, serta nasionalisme rakyat Aceh.

Diarsiteki oleh Gerrit Bruins dengan gaya Mughal masjid ini memiiki 7 kubah dan 8 menara. Masjid ini penuh nilai sejarah lho.

Kalau kamu ke Aceh, sempatkanlah ke masjid raya ini. M asjidnya indah sekali. Tapi jangan cuma foto-foto. Salat juga dong.


Itulah catatan perjalananku selama di Aceh. Barangkali lain waktu bisa kembali mengunjungi Serambi Mekah dan mampu mengeksplorasi lebih banyak lagi, dan mencapai Sabang,  Amin.

Perjalanan Seru ke Solo dan Tawangmangu

Seru. Itulah yang kurasakan saat melakukan perjalanan ke Solo dan Tawangmangu, Karanganyar. Di Solo aku tidak banyak melakukan aktivitas sih, karena dipenuhi jadwal rapat koordinasi kantor. Namun, sebelum dan sesudahnya, aku mengunjungi berbagai tempat. Mulai dari air terjun Jumog, air terjun Grojogan Sewu, air terjun Parang Ijo, Candi Sukuh, hingga river tubing di Goasari.

Air Terjun Jumog

Air Terjun Jumog
Air Terjun Jumog

Air terjun Jumog (Njumog) tepatnya berada di lereng Gunung Lawu, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Ada dua pintu masuk ke Jumog. Pertama, lewat atas. Dari pintu atas, kita akan menuruni 116 anak tangga. Bagi yang suka treking, pintu ini sangat kusarankan. Kami tentu lewat pintu ini, meski alasannya karena belum tahu ada pintu bawah yang lebih landai. Harga tiket masuknya hanya 5000 per orang untuk wisatawan lokal dan 15000 untuk wisatawan asing.

Pemandangan di  Air Terjun Jumog sangat indah. Aliran air terjun terbelah menjadi dua bagian menimbulkan kesan adanya dua air terjun. Suasananya sejuk, asri, dan terawat. Airnya dingin sekali.

River Tubing di Goa Sari

 

Goa Sari River Tubing terletak di lereng Gunung Lawu atau di Seguwo, Puntukrejo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Tepatnya di tengah-tengah rute dari terminal Karangpandan menuju Candi Cetho dan Candi Sukuh, searah dengan Air Terjun Jumog. Saya lihat Google Maps, jaraknya hanya 30-an kilometer. Tak ragu, segera saya menyewa motor dan berangkat ke sana.

Yang unik adalah di tempat ini memang betul ada Goa. Awalnya hanya goa kecil, lalu sang pemilknya Sunarto, seorang guru SD, melakukan penggalian, pembentukan relief-relief selama kurang lebih 3 tahun. September 2011 goa ini diresmikan. Tarif masuknya hanya Rp3.000,-. Saya sendiri kurang berminat untuk masuk ke goa tersebut—karena saya sendirian.

Saya langsung mencoba menu utama, yakni river tubing. Tarifnya Rp25.000,-. Namun, karena saya sendirian, tarifnya dilebihkan. Tak masalah karena saya begitu penasaran dengan sensasinya. Privat river tubing sejauh 2,5 km bersama seorang pemandu terasa murah. Ban besar pun disiapkan bersama perlengkapan dasar: pelampung, helm, dan sepatu anti selip.

Sungai yang airnya berasal dari air terjun Jumog ini cukup deras. Saya grogi dan semakin penasaran seperti apa rasanya menyusuri sungai dengan ban.

Candi Sukuh

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi Hindu Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak jauh dari Jumog atau pun Goa Sari.

Yang unik, untuk masuk ke candi ini kita diwajibkan memakai tetuko. Kain bermotifkan papan catur hitam dan putih.

Air Terjun Parang Ijo

Air Terjun Parang Ijo
Air Terjun Parang Ijo

Tidak jauh dari Candi Sukuh, kita juga bisa menemui air terjun Parang Ijo.

Air terjun Parang Ijo tepatnya di di Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.

Air Terjun Parang Ijo berada di lereng Gunung Lawu. Tingginya sekitar 50 meter. Parang Ijo memiliki arti Parang adalah tebing dan ijo adalah  hijau warna lumut di sekitar air terjun.

Konon, di sini dulu ada pohon tua keramat yang tidak boleh ditebang. Tepatnya, pada tahun 1942, ada pohon tuayang berukuran sangat besar serta warna daunnya hijau. Pohon tersebut dikeramatkan oleh warga sekitar karena tidak bisa ditebang.

Namun, datanglah banjir bandang, atau sering disebut Baru Klinting oleh warga). Banjir itu yang menumbangkan pohon tersebut, lalu membawanya bersama derasnya arus. Namun, pohon itu justru tetap berdiri tegak dan memperoleh tempat yang baru yaitu diantara tebing atau parang. Sehingga, memudahkan air yang mengalir dari atas tebing ke lembah melewati batangnya.

Grojogan Sewu

Untuk mencapai air terjun ini, siapkan staminamu dengan baik. Kurang lebih ada 1250 anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai ke air terjun yang megah ini.

Grojogan dalam bahasa Jawa berarti air terjun dan sèwu berarti seribu. Sehingga Grojogan Sèwuberarti air terjun seribu. Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Kata sewu atau seribu disini berasal dari seribu pecak, atau satuan jarak yang digunakan saat itu yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa. Air terjun tertinggi yang ada tingginya sekitar 81 meter. Ada pula air terjun yang tidak terlalu tinggi tetapi pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang. Bila sedang musim hujan, sekeliling tebing akan dihujani air terjun, tetapi saat musim panas, banyak air terjun yang kering.


Selesai puas mengunjungi tempat wisata itu, aku pulang ke Jakarta dengan gembira. Untuk melengkapi perjalanan, aku naik kereta api. Tiket kereta api kupesan jauh-jauh hari.

Beli tiket kereta api enaknya ya online lewat aplikasi Pegi-pegi. Jadwal kereta api bisa dilihat dengan mudah di aplikasi tersebut.

Sekarang udah bukan zamannya beli tiket kereta api pada hari H di stasiun. Tiket kereta api online sudah jadi pilihan. Di Pegipegi, harga jujur dan dan bebas biaya transaksi. Proses pembelian oun cepat dan mudah. Buat kamu yang mau beli tiket kereta api lebaran 2019 juga bisa pesan sekarang juga lho.

Jangan lupa kalau liburan pesan tiket kereta api dan jadikan Solo sebagai tujuan. Selain alam tadi, wisata kuliner Solo juga menarik sebenarnya. Kapan-kapan segera akan kucoba lagi ah ke Solo.

Menikmati Keindahan Pulau Kenawa di Sumbawa, NTB ji

Salah satu titik balik terpenting dalam hidupku adalah manakala aku ditempatkan bekerja di Sumbawa. Saat itu, Juni 2011. Bahkan Lombok pun masih begitu sepi. Pantai yang dikenal oleh para wisatawan kebanyakan baru Senggigi. Di sana matahari terbenam begitu indah. Sedangkan tempat lain masih belum begitu terjamah. Hanya mereka yang berkocek tebal yang bisa menginap di kawasan yang kini dikenal sebagai kawasan Mandalika. Atau sebaliknya, para penjelajah yang mencari ketenangan yang akan bersua dari Mawun hingga Tanjung Aan.

Sumbawa jauh lebih sepi dari Lombok. Dari bandara (saat itu masih di Selaparang, Ampenan), kita harus menempuh jarak hampir 200 kilometer dan menyeberangi lautan selama 2 jam. Jadi, kira-kira paling cepat, waktu tempuhnya 6 jam. Jangan bayangkan fasilitas apa yang ada, Indomart saja tak ada.

Kenawa

Saat itu, aku belum mengerti, pulau-pulau kecil menjelang pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Dua di antaranya yakni pulau Kenawa dan pulau Paserang yang sering disebut sebagai dua gerbang pintu masuk pulau Sumbawa. Baru pada tahun 2012 aku tak sengaja mengunjungi pulau Kenawa itu.

Perjalanan ke pulau Kenawa itulah yang mengubahku menjadi cinta pada perjalanan.


Baca Juga: Perjalanan ke Dangar Ode


Sungguh, keindahan pulau Kenawa tak pernah kudengar sebelumnya. Seorang rekan kerja di kantor kebetulan seorang fotografer. Dia mengatakan bahwa ada pulau indah di pangkal Sumbawa yakni pulau Kenawa. Dia mengusulkan pada sebuah rencana rihlah/perjalanan teman-teman kantor sebelum bulan Ramadan, untuk mengunjungi pulau itu. Perahunya kami sewa dari Dinas Kelautan. Meski sebenarnya bisa juga menumpang kapal-kapal nelayan. Namun, kapal-kapal nelayan itu kecil dan tampak tak punya standar keselamatan yang memadai.
Setelah puas keliling Taliwang, mengunjungi masjid terbesar di Sumbawa, melihat pantai demi pantai dari Maluk, Lawar, Batu Bolong, hingga ke Sekongkang, keesokan harinya kami menyeberang ke pulau Kenawa.Kenawa

Pulau Kenawa adalah definisi dari pulau eksotis sesungguhnya. Terlebih bila kita ke sana pada musim kering.

Pulau kecil yang ditempuh hanya sekitar 30-45 menit dari pulau Sumbawa itu memiliki satu bukit kecil di tengah-tengahnya. Ilalang yang cukup tinggi, seukuran pinggang, berwarna kecokelatan. Di kejauhan nampak gunung Rinjani.

Kenawa

Wajib hukumnya kita naik ke bukit itu. Dari atas kita saksikan bentangan panorama tak terperanai indahnya. Langit yang biru. Bukit-bukit tandus di pulau Sumbawa. Gradasi warna lautan yang beragam birunya. Dari biru gelap hingga ke biru begitu muda sebelum bertemu dengan pasir yang sedemikian putih dan bersih. Kapal-kapal laut yang mengantre bersandar di dermaga atau yang baru berangkat ke pelabuhan Kayangan di Lombok menambah keindahan itu.
Angin cukup kuat menerpa sehingga kita perlu berhati-hati dalam menjaga keseimbangan. Saat kuletakkan tripod, tripod itu pun kehilangan keseimbangannya. Terempas oleh angin yang tak punya hati itu.

Kenawa

Itu dulu tahun 2012. Sekarang, pulau Kenawa sudah begitu populer. Berbagai fasilitas seperti toilet sudah dilengkapi. Namun semakin ramai, semakin rawan pula pulau ini dari tangan jahil manusia. Pernah suatu ketika kondisi sampahnya sudah sangat parah sampai-sampai kelompok Adventurous Sumbawa berjuang mengumpulkan sampah di pulau. Tak tanggung-tanggung, 3 kapal penuh muatan sampah terkumpul.

Pernah juga beberapa kali pulau Kenawa itu terbakar. Perilaku orang yang berkemah di Kenawa yang tak hati-hati dalam menjaga api dan bara membuat pulau eksotis itu terlalap api semuanya. Padang ilalang yang coklat itu berubah menjadi warna arang. Perlu menunggu musim hujan agar keindahan itu terehabilitasi kembali.

Oh ya, pulau Kenawa di musim hujan akan berubah menjadi padang ilalang berwarna hijau seperti bukit-bukit teletubies.


Baca Juga: Pantai Leppu di Labangka


Dulu, ke Sumbawa dari Mataram hanya mengandalkan travel. Bis lebih susah. Sedangkan pesawat datang kemudian dan kini tarifnya kian mahal.

Sekarang moda transportasi untuk mencapai Sumbawa lebih banyak dan beragam. Salah satunya DAMRI. Bandara Lombok yang pindah di Praya juga jauh dari pusat kota. Kita juga bisa naik DAMRI kalau mau ke Mataram untuk membeli oleh-oleh semacam mutiara.
Tidak perlu repot-repot untuk mencari tiket DAMRI. Sekarang kita bisa beli tiket bus DAMRI secara online.

Damri ke sumbawa

Pokoknya mah, kamu harus menjadikan Kenawa dan Paserang juga sebenarnya—sayang aku belum kesampaian sebagai destinasi wisatamu. Dan ingat, kedua pulau itu barulah pintu gerbang sebelum memasuki berbagai keindahan yang tersaji di Sumbawa dengan berbagai pantai dan air terjun serta kenikmatan kuliner yang memberikan pengalaman baru bagi lidahmu.

Menikmati Keindahan Leuwi Hejo di Sentul, Bogor

Setiap curug memiliki karakteristiknya tersendiri. Kali ini aku mau cerita soal Curug Leuwi Hejo di Sentul, Bogor. Bukan hanya keindahan, menurutku di sini kita bisa menikmati kesegaran yang luar biasa. Ya, boleh kusebut air di Leuwi Hejo (juga di Leuwi Lieuk dan Cibuliang–yang akan dibahas dalam tulisan terpisah) adalah air paling bersih dan segar yang pernah kulihat.

Sebagian orang menambahkan kata “curug” pada Leuwi Hejo karena memang ada air terjun kecil di sana. Meski leuwi dalam bahasa Sunda berarti Lubuk. Lubuk adalah istilah geografis yang berarti bagian terdalam dari sungai. Kata ini dapat pula berarti cekungan (dalam) di dasar sungai.  Namun, dapat terjadi arus kuat di bagian dasar lubuk jika terdapat arus bawah yang kuat. Sedangkan Hejo berarti hijau. Ini menunjukkan pesona Leuwi Hejo yang hijau berkilauan bak batu zamrud.

Sebelum dikenal dengan nama Leuwi Hejo, tempat ini disebut Curug Bengkok.

leuwi hejo

Melihat kesegaran itu, aku segera melemparkan diri ke dalam air. Memakai pelampung tentunya biar lebih nyaman.

Sebuah batu menggodaku naik. Ternyata apa daya perut susah sekali diajak berdamai. Untungnya, di dunia ini masih ada orang baik. Ia mengulurkan tangan kepadaku. Kusambut. Dan ia menarikku ke atas.

leuwi hejo

leuwi hejo

Akhirnya aku sampai ke atas batu dan berhasil melompat sekali. Sebenarya kita bisa menjelajah ke atas. Di sana banyak kolam kecil untuk berendam. Namun, kulihat suasana sudah begitu ramai. Jadi kuurungkan dan cukup mencicipi sebatas ini saja.

Ya, jika ke sini, jangan pada hari libur. Pasti ramai banget. Ramaaaaai bangeeeet karena tempatnya sudah populer.


Baca Juga: Air Terjun Oehala di Soe


 

Lebih Kenal dengan Lokasi Leuwi Hejo

Buat kamu yang mau ke sini, sebenarnya jarak dari Stasiun Bogor nggak begitu jauh kok. Sekitar belasan kilometer saja. Waktu tempuh nggak sampai 1 jam dengan sepeda motor. Lokasi Leuwi Hejo berlokasi di desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur.

Tiket masuknya Rp15.000 per orang dan parkir motor Rp5.000. Hati-hati dipalak lagi, ya. Sewa pelampung Rp10.000.

Dari tempat parkir ke curug jaraknya tidak sampai 300 meter. Jadi amanlah kalau mau bawa keluarga ke sini. Nggak capek-capek amat.

Pokoknya mah, kudu, Leuwi Hejo adalah salah satu tempat terindah di Bogor. Percaya deh.

 

Keindahan Tersembunyi Curug Bugbrug di Bandung Barat

Tidak banyak yang tahu tentang Curug Bugbrug (atau Bubrug). Curug ini memiliki keindahan yang tersembunyi. Padahal dari lokasi, letaknya tidak berada jauh dari Curug Pelangi atau Curug Cimahi dan Curug Tilu Leuwi Opat.

Ya, letaknya sama-sama di dekat Parongpong, Bandung Barat. Curug Bugbrug berada di tengah-tengah kedua lokasi curug tersebut. Masih satu kawasan dengan Villa Istana Bunga hingga Dusun Bambu.

Namun, hanya mereka yang berjiwa penjelajah yang bisa menemukan curug ini. Pasalnya, petunjuk menuju Curug Bugbrug sangat minim. Saya pun tahu keberadaan curug ini dari foto para penggila curug di Instagram. Kemudian saya mencarinya lewat Google Maps.

Keindahan Curug Bugbrug

Curug Bugbrug

Curug Bugbrug memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Dinamakan Bugbrug (dalam Bahasa Sunda artinya bertumpuk) karena suara air terjun yang menderu seperti “Brug Brug…” Debit airnya pun lumayan. Di bawahnya terbentuk kolam yang diperkirakan memiliki kedalaman sekitar 4 meter.

Namun patut diperhatikan, curug ini “tidak terurus” sehingga tidak ada penjaga. Implikasinya, kita harus berhati-hati bila hendak berenang di kolam ini. Bahkan ada tanda bahaya, dilarang berenang. Katanya, ada pusaran air yang cukup kuat di tengahnya.

Jalan Masuk ke Curug Bugbrug

Pada saat ke sana, aku melewati jalur yang cukup sulit. Dari Villa Istana Bunga, ada jalan tembus yang mengarah ke pintu masuk Curug Tilu Leuwi Opat atau juga Ciwangun Indah Camp (CIC). Nah, sebelum itu ada warung kecil yang di sebelahnya ada jalan setapak. Parkirkan motor di warung itu, lalu lewati jalan setapak itu.

Jalan setapak itu memang betul-betul jalan setapak yang dikelilingi rumput tinggi. Mulanya kita akan turun sampai ketemu sungai. Kita seberangi sungai itu (ada jembatan bambu yang agak rusak), lalu naik kembali. Hati-hati jalan begitu licin bila habis hujan. Dan kemudian kita melalui jalan setapak yang di pinggirnya langsung jurang (meski tertutup semak-semak).

Curug Bugbrug

Aku ke sini bersama anak dan istri. Dari atas kita sudah bisa melihat Curug Bugbrug ini. Ada satu pondokan kecil yang dibuat peladang. Kami beristirahat di situ. Mereka memutuskan tidak ikut turun ke curug, Aku pun berjalan sendiri melalui rute yang ekstrim sempit dan licin. Jadi tak sempat aku berfoto di jalan.

Pokoknya, rutenya lumayanlah buat pria berperut sepertiku.

Nah, ternyata ada 2 jalur lain yang bisa ditempuh sebenarnya. Jalur yang bahkan lebih mudah dari jalur yang kami lalui.

Jalur satunya kami lalui ketika pulang. Tembus di Dusun Bambu melewati ladang seledri. Tapi jalur ini tetap harus melalui jalur turun yang sulit yang kulalui sendiri tadi ya. Jalur ini disebut jalur Komando.

Jalur berikutnya yang lebih mudah. Ternyata, sebelum Curug Cimahi, di seberangnya, ada gerbang yang sudah karatan. Di situlah kita bisa memulai perjalanan. Jalur itu relatif landai, hanya melewati ladang dan aliran kecil sungai yang sudah ada jembatannya.

Curug Bugbrug

Rasanya tuh sayang banget aku nyampe di bawah tuh sendirian. Nggak ada yang memfotoku. Nuansanya pun jadi terasa menyeramkan. Mau mendekat ke kolam takut. Semacam ada bisikan yang menghalangiku buat nggak dekat-dekat. Dan aku selalu menuruti intuisiku itu.