Cerita Pendidikan Inklusif dari Rangga Watu, Manggarai Barat

Mataku terbelalak. Tak menyangka bahwa Indonesia menjadi negara ketiga terbesar di dunia yang memiliki kasus kusta. Data dari WHO pada tahun 2020 mencatat 8% kasus kusta dari seluruh dunia ada di Indonesia.

Apa yang menyebabkan tingginya angka penderita kusta di Indonesia ini?

Salah satu penyebabnya adalah pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta yang masih sangat rendah. Penyebab lainnya adalah penderita kusta cenderung malu untuk berobat dan menyembunyikan penyakitnya karena adanya mitos tertentu di masyarakat. Selain memang faktor kesempatan penderita kusta untuk menjalani pengobatan yang masih rendah, mengingat geografi Indonesia dan ketersediaan fasilitas kesehatan yang masih amat terbatas. 

Baca Dulu: Mitos Penyakit Kusta dan Bebas dari Kusta

Selama aku hidup, belum pernah aku menjumpai penderita kusta, atau sebenarnya aku hanya tak tahu saja. Di situ aku berpikir, ke mana mereka menempuh pendidikan kalau tak bisa berbaur dengan masyarakat yang bukan penderita? Apa jadinya kalau mereka bersekolah di sekolah umum lalu ketahuan sebagai penderita kusta?

Ya, diskriminasi itu memang sering kudengar. Itulah yang menjadi salah satu menjadi penghalang anak-anak penderita kusta mengenyam pendidikan.

Beberapa hari lalu, aku mengikuti sebuah diskusi seru dari Ruang Publik KBR. Diskusi tersebut mengangkat tema Pendidikan bagi Anak Disabilitas dan Kusta. Dihadirkan sebagai narasumber yakni Anselmus Gabies Kartono dari Yayasan Kita Juga/Sankita, Fransiskus Borgias Patut yang merupakan Kepala sekolah SDN Rangga Watu Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dan Ignas Carly salah satu siswa yang sekarang duduk di kelas 5 dari SDN Rangga Watu tersebut.

Diskusinya berjalan amat menarik. Salah satu poin dalam diskusi tersebut adalah mengenai fasilitas sekolah. Idealnya, penderita kusta bersekolah di sekolah khusus disabilitas. Namun, sayangnya, sekolah disabilitas di Indonesia sangat terbatas. Kondisi yang diangkat di sini adalah di Rangga Watu, Manggarai Barat. Frans Patut mengungkapkan bahwa SLB di Manggarai Barat sangat sedikit dan aksesnya begitu jauh. Padahal, ada banyak anak berkebutuhan khusus berusia sekolah di sana.

Inilah yang kemudian patut dicontoh: beliau merasa tergugah dan berkeinginan untuk memfasilitasi anak-anak itu agar mendapatkan pendidikan inklusif di SDN Rangga Watu. Dengan penuh perjuangan, akhirnya SDN Rangga Watu mendapatkan SK penyelenggaraan sekolah inklusif pada tahun 2017. Sebelum itu, ia sudah menerapkan pendidikan inklusif tersebut meskipun belum punya dasar hukum yang kuat.

Saat ini pun, SDN Rangga Watu menampung tujuh anak berkebutuhan khusus. Hadir di diskusi tersebut, Ignas Charly yang sudah kelas 5 SD. Ignas bercerita betapa senangnya ia bisa bersekolah.  Ia bisa belajar dengan baik. Ia juga bisa mendapatkan teman baru tanpa harus takut merasa didiskrimnasi oleh teman atau bahkan guru.

Dalam perjuangan yang sulit itu, SDN Rangga Watu ditemani Yayasan Sankita. Tentu tak terbayangkan bukan, sekolah umum seperti SDN Rangga Watu kok bisa mengadopsi pendidikan inklusif.

Nah, Yayasan Sankita ini merupakan organisasi yang berdiri sejak tahun 2007 dan bertransformasi menjadi yayasan pada tahun 2017. Mereka meman menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang disabilitas. 

Yayasan Sankita tersebut bergerak di area pemberdayaan penyandang disabilitas di kabupaten Manggarai Barat dengan menggunakan metode rehabilitasi sumber daya masyarakat. Caranya, mereka mendampingi para guru SD yang mulanya cuma punya kemampuan dasar mengajar siswa umum. Pelan-pelan mereka diberi pengetahuan tentang bagaimana memberikan bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), yang amat berbeda dengan anak-anak pada umumnya. baik itu dalam proses belajar mengajar, atau pun saat bersosialisasi.

SDN Rangga Watu dipilih untuk didampingi bukan karena tanpa alasan. Tentu Yayasan Sankita melakukan riset terlebih dahulu. Mereka mengunjungi sekolah-sekolah di kabupaten Manggarai Barat terlebih dahulu.

Dalam dinamika belajar mengajar, tentu banyak hal yang terjadi. Perencanaan dan strategi ajar harus dilakukan dengan tepat karena kondisi anak yang berbeda-beda.

Penderita kusta bisa terdampak di area yang berbeda-beda. Ada yang terdampak di indra penglihatannya. Meski masih bisa melihat, tapi terganggu. Sehingga perlu adanya strategi khusus dalam bahan ajar misalnya, atau dalam strategi bagaimana sang murid harus didudukkan di kelas.

Selain itu, tantangan yang tak kalah sulit adalah bagaimana melibatkan orang tua dari anak-anak penderit akusta tersebut. Jangankan melibatkan, mengajak agar mereka percaya menyekolahkan anaknya di SDN Rangga Waktu pun awalnya tidak mudah. Tentu dalam hal ini, Yayasan Sankita harus mampu menjelaskan bahwa dalam pendidikan yang akan diemban kelak, terjamin kesetaraannya.

Sebab, yang paling parah bagi penderita kusta dan keluarganya, bukanlah penyakitnya. Tetapi trauma. Trauma akibat diskirimansi dari masyarakat. Dan menjadi tugas kita semua untuk menghilangkan trauma tersebut.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *