Sebagai Sehelai Daun Sebagai sehelai daun hatiku terpaku cemburu pada sepasang merpati yang selalu memadu hati hingga senja menjemput mereka dengan sahaja Sebagai sehelai daun berusaha tegar adalah perisai paling dasar meski terik surya hina tak jarang memanggang jiwa Sebagai sehelai daun tubuhku kemarau dari segala pukau tempat bertumpu beribu debu masih adakah setetes embun…
Category: Puisi
Puisi-puisi Baiq Wahyu Diniyati
Mengarak rindu yang tersapu angin Aku masih perindu menunggu dengan kata pilu berbungkus bisu Sama dengan kisah kisah mematikan yang kini berdebu Foto-foto usang masih tergantung di dinding penuh kenangan Menyisakan riak-riak pilu setiap kedipan masa lalu Jauh sebelum aku mencuri paksa hatimu, Aku merangkai huruf kebahagian Dalam buku yang bertahun mulai lusuh Kita memulai…
Tua
Dia sudah kirimkan utusan Dari seorang Menjadi sebuah pasukan Lalu ketika becermin Aku merasa di medan perang Sebagai infantri Di baris terdepan Jenderal musuh memegang senjata Seperti tombak, namun bermata Bulan sabit Aku ingin lari Kembali ke masa kanak-kanak Ketika berenang dan hampir terhanyut Di aliran Sungai Musi Ibuku berteriak dari seberang Lalu Ayah menyelamatkanku…
Shin Berhadapan dengan Jenderal Houken
Jenderal Houken mengaku mewakili kemanusiaan Meski berjuta kepala melayang oleh ujung tombaknya Shin-kita tumbuh dari tempat kumuh Ia belajar memegang pedang dari persahabatan Setiap berada di peperangan Ia mewakili orang-orang yang mati, orang-orang yang menderita Dengan tubuhnya yang kecil, ia berhadapan dengan Jenderal Houken Di atas kertas, bahkan dewa Tak mampu menghadang alat-alat kekuasaan Senjata…
Rubrik Puisi | PUISI-PUISI DAFFA RANDAI
KEMBANG DADAR di puncak kekalahan, bersama tujuh penggawa kuturuni bidar menuju hulu dengan menjelma tukang sayur yang berdagang di rusuk istana. tanpa gaun dan perca keputrian, aku membaur di tengah kerumun rakyat, menyelidik dari jauh memantik siasat agar kau terjebak. “pinang dan jajahilah tubuhku segera, paduka.” biar lekas kuwartakan pesta kawin ke hilir dan…