Puisi-puisi An Naufil

Sebagai Sehelai Daun

Sebagai sehelai daun
hatiku terpaku cemburu
pada sepasang merpati
yang selalu memadu hati
hingga senja
menjemput mereka dengan sahaja

Sebagai sehelai daun
berusaha tegar
adalah perisai paling dasar
meski terik surya hina
tak jarang memanggang jiwa

Sebagai sehelai daun
tubuhku kemarau
dari segala pukau
tempat bertumpu beribu debu
masih adakah setetes embun bagiku
yang rela berkata
“aku menerimamu apa adanya”

Annuqayah, 2019

 

Harap I

Neng,
engkau serupa permata
bagi pencari kekayaan cinta
kuharap masih ada
sisa-sisa manja
pada sekujur yang hina
agar kemarau jiwaku
kembali menghijau terpukau candamu

Neng,
senyummu bagaikan bagan
bagi nelayan kebahagiaan
kuharap ia masih utuh
agar tubuh yang gemuruh
dapat berteduh tanpa keluh

Ketahuilah Neng!
andaikan segenap harapku terjawab
maka akulah orang pertama
yang bisa meraba surga

Annuqayah, 2019

 

Panca Cinta

  1. Kasih sayang nan maha sama
  2. Kesetiaan yang adil dalam harap
  3. Persatuan dua jiwa
  4. Kehalalan yang dipimpin oleh nikmat perkawinan dalam pernikahan tanpa perwakilan
  5. Keadilan sensual bagi seluruh hasrat bahagia

 Annuqayah, 2019

 

Sebait Sajak Rindu

Khayalku berbuah bisu
pentan tumbuh di kebun rindu
karena temu sebatas semu,
maka tak ingin kutanam padamu

Annuqayah, 2019

 

 

Gerutu Seekor Kucing

“dasar kucing
sudah tahu aku tak punya daging
masih saja bermanja di kepala”

sambil berlalu
ia menggerutu

“padahal aku hanya ingin membiru di matamu”

Annuqayah, 2019

 

An-Naufil; Santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa dan Mahasiswa INSTIKA Guluk-guluk Sumenep Jawa Timur. Antologi bersamanya antara lain Rubaiyat Rindu (2019) dan Cinta Yang Terpendam (2019). Aktif di Komunitas Ngaji Puisi dan Komunitas Penulis Kreatif (KPK).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *