Trip to Forgive

Trip to Forgive: Perjalanan Perempuan Cahaya di Balik Luka

Diah Mahmudah & MPL Suppert Group kali ini kembali merilis buku berjudul Trip to Forgive: Perjalanan perempuan menemukan cahaya di balik luka. Buku ini memuat kisah nyata para perempuan yang memiliki luka pengasuhan. Mereka ingin sekali bisa memaafkan orang tuanya namun tidak mengetahui cara memaafkan yang sebenar-benarnya. Buku ini pun hadir sebagai psikoedukasi yang terkait dengan tema memaafkan tersebut.

Musibah terbesar seorang perempuan yang mengalami luka pengasuhan adalah ia sangat rentan membenci dirinya.

Luka batin sangat berpengaruh pada kesehatan mental perempuan. Dua luka yang sangat sulit diobati yaitu luka pengasuhan dan luka pernikahan. Kedua luka ini saling berkaitan.

Perkara luka itu membuat ketidakstabilan emosi para perempuan. Ia jadi mudah tersinggung dan sulit mengendalikan diri. Ia merasa dirinya tidak berharga. Dan kondisi tersbeut adalah sebuah investasi buruk bagi perkembangan mental anak-anaknya kelak.

Di buku ini dipaparkan lengkap tentang 6 tema luka pengasuhan, yaitu:

  1. Unwanted Child
  2. Bullyin: “Berawal dari rumah”
  3. Sibling Rivalry
  4. Buah Helicopter Parenting: “Anak Lumpuh”
  5. Parent Way
  6. Anak Broken Home

Survei Dandiah Care Centre mengatakan bahwa 100 dari 110 orang memiliki luka pengasuhan namun tidak memiliki ilmu membasuhnya. Nah, ada 7 paradigma tentang Membasuh Luka Pengasuhan (MLP) tersebut:

  1. MLP bukanlah untuk mengadili sosok personal orang tua. Namun yang diproses adalah luka dan efeknya yang tersisa di jiwa akibat dari perilaku spesifik yang menyakitkan atau tidak kita terima hingga sekarang;
  2. MLP adalah ilmu memproses luka dan memutus mata rantai zalim terhadap diri sendiri.
  3. MLP adalah upaya memaafkan orang tua dengan setulus-tulusnya.
  4. MLP bukan mengorek luka masa lalu, tetapi membersihkan berbagai penyakit hati yang merupakan bagian dari pembersihan jiwa yang mampu mengembalikan kebeningan hati kepada sesama juga keimanan terhadap Sang Maha Pencipta;
  5. MLP tidak bisa instan namun butuh waktu dan kesabaran.
  6. MLP dianggap tidak lagi diperlukan karena ada support system yang positif, ini tidak sepenuhnya benar. Support system mampu mengurangi kadar luka, namun tidak memulihkan.
  7. MLP bukanlah cara untuk mengubah takdir namun untuk mengubah respons atas kejadian di masa lalu.

Dalam perjalanan menuju pemaafan, secara garis besar ada 2 kendala psikologis terberat yang harus dilalui pelaku MLP:

  1. Mengakui diri tidak baik-baik saja;
  2. Membebaskan diri dari mindset bermental korban.

Hikmah Penting di dalam Buku Trip to Forgive

Pertama, mencintai diri sendiri adalah kebutuhan. Aku jadi teringat sebuah buku lain berjudul I Love Me. Memang, sebelum kita berlemah-lembut terhadap orang lain, kita kudu berlemah-lembut terhadap diri sendiri. Apa kabar diriku hari ini? Tanyalah pada diri kita setiap hari.

Kedua, menikmati birrul walidain sebagai bentuk syukur pada orang tua. Kita kudu belajar memuliakan orang tua sebagai bakti tulus kepada mereka maupun sebagai contoh atau teladan bagi anak-anak kita.

Ketiga, pentingnya menjemput ilmu dan kompetensi mengelola stabilitas emosi. Sebab kesehatan mental para ibu sangat esensial bagi kesehatan mental keluarga. Emosi ibu akan memengaruhi emosi bapak dan anak-anaknua.

Keempat, fokus pada skema parenting yang positif. Di sini, seorang perempuan harus bisa menganggap pengalaman menyakitkan akan luka pengasuhan di masa lalu menjadi pemantik semangat para ibu untuk melakukan pengasuhan yang positif saat ini. Istilahnya membayar utang pengasuhan.

Berbagai Kisah di Buku Trip to Forgive

Tentu saja ada banyak kisah menarik di buku Trip to Forgive ini. Kondisi seperti baby blouse syndrome atau post-partume syndrome yang dialami banyak perempuan membuatu merenung sebagai laki-laki.

Ya, peran para suami di rumah tangga juga termasuk memahami perempuan. Sebab, kadangkala kitalah, laki-laki, yang secara sengaja atau tidak sengaja menimbulkan atau menambah luka batin karena keabaian itu.

Dengan membaca buku ini, kita jadi belajar untuk bersikap lebih baik lagi terhadap istri. Selain itu, kita juga pun jadi lebih berhati-hati untuk mendidik anak agar tak memunculkan luka batin bagi mereka.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *