Aa Gym di Tengah Massa

aa gym yang tegas dans antun
aa gym yang tegas dan santun

Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, makna apa yang ada di balik kehadiran Aa Gym dalam aksi damai. Sejauh saya memperhatikan beliau, beliau bukanlah orang yang suka ikut-ikutan, bukanlah seseorang yang bertindak tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Aa Gym adalah tipe orang yang tulus, pintar, dan tidak mudah ditunggangi kepentingan yang sifatnya pragmatis.

Bagi saya pribadi, Aa Gym, selain sebagai pribadi, juga memiliki peran sebagai simbol. Saya masih ingat sosoknya adalah sosok yang diterima berbagai kalangan. Ia dihormati dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam pergerakan. Ketika Aa Gym masih eksis di media massa, berjuta-juta orang bisa rela datang untuk mendengarkan beliau.

Di luar yang ditampilkan di media, Aa Gym punya sisi berbeda. Beliau begitu tegas. Ketika saya masih nyantri di Darut Tauhid, saya merasakan sendiri karisma itu. Beliau memahami geo politik. Paham betul ancaman-ancaman terhadap agama dan bangsa, dan karena itulah di luar santri DT, ia juga menyiapkan Santri Siap Guna yang tiap tahunnya diikuti ribuan santri. Saya sendiri masuk ke dalam angkatan ke-12.

Ketika Aa Gym ikut aksi massa, pesan apa yang hendak disampaikan beliau sebagai simbol?

Saya kemudian termasuk yang menyimak hampir semua ucapan beliau secara kronologis dalam perihal kasus Gubernur kota J. Dan menjadi sebuah simpulan, pesan itu adalah momentum persatuan umat.

Entah sudah berapa tahun, pertelevisian kita diinvasi acara yang remeh. Ustad-ustadnya nyeleb. Beritanya dikaburkan ke sana-ke mari. Arus kehidupan di televisian pun seperti sebuah efek samping produk bernama kapitalisme dan liberalisme. Segalanya hanya demi pasar.

Individualisme merebak. Beda pandangan sedikit dibilang baper. Perang terjadi di media sosial. Ga setuju gua remove. Blokir. Beda, ga temenan. Kira-kira begitu yang terjadi. Dan pandangan terhadap agama menjadi sangat sempit. Orang-orang mulai banyak berpikir agama seharusnya tetap berada di ruang privat, tidak boleh ada di ruang publik. Sekulerisme adalah buah otomatis dari liberalisme.

Aksi pertama yang dilakukan FPI kurang mendapat simpati publik. Belum lagi pendiskretan media bernama Metro Tipu yang banyak menyoroti sisi negatifnya membuat citra Islam dan muslim bisa semakin luntur.

Citra itu tidak boleh jatuh lagi. Aa Gym pun merasa harus hadir di sana.

Di mana posisi Aa waktu itu? Di belakang, bersama santrinya, ia memegang peran sebagai koordinator kebersihan. Keputusan Aa Gym untuk datang itu mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh pihak seberang karena selama ini Aa Gym tidak tampak sekeras Habib Rizq. Tak membesar-besarkan peran Aa Gym, saya yakin sekali umat Islam yang tadinya masih ngambang pun banyak yang menjadi yakin untuk ikut serta.

Hal itu pun ditandai dengan munculnya Aa Gym di Hitam Putih. Terima kasih kepada Deddy Corbuzier. Pernyataan Aa di sana adalah pernyataan yang sangat cerdas dan tepat:

Gubernur J ditakdirkan terlahir beretnis Tionghoa, itu sudah takdirnya. Kita nggak boleh menghina hal itu. Gubernur J beragama Kristen, itu pilihannya. Biarlah nanti beliau mempertanggungjawabkannya ke Tuhan. Tapi, Gubernur J tidak seharusnya berkomentar yang bukan ranahnya. Itu offside.

Kecemerlangan beliau dilanjutkan dalam ILC bakda aksi. Mendapat giliran terakhir, orang terkesima dengan paparan Aa Gym. Beliau tidak takut nyentil Kapolri dan Presiden, dengan sangat halus… killing me softly.

Setelah itu, ad hominem bertebaran di mana-mana. Aa Gym pun mulai menuai serangan siber. Beberapa mengungkit-ungkit soal poligaminya, beberapa menyebut aa dapat panggung lagi, macam-macamlah.

Di sinilah, orang baru mulai sadar bahwa seorang Aa Gym lebih menakutkan ketimbang FPI. Saya sudah lama paham bahwa Aa Gym adalah orang yang cerdik. Sebagai simbol, Aa adalah katalis.

Katalis itu diperlihatkan sekali lagi dalam Aksi Damai 2 Desember lalu. Salah satu penyesalan saya adalah nggak ikut datang dan hanya bisa menyimak via Youtube. Aa mengatakan lebih kurang:

Berbeda boleh, marah jangan. Marah tidak sama dengan tegas dan santun. Kalau marah semuanya serba tidak jelas, sedangkan tegas segalanya didasarkan aturan.

Di sini Aa Gym juga mengingkatkan sesama muslim untuk tidak ikut berperilaku sama buruknya dengan orang yang buruk, karena menjadi tidak ada bedanya. Aa Gym juga bilang tentang untuk melihat persamaannya terlebih dahulu ketimbang perbedaan dari segala sesuatu.

Terakhir beliau berkata tentang air. Air lembut, tapi punya kekuatan. Air lembut, tapi bisa menyatukan segala adukan bahan bangunan menjadi bangunan yang kokoh. Maka, jadilah air.

Saya yakin sekali hari ini Aa Gym lebih ditakuti dari pada Habib Rizq oleh orang-orang yang tidak suka Islam, karena beliau tidak pemarah, dan beliau membuat massa mengambang tidak menjadi ragu lagi.

Politik? Tentu dalam arti luas, segala hal adalah politik. Kalau ada aktor partai politik yang ingin menunggangi umat Islam, tinggal kita berpikir seperti agent, siapa memanfaatkan siapa… Biarkanlah mereka berpikir kita bisa ditunggangi, tapi padahal kuda ini bergerak sesuai fitrahnya sendiri, tanpa dikendalikan.

PS:

Setiap kali membaca ada orang menghina Aa Gym saya seperti ingin marah, tapi ingat ucapan beliau, teko hanya mengeluarkan isinya. Dan juga galau ketika yang menghina Aa Gym berada di lingkaran saya… tapi tak jadi marah. Barangkali itu tanda, ketika saya memiliki lingkungan yang masih menghina orang lain… berarti karakter saya aslinya sebenarnya tak jauh lebih baik dari mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *