Tentang Cahaya dan Api

Sebuah tulisan dari Malkan Junaidi lewat di beranda. Ada satu kalimat yang membuatku teringat pada persepsiku tentang cahaya dan api beberapa tahun yang lalu. Malkan menulis, “Nur sendiri berasal dari kata yang sama dengan nar (api), wujud yang memiliki cahayanya sendiri.”

Aku pernah berpikir mirip dengan itu. Tatkala itu, aku masih sangat muda. Pikiran-pikiran pemberontakan lazim mencuat dari kepalaku.

Dengan semangat mempertanyakan segala sesuatu, aku membawa konsep nar dan nur untuk mencoba meraba arti kehidupan. Cahaya dan api. Malaikat terbuat dari cahaya. Iblis terbuat dari api. Lalu kupadukan bahwa dulunya iblis adalah salah satu makhluk terpandang yang lebih taat dari banyak makhluk lain.

Memahami iblis, kataku waktu itu, juga bisa membuat kita terang. Karena toh, kalau kita melihat api di kegelapan, menyalakan api unggun pada malam hari, kita akan mampu melihat sekitar.

Kita juga bisa memahami matahari sebagai bola api raksasa. Nyatanya, bola api raksasa itulah yang menjadi pusat tata surya kita saat ini. Bola api raksasa itulah yang menjadi sumber cahaya penerang semesta alam.

Aku berpikir dari sudut pandang tersebut sampai aku kemukakan hal tersebut kepada Zane. Zane bilang aku keliru. Dia memberi sebuah perspektif baru dari dunia Fisika yang digelutinya.

Cahaya dan api adalah 2 hal berbeda. Cahaya adalah gelombang. Api adalah pembakaran. Lho, gimana maksudnya?

Kita tidak bisa memahaminya dalam cara yang sama kita memandang materi yang terlihat oleh mata. Ilmu pengetahuan yang lebih maju mendapati bahwa cahaya adalah partikel foton. Ini yang pernah kita pelajari bahwa cahaya ternyata adalah dualisme.

Dari sini, apakah nur sebagai elemen penciptaan adalah foton tersebut? Dan sekaligus, setelah diciptakan sebagai makhluk cahaya, malaikat memiliki gelombang elektromagnetiknya sendiri?

Dari sini kita akan bisa melihat perbedaannya dengan konsep api. Api adalah sebuah reaksi kimia cepat dalam proses pembakaran yang menghasilkan panas dan cahaya. Nah, api sebagai elemen penciptaan dipandang sebagai dari adanya sumber panas, oksigen, dan bahan bakar.

Maka, persepsiku tentang nar dan nur tadi terbantahkan. Keduanya adalah dua hal yang berbeda. Kata Zane, kalau bicara api, kita tidak akan berkata “seberapa terang”, tetapi “seberapa panas”. Api lebih dipandang sebagai kalor. “Seberapa terang” itu untuk cahaya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *