Setumpuk Emas

Setelah menemukan setumpuk emas, mereka
berunding dan cemas nasib berbuah Midas.
Jari-jari yang lebih banyak dari hati bisa saja
menunjuk dan menuding, lalu bak hilang kasih
masing-masing berunjuk ingin tanding.
Hewan-hewan yang masih fasih berbahasa
sembunyikan dirinya di balik pohon-pohon besar
berharap tiada yang sadar, Tuhan beri karsa
disertai akal dan budi: Hidup selalu tentang memilih.

Setelah menemukan setumpuk emas, mereka
bersepakat, rumah-rumah didirikan dan jalan
hidup ditegakkan. Lalu segala berkecambah
Hewan-hewan yang nyaman liar semakin terdesak
dan tercerai. Jalan-jalan yang dulu setapak
semakin megak. Orang-orang datang dan mukim
merebut semua bahasa, namun tak pernah ada
yang menista tuah: di dalam sumur rasa
selalu ada kepingan-kepingan mulia.

(2020)

Puisi ini dibuat berdasarkan Cerita Rakyat Banyuasin berjudul Asal Mula Nama Sidang Mas.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *