Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka

Sebuah Catatan dari Bincang Dua Buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka”

Minggu (8/9), akhirnya terselenggara bincang dua buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” karya Pringadi Abdi Surya  dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka” karya Nugroho Putu. Dimoderatori oleh Bamby Cahyadi, perbincangan berlangsung hangat. Dari diskusi yang hangat itulah, aku menulis sebuah catatan kecil dari beberapa hal baru yang kudapatkan di sana.

Acara ini sempat berubah-ubah karena awalnya tanggal 31 Agustus 2019, bincang dua buku ini direncanakan di Chicking, Plasa Kalibata. Kemudian karena aku tugas di Danone Blogger Academy, acara mundur menjadi tanggal 8 September sekaligus berubah tempat ke Chicking Depok, Theatre Food di Margonda.

Tentang Dua Kurva yang Saling Terbuka

Saat aku diminta memberi pendapat tentang buku “Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka” aku mulanya membayangkan bentuk kurva yang dimaksud itu seperti apa.

Kurva dibentuk oleh  X dan Y, gabungan dari beberapa titik koordinat pada diagram kartesius. Frasa “yang saling terbuka” membuatku membayangkan dua kurva yang saling berbelakangan. Satu terbuka ke atas. Satu terbuka ke bawah.  Satu berada pada Y positif. Satu berada pada Y negatif. Dan dari bentuk tersebut, bisa kupahami makna pada satu koordinat, perjalanan sang kurva menemui titik terendahnya, di saat kurva satunya justru mengalami titik tertingginya. Ketika menjadi “kita”, ada proses saling melengkapi antara kurva A dan B, antara “kamu” dan “aku”.

Namun, konfirmasi dari Mas Putu sangat luar biasa. Latar belakang frasa itu muncul dari sebuah buku berjudul “Strategi Kebudayaan” karya Cornelis Anthonio Van Peursen.  Mas Putu kemudian menjelaskan isi buku tersebut, tentang tiga tahap kebudayaan yakni dari mitos, ontologis, dan fungsional.

Tahap mitos ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya. Di sini, manusia terkurung dalam lingkaran.

Tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas ingin meneliti segala hal ihwal, Manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dirasakan mengepung manusia. Namun, “lucunya” manusia dalam tahap ini membahas dunia seakan-akan tidak berada di dalam dunia.

Nah, Tahap fungsional ini menarik. Pada tahap ini manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Manusia dan dunia saling menunjukkan relasi, di mana manusia sebagai subyek (S) masih berhadapan dengan dunia (O), tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang bulat tertutup, melainkan subjek terbuka bagi objek dan sebaliknya.

Dua Kurva yang Saling Terbuka tersebut adalah tahaf fungsional dalam Strategi Kebudayaan tersebut. Keren ‘kan penjelasannya?

Bunyi sebagai Gerak

Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka

Bukan Bamby Cahyadi namanya kalau tidak usil menggali pendapat. Lebih lanjut memandang puisi Nugroho Putu, aku berangkat dari kecurigaan pada latar belakang beliau. Begini, aku percaya, pengenalan awal seseorang pada sastra akan berpengaruh terhadap cara menulisnya.

Secara garis besar aku membedakannya menjadi tiga hal/kelompok. Kelompok pertama, menulis puisi dari kamar. Pendekatan yang dilakukan oleh penyair jenis pertama adalah lirisisme. Puisi mereka (termasuk saya) cenderung rapi. Manis. Ada emosi yang ditahan-tahan. Kelompok kedua, menulis puisi sebagai aktivis. Maka pendekatan penulisan yang biasanya terjadi adalah puisi yang meletup-letup, mengutamakan kalimat puitik yang menjadi sentra semacam jargon. Dan ketiga, menulis sebagai gerak. Biasanya, orang yang berteater akan mempunyai ciri khusus berupa bunyi sebagai gerak. Berbeda dengan penyair kamar yang fokus terhadap teks, penyair jenis ketiga fokus terhadap bunyi.

Bunyi sebagai gerak ini kadangkala melampaui makna leksikal, gramatikal, semantik, hingga sintaksis. Sehingga perlu memejamkan mata, mengucapkan puisi tersebut guna melahirkan efek bunyi tertentu yang bisa menghasilkan nuansa tertentu.


Kira-kira begitulah sedikit-banyak pendapatku. Saya menantikan Mas Nugroho Putu menuliskan hasil catatannya terhadap buku puisiku. Hehe.

Hari yang indah, habis makan di Chicking, makan pula ke Imperial Kitchen.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *