Resensi Buku Puisi Afrizal Malna | Buka Pintu Kiri

Walau judul tulisan ini adalah resensi buku puisi Afrizal Malna yang berjudul Buku Pintu Kiri, sebenarnya aku hanya mau cerita soal buku ini. Bagaimana perjumpaanku dengan Afrizal Malna? Dan bagaimana perjumpaanku dengan buku Buka Pintu Kiri ini?

Beberapa hari lalu aku ke Palembang Indah Mall. Saat sedang mengasuh anak dan keponakan, terlihatlah semacam Gramedia Fair dengan tumpukan buku diskon. Aku melipir sejenak dan di antara tumpukan itu menyempil sebuah buku yang berbeda sendiri. Ya, buku Buku Pintu Kiri karya Afrizal Malna yang diterbitkan Diva Press ini ada di sananya. Satu-satunya. Harganya Rp10.000.

Sudah lama aku tidak berjumpa dengan (buku) Afrizal Malna. Dulu, Malna sempat menjadi salah satu idolaku. Ketika itu, buku puisi masih menjadi sangat eksklusif. Malna belum muncul dan diterbitkan oleh penerbit mainstream. Aku punya buku kumpulan puisinya yang diterbitkan Penerbit Kunci, Dan sialnya buku itu dipinjam Nana Sastrawan dan tidak dikembalikan. Wkwkw.

Bicara Malna tentu bicara eksperimentasi. Maksudku, dia adalah penyair yang secara konsisten berusaha melakukan eksperimen puisi yang berbeda-beda di tiap buku puisinya. Bagaimana eksperimentasinya di buku Buka Pintu Kiri ini?

Menulis Buka Pintu Kiri pun sebenarnya tidak sesuai, karena Malna menuliskan judulnya buka pintu kiri. Dengan huruf kecil. Kabarnya, penulisan dengan huruf kecil itu adalah simbol dari anti kapitalisme. Jadi, tidak ada huruf yang layak dibesarkan dan dibesar-besarkan. Huruf, selaiknya manusia, harus setara semuanya.

Untuk membuka gerbang buka pintu kiri, ada baiknya kita membaca pengantarnya yang diberi judul galeri puisi: tubuh baru dalam gesekan bahasa dan medium lain. Uniknya, dalam pengantar tersebut, semua judul ditulis dengan huruf kecil. Namun isi pengantarnya, tetap ditulis dengan bahasa yang rapi dan sesuai kaedah (ada huruf kapital di dalamnya).

Singkat kata, Malna mencoba memberi tubuh baru bagi puisinya. Bahasa menurutnya immaterial dan mulai dipertentangkan sebagai kerja representasi. Penyair harus mulai berpikir untuk bekerja “di luar bahasa”. Sistem bahasa itu dihancurkan agar mendapatkan tubuh yang baru.

Aku pribadi termasuk yang masih percaya penyair harus tetap bekerja di dalam bahasa. Namun bukan berarti aku tidak menikmati Malna. Selalu mengasikkan membaca Malna sebagai sesuatu yang seru dan menghasilkan reaksi semacam… “Ente kadang-kadang….”.

Mau mengulas Malna bagaimana…. susah. Hanya saja, aku merasa terkadang Malna tidak konsisten dengan kerja eksperimennya sendiri. Dia mengaku ingin bekerja di luar bahasa, tetapi ia tidak mampu keluar dari sana. Terutama dari wilayah semantik.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *