Resensi Buku Paulina Flores | Cerita-Cerita Hina

Cerita-Cerita Hina, Siapa yang Punya?
Resensi buku Paulina Flores oleh Wahid Kurniawan.

Judul : Cerita-Cerita Hina
Penulis : Paulina Flores
Penerjemah : Astrid Wasistyanti
Penerbit : Marjin Kiri
Terbit : Cetakan Pertama, April 2021
Tebal : I – vi + 237 Halaman
ISBN : 978-602-0788-14-2

Baca Dulu: Resensi The Railway Children

Hina. Kata ini erat kaitan dengan sesuatu yang rendah, tercela, atau keji. Barangkali kita kerap memakainya untuk memaki seseorang yang perilakunya kita anggap tak patut atau tak bermoral. Pun, tak jarang, kita memakai kata ini sebagai ekspresi sewaktu mendapati sesuatu yang menjijikkan. Sekilas, kita sudah membayangkan kesan tak bermoral saat mendengar kata ini. Namun, bagaimana kalau kehinaan itulah yang ditawarkan oleh sebuah cerita fiksi? Haruskah kita cukup berhenti menilik judulnya dan sekadar menebak-nebak cerita-cerita di dalamnya?

Bisa jadi, justru timbul rasa penasaran di benak kita. Siapa yang memiliki cerita-cerita hina ini? Kalau kita menanyakan pertanyaan ini kepada penulis muda Cile, Paulina Flores, kita sangat mungkin mendapati jawaban yang beragam. Keberagaman itulah yang ditunjukkan olehnya dalam buku debutnya ini, Cerita-Cerita Hina. Terbit kali pertama di Cile dengan judul asli Que Verguenza, buku ini terdiri dari sembilan cerita pendek dengan topik dan sudut pandang yang bermacam-macam. Mengacu pada judulnya, benang merah setiap cerita bisa kita tarik dengan padanan kata hina, baik yang terepresentasikan dalam tindakan tokohnya maupun sekadar interpretasi dari ucapan mereka.

Tentu, kehinaan yang Paulina tawarkan tidak monoton. Topik yang diangkat perempuan ini bukanlah topik-topik umum yang biasanya kita dapati bila kita membicarakan tindakan hina seperti pelacuran. Lebih dari itu, Paula justru keluar dari pakem itu. Paula menyentuh hal-hal yang dekat dengan masyarakat umum. Sesuatu yang bersifat subtil. Cerita-ceritanya datang dari suara yang dekat, mulai dari keluarga, sahabat, sampai hubungan sederhana lain antardua manusia.

Di cerita pertama, misalnya, yang berjudul “Hina Sekali”, Paula menyoroti kisah seorang ayah dengan dua putrinya yang berjalan kaki menuju sebuah tempat casting. Si ayah sudah lama menganggur dan butuh pekerjaan. Di rumah, istrinya terus-menerus memintanya untuk mencari pekerjaan untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Mencari pekerjaan jelas bukan perkara yang mudah. Perekonomian daerah itu memang tidak stabil, pengangguran terus meningkat, sehingga usaha si ayah lebih sering menjadi kesia-sian ketimbang membuahkan hasil yang manis. Atas kenyaataan itu, ia pun menjadi sering bertengkar dengan istrinya.

Di dalam sebuah pasangan yang bertengkar, sudah ditebak, pihak yang paling rugi adalah anak-anak mereka. Usia mereka belum lagi dewasa untuk mencerna masalah yang dihadapi orang tuanya, tetapi mereka mesti menelan itu bulat-bulat dan menganggap semua itu bagian dari keseharian mereka. Di situlah, sosok anak pertama mereka, Simona yang berusia sembilan tahun mesti mengalami masa kelam itu. “Simona yang melewati malam-malam dengan telinga menempel di tembok, mendengarkan pertengkaran orang tua mereka. Setiap pagi berikutnya, setelah bangun tidur dia mencari di kamus semua kata-kata yang disebutkan orang tuanya dan asing baginya. Dia juga mencari beberapa kata yang sudah dia dengar sebelumnya, tetapi menurut Simona beberapa kata tidak mencerminkan ayahnya: pecundang, pengecut, egois.” (Hal. 4)

Di dalam cerpen ini, bisa dipahami kehinaan itu tergambarkan dalam potret keluarga yang tak begitu harmonis, sehingga membuat si anak memiliki kebiasaan yang tak semestinya ia lakukan. Selain itu, lontaran kata hina tidak saja berhenti pada umpatan si ayah suatu kali—ketika ia gagal mendapat pekerjaan, tetapi pula direpresentasikan dengan si ayah yang mengajak kedua anaknya dalam proses casting itu. Sebab, kebaradaan mereka malah lebih menarik perhatian si pencari bakat, alih-alih melirik si ayah yang tengah mencari pekerjaan. Di situlah, si ayah meresa sedemikian hina dengan kegagalan dan ketidaksopanan yang didapat putri-putrinya dari si pencari bakat itu.

Lalu, bagaimana dengan cerita-cerita lainnya? Dari sekian cerita lainnya: Teresa, Talcahuano, Melupakan Freddy, Bibi Nana, Semangat Amerika, Laika, Liburan Terakhir, dan Beruntungnya Aku. Kehinaan dengan perspektif yang unik bisa kita dapati di dalam cerita yang terakhir, Beruntungnya Aku. Dalam cerita, kita dikenalkan dua alur yang menceritakan dua tokoh yang berbeda. Tokoh pertama, seorang anak perempuan yang punya masalah dalam pertemanan; dan tokoh kedua, seorang perempuan dewasa yang punya kebiasaan-kebiasaan yang tak lazim.

Mengenai tokoh pertama ini, kita patut menduga Paulina sengaja membentuk tokoh-tokohnya dengan keunikannya masing-masing. Terbukti, baik tokoh ini maupun tokoh-tokoh cerita sebelumnya memiliki keunikan dalam hal sudut pandang dan pemikiran. “Overproteksi adalah hal paling menghina yang pernah ada, maka dari itu aku mengisolasi diri. Aku berusaha tidak menarik perhatian dan menyampingkan segala pertemanan. Lebih baik aku tidak punya teman daripada menanggung olokan dan belas kasihan,” kata tokoh ini (Hal. 171). Itu pikiran utamanya, tetapi setelah bertemu dengan seorang gadis lainnya yang sama-sama menyukai Sailor Moon, ia mesti merekonstruksi ulang pemikirannya itu. Kendati begitu, perkara menjalin hubungan bukanlah sebentuk jalinan yang sederhana. Baginya, jalinan itu justru mendatangkan kepelikan lainnya. Ia dan gadis itu menjadi semakin dekat, tentu saja, tapi bersamaan dengan itu orangtua dari kedua belah pihak juga merasakan hal yang sama. Di situlah, perkara pertemanan menemukan titik terunyamnya. Kerentanan keluarganya mesti diuji sekali lagi.

Sementara itu, di alur atau tokoh kedua, kita dikenalkan dengan perempuan dewasa bernama Denise. Ia perempuan yang tinggal dalam kesendirian, sering dipeluk sepi, dan kerap kehilangan arah kehidupan. “Pada malam hari, dia tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri, berhadapan dengan dirinya sendiri dalam monolog insomnia. Terpojok dan tenggelam dalam keintimannya sendiri yang tak berujung. Denise lalu bangun mengambil segelas anggur dan mencoba menenangkan kegelisahannya dengan membaca Perjanjian Lama dan menonton film porno (Hal. 192).” Apa ada hal yang lebih menyedihkan selain malam-malam yang kita lewati dengan membaca kitab suci kemudian menonton film porno? Tentu, bagian ini sudah teramat jelas menggambarkan betapa sendirinya ia, betapa kesepiannya ia.

Baca Juga: Resensi Novel Wesel Pos karya Ratih Kumala

Sekilas, dua cerita ini mungkin sangat sulit kita temukan benang merahnya. Mereka justru seperti dua cerita berbeda yang bisa berdiri sendiri. Tapi, Paulina mempertimbangkan hal lain: Ia ingin menghadirkan kontradiksi-kontradiksi. Lewat kedua tokoh ceritanya itu, ia memang menunjukkannya. Bahwa kita hidup dengan beragam kontradiksi-kontradiksi yang kadang tak kita sadari dan pedulikan. Di cerita inilah, Paulina ingin menyentil hal itu. Dari semua cerita ini, lebih jauh lagi, kita bisa merekonstruksi dan memaknai ulang kata “Hina”. Paulina tidak melulu menyoroti sisi hina, tindakan yang hina, dan kehinaan-kehinaan lain dalam koridor negatif. Ia justru menghadirkan perspektif yang beragam tentang hal itu. Dus, untuk menjawab pertanyaan, “Cerita-Cerita Hina, Siapa yang Punya?” Kita bisa beranggapan bahwa kehinaan ada pada diri kita semua. Masalahnya, hina dalam hal apa?

Tentang Penulis

Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *