Puisi Rilen Dicki Agustin

Puisi Rilen Dicki Agustin

Akhir pekan ini, puisi Rilen Dicki Agustin menyapa pembaca semua. Ingin mengirimkan tulisanmu ke Catatan Pringadi, silakan simak ketentuannya di sini.

Mencukur Rumput di Pematang Sawah

aku pergi ke sawah mencukur rindu di pematangnya
rindu pematang pada rumput yang bersih. setelah sekian lama
rumput  itu bersemedi di atas gundukan daging-daging pematang itu.

pada dasarnya, aku melihat rumput itu melebat,
menjalar tak beraturan. bahkan mengikat
ke satu rumpun padi sampai beberapa rumpun padi.

rumput parasitisme. ia menghalangi tumbuh kembang
rumpun-rumpun padi. sesekali ia menari
dan merias diri dengan dandanan kapitalismenya.

itulah ia, aku mencukurnya dengan silet yang besar. lebih besar
daripada silet astra, yang biasa buat cukur jenggotku.
ramput itu telah habis, bersih, rata dengan pematang sawah.

kini rumput padi tak terikat lagi oleh rumput  itu. semangatlah
tumbuh kembang duhai sayangku si emas menanti
datangnya kebahagiaan bagiku.

untuk kehidupan yang lebih bermakna. membuang
kapitalisme–sifat parasitisme. bagai rumput
yang layak dicukur di pematang sawah itu.

(Padang, 2020)

Cinta dan Sandiwara Dunia Maya

aku sibuk bertanya-tanya padamu. kau, malah sibuk
dengan ponsel genggammu, yang mengubah
segala bentuk cinta di antara kita.

ketika kau memilih asyik dengan ponsel genggammu
aku memlih pergi. meninggalkan
bekas di rongga dadamu.

percuma, kita mempertahankan cinta
jika pada akhirnya, kau memilih sibuk
dengan dunia maya.

kau bertanya apa itu cinta?
katamu ponsel genggammu jauh lebih jujur
menjawabnya daripadaku.

ya, katamu itu benar. ponselmu jujur mengubah sikapmu padakuaku pun memilih jujur pergi meninggalkanmu
dengan sandiwara dunia mayamu ini.

(Padang, 2020)

Makan Cinta

aku makan cinta
dengan sambal kata-kata
air minum air tinta
sendok ujung pena.

aku telah selesai makan cinta
perutku kenyang dibuatnya
saatnya tidur bersama duka
sebab cintaku masuk indah dalam perut kosong yang sempurna.

(Padang, 2020)

Tiang Cinta yang Roboh

tiang lampu jalanan roboh
serupa tiang cintaku dengannya
roboh sia-sia
karena cinta yang dibangun lama ada dusta di dalamnya.

sejak kata manis tak lagi indah
sejak itu pula lah kata putus diucapkan
ke penyanggah tiang cinta. ya, akhirnya tiang itu roboh
sebab cinta sudah melanda perpisahan dua insan.

pada dasarnya cinta akan kokoh dengan penyangga
tiang yang jujur. jika cinta telah didasari dengan dusta
itu bukan cinta namanya lagi. melainkan dusta
yang harus mati sebelum beranak-pinak di sana.

(Padang, 2020)

Mati Kata

saat-saat kau mengatakan cinta padaku. aku mati kata.
pucat tak berdarah. sebenarnya, aku juga cinta.
tetapi, karena mati kata. cinta kita terputus olehnya.
bersama rasa yang tenggelam di lapisan jiwa.

(Padang, 2020)

Biodata Penulis

Rilen Dicki Agustin, lahir 10 Agustus 1999 di Pasaman. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Andalas, Padang. Ia merupakan wakil Ketua Labor Sastra dan Seni di FIB.  Suka membaca dan menulis puisi, cerpen, esai, dan lain-lain. Karyanya dimuat di berbagai media massa. Seperti, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Medan Pos, Analisa Medan, Bangka Pos, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Radar Cirebon, Cakra Bangsa, BMR FOX, , Dinamika News, banaranmedia.com, beranda.org, becik.id, nalarpolitik.com, scientia.id, kamianakpantai.com, salmahpublishing.com, Utusan Borneo (UB, Malaysia) dan lain-lain. Buku tunggalnya Lupa Hormat Pada Merah Putih (2020). Bisa dihubungi lewat, Email: rilendickiagustin12@gmail.com

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *