Ternyata, aku baru terinformasi, pernah ada 2 puisiku dimuar di Pikiran Rakyat, 22 Juli 2017. Puisi tersebut berjudul Sebatang Pohon dan Aku Menyalakan Lilin Ini Untukmu.
SEBATANG POHON
ia akan tumbuh selamanya, kau meyakini itu
karena menyadari betapa teduh rimbun daun
yang tak gugur-gugur meski kemarau
sebatang pohon di seberang jalan bukan milik
burung karena sangkar mudah dibongkar angin
ia akan tumbuh selamanya seperti cinta
yang diam-diam kau ukir di sebuah sisi tersembunyi
dengan nama kita, milik kita
AKU MENYALAKAN LILIN INI UNTUKMU
aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan
di sekitar lilin yang baru dinyalakan
bersama kita memainkan bayangbayang
dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang
aku menciptakan seekor elang
yang mengepakkan sayapnya pedih
setelah menghabiskan sekepal daging sidharta
cakarnya yang biasa gigih menjadi letih
kau menyebut cakar itu hatiku
lalu tanganmu menyalak, menjadi anjing penjaga
aku telah lama meninggalkan rumah
kau telah lama menungguku pulang
aku merindukan mati lampu terutama
bila hujan turun di antara dua orang kasmaran
aku akan melihat nyala lilin itu tergoda
melepaskan diri dari sumbu ketimbang selalu disalahkan
di antara kita, siapa saja boleh mengaku salah
juga boleh mengaku saling kasmaran
aku tidak tahu mana yang mendekati kebenaran
aku tidak tahu mana yang benar kurindukan