Puisi Presiden Soekarno dalam Puisi-puisi Revolusi Bung Karno

Baru-baru ini Presiden SBY viral karena lukisannya. Bakat seni sebenarnya sudah dimiliki Presiden pertama kita, Bung Karno, yang kerap menulis puisi. Berikut ini puisi Presiden Soekarno dalam Puisi-puisi Revolusi Bung Karno, buku pertama.

Baca Dulu: Sajak-sajak Chairil Anwar

Kemerdekaan Saya Bandingkan dengan Perkawinan

Kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan
ada yang berani kawin, lekas berani kawin
ada yang takut kawin. Ada yang berkata:
Ah, saya belum berani kawin
tunggu dulu gaji F 500
Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung
sudah ada permadani
sudah ada lampu listrik,
sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul,
sudah mempunyai sendok-garpu perak satu kaset,
sudah mempunyai ini dan itu,
bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet
barulah saya berani kawin
Ada orang lain yang berkata:
Saya sudah berani kawin
kalau saya sudah mempunyai satu meja
kursi empat, “meja makan”
lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur
Ada yang lebih berani dari itu
yaitu saudara-saudara Marhaen
Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja
dengan satu tikar
dengan satu periuk
dia kawin
Marhaen dengan satu tikar, satu gubuk: kawin
Lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur: kawin
Sang nDara yang mempunyai rumah gedung
Electrische kookplaat, tempat tidur,
uang bertimbun-timbun kawin
Belum tentu mana yang lebih gelukkig
belum tentu mana yang lebih bahagia
Sang nDara dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul
atau Sarinem dengan Samiun yang mempunyai
satu tikar satu periuk, saudara-saudara!
Tekad hatinya yang perlu
tekad hatinya Samiun kawin
dengan satu tiker dan satu periuk
dan hati Sang nDara yang baru berani kawin
kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset
plus kinderuitzet – buta 3 tahun lamanya

(dari buku “Lahirnya Pancasila”, 1 Juni 1945)

Minum Seni dan Kultur

Kita bergerak karena kesengsaraan kita
Kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna
Kita bergerak tidak karena ideal saja
Kita bergerak karena ingin cukup makanan
Kita bergerak karena ingin cukup pakaian
ingin cukup tanah
ingin cukup perumahan
ingin cukup pendidikan
ingin cukup minum seni dan kultur
pendek kata kita bergerak karena ingin
perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagian dan
cabang-cabangnya
Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus persen
bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialism
sebab stelsel inilah yang sebagai kemandegan tumbuh di atas tubuh kita
hidup dan subur dari pada kita
hidup dan subur dari pada tenaga kita
rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita
Oleh karena itu
maka pergerakan kita
janganlah pergerakan yang kecil-kecilan
pergerakan kita haruslah pada hakekatnya
suatu pergerakan yang ingin
merobah sama sekali sifatnya masyarakat
Suatu pergerakan yang ingin
menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat
sampai ke sulur-sulurnya dan akar-akarnya
suatu pergerakan yang sama sekali ingin
menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme
Pergerakan kita janganlah
hanya suatu pergerakan yang ingin rendahnya pajak
jangan hanya ingin tambahnya upah
janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil
yang bisa tercapai sekarang
tetapi ia harus menuju kepada suatu transformasi yang
mengjungkir-balikkan sama sekali sifatnya masyarakat itu
dari sifat imperialisme dan kapitalisme menjadi
sifat yang sama rasa sama rata
Pergerakan kita harus suatu
pergerakan yang pada hakekatnya
menuju kepada suatu “Ommekeer” susunan sosial.

(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 280-281)

Janganlah Menjadi Politikus Salon

Janganlah menjadi politikus salon!

Lebih dari separo

politisi kita adalah politisi salon

yang mengenal Marhaen

hanya dari sebutan saja.

Apakah orang mengira dapat

menyelesaikan revolusi sekarang ini

meski tingkatannya

tingkatan nasional sekalipun

tidak dengan rakyat murba

Politikus yang demikian itu

sama dengan seorang jenderal

yang tak bertentara

Kalau ia memberi komando

dia seperti orang berteriak di padang pasir

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata

Jika tidak terjun di kalangan mereka

mendengarkan kehendak-kehendak mereka

menyadarkan mereka akan diri sendiri

membuat revolusi ini revolusi mereka?

(dari buku “Sarinah”, 1947 hal. 229-230)

Cari Sendiri

Het hoe

kita harus cari sendiri. Het hoe

bagaimana itu harus kita cari sendiri

sistem-sistem apa yang harus kita pakai

Tidak bisa saudara teorikan

apalagi dengan membuka,

hanya membuka saja textbook-textbook,

sampai saudara punya kepala botak

tidak akan saudara bisa menemukan het hoe itu

Tetapi kita harus cipta sendiri,

cari sendiri. This is revolution

Revolusi adalah mencari, saudara-saudara

tidak ada revolusi yang sudah ready for use

tidak, cari sendiri

Tidak ada satu revolusi

atau dua revolusi yang sama

Jangan kira revolusi Indonesia itu sama dengan revolusi Sovyet

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mesir

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Kuba

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi RRC

Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mexico

Revolusi adalah milik dan tugas kewajiban bangsa

dan kewajiban dari pada bangsa itu ialah mencari sendiri

Jangan menjiplak, oleh karena tidak bisa dijiplak

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Mexico

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi United Arab Republik

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Yugoslavia

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Polandia

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Uni Sovyet

bubrah revolusi kita

Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Amerika, 1776 dulu itu

bubrah revolusi kita

Tidak, kita harus mencari sendiri

(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 21-22)

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

Sekali lagi saya ulangi kalimat ini
membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau
hal itu tidak mungkin
sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini
adalah akumulasi dari pada hasil-hasil
perjuangan di masa yang lampau
Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata:
“One connot escape history”
orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah
Saya pun berkata demikian!
Tetapi saya tambah. Bukan saja
“One connot escape history”
tetapi saya tambah: “Never leave history”
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu yang sudah!
Hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan yang sudah,
engkau akan berdiri di atas vacuum
engkau akan berdiri di atas kekosongan
lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu
paling-paling hanya akan berupa amuk
amuk belaka
Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap!

(dari “Amanat Proklamasi, 17 Agustus 1963”, hlm. 210)

Baca Juga: Puisi-puisi Kriapur

Semangkuk Kecil Nasi Sehari

Kita negara-negara berpolitik bebas di dunia

yang mengakui dan menerima kenyataan

adanya bangsa-bangsa yang baru bangkit

mempunyai kewajiban yang mengikat untuk

memperoleh pengertian dan rakyat-rakyat di negara lain

untuk mengatakan terus terang kepada mereka

bahwa mereka tidak dapat terus hidup

di atas berjuta-juta rakyat yang miskin

Masyarakat-masyarakatnya mereka mewah berlimpah

dibangun di atas keringat dan susah payah

dan air mata dari jutaan manusia

yang melalui malam senggang mereka tidak

dengan mata melekat pada pesawat televisi

tapi dalam kegelapan yang ditembus oleh nyala lilin

yang sehari-harinya bukan dirundung

oleh kepunyaan tetangga mereka

tetapi oleh keinginan untuk memberi kepada

anak-anak mereka semangkuk kecil nasi sehari

(dari “Pidato pada Konperensi Nonblok I, Beograd”)

Membangun Kebanggaan

Manusia tidak hanya cukup untuk makan

Sungguhpun gang-gang di Jakarta penuh lumpur

dan jalanan masih kurang

namun aku telah membangun gedung-gedung bertingkat

sebuah jembatan berbentuk daun semanggi

jalan raya yang hebat yang dikenal dengan Jakarta Bypass

dan menamai jalan dengan nama-nama para pahlawan kami

Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan Cokroaminoto dan lain-lain

Banyak orang berhati katak

dengan mentalitas warung kopi

menghitung-hitung pengeluaran itu

dan menuduhkan menghamburkan harta rakyat

ini semua bukan untuk kejayaanku

semua ini dibangun demi kejayaan bangsa

supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia

Tulang punggung tanah airku membeku

ketika mendengar pertandingan Asian Games 1963

akan diadakan di ibukotanya

Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar

yang tak ada duanya di dunia

Kota-kota lain mempunyai stadion yang lebih besar

tapi tak satu pun yang mempunyai

atap melingkar seperti kepunyaan kami

Yah, memberantas kelaparan memang penting

akan tetapi memberi makan jiwa yang

telah diinjak-injak dengan sesuatu

yang dapat membangkitkan kebanggan mereka

ini pun penting

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 444)

Sarinah-Sarinah

Tetapi pikiran saya

terus melayang

melayang satu soal

soal wanita

Kemerdekaan!

Bilakah Sarinah-Sarinah mendapat kemeerdekaan

Tetapi, ya, kemerdekaan yang bagaimana?

Kemerdekaan seperti yang dikehendaki

oleh pergerakan feminismekah

yang hendak menyamaratakan

perempuan dalam segala hal dengan laki-laki

Kemerdekaan ala Karini?

Kemerdekaan ala Khalidah Hanum?

Kemerdekaan ala Kollontay?

Oleh karena soal perempuan

adalah soal masyarakat

maka soal perempuan

adalah sama tuanya dengan masyarakat

soal perempuan adalah

sama tuanya dengan kemanusiaan

atau lebih tegas:

soal laki-laki dan perempuan

adalah sama tuanya

dengan kemanusiaan

Sejak manusia hidup

di dalam gua-gua dan rimba-rimba

dan belum mengenal rumah

sejak “zaman Adam dan Hawa”

kemanusiaan itu pincang

terganggu oleh soal ini

Manusia zaman sekarang

mengenal “soal perempuan”

Manusia zaman purbakala

mengenal “soal laki-laki”

Sekarang kaum perempuan duduk di tingkatan bawah

di zaman purbakala kaum laki-laki duduk di tingkatan bawah

Sekarang kaum laki-laki berkuasa

di zaman purbakala kaum perempuanlah yang berkuasa

Kemanusiaan,

di atas lapangan soal laki-laki perempuan

selalu pincang

dan kemanusiaan akan terus pincang

selama saf yang satu menindas saf yang lain

Harmoni hanya dapat dicapai

kalau tidak ada saf satu di atas saf yang lain

tetapi dua “saf” itu sama derajat

– berjajar – yang satu di sebelah yang lain

yang satu memperkuat kedudukan yang lain

Tetapi masing-masing menurut kodratnya sendiri

sebab siapa melanggar kodrat alam ini

ia akhirnya niscaya digilas remuk redam

oleh alam itu sendiri

Alam benar adalah “sabar”

alam benar tampak diam

tetapi ia tak dapat diperkosa

ia tak mau diperkosa

ia tak mau ditundukkan

ia menurut kata Vivekananda adalah “berkepala batu”

(dari buku “Sarinah”, hlm. 19)

Keterangan:

– Kollontay : seorang tokoh pergerakan wanita di Rusia, pada permulaan revolusi 1917

– Vivekananda : seorang pejuang kemerdekaan India sebelum masa M.K. Gandhi

Sudah Ber-Ibu Kembali

Sudah lama bunga Indonesia

tiada mengeluarkan harumnya

semenjak sekar yang

terkemudian sudah menjadi layu

Tetapi sekarang bunga Indonesia

sudah kembang kembali

kembang ditimpa cahaya bulan persatuan indonesia

dalam bulan yang terang-benderang ini

berbaurlah segandi segala bunga-bungaan yang harum

dan menarik hati yang tahu akan harganya bunga

sebagai hiasan alam yang

diturunkan Tuhan Illahi

Kembangnya bunga ini

ialah bangunnya bangsa Indonesia

menurut langkah yang terkemudian sekali

didahului oleh bangunnya laki-laki Indonesia

beserta pemudanya

Langkah yang terkemudian

tetapi jejak yang pertama sekali

dalam sejarah Indonesia

dan permulaan zaman baru

Sudah lama Indonesia kehilangan ibu

sudah lama Indonesia kehilangan puterinya

tetapi berkat disinari cahaya persatuan Indonesia

bertemulah anak piatu dengan ibu

yang disangka sudah hilang

berjabat tanganlah dengan puteri yang

dikatakan sudah berpulang

Pertemuan anak piatu dengan ibu kandung

ialah saat yang semulia-mulianya

dalam sejarah anak piatu

yang ber-ibu kembali

Saat ini tiada dapat dilupakan

sedih dan suka

pedih dan pilu bercampur-baur

karena kenang-kenangan yang sudah berlalu

Dan oleh karena nasib baru yang akan dimulai

Baru sekarang Persatuan Indonesia ada romantiknya

Apa gunanya gamelan dalam pendopo kalau tidak dibunyikan

terletak saja jadi pemandangan

kaum keluarga turun-temurun

Gamelan Indonesia berbunyi kembali

berbunyi dalam pendopo Indonesia

dan melagukan persatuan Indonesia

pada waktu bulan purnama raya

penuh dengan bau bunga

dan kembang yang harum

Indonesia piatu sudah ber-ibu kembali

(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 107)

(nb. Pada baris 9, ada kata “segandi” : saya tak tahu apa arti kata itu, saya mencoba mereka-reka apakah ada kesalahan cetak, tapi tak juga ketemu, mungkin “segar di”)

Dikantongi oleh Tuhan

Tatkala ibumu masih perawan

bapak masih perjaka

Lantas kita menjawab

“Yah, kami waktu itu dikantongi Tuhan

Dikantongi oleh Tuhan.”

Maka pada satu saat Tuhan ini

ingin meng-gumelar-kan kita ke dunia

Bagaimana caranya

apa diambil kantong Tuhan

Kemudian … dijatuhkan dari langit?

Tidak!

Tuhan lantas menjodohkan

Seorang pria dan seorang wanita

Tuhan yang menjodohkan

Saya tempo hari berkata

jodoh itu adalah hak Tuhan

Mati hak Tuhan

Jodoh hak Tuhan

Lahir hak Tuhan

Tuhan menjodohkan seorang pria dan seorang wanita

Pria dan wanita ini kataku

jadikan dapur dari Tuhan

Dapur untuk meng-gumelar-kan kita di dunia

Nah, kita diprocotkan tidak di langit

tidak di laut

tetapi di procotkan di tanah air ini

Yang dari tanah air inilah kita, saudara-saudara

dapat makanan

yang dari tanah air inilah

kita dapat minuman

yang dari tanah air inilah

kita menghirup hawanya yang segar

Pendek kata

tanah airlah tempat kita

dari masih bayi merah itu

tumbuh menjadi manusia yang dewasa sekarang

karena itu maka lantas aku mengambil konklusi

hai, manusia, cintailah Tuhan

yang dulu mengantongi engkau

Cintailah ibu-bapakmu

dapur yang dibuat Tuhan

untuk meng-gumelar-kan engkau

Cintailah tanah air yang di tempat itu

engkau dapat minum, makan dan lain sebagainya

(dari buku “Ilmu dan Perjuangan”, hlm. 111)

Musnahlah Kekayaan-kekayaan Itu

Dengan perkataan lain
kaum modal partikelir mempunyai
kepentingan atas rendahnya tenaga produksi
dan rendahnya tingkat pergaulan hidup kami
imperialisme-modern
menghalang-halangi kemajuan
pergaulan hidup kami
imperialisme-modern
membikin rakyat bumiputra
menjadi bangsa yang terdiri
dari kaum buruh belaka
dan membikin Hindia menjadi
si buruh di dalam pergaulan bangsa-bangsa
Dan si buruh yang bagaimana
Tuan-tuan Hakim!
si buruh yang loonen-nya minimum loonen
si buruh yang wirtschaft-nya minimum wirschaft!
si buruh yang upahnya upah kokro
Hati-Nasional tentu berontak
atas kejahatan imperialisme-modern
yang demikian itu
Lagi pula
siapakah nanti yang bisa
mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan Indonesia
yang diambil oleh mijnberdrijven partikelir
yakni perusahaan-perusahaan tambang partikelir
sebagai timah, arang batu, minyak
Siapakah nanti yang bisa
mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan tambang itu?
Musnah
musnahlah kekayaan-kekayaan itu
buat selama-lamanya bagi kami
Musnah
musnahlah buat selama-lamanya
bagi pergaulan hidup Indonesia
masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka

(dari buku “Indonesia Menggugat”, hlm. 58)

Undang-undang

Jiwa ular kambang dan jiwa inlander
itulah racun yang menghinggapi kita
di tahun-tahun yang terakhir ini
Jikalau ingin merdeka sejati-jatinya merdeka
milikilah jiwa yang merdeka
milikilah jiwa yang besar
Buktikanlah memiliki jiwa yang besar itu
jiwa merdeka itu
jiwa yang tak segan bekerja dan memberi
jiwa yang dinamis yang bisa
berdiri sendiri di atas kaki sendiri
bukan jiwa yang meminta, merintih
mengemis saja ke kanan dan ke kiri
sambil bermimpi dapat mencapai
derajat penghidupan yang makmur
dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja sama sekali
Kita tidak hidup di alam impian
kita hidup di alam kenyataan
Kita tidak hidup di alam impian
Kita hidup di alam kenyataan
Kita tidak hidup di alam sorga
Kita hidup di alam dunia
Di dalam dunia itu
untuk semua makhluk besar-kecil
tiada undang-undang lain
melainkan undang-undang yang berbunyi:
“Jikalau mau hidup, harus makan
yang dimakan hasil kerja;
jika tidak bekerja, tidak makan;
jika tidak makan pasti mati!”
Inilah undang-undangnya dunia
Inilah undang-undangnya hidup
Mau tak mau semua makhluk
harus menerima undang-undang ini
Terimalah undang-undang ini
dengan jiwa besar dan merdeka
jiwa yang tidak menengadah
melainkan kepada Tuhan.

(dari buku “Amanat Proklamasi”, hlm. 63)

Dimakan Api Unggun

Saya merasa
diri saya sebagai
sepotong kayu
dalam satu gundukan kayu api unggun
sepotong dari pada ratusan
atau ribuan kayu di dalam api unggun besar
saya menyumbangkan sedikit
kepada nyala api unggun itu
tetapi sebaliknya
saya dimakan oleh api unggun itu!
Dimakan apinya api unggun

(dari buku “Tragedi Bung Karno” Pustaka Simponi 1978)

Baca Juga: Sajak Subagio Sastrowardoyo

Sejarahlah yang Akan Membersihkan Namaku

Dengan setiap rambut di tubuhku

aku hanya memikirkan tanah airku

Dan tidak ada gunanya bagiku

melepaskan beban dari dalam hatiku

kepada setiap pemuda yang datang kemari

aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku

apakah orang mencapku kolaborator

Aku tidak perlu membuktikan kepadanya

atau kepada dunia, apa yang aku kerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia

akan ditulis dengan darah Sukarno

Sejarahlah yang akan membersihkan namaku

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 304)

Aku Melihat Indonesia

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep

Aku mendengar Lautan Hindia bergelora

membanting di pantai Ngliyep itu

Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat

sawah-sawah yang menguning-menghijau

Aku tidak melihat lagi

batang-batang padi yang menguning menghijau

Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung

Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu

Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet

dan gunung-gunung yang lain

Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan

Lagu-lagu yang merdu dari Batak

bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan

Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran

bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan

Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku

bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio

Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut

menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi

bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut

Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini

Aku tidak lagi menghirup udara

Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak

di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar

“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”

Aku bukan lagi melihat mata manusia

Aku melihat Indonesia

(dari buku “Bung Karno dan Pemuda”, hlm. 68-107)

Menggerakkan Tenaganya

Diberi hak-hak atau tidak diberi hak

Diberi pegangan atau tidak diberi pegangan

Diberi penguat atau tidak diberi penguat

Tiap-tiap makhluk

Tiap-tiap umat

Tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak

Pasti akhirnya bangkit

Pasti akhirnya bangun

Pasti akhirnya menggerakkan tenaganya

Kalau ia sudah terlalu sekali merasakan

celakanya diri oleh suatu daya angkara murka!

Jangan lagi manusia

Jangan lagi bangsa

Walau cacing pun tentu berkeluget-keluget

kalau merasa sakit!

(dari buku “Indonesia Menggugat”, hlm. 62)

Kami Bukan Bangsa yang Pandir

Ada sebabnya aku mengadakan perlawatan ini
aku ingin agar Indonesia dikenal orang
Aku ingin memperlihatkan kepada dunia
bagaimana rupa orang Indonesia
Aku ingin menyampaikan kepada dunia
bahwa kami bukan “Bangsa yang Pandir”
seperti orang Belanda berulang-ulang
mengatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
“Inlander goblok hanya baik untuk diludahi”
seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali
Bahwa kami bukan lagi
penduduk kelas kambing yang berjalan
menyuruk-nyuruk dengan memakai sarung dan ikat kepala
merangkak-rangkak seperti yang dikehendaki
oleh majikan-majikan kolonial di masa silam

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 8)

Baca Juga: Puisi-puisi Soe Hok Gie

Putra Sang Fajar

Abad ini adalah suatu zaman di mana bangsa-bangsa baru

dan merdeka di benua Asia dan Afrika mulai berkembang

Berkembangnya negara-negara sosialis

yang meliputi seribu juta manusia

Abad ini pun dinamakan abad atom

dan abad ruang angkasa

Dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi kemanusiaan ini

terpikat oleh suatu kewajiban untuk menjalankan

tugas-tugas kepahlawanan

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam

Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang

paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini,

lambang kekembaran. Dan memang itulah sesungguhnya

Dua sifat yang berlawanan

Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet

Aku bisa keras dan laksana baja

dan aku bisa lembut berirama

Pembawaanku adalah paduan dari pada

pikiran sehat dan getaran perasaan.

Aku seorang yang suka memaafkan,

akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala

Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke belakang jerajak besi

namun demikian aku tidak sampai hati

membiarkan burung terkurung di dalam sangkar

Aku menjatuhkan hukuman mati

namun aku tak pernah mengangkat tangan

untuk memukul mati seekor nyamuk

sebaliknya aku berbisik kepada binatang itu

“hayo, nyamuk, pergilah

jangan kau gigit aku”

Karena aku terdiri dari dua belahan

aku dapat memperlihatkan segala rupa

aku dapat mengerti segala pihak

aku memimpin semua orang

boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan

boleh jadi juga pertanda lain.

Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu

menjadikanku seorang yang merangkul semuanya.

Ibu telah memberikan pangestu kepadaku

ketika aku baru berumur beberapa tahun

Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit

dan duduk di dalam gelap di beranda muka kami yang kecil

tiada bergerak. Ia tidak berbuat apa-apa

ia tiada berkata apa-apa

hanya memandang arah ke timur

dan dengan sabar menantikan hari akan siang

Aku pun bangun dan mendekatinya

diulurkannya kedua belah tangannya

dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya

Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya

ia memelukku dengan tenang.

Kemudian dia berbicara dengan suara lunak

“Engkau sedang memandangi fajar, nak.

Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi

orang yang mulia, engkau akan menjadi

pemimpin dari rakyat kita.

Karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi

di saat fajar mulai menyingsing

Kita orang jawa mempunyai satu kepercayaan

bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit

nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu

Jangan lupakan itu

Jangan sekali-kali kau lupakan, nak bahwa

engkau ini putra dari Sang Fajar.”

Bersamaan dengan kelahiranku

menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru

dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru

Karena aku dilahirkan di tahun 1901

Bagi Bangsa Indonesia abad ke sembilan belas

merupakan zaman yang gelap

sedangkan zaman sekarang baginya adalah

zaman yang terang-benderang dalam menaiknya

pasang revolusi kemanusiaan

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan

Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus

Orang yang percaya kepada tahyul meramalkan,

“Ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno”

Sebaliknya orang Bali mempunyai kepercayaan lain

kalau Gunung Agung meletus ini berarti

bahwa rakyat telah melakukan maksiat

Jadi orang pun dapat mengatakan

bahwa Gunung Kelud sebenarnya tidak menyambut bayi Sukarno

Gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya

karena anak yang jahat lahir ke muka bumi ini

Berlainan dengan pertanda-pertanda yang

mengiringi kelahiran itu

maka kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan

Bapak tidak mampu memanggil dukun

untuk menolong anak yang akan lahir

Keadaan kami terlalu ketiadaan

Satu-satunya orang yang menghadapi itu

ialah seorang kawan dari keluarga kami

seorang kakek yang sudah terlalu amat tua

Dialah, dan tak ada orang lain selain orang tua itu

yang menyambutku menginjak dunia ini.

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 24, 25, 26)

Berpedomanlah pada Cita-cita

Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan

kehidupan manusia sekarang digerogoti

dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan

Ketakutan akan hari depan

ketakutan akan bom hidrogen

ketakutan akan ideologi-ideologi

Mungkin rasa takut itu

pada hakekatnya merupakan bahaya yang

lebih besar daripada bahaya itu sendiri

Sebab rasa takutlah yang

mendorong orang berbuat tolol

berbuat tanpa berpikir

berbuat hal yang membahayakan

Dalam permusyawaratan Tuan-tuan

saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan

terpengaruh oleh ketakutan itu

Sebab ketakutan adalah zat asam

yang mencapkan perbuatan manusia

menjadi pola yang aneh-aneh

Berpedomanlah pada harapan

dan ketetapan hati

berpedomanlah pada cita-cita

berpedomanlah pada impian dan angan-angan

(dari pidato “Presiden Soekarno pada Pembukaan Konperensi Asia-Afrika” 18 April 1955)

Sinar Itu Dekat

Jikalau kita insyaf
bahwa kekuatan hidup itu
letaknya tidak dalam menerima
tetapi dalam memberi
Jikalau kita semua insyaf
bahwa dalam percerai-beraian itu
letaknya benih perbudakan kita;
Jikalau kita semua insyaf
bahwa permusuhan itulah yang menjadi
asal kita punya “via dolorosa”
Jikalau kita insyaf
bahwa roch rakyat kita masih penuh
kekuatan untuk menjunjung diri
menuju Sinar yang satu
yang berada di tengah-tengah kegelapan gulita
yang mengelilingi kita ini
pastilah persatuan itu terjadi
dan pastilah Sinar itu tercapai juga

Sebab Sinar itu dekat

(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 23)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *