Puisi Ngadi Nugroho

Nyanyian Hati

Mungkin esok lebaran semakin meriah. Seperti riuh isi kepala, yang seakan mau meledak saja. Seperti bunyi petasan yang disulut di sepanjang jalan. Suara takbiran pun semakin terdengar kencang diteriakkan. Menuju Allah di atas Arsy sana.

Berjingkat-jingkat malu-malu membisikkan kepadaNya,”lebaran ingin kami tertawa dan putar-putar keliling kota, namun di rumah, wajan penggorengan dan motor kami gelisah. Semua barang kebutuhan memang serba tersedia, namun isi dompet kami hampir-hampir tak mampu membelinya. Hanya suara takbir dan menyulut petasan satu-satunya penghiburan hati kami yang terserak ke mana-mana.”

Suara takbir dan petasan semakin keras suaranya. Menghantam dada kami yang kuyu oleh keadaan.

Lebaran selalu saja menghadirkan kenangan yang tak terlupakan.

Kaliwungu, 2022

DI HATI KAMI ADA RAMAI DEMONTRASI

Pecah hati kami menjadi kepingan sayap kupu-kupu. Menjadi mimpi buruk kami sepanjang waktu. Lihatlah! Di rumah, ibu kami gundah. Dan ayah, semenjak pagi belum juga pulang segera. Sedangkan jam di dinding mulai melaju sore pukul lima. Kata ibu, ayah sedang mengantri minyak goreng dan BBM di pasar belakang rumah.

Seakan pudar segala mimpi. Sayap kami patah sebelum terbang menuju cahaya matahari. Apakah harus muntahkan segala amarah dan resah atau menelannya mentah-mentah? Di jalan kami tahu suara kami tak lebih dari seogok sampah. Dan akhirnya, ibu kami tercinta, tak hanya menunggu ayah dengan kelu. Dengan menenteng sekantung plastik minyak goreng yang diantri semenjak pagi hingga menjelang senja. Dan akhirnya, ibu kami tercinta, menunggu kami pula sambil merapal doa. Agar anak-anaknya pulang segera. Setelah koar-koar di atas aspal jalan raya.

Sungguh, apa yang bisa dipahami selama ini. Harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak meniti jalannya sendiri-sendiri; jauh, jauh meninggi. Seolah tak ada kendali. Mencekik kerongkongan dan perut kami. Di atas meja makan pun kering melompong. Tak ada lagi mimpi! Tak ada lagi mimpi! Sebuah hiasan topi toga di kepalapun mulai tiba-tiba buram bentuknya menjadi bayangan kosong. Ayah dan ibu kami memutar otak memetakan segala benih cita-cita, untuk menjadi kandas terpenggal kepalanya atau tetap dikejar menuju cahaya.

Kaliwungu, 2022

Biodata

Ngadi Nugroho lahir di Semarang 28 juni ’78. Beberapa sajaknya termuat di antologi dan media sosial. Acapkali menggunakan nama pena Dimaz Nunug dalam media online/antologi.

Puisi ini diikutsertakan dalam lomba menulis puisi Catatan Pringadi 2022.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *