Puisi Bintang Ramadhana Andyanto

Sajak Cinta

Layar senja telah disaksikan,
tetapi calon penyair itu masih saja kesulitan
untuk menulis sebuah sajak cinta. Sore tak henti-henti
menertawainya, sementara malam masih sabar mengamati
dari ujung ruangan. Tinta pena yang ia genggam sedari
tadi perlahan mulai kedinginan karena lama tak dihangatkan
dengan bait-bait rayuan. Dan secarik kertas hanya bisa rebahan
di atas meja selagi menunggu sang tuan yang sungguh dungu
perihal urusan perempuan.

Layar senja telah berhenti diputar,
tetapi calon penyair itu masih saja berupaya memutar
dan mengotak-atik bahasa. Aksara lelah dipermainkan, tetapi
hati masih bersemangat untuk melanjutkan permainan.
Satu kata tak juga tertulis, dua mata tanpa terasa mulai menangis.
Ah, mungkin calon penyair itu belum sepenuhnya paham
dengan yang namanya cinta.

Baca Juga: Puisi Ikuta Zen

Sang Penguntit

Berhati-hatilah, wahai pujaanku.
Di belakangmu ada seorang penguntit
yang selalu membuntutimu sepanjang waktu.

Setiap malam, ia berjalan diam-diam di
halaman beranda rumah maya-mu.
Ia meraba, menelaah, mencari, dan mencuri
apa pun yang dianggapnya berharga:
curhatan gundah yang kau curahkan tatkala
dunia tengah meneriakkan resah;
potret kecantikan abadi yang kau ambil
di saat harimu tengah diselimuti kasih;
lantunan nada masa kini yang kau yakini
dapat menyemarakkan hati yang seringkali sunyi.

Sang penguntit tanpa ragu akan mengambil semuanya.

Lumayan, anggap saja sebagai bekal untuk
menemuimu secara terang-terangan di suatu hari
yang kelabu nanti.

Berterimakasihlah, wahai pujaanku.
Di belakangmu ada seorang penguntit
yang tanpa lelah, tanpa lengah,
melindungimu dari para
penguntit keji lainnya.

Elegi Seorang Mahasiswa

Seorang mahasiswa tergeletak sekarat
setelah kelelahan seharian dikejar tenggat.
Ia ditemukan dalam keadaan mengenaskan oleh sebuah
mimpi yang sudah jarang ia temui. Otaknya penuh luka
setelah dipukuli tanpa henti oleh deretan pertanyaan
yang tak kunjung ia pahami. Sementara kedua tangannya
yang lelah masih saja berusaha mencari dan meraba jawaban
yang tersimpan di dalam arsip ketidaktahuan.

Mahasiswa sekarat itu pun akhirnya diperiksa
oleh seorang dokter semu spesialis ilmu pengetahuan.
Sang dokter lantas langsung memberikan resep obat
yang ia anggap mujarab dan dapat membuat pasiennya
kembali sehat walafiat. Namun, sang mahasiswa malah
berkata, “Simpan saja semua obat bodohmu. Tenggatku
sudah wafat beberapa jam yang lalu.”

Tanggal Muda

Tanggal Muda, tanggal yang dicintai segala usia.
Setiap manusia di dunia tak pernah tak bersedia
untuk mengundangnya datang ke rumah.

Ia boleh mampir kapan saja, mau setiap hari
pun tak masalah. Mau menginap juga boleh,
nanti akan disediakan kasur terbaik yang
tersimpan apik di dalam dompet sang pemilik.

Tanggal Muda, tanggal yang dirindukan segala usia.
Belakangan ini ia sudah jarang berkelana, kabarnya
ia tak bisa ke mana-mana karena sedang terserang
virus parah. Abangnya, si Tanggal Tua, pun berusaha
merawatnya dengan semua kemampuan terbaiknya.

Namun, semua manusia di dunia tahu bahwa sang abang
tak memiliki banyak uang seperti sang adik yang
disayang semua orang.

Tanggal Muda, tanggal yang tak panjang lagi usianya.
Kini Tanggal Muda sudah terlalu sekarat
untuk bisa kembali menjadi pribadi yang bermanfaat.

Di sisa hidupnya, Tanggal Muda akan membagikan
semua yang ia punya kepada setiap manusia di dunia
yang masih berusaha mendoakan kesembuhannya.

Baca Juga: Puisi Zaim Rofiqi dalam Lagu Cinta Para Pendosa

Orang Kecil

Gadis kecil itu dibuat kebingungan oleh sebuah
buku pelajaran tua yang sebagian isinya telah
tak layak lagi dipelajari. Ia lantas bertanya kepada
ibunya perihal makna kata “orang kecil” yang ia
jumpai di banyak halaman isu sosial minim solusi.

“Orang kecil itu adalah kita, Nak,” kata sang ibu.
“Orang yang kecil pikirannya karena dtindas oleh
ketidaktahuan; orang yang kecil pandangnya karena
ditutupi oleh kesulitan; orang yang kecil kakinya
karena dilangkahi oleh kemiskinan. Singkatnya,
orang kecil adalah mereka yang hanya bisa mengangguk
saja dengan kehendak orang besar.”

Gadis kecil itu pun mengangguk dan kembali ke kamarnya;
kembali membaca sebuah buku pelajaran tua yang sudah bosan
mengajarkan pelajaran. Di hati kecilnya, ia berjanji bahwa
suatu hari nanti ia harus bisa menjadi orang besar
yang memerdekakan orang kecil.

BIODATA SINGKAT

Bintang Ramadhana Andyanto adalah pria kelahiran Palembang. Instargramnya @antikopisobek

Hai, Kawan. Catatan Pringadi menerima tulisan dari penulis tamu. Tulisan bisa berupa puisi, cerpen, review buku, dan catatan perjalanan. Silakan kirimkan tulisanmu ya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *