Puisi| Air Mata

aku memahami kita belajar matematika
untuk menghitung nyawa demi nyawa
yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan
tak ada yang tahu: satu detik kemudian
atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan
bumi akan berguncang dan terbelah
tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang
segalanya terhisap, juga kenangan-kenangan
saat kali pertama belajar bersepeda bersama Ayah
duduk di beranda, menatap langit dan air mata
jatuh seperti tombak-tombak yang dilemparkan
saat setan ingin mencuri rahasia masa depan
air matamu adalah setan bagiku
yang menggoda seluruh iman untuk luruh
dan menghujat yang telah menciptakan segala
dan lupa bahwa tak ada yang pernah
benar-benar menjadi milik manusia
kekasih yang kucintai sepenuh aku juga
bisa dibolak-balik hatinya dengan mudah
tak ada pernah kata kebebasan seutuhnya
masa lalu, kini, dan apa yang akan terjadi nanti
adalah rantai yang saling terikat dan pasti
dan aku hanyalah sebuah boneka
yang dimainkan ventriloquist di atas panggung

(2016)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *