Puisi Zaim Rofiqi dalam Buku Lagu Cinta Para Pendosa

Lagu Cinta Para Pendosa adalah buku kumpulan puisi Zaim Rofiqi yang terbit pada tahun 2011. Zaim Rofiqi adalah penyair yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, 25 Juli 1979. pernah mencicipi pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, lebih kurang 1 tahun, untuk kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Menulis puisi, cerpen dan esai. Buku terjemahannya antara lain: Terry Eagleton, Marxisme dan Kritik Sastra; Isaiah Berlin, Empat Esai tentang Kebebasan; dan Francis Fukuyuma, Memperkuat Negara. Kini bekerja di Jakarta sambil menyelesaikan studi.

Baca Dulu: Puisi Didik Siswantono

Kota

Bersandar pada senja gerah
cuaca tak bertuah

Di kota ini
udara menyusutkan diri
seperti racun
membuat mata rabun

barangkali tak perlu sepenuhnya terjaga
seperti ganja
hanya menunduk
dan pelan, pelan
masuk ke dalam ingatan

tapi di kota ini ingatan sebatas papan iklan
buram, berderet tak beraturan
kusam, dihantam bara siang
beku malam

dan yang ia lihat cuma cakrawala kosong
seperti mulut raksasa
perlahan mengisap
apa saja

dan di sudut itu
puing-puing
reruntuhan bangunan
seperti taring
kala

esok tak katakan apa-apa
tak menjanjikan apa-apa
dan barangkali, kini ia sudah tak percaya:

suatu hari ia akan jadi malaikat
yang terbang hikmat
yang melihat dan hanya melihat

dari pucuk-pucuk menara
tanpa bangga

Jakarta, 2005

Sidharta

Dan kau rasakan
tubuhmu merapuh
terurai menjadi

sindat
cacing

rohmu melayang-layang
terurai udara menjadi
oksigen bagi paru-paru mayaku

Juni 2001

Malam Terakhir

Malam segera henyak
menjauh
dari 00.00 dan pergi

dan kini, mungkin yang tersisa hanya jejak
mimpi
di sekitar
jalanan hingar
hening hilang
keangkuhan

di jalanan
ratusan kembang-api berpijar
mencoba membangun perayaan
di sekitar
lelampu jalan kaku
berjajar
sorot matanya seolah-olah
berujar:
“Semua telah aku saksikan.
Ya, semua telah kusaksikan!”

Di luar, dalam jejal, kau-aku mencoba     
merayakan
apa yang menjelang
apa yang akan menghampar
meski di dalam, luka lama mungkin akan      
bertambah
lebar:

apa yang telah kita tinggalkan?
apa yang sesungguhnya
kita kejar?

2003-2004

Ikarus

I.
Mari, inilah saatnya
membentuk kembali semua
juga wajah kita.

Inilah saatnya
kepakkan sayap pelan
terbang
meninggi, meninggi
di sini, di ketinggian awang-awang
aku tahu
labirin hanya cerita lama
sehamparan sengkarut
tak lagi
membuat kita ciut

kini
aku tahu
dengan sayap ini
langit terkuakkan

dengan sayap ini
taufan tak membuat kita gentar
dengan sayap ini
bahkan angkasa akan bungkam

II.
Tidak, tidak, tidak perlu tanya
ke mana?

Di ketinggian
dengan sayap kembar
sayap-sayap mimpi dan harapan

aku tahu
aku bukan layang-layang
tak akan ada lagi benang
menyeret kita
ke kiri, ke kanan

dengan sayap kembar
cakrawala tak lagi mengerikan
dengan sayap kembar
bahkan Olympia tertaklukkan

III.
Tidak, Ayah, tak perlu kembali
merangkak, melata
dalam labirin lama

di sini, di ketinggian ini
akan ada istana
di sini
akan kita bangun istana
lebih megah
dari bubungan Olympia

kini, biarkan aku melesat
meninggi, semakin tinggi
meski aku tahu
sayap-sayap ini
tak sekuat matahari

kini, biarkan aku tinggi
meninggi
meski aku tahu
mimpi ini
akan hangus
terbakar
matahari

Jakarta, 2005

Lagu Cinta

Day after day
Loue turns grey
Like the skin of a dying man
– P F.

Barangkali memang ada harapan
yang muncul
saat senjakala terhampar
dan gelap mengancam
dan bulan sudah lama tak kelihatan
dan seperti pungguk kau cuma bisa      
menerawang
terus-menerus membayangkan
Kebun
Kampung
Halaman
tentang masa sebelum semuanya jadi kelam
tentang masa sebelum kau jadi jalang
saat tubuhmu masih berpendar
memancar, seperti kunang-kunang:
”Aku pernah merasa,
cinta akan merangkum segala warna
anugerah dewa-dewi Hesperida
yang menjadikan tubuh memendar
bercahaya
seperti purnama”

barangkali…
tapi kita tak bisa:

sebab sesuatu telah pecah
dan
Kampung
Halaman
pun berubah (atau      
musnah?)

dan setelah itu, sebuah kutuk
meracuni darah:
kita terbelah, dan terpaksa
jadi penjelajah
menggoreskan tapak
jejak-jejak
insomnia, amnesia, paranoia
tambah hari semakin akut saja

barangkali
tapi kini cinta cuma jaring laba-laba
halus
merentang di setiap sudut
masa
lembut terjalin mengilat cahaya
menjerat setiap serangga
lalu memusnahkannya

barangkali…
tapi mungkin kini cinta cuma halte jalan raya
lusuh
berjajar di sisi-sisi taman kota
gaduh
bising oleh bus-bus kota
dengan penumpang-penumpang
atau calon penumpang
dengan tatapan hitam
wajah kusam
cemas
dan juga culas–

di situ, kau tahu tak ada pohon hitam.
Ia telah lama tumbang.
Hanya cerobong-cerobong asap kusam. Tak      
berakar.
Hanya papan-papan iklan. Bertebaran,
kacaukan nama jalan.
Hanya kali-kali. Hitam.
Hanya trotoar-trotoar. Saling-silang,
tak beraturan –

barangkali…
tapi barangkali cinta cuma aroma bir
tersisa di udara
di dinding-dinding pesta
menikam hampa
mencipta lena
dan kemudian pudar
dan kau jadi sadar
lalu bertanya ”Jam berapa?”

di luar, malam
masih juga
barangkali
tapi kini cinta telah jadi impian balita
orang kota menyebutnya
boneka
atau harmonika
dimainkan siapa saja
meniupnya
memaksanya menarikan nada-nada–

dapatkah kau membaca nada-nada itu
nada-nada yang menggerakkan kakinya,
tubuhnya, memaksanya menari,
selamanya –

barangkali
dan barangkali juga cinta cuma abjad-abjad      
bahasa
satu kata
kosa
kata
cuma ada dalam cerita-cerita
buku-buku purba
dan kau terpaksa harus melupakannya.

Januari 2003

Bidak

Menjelang pertempuran itu selesai, di salah
satu sudut gelanggang, bidak itu tersentak:
Gelegar suara “Skak!!” yang mendentum
membahana di angkasa menyadarkannya
bahwa ternyata ia bukan siapa-siapa. Maka ia
pun menurut saja ketika sesosok tangan
mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam
sebuah kotak kayu yang ada di sudut ruangan
itu.

Di dalam kotak itu, setelah lewat tengah
malam, dengan sekuat tenaga ia berusaha
melupakan semua yang baru saja dialaminya: ia
lupakan pertempuran itu, ia lupakan musuh-musuhnya, ia lupakan teman-teman
seperjuangannya.
Keesokan harinya, ketika ia terbangun di dalam kotak kayu itu, ia telah sepenuhnya lupa
siapa dirinya.

2009

Di Kampung Petani

Di kampung itu orang menvukai fajar
menghirup remang
udara sesejuk embun
yang mula adalah subuh
assolatu khoirumminannaum
menghirup kopi, mengisap kretek
lalu sinar matahari pertama
musik pembuka
dan mereka menari
berjingkat mengarak pagi
pada sawah setengah basah:
mimpi setengah pasti

1999

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *