Pidato Kebudayaan DKJ 2021: Ritme dan Algoritme Kebudayaan

I.

Minggu senja yang berselimut kabut di Ottawa. Aku baru saja selesai menilai tugas mahasiswa. Kuklik “ kirim” dan pesan otomatis yang memberitahukan mahasiswa bahwa nilai mereka sudah keluar segera terkirim. Ting! Kurang dari dua menit, tanggapan pertama mahasiswa tiba di kotak surelku. Aku meliriknya, tapi memutuskan untuk tidak langsung menjawab. Lagipula ini hari Minggu. Aku memilih untuk mengecek aplikasi WhatsApp. Ada berita besar dari seorang kawan! Dia mengundangku untuk menghadiri acara pernikahannya di musim dingin tahun depan di Berlin. Aku tidak yakin bisa pergi. Tapi kugunakan mesin pencari untuk melacak penerbangan dan tempat menginap di sana. Tak lama, kulirik dinding Facebook-ku. Sebuah meme lucu yang diposting di sebuah grup membuatku tersenyum. Sebuah komentar konyol di salah satu postingku berhasil membuatku mengernyit.

Ini bukan cerita yang luar biasa. Ini adalah cerita biasa yang lumrah terjadi pada kita semua. Sebuah kisah tentang kehidupan yang terjalin erat dengan media digital, yang dipialangi oleh media algoritmis, media yang fungsinya bergantung pada prosedur algoritmis. Algoritme bukan hanya alat pendukung kehidupan. Sebagian dari kehidupan justru terjadi di dalam dan melalui jejaring media algoritmis. Algoritme telah hadir dan tak akan beranjak pergi. Ia telah menjadi bagian dari kebudayaan kontemporer.

Baca Dulu: Pidato Kebudayaan DKJ 2020 oleh Melanie Budianta

Lebih dari satu dekade yang lalu, algoritme buatan Silicon Valley hadir dengan janji dan harapan untuk mengedepankan keandalan dan objektivitas, terutama untuk prosedur yang tidak memiliki kepastian. Namun sejalan dengan berlalunya waktu, harapan ini pudar. Kita menyadari bahwa algoritme tidak netral, ia bisa diilhami oleh kepentingan subjektif, disusupi kepentingan penguasa dan aktor-aktor kuat, dan bahkan mengakomodasi keserakahan dan kerakusan. Ia pun tak lepas dari bias pencipta dan perancangnya.

Tapi sebetulnya apakah algoritme itu? Pertama-tama, kita perlu memahami asal usul dan arti katanya. Untuk melakukan ini, kita perlu kembali ke masa lalu.

Bilangan apakah yang menjadi basis kuadrat, yang ketika dijumlahkan dengan sepuluh berjumlah menjadi tiga puluh sembilan dirham? Solusinya adalah: Bagilah banyaknya akar menjadi dua bagian, untuk menghasilkan nilai lima. Kalikan bilangan ini dengan dirinya sendiri, sehingga hasilnya adalah dua puluh lima. Tambahkan bilangan ini pada tiga puluh sembilan, hasilnya adalah enam puluh empat. Sekarang, tariklah akar dari hasil ini, sehingga hasilnya menjadi delapan. Kemudian, kurangkan dengan setengah dari jumlah akar tadi, yakni lima, sehingga hasilnya tiga. Inilah akar dari bilangan yang dicari, kuadrat bilangan tersebut adalah sembilan.

Ini adalah algoritme pertama, diciptakan oleh Bapak Aljabar Muhamad ibn Musa Al-Khwarizmi, matematikawan dan astronom berbangsa Persia dari abad ke 9. Kata algoritme sendiri berasal dari nama Al-Khwarizmi yang di-Latin-kan menjadi algoritmi. Sejak itu, prosedur algoritmis telah berperan penting dalam pengembangan ide-ide mendasar, baik dalam hal-hal yang bersifat praktis maupun teoritis.

Baca Juga: Pidato Kebudayaan DKJ 2019 oleh Seno Gumira Ajidarma

Secara garis besar, algoritme dapat didefinisikan sebagai spesifikasi yang runtut dalam proses pemecahan suatu masalah. Dengan kata lain, algoritme adalah serangkaian langkah-langkah tertentu yang terstruktur untuk memproses instruksi atau data menjadi keluaran (output). Tetapi hari-hari ini, ketika kita berbicara tentang algoritme kita kebanyakan mengacu pada algoritme yang diprogram komputer, khususnya algoritme media sosial.

Pada awalnya, selama bertahun-tahun media-media sosial hadir tanpa algoritme penyaringan konten. Mengapa mereka menjadi algoritmis? Pertama, algoritme media sosial dibuat untuk mendorong merek atau brands membayar iklan bertarget. Teorinya adalah: jika brands tidak bisa menjangkau konsumer secara organik, mereka akan beralih ke iklan, yang tentunya menghasilkan keuntungan finansial bagi platform media sosial. Kedua, populasi pengguna media sosial tumbuh secara dramatis, melambung dibanding 10-15 tahun yang lalu. Akibatnya, umpan pengguna dibanjiri jauh lebih banyak konten dibanding sebelumnya. Algoritme media sosial didesain untuk “mempermudah” pengguna untuk memantau pembaruan (updates) dari akun-akun yang mereka “peduli”.

Selengkapnya silakan diunduh Pidato Kebudayaan DKJ 2021: Ritme dan Algoritme Kebudayaan

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *