Perempuan Mandiri Melek Digital

Beberapa waktu lalu, entah angin apa, sebuah pesan masuk dari mantan, “Hei, istrimu jualan online ya? Kenapa? Apa penghasilanmu kurang sampai dia harus jualan?”

Entah bagaimana cara berpikirnya, aku jadi teringat bahwa yang paling gampang menyakiti perempuan justru bukanlah laki-laki, tapi sesama perempuan itu sendiri. Perempuan mandiri bukanlah hal yang tabu saat ini. Apalagi bila itu dipadukan dengan konsep “PASSION”. Kebetulan saja istriku memang suka jualan dan dia berjiwa hangat. Di satu sisi ia bertanggung jawab mengelola keuangan rumah tangga. Di sisi lain ia suka memberikan hadiah untuk ibu atau saudaranya. Sehingga jalan tengah untuk itu adalah ia mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan jiwanya sekaligus melakoni passionnya dalam berjualan.

Beberapa waktu lalu pun, adagium itu didukung oleh hasil menonton sebuah webinar mengenai perempuan pelaku UMKM yang berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital. Webinar ini adalah hasil kolaborasi Danone dengan Google Indonesia.

Tahukah kamu kalau menurut data Bank Indonesia, total Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di tahun 2018 mencapai 57,83 juta dengan lebih dari 60% dikelola oleh perempuan (jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 37 juta). Tentunya melalui UMKM, perempuan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Bidang UMKM yang paling banyak dilakukan perempuan di antaranya adalah usaha kuliner sebanyak 41,69%, usaha fashion sebesar 18,15% dan usaha kriya sebesar 15,70%. Itu juga senada dengan data bahwa penerima terbesar kredit Ultramikro (UMi) oleh Pemerintah adalah perempuan alias emak-emak.

Kekuatan emak-emak dalam menggerakkan roda perekonomian dari tingkat ultra mikro, mikro, kecil, dan menengah ini amatlah besar dan karena itu mereka perlu didukung untuk lebih melek dengan teknologi digital.

Apalagi nih, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan internet adalah sebanyak 64% atau setara dengan 170 juta jiwa dengan rata-rata penggunaan sekitar 7 jam perhari. Sedangkan yang menggunakan sosial media tercatat sebanyak 59% atau setara dengan 160 juta jiwa dengan rata-rata penggunaan selama 3 jam per hari. Hal ini tentu menjadi peluang yang sangat terbuka untuk melakukan promosi melalui internet atau lebih dikenal dengan digital marketing. Di sisi lain data pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tercatat sebanyak 64% atau sebanyak 37 juta dikelolo oleh kaum perempuan. Namun sayang pemasarannya masih tradisional dan belum memanfaatkan potensi digital sesuai dengan informasi di atas.  Data dari IFC & USAID tahun 2016 sebanyak 47% perempuan tidak menggunakan teknologi untuk bisnisnya. Inilah yang perlu ditingkatkan!

Salah satu hal yang dilakukan Google adalah lewat program Women Will. Women Will adalah inisiatif Google untuk menciptakan peluang ekonomi bagi Wanita di seluruh dunia, sehingga mereka dapat berkembang dan berhasil. Women Will membentuk kelas bisnis yang dapat menghubungkan wanita wirausaha. Seperti mengadakan rangkaian konferensi women will yang dilaksanakan di 14 kota untuk mempertemukan para wanita wirausaha untuk saling memberi inspirasi, berbagai pengetahuan, dan belajar memanfaatkan perangkat digital untuk mengembangkan usaha.

Selain itu, ada program Workshop Gapura Digital. Program pelatihan gratis untuk membantu wanita Indonesia mengembangkan bisnis dan berbagi pengalaman. Diselenggarakan di 10 kota, setiap minggu menghadirkan beragam topik, mulai tren digital, kiat membuat website, hingga memandu forum diskusi agar wanita bisa berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain.

Bekerjasama dengan Danone Indonesia, Women Will saat ini membuka program Warung Anak Sehat dan Aqua Home Service. Mereka memberikan pelatihan digital secara virtual kepada sekitar 700 ibu Aqua Home Service dan Warung Anak Sehat dari berbagai kota di Indonesia. Materi yang diberikan adalah edukasi terkait pemanfaatan teknologi digital untuk optimalisasi bisnis seperti penggunaan media sosial dan fitur Google My Business, membangun kesiapan mental berwirausaha dan penguatan business mindset yang disusun dalam empat modul dan disampaikan secara bertahap selama bulan Oktober hingga November.

Beberapa hal yang sudah dilakukan oleh Danone SN Indonesia untuk Warung Anak Sehat:

  1. Peningkatan kompetisi ibu-ibu kanting tentang pengetahuan kesehatan dan gizi serta keterampilan memberikan jajanan gizi sehat di kantin melalui pelatihan.
  2. Bantuan dan pendampingan terus menerus.
  3. Bekerja sama dengan Danone Ecosystem Foun dan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia, Danone SN Indonesia telah menyalurkan bantuan dengan total lebih dari Rp 1 Miliar yaitu bantuan langsung tunai. 

Beberapa hal yang sudah dilakukan oleh Danone SN Indonesia untuk AQUA Home Service:

  1. Mendukung Pertumbuhan AHS Melalui AHS Akademi: Bermitra degnan Umar Usman Business School untuk pelatihan, pembinaan dan modul tentang keterampilan bisnis dasar seperti pemasaran, penjualan dan hubungan pelanggan.
  2. Peningkatan Kompetensi AHS tentang pentingnya Hidrasi Sehat sebagai Duta Kebaikan: Memberikan rangkaian konten edukasi dan pelatihan sejak 2019.
  3. Memastikan kesehatan dan keselamatan AHS: Menyediakan alat pelindung diri (APD) untuk seluruh AHS dengan jumlah 7.500 APD.

Seperti kutipan di atas, hidup harus tetap selow dan cute dan bisa menghasilkan uang. Salah satu cara yang asik adalah berbisnis online. Jadi, jangan pernah hina perempuan yang berjualan online, karena banyak yang sukses dari itu!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *